Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

perjalanan 12 hari Putri Syalala

 (di aula UNISBA, acara makan-makan setelah pelantikan)

Sekembalinya adikku si Putri Syalala dari pendidikan dasar MAPENTA UNISBA, banyak hal yang berubah dari dalam dirinya. Adikku belajar untuk menangani rasa jijik, rasa takut bahkan lebih banyak berdoa, meski pun doanya ditujukan pada Tuhan biar bisa cepet pulang.

Dua belas hari bukan waktu yang sebentar di gunung. Seratus empat puluh kilometer, kaki dipaksa meniti langkah demi langkah, dari Citatah menuju Subang. Menggapai ujung ujung tebing nan curam setinggi 48 meter hanya bermodalkan sebuah tali. Kemudian naik turun gunung, sembilan gunung.

Aku tidak tahu pasti apa yang benar-benar dialami olehnya, tapi yang jelas, aku pernah merasakan perasaan yang dia rasakan. Bedanya, waktu itu aku berumur 12 tahun, dan adikku sekarang sudah 18 tahun.

Di usiaku yang baru 12 tahun, aku memutuskan ikut organisasi PMR. Nah, PMR adalah satu-satunya organisasi terekstrim di sekolahku dulu. Pendidikan Dasarnya hanya 3 hari 2 malam, mudah kelihatannya, tapi pesertanya adalah anak-anak lulusan SD yang rata-rata belum pernah pergi camping ke gunung yang jauh dari rumah.

Waktu itu aku berjalan sekitar 25 km, tanpa minum, tanpa makan dan tanpa istirahat. Panitia begitu pintar menyita uangku dengan alasan takut nanti basah, lecek dan hilang. Aku benar-benar tersiksa saat itu.
 (acara screening film dokumentasi pendidikan dasar)

Aku terus menerus berdoa, mengharapkan Ibuku cepat menjemputku atau Ayahku lebih keukeuh memaksaku tetap untuk tidak ikut organisasi itu. Tapi sayangnya, sampai di tempat pendidikan dasar pun orangtuaku tak juga muncul. Padahal aku sudah berdoa sambil terus memanggil nama ayah dan ibuku.

Adikku pun melakukan hal yang sama, sepanjang jalan, dia memanggil nama Ibuku dan berharap Ibuku menjemputnya. Tapi sayangnya, sama seperti situasiku, Tuhan berkehendak agar aku ditempa alam menjadi pribadi yang lebih baik. Ya, setidaknya itulah kesimpulan manis namun menyesakkan dada setelah perjalanan itu.

Aku dibiarkan hujan-hujanan tanpa jas hujan, kemudian berenang menyusuri sungai, merangkak di atas lumpur, berguling-guling di semak, lari di atas jalan bebatuan, jalan bebek mengelilingi lapangan, makan dengan satu sendok yang sama dengan beberapa orang, minum dengan satu gelas yang sama, nasi yang sengaja dicampur dengan jeruk dan coklat, tidur hanya beralaskan tanah, baju basah kuyup, menggigil semalaman, diserang oleh sekumpulan kaki seribu yang berusaha menyelinap masuk ke baju. Ah, aku belum pernah merasa tersiksa seperti waktu aku berusia 12 tahun.

Kini, adikku pun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin jauh lebih berat. Dia harus melawan rasa takutnya pada ulat, kupu-kupu, ayam, belalang, bahkan akhirnya dia memakan ulat sundari dengan cara disate.

Aku memang hanya bisa tertawa mendengar ceritanya, tapi di dalam hatiku, aku bersyukur akhirnya adikku bisa berubah. Aku mengerti sekarang kenapa salah satu instrukturnya bilang bahwa para peserta pendidikan dasar itu sudah berubah jauh menjadi lebih baik, dan itu terbukti.

"Jangan makan tulang kawan! Ingat harga diri dan itikad baik."

Adalah salah satu motto hidupku juga sekarang. Kalau aku hanya bisa jadi beban dan membebani orang lain, maka pilihan akhirnya hanya dua, kembali lagi atau berusaha untuk mengimbangi langkah bersama yang lain. Tapi aku tidak mengenal kembali lagi, maka aku harus bisa mengimbangi langkah bersama yang lain.

