Tampilkan postingan dengan label catatan perubahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perubahan. Tampilkan semua postingan

Kembali Lagi

Ketika aku menyadari bahwa aku sedang dalam perjalanan "kembali", aku selalu berusaha berkenalan dengan sosok diriku yang baru. Lalu aku akan bilang pada diriku yang baru itu, "kamu mau lari kemana, Lukita? Disinilah tempatmu kembali." Aku sudah sadar sejak awal kalau aku akan selalu kembali pada hal-hal yang kucintai. Mereka itu adalah yang menjadikan diriku adalah aku. Entah aku sudah ganti casing berapa kali, entah aku sudah berapa kali mengubah penyebutan namaku, aku akan selalu nyaman menyebut diriku sendiri sebagai saya.

Aku mencoba melarikan diri sejauh mungkin dari kenyataan pahit kehidupan beberapa tahun ke belakang. Aku mencoba membuat bingkai kehidupan baru yang intinya adalah caraku untuk menghapus kesalahan yang pernah kuperbuat. Aku juga mencoba memaafkan diriku sendiri melalui memaafkan orang-orang di sekelilingku. Memang butuh waktu yang tidak sebentar. Waktunya lama. Tapi bukan berarti tidak bisa. Pada akhirnya aku sadar bahwa, "tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan, selama tidak pernah mengeluh dan berbicara kasar." Dan aku melakukan kesalahan saat itu, tapi aku tidak mengeluh. Mengeluh tidak tapi aku mulai berbicara kasar. Mengutuk adalah yang kulakukan setelahnya. Apalagi setelah aku tahu bahwa lalat-lalat itu mengerubungi bangkai kesalahanku. Aku membenci kesalahanku, juga lalat-lalat itu. Padahal, aku sekarang ini berkata pada diriku sendiri, "apa yang kamu harapkan dari lalat?"

Aang benar soal satu hal, masa lalu tidak dapat diubah. Aku sering mendengar kata-kata itu, dan dulu ketika Aang bilang itu, aku justru berpikir bahwa Aang ingin menyimpan masa lalu dan menyuruhku menyimpan masa laluku. Aku benci pada masa laluku. Kenapa aku harus tetap memasukkan masa laluku ke dalam masa depanku? Kenapa aku tidak boleh menghapus bersih seluruh masa laluku? Aku meledak, benar-benar meledak setiap kali Aang membicarakan masa lalu. Aku membenci masa lalu. Aku ketakutan bahwa aku tidak sebaik yang kupikirkan, aku takut bahwa aku mungkin lebih buruk dari yang kupikirkan.

Dan aku jauh lebih membenci masa lalu Aang. Ketakutanku muncul karena aku berpikir mungkin Aang akan lebih menikmati masa lalunya dibandingkan masa depannya bersamaku. Atau mungkin Aang juga akan menjadikanku salah satu masa lalunya. Tapi sebenarnya ketakutan itu tidak hanya kurasakan sendiri, Aangpun berpikir sama. Dalam ketakutan-ketakutan itu, aku berpura-pura kuat dengan pilihan ingin berjalan di jalan sendirian. Tapi itu hanya bagian kecil dari diriku yang bisa menerimanya, sebagian besar tidak. Mau tidak mau, Aang sudah menjadi bagian dariku.

Aang sungguh benar, masa lalu memang tidak akan pernah dapat diubah.

Aku tidak pernah jadi perempuan kuat, setidaknya aku adalah orang yang paling memahami diriku sendiri dan aku merasakan itu. Aku tidak mampu tapi demi harga diri aku akan berusaha semaksimal mungkin. Dulu aku begitu malu untuk menangis, menunjukkan bahwa kau telah menyakitiku sehebat itu, menunjukkan bahwa aku takut kehilanganmu, menunjukkan bahwa aku mencintaimu sebesar itu. Ini, tangisanku ini agar kau paham saja meskipun hanya sedikit. Bahwa dalam waktu satu detik, jika itu hanya aku yang merasakan, kau pernah berada di dalam hatiku.

Kemarin, gurauan yang sama masih datang kepadaku. Saat itu A Restu bilang, "selamat hari pernikahan, aang cintanya." That's hurt a lot. Kau tidak akan pernah tahu monster apa yang sudah kuhadapi demi sampai di titik ini. Monster itu tidak akan pernah bisa lagi, karena aku akan dengan tegas berkata, "kamu mau apa lagi?" Lalu kujawab pada A Restu, "Aang hanya cinta Lukita, tidak ada cintanya cintanya." Itu bukan aku membenci A Restu, atau orang-orang yang menyebutkan lagi masa laluku dan Aang, bukan. Itu hanya karena kita terlanjur masuk dalam permainan ini dan seseorang yang sudah beranjak dewasa harus mengajarkan bahwa hal kekanak-kanakan seperti itu sudah lama berakhir.

Seseorang terluka, melarikan diri karena takut terluka lagi. Sekarang orang itu kembali lagi, menawarkan maaf yang lapang. Kau tidak tahu lautan seluas apa yang telah dijelajahi orang itu. Dan aku berbisik seperti membisikan bibir pantai saat aku berlabuh, "aku kembali lagi...."

nulis serius

aku inget pasti kapan terakhir kali aku nulis serius. hmmm... september, 2010? hahaha.
aku bener-bener make otak aku buat nulis, perasaanku dicurahkan seluruhnya dalam tulisan dan akhirnya WALAAA~ ceuk Farah Quinn tea mah THIS IS IT, ...........................................
naon?
*bingung

serius, susah pisan nulis serius teh, kan perlu awal, perlu klimaks, perlu akhir. dan itu bikin aku pusing!!! kadang aku cuma pengen bikin cerita penggalan aja, ga perlu akhir, tapi pembaca pengen sebuah akhir. pas dibikinin, eeeehhh malah pada protes, katanya kurang baguslaaa~ kurang misterinyalaa~ inilaaa~ itulaaa~

bentar, keilangan konsentrasi lagi. cukup segini aja dulu deh, kapan2 dilanjutin lagi.... :p

empatbelasnovember


Stop taking everything seriously kekkeke--Begita Pratiwi.

Salah satu reply terakhir dari teh Begi itu seperti 'ngadegungkeun' kepala aku yang dari kemarin kerasa berat nahan beban emosi. aku gagal untuk bersikap anteng. ya, disebut sakit hati ya iya. aku seriusan tulus. aku seriusan ga mikir apa pun kecuali mereka. aku seriusan ga mau ngenges. tapi hasil akhirnya, aku disebut egois. bukan berarti orang lain aku larang ngatain aku. bebas aja, toh mulut mulut mereka. malah bagus, ngomongin aku kan ngurangin dosa aku. tapi, mereka adalah orang yang aku kira tidak akan pernah ngomongin aku. mereka adalah orang yang aku kira kalo ada masalah langsung ngomong to the point. ga usah bertele-tele. tapi karena udah terlalu lama dipendem, jujur aku sebagai manusia normal, sakit hati sama sikap mereka. aku yang terlalu cuek atau mereka yang terlalu pengecut?
Iya, ga perlu dipikirin serius serius, eL. tapi tetep aku kepikiran. pas aku coba curhat sama temen deket aku, jawaban temen deket aku sama kayak Teh Begi. berarti sikap awal aku yang biasa biasa dan nganggep ga ada apa apa itu yang paling bijak. temen aku itu bilang, kalo aku udah bilang maaf, menyesal dari hati, ya udah, masalah dimaafin atau si orangnya ga mau maafin mah urusan orang itu. yang jelas aku udah berniat baik dengan tetep mau berteman sama dia.
Aku sendiri lagi mikir-mikir. apa keputusan yang aku ambil dan dianggap baik itu karena aku sama temen aku itu dan Teh Begi seumuran? jadi jalan pikiran dan cara menanggapi masalahnya sama? kalo ngeliat respon adik-adik aku pas aku cerita, mereka bilang sih lebih bijak kalo aku diemin aja.
Sekarang ini, aku lagi belajar untuk tidak menanggapi masalah serius serius amat. hehe. hari ini sedang rada seneng. hampir sebulanan ini aku murung terus. tapi pasti orang lain ga tau, soalnya aku tetep ketawa ketiwi kayak manusia paling bahagia, tujuannya adalah pengen membahagiakan orang orang di sekeliling aku dengan candaan aku. :D

Ceritanya, setelah ada miss communication, aku mencoba menata diri lagi. mencari dimana letak kerikil yang bikin hati kerdil. lalu, ketika aku nonton acara Hitam Putih, si Dedi ngajuin pertanyaan yang paling sering diajuin. lebih pilih diselingkuhin atau selingkuh?
Pertanyaan mudah, jawabannya yang susah. temen aku iseng nanya, aku lebih pilih diselingkuhin atau selingkuh? terus aku jawab, aku lebih pilih diselingkuhin. terus temen aku bilang, udah diselingkuhin, kamu selingkuh gitu? aku jawab, engga. aku mah mau diselingkuhin kayak gimana juga akunya mah ga mau selingkuh. kalo aku selingkuh balik, aku sama dia ya sama sama bejat moralnya. dia harus tau, aku bilang dari awal kalo aku ini limited edition. hal yang cukup berharga untuk dia banggakan. dan aku akan tetep jadi limited edition meski pun udah disia-siain. aku ga mau menjadi manusia yang kehilangan 'harga'-nya hanya karena sakit hati diselingkuhin. Tuhan gak pernah tidur, Dia akan ngirim orang yang baik untuk yang baik. dan harga selingkuhannya ga akan lebih mahal dari harga aku sendiri. :D
Suka yang bekas? suka yang suka berkhianat? silahkan dipilih kayak barang obralan.

