Tampilkan postingan dengan label buku sketsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku sketsa. Tampilkan semua postingan

Kaos Baru


Bulan ini, beli kaos lagi. Kaos ini saya beli dari kakak kelas saya di sebuah komunitas. Kebetulan dia itu ngejual berbagai macam kaos yang gambar atau kata-katanya diambil dari para filsuf atau para revolusionis. Kaos yang paling saya suka itu yang Nietzche. Karena? Karena saya mengagumi si Nietzche. Hehe. Itu aja sih. Suka sama pemikirannya dia yang revolusioner di jamannya. Dengan berani dia bilang, "Tuhan sudah mati". Lalu saya sekarang bilang, "Nietzche sudah mati".

Bernard Shaw. Saya sebenernya gak tau siapa itu si tuan Shaw. Kakak kelas saya cuma bilang, "kakek-kakek lagi ngetik". Terus bla bla bla dan akhirnya saya beli. Haha.

Dulu, kaos yang Nietzche itu sempet saya pake di rumah. Eh diprotes abis-abisan dong sama orangtua saya. Saya disangka jadi atheis, jadi labil dan dikhawatirkan tidak beragama. Tapi saya jelasin kenapa saya pake kaos itu. Akhirnya saya dapet kuliah filsafat ke-Tuhan-an gratis dari ayah saya yang notabene ngerti tentang filsafat juga.

Pencerahan
Setelah dapet pencerahan dari penjelasan ayah saya. Saya gak (terlalu) radikal menentang segala sesuatu. Anarkis sih iya. Haha. Tapi hanya dalam kata-kata.
Saya suka berteman sama orang-orang. Tapi kalo udah nyerempet-nyerempet tentang agama, kepercayaan, prinsip hidup, dan lain-lain, saya suka jadi illfeel. Langsunglah itu orang saya gabrug dari surga pemikirannya ke neraka. Haha.
Saya paling gak suka kalo ada orang yang ngehina agama lain. Biarin aja sih, ngurus amat sama agama orang lain. Kayak yang udah paling bener aja ibadahnya. *napsu

Tentang Tuan Shaw
Dari yang saya baca di link ini, Tuan Shaw itu adalah seorang novelis, kritikus, esaias, politikus dan orator di Irlandia. Saya gak begitu kenal sama Tuan Shaw, soalnya saya gak begitu suka sama politik. Saya sukanya sama para pemikir filsafat ke-Tuhan-an dan sains. Hehe. Untuk lebih lengkap tentang Tuan Shaw, bisa diliat di link ini. Lengkap tuh kalo di situ. Hehe.

Keluar dari segala hal tentang filsafat dan paradigma. Saya suka sama kaosnya aja. Hehe.

rindu


Di tempat KKN. Sebuah tempat yang baru. Yang tak pernah kusambangi sebelumnya. Bahkan memikirkannya pun tidak. Lalu aku berada di sini. Di tempat yang dingin. Membuat hidungku membeku. Dan hipotermia-ku kambuh.
Kopi yang kuseduh malam ini bercerita tentang ingatan-ingatan lamaku. Dan anehnya yang aku ingat adalah kalian.

Aku ingat saat menemani Rani bermain DDR di bulan puasa. Mendengar teriakan-teriakan galaunya sepanjang jalan atau jeritan yang tak sempat dia keluarkan. Mungkin kau tak berharap aku tahu. Dan aku pun tak berharap untuk tahu.
Dan entah mengapa, padahal aku tidak begitu dekat denganmu, Nezar. Tapi aku memberanikan diri mengetik sebuah sms, "Zar, lagi ada waktu gak? Aku mau curhat."
Purwa, aku merindukan saat kita berjalan jauh bersama. Diawali dengan lagu-lagu sumbang kemudian curhatan itu keluar begitu saja. Dan aku ingat terakhir kali aku bercerita padamu adalah saat aku pulang dari pernikahan Teh Siti. Ternyata jarak itu pun tidak begitu jauh untuk menguraikan ceritaku tentang si dia dan dianya.
Rukman, ceria rasanya ketika naik gunung sambil mendengar celotehanmu untuk si "kamu". Aku selalu malu ketika naik gunung murung sedangkan kamu selalu tertawa dan menebar senyum. Berbahagialah, karena kau pantas berbahagia.
Di bibir pantai Parangtritis, cerita tentangmu mengalir. Rasanya meskipun kita tidak menyukai pantai, tapi pantai punya daya magisnya sendiri. Membuka segala macam pintu, termasuk pintu hatimu.

Di tempat KKN. Masih perasaan yang sama. Kerinduan pada sosok kalian. Kerinduan pada sosok Furkon. Senyum ramah. Hangat peluknya dan wangi tubuhnya.
Kopi ini hampir habis tapi aku masih ingin bercerita. Sudah hampir jam 12, cinderella harus segera pulang. Dan ada sepasang kelopak mata yang harus ditutup.

26 Januari 2012

pijakan...

Aku sedang memilah-milah tempatku berpijak.

Dia, si pasir yang terhampar tak berujung. Aku tak berani melangkah, tak juga berdiri di atasnya. Aku takut tenggelam akan keraguannya. Aku takut terhisap akan ketidak pastiannya.

Dia, si bongkahan batu. Aku tak berai berdiri diatasnya. Aku takut batu itu akan pecah, mengisyaratkan retakannya dengan lagu-lagu pilu. Aku tak ingin membuat ketegarannya rapuh. Aku takkan sanggup memoles retakan itu menjadi satu lagi.

Dia, si air yang mengalir. Entah dimana harus kupijakan kakiku. Dia terus mengalir, entah kembali ata tidak. Entah kemana.

[26 November 2010]

Dan dia, angin yang mengalir lembut. Menyapu, mengeringkan air mataku. Membuatku merasakan kehadirannya tapi tidak wujudnya. Kukerjapun, dia takkan datang padaku. Tak pernah untukku. Hanya mempermainkanku.

[19 Desember 2010]

Semuanya hanya "seolah-olah"

nyata...
bahagia...
senyum...
tawa...
hanya sebatas "seperti"
tapi

TIDAK

[20 Desember 2010]