Adikku bercerita bahwa selama perjalanan, maagnya kambuh, kakinya sudah tidak kuat lagi berjalan, namun dia tetap memaksakan, agar tetap tidak makan tulang teman. Kemudian setelah lama berjalan, adikku yang sedang sakit itu justru bisa menarik temannya yang lain dan berada di posisi depan. Teman-temannya pun kemudian mengulas kisah selama latihan sebelum pendidikan dasar, adikku selalu menjadi yang paling boyot, dan terbukti dengan di awal perjalanan, adikku kelihatan bersusah payah untuk tetap berjalan bersama, tapi setelah lama berjalan, akhirnya adikku bisa jalan lebih dulu dari semua.

Aku menyebutnya, kekuatan konstan. Seringkali orang berjalan bersemangat di awal perjalanan, menghabiskan tenaganya di awal kemudian merangkak di akhir. Aku memang tidak memiliki semangat itu, aku dan adikku hanya punya kekuatan segitu-gitunya. Dan aku penganut, selangkah demi selangkah, lama-lama sampai.

Aku dengan sengaja mengajak adik-adikku ke gunung, alasannya simpel, adik-adikku tidak pernah merasakan pendidikan dasar seperti yang dulu kurasakan. Dan mereka perlu merasakannya, agar 'tempa'-an yang mereka rasakan nanti tidak terasa begitu berat.
 (di ruang peserta, sedang ngobatin kaki yang pada lecet)

Inginnya, aku bisa memoles mereka, memberikan perkuliahan hidup, meski pun usiaku tidak terpaut jauh dari mereka. Tapi aku tidak bisa tega membiarkan adikku kehujanan, membawa tas berat, penuh lumpur atau kelaparan. Jadi sepertinya proses kuliah itu akan sangat lama.

Aku bersyukur adikku dengan sadarnya memilih organisasi MAPENTA, organisasi yang insyaAllah dapat membawa pengaruh yang baik untuknya. Dan juga aku bisa meminjam nama dan syalnya kalau-kalau aku pergi backpacker ke daerah orang, hehehe.

Setelah melalui banyak perjalanan, aku memang banyak berubah, dari yang dulu jijik-an, tidak mau satu gelas bahkan dengan adik sendiri, sekarang aku bisa berbagi satu gelas kopi bersama orang-orang yang bahkan malas untuk sikat gigi berhari-hari. Kemudian perubahan-perubahan lain yang jika kusebutkan satu persatu maka aku akan diklaim sebagai manusia riya, suka pamer, mendeskripsikan hanya untuk pencitraan atau disebut tidak tulus.

Adikku bercerita bahwa selama pendidikan dasar, teman-temannya banyak yang bertengkar, saling adu mulut, mendorong bahkan sampai hampir berkelahi, untungnya adikku tidak ada di dalam salah satu pertikaian itu. Aku pun teringat perjalananku ke puncak tertinggi pulau Jawa tahun lalu, di perjalanan menuju puncak, mereka bertengkar masalah air. Dan aku hanya bisa memandangi mereka yang adu mulut, yang satu berusaha tetap menjaga agar air awet, yang lainnya berusaha untuk mendapatkan air lebih banyak. Sifat-sifat kebinatangan, kata instruktur adikku, keluar dalam keadaan terancam dan terdesak.

Kata-kata instruktur adikku itu banyak menginspirasiku. Dulu aku berpikir bahwa semua orang berhak dan mampu untuk naik gunung, semua orang berhak ada di puncak tertinggi pulau Jawa dan semua orang pun bahkan berhak ada di puncak tertinggi di Indonesia pun dunia.

Tapi, ternyata tidak semua orang berhak ada di sana. Esensi naik gunung bukan sekedar mencapai puncak, mengukir nama atau mengibarkan panji kebanggaan di puncaknya, tapi esensi naik gunung itu mungkin bagaimana kamu mengalahkan ego diri sendiri. Akankah kamu perhatian pada teman yang tidak kuat sampai puncak? Akankah kamu meninggalkan teman? Akankah kamu memaafkan kesalahan diri kamu sendiri?