Kemarin ini aku sempet marah sama adik aku yang baru masuk kuliahan. dia itu nekat banget ikutan grup pecinta alam di kampus. jelaslah aku marahin. aku tau banget keterbatasan fisiknya. dia itu sering pingsan kalo kecapean. gampang mimisan kalo kepanasan. ga bisa banget buat naik gunung dengan medannya yang WAH. seriusan. aku takut dia kenapa-kenapa. kalo aku, aku sendiri juga sama punya keterbatasan. tapi kalo aku itu ga pernah pingsan. aku juga bisa ngukur sejauh mana fisik aku bisa digeder. kalo ga bisa ya ga aku paksain. aku banyakin istirahat sama makan aja. kalo aku ragu, aku engga akan naik.
Aku sempet memprovokasi Ibu aku biar nyuruh si adik aku itu keluar dari grup pecinta alam itu. tapi Ibu aku bilang, kalo adik aku itu ga ikut untuk yang ke gunung-gunung, cuma yang ke pantai aja. jujur aku baru tau kalo pecinta alam ada jurusan gunung sama pantai. terus, ada jurusan pedesaan sama perkotaan gitu?
Ibu aku cerita katanya adik aku itu bisa manjat papan panjat lebih bagus dari pada temen-temen ceweknya yang lain. tapi pas diperiksa di dokter, tekanan darah dia lemah, ya intinya ga jauh bedalah sama aku. 90/60 itu ga cocok naik gunung, makanya dulu dokter yang ngasih surat keterangan sehat buat aku bilang kalo aku mesti banyak minum vitamin penambah darah. soalnya kalo ngeliat dari perkiraan dokter sih aku ga bakalan sanggup naik gunung. ceuk aku ge, aku cuma punya semangat. semangat untuk bisa menikmati alam dengan segala keterbatasan fisik. :p
Akhirnya, aku sendiri mau ga mau merestui pilihan adik aku itu untuk ikut grup pecinta alam di kampusnya. tapi aku bilang kalo adik aku itu jangan dikasih ijin kalo naik gunung. jangan harap juga aku bakal ngasi restu, kata aku gitu. masalanya, gunung itu ga toleran sama yang lemah atau yang kuat. yang aku khawatirin adalah Ibu aku, aku paling ga mau ngeliat Ibu aku khawatir. atau ngeliat Ayah aku kecewa sama pilihan pilihan aku yang salah. itu aja sih.
Aku sadar adik aku punya kehidupan, pilihan dan jalan hidup masing-masing. tapi Ayah aku juga berpesan kalo aku harus ngontrol kehidupan mereka. makanya aku sendiri merasa kalo aku ini kakak yang over protective sama adiknya. tapi mau gimana lagi? tuntutan anak pertama. aku ga sanggup nyusul adik aku ke Gunung Gede sambil bawa badannya dia untuk ke Rumah Sakit atau bawain makanan. masalahnya aku sendiri repot sama keterbatasan badan. makanya dari pada ada sesuatu yang tidak diinginkan, aku lebih baik bilang JANGAN. cari aman. main di tempat yang aman. safety first.

Setelah bertemu sama mereka, aku sekarang makin ati ati sama manusia munafik. jangan gampang percaya sama kata kata, eL. seriusan. kalo Ayah aku sih ngajarin aku untuk mikir, rasa, ngomong itu sinkron. Ayah aku selalu bilang kalo aku harus hati hati sama orang yang munafik. dan bener aja. jangan gampang percaya.
Aku terbuai sendiri sama kata kata manis dan menyenangkan. ya, sebelum akhirnya ditusuk dari belakang. lucu. pelajaran aja. aku mau banyak ketawa aja. jangan dianggap serius. tapi tetep mesti hati hati. jangan sampe kejebak lagi dalam posisi kayak gitu.
Aku semakin menanamkan dalam diri untuk jangan munafik, jangan bohong, jangan ngomongin orang, jangan ngurusin urusan orang lain kalo ga diminta. ya ya ya, terimakasih kalian! kalian ngasih banyak pencerahan di hidup aku.
Seriusan. dan aku sendiri sekarang ga percaya sama emoticon emoticon senyum yang berarti senyum, tawa apalagi bahagia. tapi santai aja, aku pake emoticon sesuai dengan perasaan aku, sesuai dengan apa yang aku pikirin sama aku mau tunjukin. sori sori aja mbaksis, aku bukan orang munafik, bukan tukang boong, bukan tukang ngegibahin orang dan bukan orang yang kepo. :D


kepo?


Hari ini, aku nonton Jakarta Hati sama adik aku yang bungsu. kebetulan dijemput pas dia baru pulang sekolah. kita ceritanya nonton yang jam 16.45 di Jatos. Setelah beli tiket yang aku kira harganya limabelasribu, ternyata duapuluhribu, aku ngajak adik aku yang bungsu itu beli minuman dingin. pas aku masuk ke bioskop, ada tukang jualan popcorn alias petugas dari bioskopnya nawarin popcorn. aku tolak saat itu. selama pertunjukan, aku mikirin perasaan adik aku.

gimana kalo dia ngerasa aku ngejahatin dia?
gimana kalo dia mikir aku pelit sama dia?
gimana kalo dia ngira aku tega ngebiarin dia nonton tanpa makan popcorn?
atau dia bilang, "piraning popcorn limarebu meni teu pang meulikeun!"

pikiran-pikiran itu berkecamuk di otak. setelah nonton, adikku itu hanya berkomentar dia tidak mengerti alur ceritanya. ya tentu saja, dia baru menonton jenis film yang acrog-acrogan milik Salman Aristo. wajar kalo dia enggak ngerti sama jalan ceritanya. setelah itu kita pulang. di rumah, aku masih kepikiran tentang perasaan adik aku itu. akhirnya, aku membuka obrolan.

"Mom, tadi pas sebelum mulai, ada tukang popcorn, dia nyamperin. padahal dalam hati, aku udah berdoa semoga si tukang popcorn ini ga nyamperin. taunya dia nyamperin juga. pas itu, aku tolak." Kataku pada Ibuku. "...De, bisi pikiran kamu bertanya-tanya kenapa Sis begitu jahat ga ngebeliin sebungkus popcorn yang cuma seharga limaribuan. Bisi kamu bertanya-tanya kenapa Sis begitu pedit ga mau ngebeliin. Bisi kamu bertanya kenapa Sis ga mau ngeluarin duit lebih untuk menyempurnakan acara nonton film. Bisi juga kamu berpikir piraning popcorn nu limarebuan. Nih yah, aku kasih tau. alesannya adalah uang Sis udah habis untuk beli tiket bioskop sama nraktir minum. Maaf ya."
"Siapa juga yang mikir kayak gitu. Ga peduli kali. Udah ditraktir aja seneng Vina mah." Kata si bungsu, Vina panggilannya. "Vina ga perlu tau apa yang Sis pikrin. udah diajak nonton, dibayarin, dibeliin minum. ya udah, apa lagi? Vina kan ga KEPO!"
"Iya ih, lagian kamu mikirin amat. perhatian juga udah cukup, ga perlu tau seluk beluk pemikiran kamu. da Mom juga tau kamu mah berpikir lebih cepet dari orang lain. berpikir lebih banyak. lebih dalam. kamu mah cerdas, ga perlu mikirin hal sepele." Kata Ibu aku nambahin kata-kata adik aku.
Lalu aku senyum dan ngaleos ke kamar. Iiiii... sumpah, aku seneng banget.

kerontang hatiku sejak kemarin, memikirkan kerikil yang membuatku jatuh babak belur.
aku dikhianati oleh sikapku sendiri.
aku memikirkan kembali tentang siapa aku dan kenapa ini kenapa itu.
kerikil itu membuatku berpikir kembali tentang hal-hal yang lalu.
bahwa mawar, secantik apa pun tetap berduri.
jamu, sepahit apa pun dia tetap mengobati.
cermin, yang takkan pernah bohong kecuali diminta.
kecoak, yang akan selalu menjijikan meski pun sudah mengucap maaf.
begitulah hidup, kalau tidak mau lapar ya makan.
tidak mau gendut ya jangan makan.
begitu simpel.
begitu murah.
murahan!
aku tergoda untuk menceburkan diri, sekali lagi ke dalam kenistaanku yang lalu.
melupakan apa yang telah kudapatkan selama ini.
rusak! rusak moralmu!
anjing bahkan bisa lebih setia untuk menunggu tuannya dibandingkan dirimu.
hah? ya, aku bukan tuanmu. dan kamu bukan hachiko, entah, mungkin pudel?
bugil, menggelinjang sebanyak apa pun, gairahku tak naik karena tubuhmu.
cuih.
sok puisi aku. :p
 
aku mengenal adikku si bungsu itu kurang lebih 15 tahun. aku mengenalnya sejak pertama kali ibuku bertanya, "Sis, Mom hamil lagi. Ga apa-apa kamu punya adik lagi?" lalu aku mengangguk. menantikan kehadiran si bungsu, memikirkan nama untuknya pagi hingga malam. kemudian dia lahir, setelah 2 bulan, aku bisa menggendongnya. lalu memandikannya. membersihkan poopnya. membuatkan susu untuknya. menuangkan air panas untuk mandinya. lalu tak terasa aku sudah bisa mengajaknya bicara seperti manusia, dia sudah punya keinginannya sendiri, warna kesukaan, baju favorit, buku favorit, dan aku pun menjadi idolanya. padahal, aku tidak pernah memaksanya untuk melakukan ini dan itu, aku tidak memaksanya untuk suka warna hijau atau kuning, aku tidak memaksanya untuk memakai celana panjang, pun menentukan buku bacaannya, pun memaksanya menjadikanku idola di hidupnya. proses aku mengenal adik-adikku, semuanya berjalan melalui waktu yang begitu panjang. seringkali bertengkar, lalu berbaikan lagi. setiap kali cekcok, kita menyelesaikannya satu lawan satu. waktu kecil, kita sering saling memukul atau mencakar. setelah puas bertengkar, setelah saling memukul dan membuat luka, perasaan kesal itu hilang. makanya aku selalu berpikir untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. karena rasa sakit di tubuh takkan separah rasa sakit di hati.
adikku bilang, dia tidak perlu tahu segala hal yang aku rasakan. dia cukup pintar untuk membacanya sendiri. dan cukup perhatian untuk memperhatikan. mengenal melalui sikap. hahaha... kadang aku kagum pada kedewasaan yang ditunjukan adik-adikku. kedewasaan memang bukan diatur oleh umur, seringkali seseorang menganggap dirinya dewasa, padahal justru semakin dia bilang bahwa dia sudah dewasa, dia semakin kekanak-kanakan. makanya aku belajar untuk bilang, "aku lebih dulu dilahirkan! aku lebih dulu tahu tentang dunia dibandingkan kamu yang sewaktu itu masih di surga. pahami itu! segoblok apa pun keputusan yang aku buat, jangan merasa diri kamu sendiri bijak! semua orang pernah terjerembab dalam lubang kesalahan, yang penting bukan seberapa besar kesalahan yang dibuat, tapi seberapa lebar hatimu mau memaafkan kesalahan."
puitislah!! hahaha... seburuk apa pun aku mengira diriku saat ini. akan selalu ada adik-adikku yang membanggakan aku di depan teman-temannya. haha, intinya meski pun bukan artis, aku punya pamor dongs... :p

nuhun diks...

kangen

Perlahan kuketik sebuah status baru. Kangen kuliah ih...
Lima detik kemudian, aku menambahkan kata-kata.
Lalu aku menghapus kata status dusta itu. Iya, aku kangen kuliah. Eh, apa iya?
Waktu SMA, aku tidak pernah kangen sekolah. Aku kangen sekolah hanya untuk bertemu pujaan hati, si cinta monyet yang membuat hatiku dag dig dug lalu patah hati, huh padahal aku hanya "mencintai" monyet, untuk apa patah hati? Tapi waktu SMA, aku benar-benar pernah sangat tergila-gila padanya. Tapi itu dulu, sebelum akhirnya aku tahu bahwa dia memang jelmaan monyet. Haha.
Setelah itu, aku tidak pernah merasa kangen untuk sekolah, apalagi kuliah. Satu-satunya alasan mengapa aku enggan meninggalkan perkuliahan dalam kondisi paling buruk sekali pun adalah karena aku tahu bahwa biaya kuliah itu tidak gratis. Dan Ayahku mati-matian membela putrinya untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sudah sepantasnya, aku, sebagai orang yang dibela mati-matian itu mempersembahkan hasil yang memuaskan untuk orangtuaku. Maka, hujan atau panas, sakit separah apa pun, bahkan ngantuk sengantuk-ngantuknya, aku tetap ada di ruang perkuliahan.
Tapi, aku tidak hanya sekedar menghadirkan tubuhku di dalam majelis itu, aku menghadirkan otak dan perasaanku di dalamnya. Lalu istilah aku diabsen maka aku ada menjadi salah satu mottoku. Aku menanggalkan seluruh problematika remaja dan kisah putus cinta ketika aku kuliah dan berusaha tetap fokus pada materi yang diberikan dosen meski pun aku sering kehilangan kesadaran beberapa menit, beberapa kali, karena saking ngantuknya. Haha.
Demi orangtuaku juga, begadang mengerjakan tugas kulakoni, meski pun sebenarnya aku bisa saja memilih tidur dan melupakan tugas-tugas itu, membiarkannya membusuk bersama KRS yang lecek dan jas almamater yang tak jua dicuci meski pun telah lusuh. Ya, demi orangtuaku.
Tapi belakangan, aku merasakan bahwa aku kangen, bukan karena kuliahnya, tapi karena setelah kuliah, ada yang menjemputku dengan vespa biru dan mengajakku nonton film baru di kostannya. Haha, dan itu menjadi alasan keduaku untuk tetap pergi ke kampus meski pun hujan dan panas.
Kuliah, ngantuk, tugas-tugas, semua itu hanya cobaan "kecil" untuk membentuk diriku yang sebenarnya. Aku sempat berbincang dengan temannya A Apuy, A Abad namanya, dia bilang bahwa lulusan UIN paling dicari di dunia kerja. Aku heran, mana mungkin lulusan UIN yang notabene "paling banter" mulus masalah agama bisa dicari di dunia kerja? Lalu jawaban A Abad membuatku terenyuh, ternyata lulusan UIN dicari di dunia kerja karena hanya lulusan UIN yang mau mengerjakan tugas kantor hingga larut malam tanpa meminta uang lembur. Bayangkan, jadi tugas-tugas itu diberikan untuk membentuk mental seorang pekerja. Haha. Sebenarnya tidak, tapi memang jika ingin berhasil, maka harus bekerja dua kali lebih banyak dari orang biasa. Jadi, tugas yang banyak itu sebenarnya dinikmati saja, seperti badai, nantinya akan berakhir jua.
Dulu aku sering memprotes tugas yang banyak itu, tapi sebenarnya, hikmah dari aku mengerjakan tugas-tugas itu adalah akhirnya aku pandai merangkai kata. Bahkan sempat-sempatnya ketika mata sudah lelah dan kasur berantakan oleh buku-buku, aku menulis antologi cerpen tentang si buku merah bersama teman baikku. Meski pun imbasnya adalah teman-temanku merasa terusik dengan keberadaan puisi itu. Tapi bagusnya, aku bisa bebas mengeluhkan tugas yang banyak tanpa harus merasa munafik, sedangkan yang lain harus pura-pura tersenyum padahal di belakang mereka mengutuki tugas-tugas itu. Well, siapa sih yang mau begadang setiap hari mengerjakan pekerjaan yang begitu banyak? Just ask your self frankly!
Meski pun sebenarnya yang aku kangeni adalah sosok pria yang sekarang ada di waktu Indonesia bagian tengah alias WITA, tapi dalam aku pun tidak menolak untuk kuliah lagi, apalagi S2, apalagi beasiswa, apalagi Ausie... Haha.  Amiiinn...
Sebenarnya ingin kuketik sebuah status kangen pacar... Tapi, takut disangka alay dan manas-manasin tetangga yang lagi putus cinta. Jadinya just kangen, kangen sama semua orang yang mengangeni aku. Kalian kangen? Jelas, karena aku memang sangat ngangenin... :p

sahabat laki-laki

Aku selalu berandai-andai. Bagaimana jika aku terlahir sebagai seorang pria. Lalu hidupku yang penuh larangan ini dan itu berubah menjadi kehidupan yang bebas dan menyenangkan. Bagaimana rasanya?
Selama ini aku sudah muak menjadi wanita. Dunia yang penuh dengan high heels dan bedak. Dunia yang penuh dengan rumpi dan gencet-gencetan. Selalu saja harus bersikap manis ketika bertemu sesama wanita. Aku tidak bisa bilang maneh dan anjing sesuka hatiku. Padahal, dua kata itu adalah dua kata yang selalu aku pikirkan ketika aku bicara pada sesama wanita, terlebih pada mereka yang tidak kusukai. Aku ingin memanggil mereka bebel atau goblog, sesuai dengan watak mereka. Sungguh.
Aku punya banyak teman pria, mereka semua baik dan aku suka kehidupan mereka. Tak ada yang mengeluh jika mereka berbagi secangkir kopi tanpa sikat gigi atau cuci muka dahulu. Juga tidak ada yang protes meski pun mereka tak mengganti pakaian berhari-hari. Dan panggilan maneh dan anjing itu seperti panggilan kesayangan pada sesama mereka.
Wanita itu bergerak dalam kata, tapi para pria bergerak dalam sikap. Mereka tak segan untuk mengepalkan tinju dan menonjok siapa saja yang berani mengganggu temannya, tak peduli temannya itu salah atau benar. Sedangkan wanita, mereka bertele-tele dalam kata, tindakan mereka nol. Dan memang wanita diciptakan untuk menjadi calon ibu yang cerewet.
Teman wanita yang benar-benar ada di sampingku untuk membimbingku, di depan untuk menunjukan arah yang baik dan di belakang sebagai pemberi tahu yang salah dan benar bagiku masih bisa dihitung dengan jari. Kemana wanita yang lain di dunia ini? Entahlah, mereka dengan dunianya, mungkin, dengan high heels dan etude-nya.
Kelaminku membatasi langkahku. Aku sering berandai-andai, bagaimana jika aku adalah seorang pria, apakah aku akan jadi best friend Furkon? Ataukah justru aku harus menjadi saksi bisu ketika Furkon justru mencintai gadis lain karena aku tidak terlahir sebagai wanita di hidupnya? *ceurik ngagogosok taneuh*
Yah, meski pun aku tetap seorang wanita dengan segalal keterbatasanku dan segala kekuranganku, jika harus kehilangan detik-detik berharga bersama keluargaku dan Furkon, aku tidak rela juga. Aku tidak mau ada gadis yang menggantikan aku di hati keluargaku dan Furkonku.
Biarlah gigi seriku ini menghalangi kata maneh dan anjing untuk para wanita yang tidak kusukai itu. Asalkan Furkon dan keluargaku tetap menjadi milikku seorang. Toh aku hidup bersama mereka yang kucintai, tidak dengan mereka yang membenciku.




Amin.

untuk teman-teman seperjuanganku...

Lilis, aku mengingatmu dengan kerudung putih dengan corak biru. Aku lalu berkenalan denganmu di aula kampus saat kita sedang OPAK. Lalu kita berteman. Aku melupakanmu lagi dan lagi, berkenalan lagi dan lagi hingga akhirnya aku benar-benar mengingat wajahmu saat kau mengirimiku pesan di masjid. Ingat tidak, Lis?
Kau memang yang paling baik, paling rajin memberitahukanku jadwal kuliah, tugas dan jadwal ujian. Keberhasilanku yang seperti ini dimulai olehmu, sungguh! kau adalah teman pertamaku, yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku saat orang lain tak tahu kapan hari ulang tahunku. Kau juga yang tetap duduk di sampingku saat orang-orang memusuhiku.
Ah Lilis, kamu "kolot" dan aku sangat beruntung bisa berteman denganmu, di hampir empat tahun kita bersama. Terimakasih untuk segalanya, Lis. Maaf aku selalu mengeluhkan kostanmu yang begitu jauh, mengomentari kamarmu di lantai 3 yang tangganya sangat menyiksa itu dan aku selalu menjelek-jelekan si Ikan-mu. Hehe, maaf.

Aku mengenalmu sebagai si Nenx Euiz SukaPulpy, gadis yang "mirip" aku. Seseorang yang meng-add facebook-mu harus bilang bahwa dia meng-add-mu agar kau segera meng-confirm-nya. Seseorang harus menyapamu dengan menyentuh tangan atau lenganmu agar kau sadar bahwa orang itu menyapamu. Seseorang juga harus mulai bercerita agar kau up to date pada gosip panas di kampus. Ya, aku mengenalmu sebagai gadis yang seperti itu. Dan aku beruntung kau ada, jadi aku takkan merasa bahwa aku adalah makhluk aneh yang "sendirian" di dunia ini. Karena ada kau yang sama "aneh"-nya. Hehe. Kesamaan kita mungkin karena kita lahir di bulan yang sama dan dengan tanggal yang berdekatan.
Kita memulai cerita dari kuntilanak di kostanmu hingga cerita-cerita horor yang membuat Lilis tersiksa mendengarkan obrolan kita. Haha, setelah ini, aku akan sangat merindukan obrolan kita, baso HI dan nonton film bareng.