Aku pun mungkin belum berhak ada di puncak tertinggi pulau Jawa. Tapi insyaAllah, perjalanan selanjutnya, aku tidak akan pernah makan tulang kawan, akan selalu ingat harga diri dan itikad baik. Meski pun yang pergi selama 12 hari itu adalah adikku, tapi adikku membawa pelajaran berharga ke dalam rumah dan disebarkan untukku. Semoga aku pun, dengan tulisan ini, bisa mengilhami.

Jangan pernah memaksa hati kawan untuk meneruskan perjalanan, gunung tidak memberikan tempat pada yang lemah hati. Sekalian, kutambahkan, JANGAN MAKAN HATI KAWAN!

Jangan membunuh keinginan kawan. Jangan jadi beban kawan. Jangan membebani kawan.

Semoga orang-orang baik, alam, malaikat dan Tuhan selalu melindungimu, Putri Syalala, sama seperti mereka semua mengelilingiku dalam setiap langkah.

kisah es-ce

warna biru artinya di sms, kalo merah itu ngobrol langsung.


"Pak, saya Lukita, saya mau ngambil sertifikat saya yang katanya ada di Bapak, hari ini Bapak bisa ketemu?"
"Hari ini saya keluar, ga ada di kampus, kalo cenin aja gimana?"
Serius, kening aku berkerut pas baca kata CENIN. itu dosen dengan usia hampir 40an bilang CENIN???? oke, menghormati salah satu temen aku yang menganggap alay adalah selera, jadi aku memaafkan. :p



*hari Cenin
"Pak, hari ini bisa ketemu jam berapa?"
"Saya di ruang prodi, kecini aja."
SHIT!
KECINI gituloh....



*di CINI*
"Saya nungguin kamu di depan prodi nich."
PELIS, itu ceha ceha ceha ce ce ce kenapa dibawa terus sich?
Satu-satunya orang yang aku kenal masih pake sich, terus es diganti ce itu cuma si kepin, si alay dari malang, :p entah kenapa mesti ketemu sama orang yang kayak ginian sih?
"Kenapa baru sekarang ngambil sertifikatnya?
"Iyah Pak, dari kemarin saya agak sibuk, jadi susah mau pergi-pergian. Baru sekarang bisa jalan-jalan lagi."



*di kantor (gapake cantor)
"Ini sertifikatnya, tanda tangan di sini."
"Di CINI pak?"
Tatapan mata si Bapak ujug-ujug berubah jadi rada kesel ketika aku bilang sini pake ce. hahaha. rasain lu! emang enak denger kayak begituan? :p
Kemudian aku pulang dengan hati seneng bikin si bapak mumet, hahaha. berasa pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan terus jalannya ditaburin bunga. hahahahahaha.

catatan Situ Lembang


Hari ini, ceritanya aku sengaja mempersiapkan diri untuk naik gunung, menemui adikku tercinta yang sedang pendidikan dasar jadi pecinta alam. Aku udah siap dengan sepatu-semi-sandal yang sering disebut dengan sandal baim. :p sandal unyu-unyu yang sebenernya kurang panjang untuk kaki aku yang ukurannya 40 ini jadi sandal andalan aku untuk jalan jalan kemana-mana, ya setidaknya untuk dua bulanan ini. Aku ga berani mengecewakan bentuk perhatian Ibuku yang satu itu untuk kakiku. Hehehe.


Jam 11 siang, aku berangkat ke Lembang untuk ketemu sama adik aku itu. Ibu aku bilang kalo Ibu aku ga boleh nemuin adik aku. Soalnya itu aturan dari pecinta alamnya, biar mental adik aku yang sedang dibangun itu ga pabalatak ketika bertemu wajah Ibu aku. Hahaha. Itu adalah pertama kalinya si Putri Syalala, panggilan untuk adik aku yang nomer dua, pergi camping ke gunung tanpa ditemenin sama aku.