Untuk Mira, aku tidak ingat kapan pernah meng-add facebookmu. Tapi setelah berulang kali aku membuat facebook, akulah yang selalu meng-add-mu duluan. Kita dekat karena kita sama-sama punya kamera, sama-sama suka protes dan membuat resolusi aneh untuk menentang kerajaan lebah. Haha. Kita (dulu) sama-sama suka menulis, membuat puisi yang "tidak sengaja" menyakiti perasaan beberapa pihak. Tapi menurut seorang sastrawan, puisi kita bagus.
Kita sama-sama membuat akun di xanga, menulis berbagai hal agar tidak terbaca para "penguntit". Sepertinya meski pun kamu di Cijapati, kita takkan sering bertemu juga kecuali kalau ada acara-acara besar. Aku suka melihatmu berjuang untuk Kateter dan skripsimu dalam waktu yang bersamaan. Hehe, kita sakit bersama, aku sembuh duluan. Semoga kamu juga cepat sembuh, Ya.

Papap, Alpariji. Entah sudah berapa orang yang bertanya, "si zets pacaran sama si Lukita? Mira? Euis? Lilis?" haha. Terimakasih sudah berbagi film personal taste yang sampai sekarang pun belum beres kutonton. Aku bahkan sudah malas karena kau sudah menceritakan akhirnya. Terimakasih juga telah membantu men-download program moodle saat aku berencana membuat skripsi tentang e-learning. Haha. Cepat sukses zets, ada wanita yang menunggumu...

Kiky, HI-mu selalu kutunggu. Semoga tidak tersesat lagi dalam percintaan. Segera temukan dermagamu, jangan mudah menurunkan jangkar jika kau belum yakin. ^_^

Lalu yang lain, yang namanya enggan kusebut karena aku belajar bahwa hanya beberapa orang saja yang mau namanya dicantumkan dalam tulisanku, hehe. Semoga cepat selesai dengan urusan perkampusannya. Tanpa kalian, aku tidak akan menjadi film maker yang lolos di Jakarta dan di Bandung. Haha. Tanpa kalian juga, aku mungkin masih mengurung diri seperti katak dalam tempurung atau masyarakat Athena dengan guanya. Tanpa kalian, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Furkon. Untuk semuanya, meski pun maaf itu begitu tabu keluar dari bibir, terimakasih sajalah...

minder

Aku minder saat harus bertemu dengan orang-orang banyak. Aku tidak terbiasa bicara di depan orang banyak karena sebelumnya tak ada orang yang menginginkanku untuk bicara. Aku terbiasa untuk duduk di belakang, dikucilkan dan dihina.
Hingga suatu ketika, si gadis yang selalu dihina ini menjadi bintang, guru-guru memujiku karena kemampuanku dalam pelajaran komputer. Dulu orang yang bisa dengan mahir memakai komputer hanyalah para sekretaris atau perkantoran saja. Lalu aku, seorang gadis berumur 13 tahun dapat dengan mahir mengoprasikannya. Hal itu sedikit membuatku punya "muka" untuk bertemu dengan orang-orang di dunia ini dan untuk bicara di depan umum.
Kemudian di SMA, saat aku berumur 16 tahun, guru komputerku lagi-lagi memanggilku, dia memintaku untuk menjadi orang pertama yang mengisi tempat "ketua" dari organisasi teknologi informasi sekolah. Sebuah komunitas yang bergerak di bidang programming dan desain. Karena aku merasa bahwa aku bisa karena terbiasa, maka aku mengundurkan diri dan mengajukan orang lain. Aku semakin punya "muka" untuk menghadapi dunia.
Lalu di perkuliahan, saat orang lain sudah sibuk dengan handphone-nya yang canggih, aku hanya memiliki sebuah handphone jadul dengan layar yang pecah, sehingga aku hanya bisa membaca pesan dari layar di bawahnya. Tapi dosen komputerku lagi-lagi memuji kemampuanku dalam hal teknologi informasi. Aku kini punya "muka" setelah mendapatkan nilai A, bahkan dosen itu bilang bahwa dia belum pernah bertemu dengan mahasiswa mana pun yang semahir aku.
Sekarang, tanpa komputer pun aku bisa punya muka untuk menghadapi dunia. Bahkan meski pun kemampuanku hanya bercerita dan menulis tanpa ilmu tentang kepenulisan, aku masih bisa berkarya dan punya pembaca.

Aku kemudian teringat cerita kakak kelasku, Acil namanya. Dia berasal dari dusun terpencil, pinggiran kota, yang tidak ada sinyal handphone apa pun dan untuk bersekolah, harus melewati banyak tanjakan dan turunan. Dia pun dulu merasa minder. Tapi Tuhan menganugerahinya kemampuan melukis. Dari lukisannya, dia bisa memberi vespa, membiayai kuliahnya, menghidupi dirinya dan melakukan banyak perjalanan yang "wow".
Aku kemudian melihat pacarku sendiri, Furkon. Dia pun berasal dari daerah terpencil, tapi dengan kepintarannya, dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Aku bahkan kagum padanya karena dia mempelajari begitu banyak hal. Dan itu tidak kulihat dari orang-orang yang dulu menghinaku. Seujung tai kukunya pun tidak.

Lalu kita (manusia) harus menjadi yang mana? Menghina seseorang tidak menjadikanmu lebih baik. Dan bagiku sekarang, tidak perlu minder. Toh orang tidak tahu berapa uang yang tersimpan di dalam dompet kita. Mereka juga tidak tahu seberapa jauh kita sudah berusaha dan seberapa sakit hati kita karena terhina. Tetap saja memandang ke depan.


tragedi

"Dan kau kehilangan orang sepertiku, apakah kau tahu?"
Ipang - Orang sepertiku

Sambil ngedengerin lagunya Ipang - orang sepertiku, saya iseng mikir tentang fenomena yang sedang terjadi di kampus saya. Menurut saya, kejadian itu menjadi sebuah tragedi yang mempermalukan semua pihak. Semua pihak akhirnya dirugikan tapi semuanya enggan mengakui. Tapi saya di sini mengakui bahwa saya merasa dirugikan.
Jadi, permasalahan muncul ketika ada seseorang berinisial VP menulis di dinding facebook dosen saya dengan kalimat yang sangat tidak menyenangkan. Jelas ini tidak boleh ditiru oleh siapapun. Dia menulis tentang kekecewaannya karena nilai-nilainya belum juga dikeluarkan oleh dosen yang bersangkutan. Dia melaknat dosen itu di situs pertemanan umum facebook.
Sebenarnya masalah bisa usai jika si tersangka VP itu datang kepada dosen saya dan meminta maaf. Tapi orang berinisial VP itu tidak pernah ada di jurusan saya. Bahkan dari angkatan pertama hingga angkatan 2011 pun tidak ditemukan mahasiswa bernama VP. Jelas si tersangka itu meneror seluruh mahasiswa di jurusan saya. Dia adalah musuh di balik selimut, mungkin saja dia adalah mahasiswa di jurusan saya.
Melalui beberapa penelitian oleh pihak ahli TI dan sistem informasi, akhirnya dapat dilacak keberadaan dari si akun VP itu. Lalu dengan bantuan para alumni dan mahasiswa di jurusan saya yang merasa dituduh dan dirugikan, kasus itu menemui titik terang hingga akhirnya muncullah sebuah nama mahasiswa.
Disayangkan, mahasiswa yang diduga otak dari akun VP itu adalah teman sekelas saya. Jelas akhirnya semua dosen menyerang kelas saya. Lalu muncul statement dari salah satu dosen yang mengancam untuk tidak meluluskan saya dan teman-teman saya sekelas karena masalah ini. Saya tentu terpukul, bayangkan saja, saya tinggal menyusun BAB 3 dan simpulan, masa' saya tidak bisa lulus karena hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya?
Akhirnya, saya, teman-teman dan terdakwa otak dari VP itu dipanggil oleh dosen yang dicemarkan nama baiknya dan disidang. Kami berharap terdakwa itu akan mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Tapi sayang, saya dan teman-teman hanya boleh berharap, kenyataannya, terdakwa tidak mengakui kesalahannya.
Dosen saya mungkin kesal, karena bukti jelas sudah tertuju pada si terdakwa tapi si terdakwa tidak mau mengakui. Jadi dosen saya bilang bahwa terdakwa tidak perlu bimbingan skripsi lagi pada dosen saya itu sampai si terdakwa mengaku atau ternyata ditemukan tersangka lain. Begitu katanya.
Air mata langsung meleleh dari mata si terdakwa. Saya sendiri sih tidak bisa menilai seseorang itu berbohong atau tidak. Lagi pula saya tidak mau menciderai silaturahmi saya dengan teman saya itu. Dulu dia pernah menuduh saya mencemarkan nama baik dosen saya itu di facebook. Akhirnya saya disidang, tapi bukti tidak mengarah pada saya. Toh si dosennya saya klarifikasi pun bilang bahwa bukan saya pelakunya.
Merasa pernah senasib, maka saya memberi saran pada dosen saya itu, bahwa jika ternyata tuduhan yang sudah diberikan itu salah, maka saya meminta pada dosen saya itu untuk segera memulihkan nama baik teman sekelas saya itu. Beliau pun mengiyakan. Meskipun bukti sudah jelas mengarah pada teman saya itu.
Dosen saya sedikit menyindir saya perihal masalah yang dulu pernah ada. Beliau bilang bahwa wajah saya lebih berpotensi membuat kasus dari pada si terdakwa. Si terdakwa memiliki wajah keibuan dan polos, kata dosen saya itu. Saya hanya tertawa. Mungkin semua orang yang hadir di persidangan itu berharap saya adalah pelakunya. Jelas kemampuan saya menyabotase data, membuat salinan dokumen dan bermain dengan akun-akun dinilai oleh dosen saya begitu rapi. Tapi kemampuan saya melakukan hal-hal itu karena saya dulu mengerjakan tugas kuliahan sendiri, saya tidak punya buku, jadi saya terlatih untuk mencari data yang saya butuhkan dengan cepat. Jika pun saya adalah pelakunya, maka tidak akan pernah ada terdakwa yang ditemukan. Karena sekarang didapat seorang terdakwa, maka jelas bukan saya.
Dulu saya bercita-cita sebagai hacker. Saya sempat meng-hack beberapa akun secara diam-diam dan hanya menjadi rahasia saya saja, tapi kalau sekarang jadi rahasia umum. Tapi kemudian karena saya merasa bersalah, saya langsung taubat nasuha. Sampai detik ini, saya belum pernah sekali pun meng-hack orang-orang lagi.
Saya sih berharap jika pelakunya bukan si teman saya itu. Karena bagaimana pun, jika dia terbukti yang melakukannya, maka hukuman akan dijatuhkan pada satu kelas, bukan hanya pada dia saja. Tapi kalau ternyata bukti tidak mengarah pada orang lain, maka saya akan bersikap egois untuk menjerumuskan teman saya itu untuk mengaku, bagaimana pun caranya.
Kalau saya sampai tidak lulus semester ini, saya tidak tahu harus mencari uang dari mana. Saya saja masih mengusahakan uang untuk wisuda, mana mungkin ada untuk registrasi lagi? Lagi pula ancaman menghapalkan juz 30 itu juga begitu berat untuk saya. Pasalnya untuk menulis ini saja, saya harus menunggu otak saya keruh oleh skripsi dulu. Kalau belum keruh, saya terus mengocok otak bersama rumus dan buku-buku.
Semoga bukan teman saya, semoga bukan si IL...


sore ini

Aku sedang duduk di depan kampus sendirian. Matahari memelototiku di Barat dan aku tahu belum waktunya untuk akhir dunia ini. Aku sedikit memikirkan tentang keadaan diriku dan apa yang akan kulakukan setelah semua renunganku berakhir. Jadi, sebelum aku lupa, aku mulai menulis semuanya.

Sore ini, semuanya kuceritakan di hadapanmu, matahari, angin, pasir, pepohonan...
Masih ingatkah saat aku baru menginjakkan kakiku di kampus ini? Dengan pakaian yang serba rapi, kulangkahkan kaki malu-malu melewati kakak-kakak kelas dengan rambut gondrong dan berjanji dalam hati bahwa aku takkan tergoda oleh rayuan mereka. Lalu, aku juga melewati spanduk-spanduk ekskul yang baru kuketahui kemudian namanya di perkuliahan adalah UKM. Aku pun berjanji takkan pernah masuk UKM yang menyesatkan jalanku untuk segera lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude. Itu semua 3 tahun lalu, mungkin sudah seribu hari. Tapi masih terasa kemarin sore, sungguh.
Kemudian, aku masih ingat ketika lututku lemas saat mendengar pengumuman bahwa aku lulus seleksi di kampus ini. Aku berharap ada kekecewaan, tapi kadang Tuhan begitu baik. Dan entah mengapa Dia selalu mengabulkan doa-doa yang tidak perlu dan menjadikanku beruntung punya Tuhan seperti Dia. Dia mengabulkan apa yang tidak kuminta dan memberikan apa yang kukira tidak perlu. Terimakasih, Tuhan. Entah bagaimana cara berterimakasih pada-Mu.
Entah mengapa aku punya kebiasaan memanggil kakak-kakak kelas yang punya rambut gondrong dengan sebutan “si cantik”. Kadang aku memanggil mereka dengan sebutan itu dan satu persatu mereka membalikan tubuhnya, seolah menyahut panggilanku dan aku tertawa senang. Saat itu, aku merasa hanya hal itu yang bisa menghiburku.
Sendiri. Aku selalu sendiri. Aku tak berharap punya banyak teman dan aku memang tak mau berteman dengan banyak orang. Tapi lagi-lagi Tuhan baik, Dia mengirimkan aku banyak teman dan aku mengenal lebih banyak lagi dari teman yang banyak itu.
Hidupku dipenuhi teman yang banyak hingga aku malu karena tak juga bisa mengingat wajah dan nama mereka satu persatu. Hingga akhirnya aku sadar bahwa punya banyak teman pun tidak terlalu mengasyikan. Tidak se-asyik memanggil kakak-kakak gondrong itu dengan sebutan si Cantik.
Lalu aku kembali memilih sendiri. Tapi entah mengapa Tuhan begitu baik, lagi-lagi saat aku ingin sendiri, Dia mengirimkan teman yang tak kalah banyak. Tapi kali ini aku menolaknya. Aku tak mau teman yang banyak, aku mau hidup yang mengasyikan.
Simsalabim... Aku punya hidup yang mengasyikan dengan beberapa orang yang menganggapku “socrates”, jadi mereka mencoba membunuhku. Tapi tentunya aku tak mau ikut permainan bunuh membunuh. Aku cinta damai dan aku biarkan semuanya tetap berjalan asyik. Aku sendiri. Hidup asyik. Tapi aku tidak saling bunuh membunuh. Tetap memanggil kakak-kakak gondrong dengan panggilan si Cantik.
Aku masih tak tergoda untuk mengikuti UKM apapun apalagi terkontaminasi dengan kehidupan kakak-kakak gondrong apalagi kakak-kakak bercadar. Jadi, aku tetap menjadi aku yang sama seperti aku yang baru masuk ke kampus ini. Dan kukira, setelah keluar pun aku akan menjadi orang yang sama. Nyatanya tidak.
Rasanya angin sore ini sama seperti angin sore itu saat aku memutuskan takkan pernah mendekati 3 hal, uKM, kakak cantik dan kakak bercadar. Aku takkan bisa merelakan diriku menjadi salah satu bagian dari kepercayaan sesat lalu namaku terpampang di koran lokal dengan judul : Seorang mahasiswi menjadi pelaku bom bunuh diri.
Tapi atmosfirnya berbeda. Padahal ini masih disebut bumi. Apa bedanya 3 tahun lalu dengan hari ini? Apa bedanya aku yang 3 tahun lalu dengan aku yang sekarang? Menurutku semuanya tidak ada yang berubah, aku tetap aku.
Kutatap lekat-lekat wallpaper di handphone-ku. Ya, salah satu kakak gondrong itu menjadi pacarku. Dan puluhan kakak bercadar itu adalah teman-temanku. Dan suka atau tidak suka, akhirnya aku pun tak bisa menolak hasrat untuk masuk dalam salah satu UKM, meskipun UKM yang kuikuti adalah UKM independen.
Aku mengingkari kata-kataku sendiri. Pantas saja meskipun aku masih di bumi, atmosfirnya berbeda...
Aku merasa asing dengan diriku. Dulu, seribu hari yang lalu, aku adalah siswi rajin dengan niat belajar dan lulus 3,5 tahun yang membara. Tapi kali ini, aku justru tak lagi diberi perasaan itu. Aku tak lagi peduli tentang lulus 3,5 tahun, beasiswa, sekolah ke luar negeri, IPK cumlaude atau apapun. Bagiku semuanya seperti mimpi.
Aku terlalu banyak menggigit jari dengan segala hal di duniaku yang baru ini. Perlahan, semuanya terkikis. Aku tak lagi produktif. Seperti lokomotif kereta tua, aku hanya bisa melewati jalan yang sama. Tapi sungguh, aku takkan mau menjadi lokomotif kereta tua. Aku hanya sedang berpikir.
Pikiranku sedang dibagi-bagi. Dan mataku baru dibuka, bahwa apa yang dulu kuanggap sebagai tujuan, ternyata bukan benar-benar sebuah tujuan. Aku menganggap semua ini efek dari aku keluar dari gua “socrates”. Dan aku terkejut bahwa dunia di dalam gua dan di luar gua begitu berbeda.
Mendengar seruan bersujud pada Tuhan yang biasanya membuatku ingin berteriak, “Berisik!” dan melemparkan salah satu sandal-ku ke sumber suara, kini memberiku sebuah jawaban. Dan aku mengerti apa yang harus kulakukan. Bahkan, meskipun aku tak tahu jawaban itu berasal dari Tuhan, Malaikat atau Iblis sekalipun, aku kira itu adalah jawaban yang paling benar. Karena aku tak memikirkan kata itu sebelumnya.
Kata itu tiba-tiba saja lewat di dalam pikiranku dan membuatku berpikir bahwa tak peduli seperti apapun keadaan dan pemikiranku 3 tahun lalu dan hari ini. Satu hal yang pasti, Tuhan masih baik padaku.
Tuhan masih belum mengetuk perasaanku untuk segera bersujud menghadap-Nya, tapi aku yakin Tuhan tahu bahwa dengan tulisan ini pun, aku sedang memujanya. Bahkan lebih khidmat dari pada aku berjungkir balik 5 kali sehari.
Tuhan. Untuk matahari yang sebentar lagi tenggelam di Barat itu, aku berterimakasih untuk semuanya. Dan aku memang tidak salah ketika memilih berdamai dengan-Mu. Meskipun aku sering berkonflik dengan takdir-Mu, tapi selalu kucoba memahami alurnya. Hingga kau dan aku bisa hidup berdampingan seperti kau dengan ciptaan-Mu yang lain.
Sungguh, terimakasih, Tuhan. Terimalah ucapan terimakasihku ini, karena mungkin saja aku akan memakimu setelah tulisan ini berakhir.
Dan aku mencintai-Mu melalui sosoknya...


16 Juli 2011

sepi

Setelah pemikiranku yang terkadang begitu skeptis akan sesuatu;
setelah pendapatku telah kukeluarkan semuanya dari otakku;
setelah aku habis menertawakan caraku berpikir yang kian meruncing dan kasar;
aku merasa kosong.

Karena aku tahu.
Aku sedang meniupkan angin;
yang nantinya kutuai badai;
cukup besar untuk membuat semua hal yang kusayangi menghilang.

Aku akan sendiri lagi.
Aku akan merasa sepi lagi.

Kali ini, bahkan sebelum benar-benar bersentuhan dengan sepi, aku sudah bisa merasakan dinginnya.
Tubuhku menggigil dalam balutan selimut tebal yang hangat.
Aku takut sendiri, aku tak mau merasa sepi.
Tapi membiarkan pemikiranku membusuk juga adalah sebuah dosa.
Tuhan, kenapa kau buat aku merasakan takut jika kau berikan anugerah terbaik, yaitu sebuah pemikiran yang begitu skeptik?
Hilangkan rasa takutku, Tuhan. Aku lebih suka menerima berkat-Mu yang berisik pemikiran skeptik ini dari pada rasa takut.


29 Juni 2011

berbalik

Dia bilang aku berubah, dia tak mengenaliku lagi sejak aku memaafkannya. Aku tersenyum. Ternyata tak hanya mereka yang menyadari perubahanku. Kau juga. Padahal aku hanya banyak diam dan memperhatikan. Tertawa bersama sesuatu yang membahagiakanku dan memilih untuk tak menganggap ada masyarakat kuno itu. Begitu mudah kan? Aku hanya berbalik.

"Apa ini kehidupan kamu di luar?"
"Emangnya kenapa?"
"Aku cuma bisa liat kamu senyum dan ketawa sama beberapa orang yang masih bisa diitung pake jari. Aku kira kamu ga bisa senyum."
"Aku memang sengaja. Aku hanya ingin membagi senyum pada orang-orang tertentu."
"Jadi ini kamu?"
"Ya, di luar dinding, di luar kertas-kertas HVS, di luar buku bersampul pelangi... inilah aku."
"Bukankah aku juga temanmu?"

Aku berbalik dari dunia yang menjemukan. Aku tak peduli suara riuh di belakangku yang bilang aku harus berbalik. Aku bukan Socrates yang bisa dengan mudah mati. Meneguk racun dengan tanganku? Lebih baik kusembur dulu racun itu ke muka-Mu.

Aku berbalik. Dari yang tak bisa memaafkanmu, berubah menjadi memaafkanmu. Mengerti bahwa kau memang si manusia yang tak tahu diri dan aku adalah manusia yang malang saat itu. Aku bermain dengan cahaya yang kau bawa, kemudian saat tersadar itu api, api itu sudah melalap pakaianku.

Aku berbalik.



16 Februari 2011

JOKER


Saat aku menatap kalender biruku. Waktu ternyata berjalan sangat cepat! Seolah semuanya baru terjadi kemarin. Saat mereka mengasingkanku. Saat mereka menepikanku dalam pandangan mereka. Saat mereka menghapus jejak-jejakku dalam kehidupan mereka.

Kini aku dikenal sebagai orang asing dalam lingkungan mereka. Mereka tak kenal aku, tapi aku kenal mereka. Mereka tak mau aku, aku juga tak mau mereka! Aku harus peduli ketika mereka marah tapi mereka tak pernah peduli padaku jika aku marah. Mereka ingin didengar ketika sedih, sedangkan mereka mengabaikan butir-butir air mataku.

Aku kini menjelma sebagai orang yang hanya mondar-mandir di kehidupan mereka tanpa sedikitpun direspon oleh mereka. Menjadi hantu disiang hari. Bayangan dimalam hari. Menjadi satu butir pasir diantara hamparan luas pantai. Satu titik hujan di dalam awan gelap.

Aku lebih banyak menangis, mereka tidak peduli. Saat aku ada, mereka mengacuhkanku. Menganggap aku sudah mati. Atau memang sebenarnya aku sudah mati?

Mereka membuat aturan untuk membenciku. Dan mewajibkan menyukai mereka. Dengan topeng-topeng mereka. Dengan kesan lembut namum beringasan. Dengan senyum hangat menyeringai kejam. Aku, yang berusaha apa adanya ini mereka benci. Tapi kenapa? Apakah karena aku tak bertopeng seperti mereka?

Terkadang aku berpikir untuk menjadi orang lain. Orang yang bisa mereka suka. Tapi itu bukan aku. Aku lebih suka jadi aku. Meskipun aku tak tahu aku yang aku suka itu seperti apa. Aku nyaman dalam ketersesatanku pada jati diriku. Aku suka ketika aku bingung menentukan masa depanku. Aku bahagia menjadi jiwa yang luntang-lantung sebelum akhirnya aku jatuh di jurang kekecewaan lagi. Kenapa aku harus jadi orang lain?

Setiap hari bersama mereka. Membuatku sadar. Bahwa aku memang tak seharusnya bersama mereka. Bukan, aku hanya tidak tepat. Mungkin benar, aku salah masuk jurusan. Mungkin juga benar bahwa aku salah memilih. Atau aku salah ditempatkan?

Jika aku diajak tertawa bersama mereka, aku menjadi asing. Aku tak benar-benar bahagia sebenarnya. Bersama mereka, aku seolah diseret-seret dalam kehidupan yang bukan milikku.

Ketika aku bicara dengan mereka. Aku menjadi muak pada diriku sendiri. Kenapa hanya mereka yang boleh egois untuk membenciku? Mendiamkanku berbulan-bulan? Mengapa aku harus selalu menjawab pertanyaan bodoh mereka? Mengapa aku tak boleh mengacuhkan mereka balik?

Mereka banyak. Aku satu. Oke, ditemani beberapa kawan baikku. Tapi aku satu. Aku sendirian. Oke, karena aku memang lebih suka sendiri. Aku kesepian, seorang diri. Dan tak ada yang mau tahu. Kenapa sih, aku harus dibuat menjadi SATU?

Aku selalu harus memakai jati diri yang bukan aku. Tak ada yang menyukai aku yang sebenarnya. Setiap hari menggunakan topeng ramah, aku bosan! Sesekali, bisakah kalian mulai mendengarkanku? Bisakah kalian menghargai aku yang selalu menjawab pertanyaan bodoh kalian itu? Bisakah kalian memperhatikan aku yang setiap hari sakit?

Aku sakit. Lambung, ginjal, hati, jantung. Kalian pedulikah? Aku berani bertaruh kalian tidak tahu. Setiap malam aku didera takut pada kematian, kalian pedulikah? Tubuhku dijejali bermacam-macam obat setiap harinya, kalian mau tahukah?

Tolonglah, bukankah aku ini teman kalian juga? Jika aku bukan teman kalian, maka apa aku? Joker? Yang tak sengaja ditempatkan dalam tumpukan kartu sama? Yang bukan wajik, hati, sekop atau keriting? Yang bisa hilang tanpa seorangpun menyadarinya?

Aku lelah untuk menjadi seorang yang bukan aku. Pahamilah sedikit bahwa aku ingin kalian hargai. Pahamilah sedikit rasa sakit ditubuhku tanpa aku harus meraung dan menangis. Perhatikanlah sedikit tentang aku ini.

Aku ingin percaya bahwa aku bukan joker. Tapi berbulan-bulan ini, aku memang si joker. Kalian membuktikannya padaku.

Aku kecewa, tapi kalian tidak mau dengar. Aku sedih, kalian tidak peduli. Bahkan mungkin jika aku matipun kalian baru sadar ratusan hari setelahnya. Begitukah?

Aku ini anak hilang. Tak tahu kemana tujuanku. Tak tahu dimana aku berasal. Aku hanya ingin merasa betah disebuah tempat.

Aku tak ingin dijejali kata persahabatan yang muluk-muluk. Aku hanya ingin berteman baik dengan semua orang. Itu saja. Untuk merasa diterima.

Kalian memang sudah menolakku. Jadi benar, aku si joker. Bukan golongan si cantik, si kaya, si berisik, si pintar atau pendiam. Jadi jika aku hilang, takkan ada yang menyadarinya...

Jika jadi joker aku diperbolehkan tak menjawab pertanyaan bodoh kalian, aku mau. Jika jadi joker aku bisa jadi diriku sendiri, aku mau. Jika jadi joker aku bisa keluar masuk dunia manapun yang kusuka tanpa harus dibenci dan diperdebatkan, aku mau.

Jadi, jangan tanya aku. Jangan jadikan aku orang bertopeng seperti kalian. Jangan masukkan aku dalam dunia gelap kalian. Cukup disini saja. Disinipun aku sudah tahu tanah apa yang kupijak. Disinipun aku sudah tahu langit apa yang menaungi kepalaku. Dan disinipun aku sudah tahu mana yang benar-benar kawanku...








2111 2010

lintah eksklusif

Aku bingung. mungkin karena aku terlalu bodoh memahami sebuah perasaan. Atau aku memang sengaja ingin buta atas perasaan yang tersirat?

Apa harus, meninggalkan teman lama dan memusuhinya untuk mendapatkan teman baru? Aku selalu belajar bahwa baju baru tak pernah seenak baju lama. Entah mungkin karena aku lebih suka buku dari pada baju ?

Aku tak mengerti, apa harus ada senyum berbalut luka disetiap tawa? Pagi ini kau menghampiri dengan senyum penuh makna, bicara dengan kata-kata halus seolah kita kawan lama yang terpisahkan, kemudian siangnya kau mulai bertingkah tak acuh seolah yang tadi pagi kau hampiri adalah kotoran, tak ingin kau sentuh sedikitpun. Sore hari, ketika perutmu lapar, pakaianmu basah, kau memintanya untuk membelikanmu makanan dan meminjamkan handuknya untukmu.

Ada perasaan menggelitik yang benar-benar mengganggu saat aku memperhatikan mereka. Rasanya aku ingin ikut campur dan marah, tapi aku adalah orang luar yang tak tahu keadaan di dalam, maka aku diam.

Berteman dengan mereka seolah memiliki beberapa sisi kepribadian, kadang baik, jahat, labil, kemudian kembali stabil, dinamis dan kembali statis... entahlah.

Seolah tak ada keinginan mempertahankan pertemanan, membiarkannya hancur, lapuk dan hilang, membara, tak terpisahkan kemudian kembali hancur. Seolah jika terjadi saling gigit antara teman, maka mereka akan membentuk arena yang pas untuk melakukannya. Atau ketika minoritas dijauhi, mereka membiarkan semuanya berjalan seperti itu.

Aku pikir aku ini kurang dewasa memaknai persahabatan, ternyata masih ada yang lebih buruk dariku.

Ketika aku menghentikan suatu pertemanan eksklusif, aku akan memulainya dengan menyadari bahwa dia berdampak buruk untukku, menjadikan proses metamorfoself-ku untuk menjadi kupu-kupu indah terhambat, maka aku menjaga jarak. Kemudian perlahan menarik diriku, karena takkan ada yang menyadari kehadiran dan kepergianku.

Tapi ini? mereka tetap berteman eksklusif, seperti lintah, menyedot hingga habis, ketika kenyang mereka tinggalkan dan ketika butuh mereka bergelayut.

Lintah, ya mereka lintah. Yang kutahu, seperti itu bukan pertemanan.



101010

"selamat ulang tahun"

Menit kelima di hari jadiku. Aku masih terus menatap jam tanganku sambil menunggu sms yang masuk. Tak ada. Tak ada yang masuk. Tak ingatkah? Tak ada ritual jam 12 tepat cinderella seperti biasanya. Tak ada untaian sms yang berusaha mengirim sms tercepat.
Menit ketujuh. Sebuah sms masuk, beratas namakan teman yang kukenal itu.

Aku tak ingin perayaan, dan aku bersungguh-sungguh saat mengucapkannya. Aku akan sangat marah jika seseorang melempariku telur atau menyiramku dengan air. Aku tak ingin hadiah, dan aku bersumpah tak menginginkannya karena kutahu, meminta seseorang untuk mengingatku saja itu sudah hadiah yang luar biasa.
Menit kesembilan, sms lainnya masuk, sebuah ucapan datang dari teman yang tak kukenal siapa, yang tak kusadari kehadirannya, dia asing bagiku tapi aku begitu dekat untuknya.

18 tahun aku hidup tanpa perayaan, tak pernah ada temanku yang tahu kapan hari ulang tahunku. Tak ada yang pernah mengucapkannya dan tak ada yang peduli. Hanya ucapan selamat dari adik-adikku, ibuku, dan ayahku, doa mereka sebelum mereka memotong kue di pagi hari atau ritual berpelukan sambil membisikan kata-kata doa. Aku kecewa saat salah satu adikku melupakan hari ulang tahunku, aku hanya ingin diingat.
Diulang tahunku yang ke-17, 3 orang yang mengaku sahabatku dengan lantang berkata, "Emangnya ada acara apa sih Ta? Kamu ulang tahun kan tanggal 1, 5, 12, 19 atau kapan gitu kan?"


Apakah permintaanku terlalu muluk-muluk jika aku hanya ingin ritual jam 12 itu? Diotakku terbayang nama-nama orang yang kuingat ulang tahunnya dalam otakku, setiap tahun selalu kuucapkan selamat ulang tahun untuknya, tapi mereka tak memperhatikanku.

Ketika aku berteman dengan seseorang, hal paling kecil yang bisa kulakukan adalah mengingat hari ulang tahunnya, mengucapkan selamat di tepat jam 12, meluangkan waktu untuk membuka mata dan mengirimi sms, perhatian kecilku. Dalam hati aku berharap, ketika aku menebar kebaikan, aku berharap kebaikan itu akan kupetik nantinya.

Bertahun-tahun bersama tak menjadikan kita dekat, hal termudah yang bisa kulakukan adalah hal tersulit yang pernah kau pikirkan, aku tahu aku tak akan pernah bisa memaksa seseorang menyukaiku, tapi... apakah satu ucapan selamat saja tidak bisa? apakah sedikit perhatian kecil dengan mengingat tanggal lahirku saja tidak bisa?

Aku bahkan bisa mengingat tanggal, jam hingga menit ketika kau dilahirkan... bagaimana denganmu?

Apakah kau mengenalku, orang asing?

Di 19, pertama kalinya aku mendengar lagu selamat ulang tahun membahana di telingaku, terucap dari bibir teman-teman di kampusku. Hari itu selalu kuingat karena hari itu adalah hari besarku, tak pernah ada yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun sebelumnya untukku selain keluargaku. Hari itu, merupakan hadiah terbesar yang pernah kumiliki, sebuah doaku terkabul, aku hanya ingin diingat... meskipun si lagu itu diucapkan untuk teman-teman yang lahir di bulan oktober lainnya juga.

Di 20, aku tak berharap apapun. Sejauh ini, hanya ada 3 orang yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun untukku...

Aku dengan bodohnya masih menanti 3 kata paling membahagiakan, 1 lagu yang akan menjadi lagu paling merdu hari ini.

"Selamat ulang tahun..."





7 oktober 2010

...

“Adalah membuang buang waktu untuk terus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang tidak kita sukai.”
- Iga Massardi.

Kayaknya sih kata-kata itu emang bener, kayak sekarang aja, guw belom nemuin alasan yang jelas untuk berlama-lama ada DISINI! Guw masih tetep ngerasa, guw ga seharusnya ada disini, penyangkalan, penyangkalan dan penyangkalan lagi... Guw pengen ngerasa betah, tapi gimana caranya? Guw pengen ngerasa punya sesuatu, tapi apa?

Sejenak, ketika guw baru ngerasain punya sesuatu, punya alasan buat tinggal disini lebih lama, punya alasan ngebantai keidealisan guw, akhirnya guw disadarin lagi kalo itu ternyata bukan alasan yang tepat... Si alasan guw itu ditempatin tepat disaat guw emang butuh alasan, meskipun guw taw ga masuk akal, guw terima, soalnya guw ga bisa mikir apa-apa lagi...

Ketika guw ngerasan ini loh rumah guw! ternyata guw salah, bukan rumah, bukan tempat yang menyenangkan untuk disinggahi. Guw maw kemana sih sebenernya?

Kayak sekarang, pas guw dihadepin di masalah kayak gini, dikucilkan, GUW BOSEN! dari dulu orang-orang kayak gitu terus sama guw, apa sih salahnya guw? apa sih kesalahan yang ga bisa dimaafin dari guw? okelah, guw emang ga suka disuruh-suruh, soalnya guw cape! guw ga sanggup diperintah-perintah, guw bukan tipe orang yang bisa seenaknya diperintah. Guw salah disitu? guw rasa semua orang kayak gitu, ga akan mau disuruh-suruh, di babuin.

Seumur hidup guw, sampe umur guw 19 maw ke 20, guw belom pernah ngucilin orang, guw belom pernah ngehina agama seseorang, guw ga pernah ngehina fisik seseorang, guw juga ga pernah ngomongin kejelekan temen2 guw sendiri sampe mulut guw berbusa, guw selalu nyoba JUJUR atas semua hal yang ada di diri guw, ucapan guw, otak guw, hati guw...

Sekarang, guw masih ngerasa semua yang guw lakuin ini sia-sia. Ini bukan hidup yang guw pengen! Bukan jurusan yang guw pilih! Bukan tempat yang guw idam-idamkan...

Tapi dalam penyangkalan ini, guw masih berpikir jernih, bahwa hidup itu ga selalu diisi sama apa yang guw pengen, ga selalu diisi juga sama yang guw pilih, ga diisi juga sama yang guw pengen. Guw disitu masih sadar, kalo hidup ini juga adalah labirin, dimana guw bisa salah belok, salah jalan dan lupa arah.

Kasih guw alesan, kenapa guw ngebuang ambisi guw taun lalu? kasih guw petunjuk kenapa waktu itu guw berpikir itu adalah alesan yang tepat? dan kasih guw penjelasan, kenapa ternyata semua alesan itu jadi kebohongan buat guw? apa guw korban permainan kata2 manis?

Guw ga bisa terima, guw ga bisa... tadinya guw pikir guw bisa, tapi tetep aja ga bisa. Meskipun setiap harinya guw bersikap seolah ga ada yang aneh, ga ada kegagalan dalam hidup guw dan yang ada cuma batu loncatan, tapi... BATU LONCATAN APA? Ga peduli berapa kali guw bilang, guw maw ngabisin sisa kekecewaan guw hari ini, tapi besok guw ga akan inget lagi tentang kekecewaan guw, tetep aja guw ga bisa...

Kalo guw ditanya, maw apa guw besok, guw ga tau guw maw apa! Guw sendiri bingung... hidup kayak gini itu ga pernah ada di benak guw, dan berapa umur guw sekarang? ketika semua orang sedang sibuk bikin masa depannya, guw masih aja bingung tentang 5 detik setelah ini, guw ga tau... guw ga taw maw ngapain...

Guw terlontar jauh dari cita-cita yang guw pengen, guw ga tau jalan balik lagi...

Guw cuma minta, kasih guw alesan... kenapa? kenapa senin sampe jumat itu ada? kenapa sabtu sama minggu itu selalu lebih cepet dari senin? kenapa malam itu lebih singkat dari siang?

Guw ini ngomong apa sih?

Guw pengen teriak, pengen keluar dari sini, pengen ke kehidupan yang guw idam2in dulu, tapi guw ga sanggup ngulang dari awal. Guw ga sanggup kehilangan lebih banyak lagi... segini aja guw udah cukup ngegembel, ilang ambisi, ilang tujuan hidup, ilang alesan guw buat disini, ilang juga rumah guw, dan guw ga nemuin alesan tepat untuk tetap tinggal disini lebih lama.

2 oktober 2010

Name of The Game

"...sebelum kita saling kenal, kalian tidak mengenalku, bahkan setelah menghabiskan waktu bersamapun, mungkin kalian tetap tidak mengenalku,,,"
-Name of The Game-


Saat aku membaca tulisan itu, air mataku sempat menetes, bergelantungan sebentar kemudian berhamburan sambil menari. Diatas tetesan-tetesan air mata itu aku berkaca...

2008, aku berpisah dengan sahabat-sahabatku, rivalku, teman-temanku. Aku berdiri sendiri disebuah kampus asing yang belum pernah kuimpikan atau kudambakan. Aku selalu meratap, aku berada dalam titik kecewa, aku tak berharap punya teman. Aku ingin seperti batu di sungai, cukup diam saja, terkikis dan hilang.

Perlahan, Tuhan menyodorkanku kawan, teman-teman, rumah... tak pernah sebahagia ini sebelumnya, seolah aku menjadi diriku sendiri, aku menemukan titik-titik kabur tujuan hidupku berubah menjadi jejak yang meniti anak tangga.

Aku temukan novel, puisi, teman-teman, seolah Tuhan baru saja menghembuskan nyawaku pada saat itu. Aku tak lagi peduli dengan "siapa yang memakai baju hijau tosca" atau "si anak kepsek"...

Semuanya sedang terlihat sama untukku.

2009, aku masih merangkak menuju hidupku, aku baru bangkit... aku baru merasakan apa itu hidup. Baru kali ini aku bisa menjawab siapa aku saat orang bertanya tentang jati diriku.

Aku menemukan kata "Novelist" untuk melengkapi namaku, jantungku, hatiku, pikiranku, bingkai duniaku...

Kalian mungkin takkan peduli dengan apa yang telah terjadi padaku, juga kalian takkan peduli dengan otakku, pikiran-pikiranku...

Tapi aku akan bercerita, saat itu Tuhan sedang membuka bingkaiku, ayahku sedang membuka tali kekangnya padaku dan aku juga sedang membuka bungkus kado yang menutupiku bertahun-tahun...

Kalian tahu, aku begitu menyukai kalian, meskipun aku kesal dengan sikap kalian yang cuek, aku sangat menyayangi kalian...

Maka aku menyapa kalian setiap pagi, tersenyum saat bertemu dengan kalian, menjawab pertanyaan kalian, menjawab sms yang kalian berikan. Karena aku... sangat menyukai kalian...

Entah apakah kalian menyukaiku atau tidak, aku tak peduli, karena saat itu aku sangat menyukai kalian.

2010, kalian menghadapkanku pada kenyataan, bahwa...

Kalian tidak menyukaiku, kalian membenciku.

Tak suka dengan sikapku.

Kalian mau tahu perasaanku? Saat itu aku merasa ditolak, kurasakan dicampakkan dan diacuhkan, bahkan di benci.

Tatapan kalian, pernahkah kalian berpikir bahwa tataoan itu sungguh membuatku bersedih?

Aku yang memikirkan kesehatan kalian, mengutamakan kepentingan KITA? dan kalian membenciku...

Masih di 2010...

Aku masih menangis dalam tawa.

Aku berpura-pura, langit biru dan matahari bersinar cerah, padahal duniaku masih hancur...

Aku mengenal kalian, tapi kalian tak mengenalku...

Mungkin selamanya akan seperti ini...

Dua tahun lalu, aku tak mengenal kalian karena kalian tak mengenalku, tapi perlahan kutarik benang merah takdir kita, menunjukan bahwa kita memang diharuskan bertemu diatas panggung dunia ini, bersama...

Sekarang, Dua tahun setelah itu, kalian masih tetap tak mengenalku, meskipun aku sudah sangat mengenal kalian.

Mungkin, di dua tahun terakhir kita berada disini, kalian masih tetap takkan mengenalku. Aku belajar, bahwa cinta dan rasa kasih itu, apapun bentuknya dan kepada siapapun itu diberikan... tak selalu mendapat jawaban yang setimpal.

Dan aku selalu benar, 5 tahun lalu aku bilang, bahwa cinta itu bukan hubungan timbal balik.

Juga 2,5 tahun yang lalu kubilang bahwa aku bagaikan mayat hidup, aku bernafas, berjalan, berbicara, tersenyum, tertawa… namun dengan hati yang hanya terbuat dari darah yang mengalir didalamnya. Tapi berita bagusnya, aku merasakan aku bergerak, meskipun aku tak tahu, aku bergerak maju atau mundur… ataukah hanya aku yang merasakan pergerakan ini adalah berita bagus ?

Dan mereka yang lalu lalang dihadapanku akan tetap mengacuhkanku. Entah pertama kali menginjakan kaki di gedung ini atau mungkin terakhir kalinya, aku mungkin akan mengenang diriku sendiri sebagai mayat hidup yang berjalan 4 tahun disini...

20 september 2010

plagiat, aku dan jati dirinya....

Sebenarnya untuk menyebutkan rasa ga suka, ga juga sih... soalnya aku dan dia adalah 2 orang yang memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Entah bagaimana, aku melihat dia terkadang seperti mesin foto copy dari diriku sendiri. Terkadang seperti adik-adikku yang kerjaannya ikut-ikut hobiku, atau kadang kayak anak kecil yang suka ngerewong. Mungkin juga karena aku bukan kakak yang terlalu baik atau bahkan sama sekali tidak baik, jadi aku suka marah kalo ada yang ikut-ikut sama aku.

Padahal, coba aku telusuri kesamaan antara aku dan dia, aku dan dia sama-sama ingin diperhatikan, sama-sama ingin menjadi planet venus bagi seseorang dan sama-sama ingin menjadi bintang. Ga salah kalo tiba-tiba ngerasa kerasa saingan, padahal engga sama sekali. Kalo di liat-liat juga, sifat aku sama dia tuh mirip-mirip, sama-sama anak pertama yang paling disayang sama ayah, sama-sama permintaannya selalu di kabulin, dan sama-sama manja, tapi kayaknya manjanya dia sih kelebihan deh! hehehe... soalnya aku terkena infeksi sifat kemandirian dari ibuku, jadi ga mau bergantung sama orang, suka jalan sendiri dan ga suka jalan pelan-pelan, kalo bisa setiap hari adalah berlari. Hahahaah...

Jadi, ketika dia memutuskan untuk menjadi penulis, aku jelas memanggilnya plagiat, aku secara alamiah tersaingi olehnya. Kadang, dia membuatku tak mampu berkata-kata saking kesalnya, tapi kadang dia bisa menjadi seorang yang sangat menyenangkan dan manis, aku benci juga ketika semua orang bilang dia cantik, padahal... ya sudahlah! Definisi cantik itu relatif, tergantung siapa yang liat, buktinya, kakak-kakak angkatnya lebih suka bilang aku yang cantik dari pada dia. 

Seperti yang kulakukan pada adik-adikku, aku juga akan diam dan tak memperhatikannya, anggap saja dia baru menemukan jati dirinya dan jati dirinya itu adalah mirip sepertiku. Hahahah...

Baiklah, adik kecil... seperti itu saja, cukup.



9 september 2010

-Renungan Sahur-

Setiap tahun, setiap Ramadhan, aku selalu sahur di rumah, tak pernah sekalipun terlewat tanpa sahur bersama keluargaku di rumah, di atas meja makan yang sudah ada bahkan sebelum ibuku lahir. Selalu makan masakan ibuku dan selalu berbicara panjang lebar tentang mimpiku tadi malam, mimpi adikku, film tadi malam atau bahkan mengulang kejadian lucu di saat taraweh bersama. Selalu seperti itu, tak pernah kulewatkan seharipun tanpa itu.

Hingga akhirnya 17 agustus 2010 adalah sahur pertamaku di luar rumah, langkahku begitu berat ketika aku harus menyusuri jalan raya di jatinangor yang sepi bersama 2 adik kelasku. Saat kami memasuki sebuah rumah makan, aku melihat makanan yang tersedia disana, tak ada yang menarik untuk kumakan, sempat aku berpikir untuk sahur hanya dengan biskuit dan air putih, tapi kuurungkan niatku karena hari itu adalah hari besar, akan menjadi hari yang panjang di sejarah bulan ramadhanku. Akhirnya aku menjatuhkan pilihan di soto lobak dan telur balado, karena tak ada makanan lain yang menggugah seleraku.

Konsentrasi pemilihan makananku teralihkan ketika ada seorang anak laki-laki dengan rambut acak-acakan, celana pendek dan baju kusut memasuki rumah makan itu, masih sambil menguap dan menggaruki kepalanya. "Bu, yang biasa yah." Katanya.

Dia kemudian berdiri, mengambil piring, sendok dan nasinya, menambahkan beberapa teman nasi kemudian mulai duduk dikursi. Dia mulai melahap makanannya, aku terus memperhatikan anak laki-laki itu sambil melahap makananku, kemudian dia berhenti makan, menelan nasi di mulutnya yang kukira masih belum halus dan mengambil minum, saat kulihat dia meneguk air di gelasnya, matanya sedikit berkaca-kaca.

Terbersit dipikiranku; oh, jadi inikah kehidupan anak kost yang terpisah berpuluh-puluh kilometer dari rumah dan orang tuanya? bahkan aku, yang baru pertama kali meninggalkan sahur pertama bersama keluargaku, ada rasa mengganjal di tenggorokanku, rasa rindu yang padahal baru kemarin sore aku bertemu dengan ibu dan adik-adikku...

Anak laki-laki itu menatapku, tersenyum kemudian menghabiskan makanannya sambil menunduk. Aku ingat saat pertama kali mengambil nasi dari bakul di rumah makan ini, aku memaki nasi yang terasa keras ini, sayur yang tak hangat, telur yang rasanya tak karuan, bahkan aku juga mencaci piring dan sendok yang berbau aneh, tak lupa juga aku mencibir tempat yang kumasuki ini. Sejenak aku malu pada diriku sendiri, aku hanya berada disini untuk 2 hari, tapi anak laki-laki tadi? mungkin saja dia akan berada di tempat ini untuk sahur hingga 4 atau 5 tahun ke depan.

Aku merasa beruntung karena hanya terpisah 2 hari dari rumah, aku beruntung hanya 2 hari makan sahur tak bersama keluargaku, aku beruntung juga setiap ramadhan selalu makan masakan ibuku.

Anak laki-laki itu keluar dari rumah makan itu sambil mengucapkan terimakasih pada si ibu pemilik rumah makan, kulihat makanan di piringnya habis tak bersisa, padahal dia mengambil menu yang sama denganku, bagiku rasa makanan ini pahit, tapi dia menghabiskannya seolah makanan ini adalah makanan paling enak sedunia.

Aku diterpa rasa malu yang semakin membuatku sadar, bahwa aku harus lebih banyak bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini, bahwa menempuh perjalanan 30 km setiap pagi dan sore untuk pergi kuliah dan pulang ke rumah lebih baik daripada terpisah 30 km tanpa merasakan sahur dan buka bersama keluargaku. Aku harus mengingat kejadian ini selamanya...



Dihari kedua sahurku, aku memakan makanan sahurku tanpa banyak bicara, meskipun biasanya setiap sahur aku selalu memakan makanan berkuah, meskipun kali ini tidak, aku bersyukur, karena ini adalah sahur terakhir, karena buka puasa nanti aku akan berada dirumah, merasakan kebersamaan dengan orang tuaku lagi, karena sahur besokpun aku akan makan makanan yang dimasak oleh ibuku, diatas meja makan yang bahkan lebih tua dari usia ibuku. Dan tentu saja aku akan bercerita tentang pengalaman yang kualami hari itu pada keluargaku.

Aku belajar sangat banyak ketika aku jauh dari keluargaku, aku kadang lupa betapa berharganya mereka saat aku selalu berada didekat mereka...

Aku beruntung dan aku akan mulai banyak bersyukur...



20 agustus 2010

memaafkan

aku harus melupakan rasa sakit hatiku jika aku masih ingin hidup untuk esok, aku juga harus memaafkan orang-orang yang membuat hatiku terluka karena di dunia ini semua orang pasti akan menyakiti dan disakiti, entah dengan sengaja ataupun tak sengaja.
aku tentu takkan munafik bahwa rasa pedih itu masih tertinggal di lubuk hatiku, tapi... ya sudahlah! tak ada lagi yang perlu disesalkan, nasi telah menjadi bubur, kata-kata kasar telah terucap dengan lantang, caci dan makian itu terlontar begitu jauh menancap dalam hati dan sulit menariknya... yang jelas aku akan terus memaafkan, sesulit apapun itu...
jika aku bisa memaafkan seseorang tanpa orang itu meminta maaf padaku, aku yakin bahwa aku telah dewasa dalam menangani masalah, aku pantas untuk mengemban tanggung jawab lebih tinggi lagi dan aku bisa memimpin diriku sendiri kearah yang lebih baik setiap waktunya...
aku takkan lagi mempedulikan rasa sakit yang ditimbulkan, karena waktu jugalah yang akan menghapus rasa sakit itu, membuat kita lupa dan memaafkan...

kemarin aku menangis, aku kecewa dan aku menyalahkan keadaan, tapi itu semua membuatku semakin terpuruk, membuatku tak mampu berdiri dan menatap ke depan...
aku selalu bisa berdiri lagi dari keterpurukanku, tak peduli seberapa dalam dan seberapa sulit jalannya, karena aku percaya aku adalah orang yang kuat!
jadi kali inipun, meskipun sakit, aku akan memaafkan.
aku akan melupakan.



15 agustus 2010