Sekitar jam setengah 2 siang, aku nyampe di kaki gunung sebelum situ Lembang, di situ, kabut mulai muncul dan jarak pandang cuma sekitar 10 meter. Kemudian makin lama, jarak pandang cuma 1 meter. Dan Ibu aku keder, minta pulang dan bilang kalo mungkin gunung itu ga mau didatengin. HAHAHA. Mungkin Ibu aku keder ketika baca plang "Segera Kembalilah Jika Ragu" yang ada di kanan kiri jalan. Oke, itu sedikit spooky, udah kanan kiri hutan pinus, ga ada satu makhluk hidup pun yang bisa diajak ngobrol selain aku, Ibu aku dan adik aku yang bungsu dan si plang itu ngomporin banget. Tapi dalam hati, aku bilang, "Masia weh, aing mah dek ketemu jeung adik aing. Assalammu'alaikum!"

Pertama kali masuk ke dalam hutan itu, aku juga 'merasa' untuk dikomporin pulang sama sesuatu yang menyelinap, menggaruk-garuk perasaanku yang bikin aku sedikit takut dan gemetar. Tapi seperti yang udah aku bilang dari dulu, aku ga mau takut sama hal lain selain Tuhan yang aku sembah, aku ga mau perjalanan naik gunung aku bikin hatiku jadi musyrik sama Tuhanku. Perjalanan kemana pun dan dengan siapa pun, seharusnya bikin aku semakin deket sama Tuhan, itu baru perjalanan yang bener. Dan aku ga mau ngelakuin perjalanan yang salah dimana aku takut sama hal lain selain Tuhan. Oke, keren kan prinsip hidup gue?
Selama perjalanan, Ibu aku terus ngerengek bilang kalo kayaknya jalan yang ditempuh itu salah. Tapi aku, justru semakin menikmati perjalanan. Waktu itu aku cuma bawa kamera hape, di depan mata aku, aku bisa ngeliat butiran debu-nya Cakra Khan, eh, maksudnya butiran air dalam kabut, tapi ga bisa aku foto. Dan naik gunung itu emang bikin nyaman hati. Aku cuma pake kaos tangan panjang sama celana panjang aja, dan ga pake lama, badan aku udah basah sama embun itu.

Barulah aku sadar kenapa si Wallace itu bilang kalo Indonesia itu eksotis, bayangin aja, jauh di atas kabut, aku bisa ngeliat sang surya memancarkan sinarnya malu-malu, tapi di sini, di bawah rengkuhan Pinus, kabut memeluk aku dan setiap aku narik nafas, butirannya masuk ke dalam paru-paruku. Kemudian turun rintik air mirip hujan, yup, surga itu pasti kayak gitu deh. Hutan Hujan Tropis, keren ga tuh? Sekeliling itu ya kayak tempat syutingnya Twilight, cuma lebih Indonesia, lebih sunda dan menurut aku jauh lebih banyak harus mengucapkan assalammu'alaikum.

Setengah jam di dalam hutan itu bikin aku kangen banget sama kegiatan naik gunung. Kemudian Ibu aku bilang kalo dia pengen banget ke Semeru, pengen ke Ranu Kumbolo, katanya. Terus Ibu aku bilang alasan kenapa adik aku ikutan pecinta alam, katanya dia mau ngebuktiin sama aku kalo dia bisa juga diajak ke Mahameru. Aku punya sikap lebih waspada sama adik aku yang nomer dua itu, si Putri Syalala, masalahnya waktu dia itu sering pingsan, dan penyakit di dalam badannya itu komplikatif banget, kalo ngeliat dia itu sama kayak ngeliat aku. Bedanya mungkin kalo aku dikaruniai posisi sebagai kakak sulung yang mesti bertanggung jawab dan kuat sama segala beban, dan dia ada di posisi anak ketiga yang punya dua kakak yang mesti bertanggung jawab atas dirinya. Hahaha, apaan?

Dan ketika aku jalan meniti jalan setapak menuju camp adik aku, ketemu sama orang-orang baru, si kakak-kakak kelas adik aku yang sebenernya adalah adik kelas aku, aku berbisik di dalam hati, dimana hanya Tuhan yang tahu pastinya apa. :)

Ketika aku ngebahas masalah rencana aku untuk ke Semeru lagi, Ibu aku bilang bahwa aku mesti nyari jadwal yang bener-bener sepi, karena kemungkinan kalo aku diterima di perusahaan baru ini, aku harus mengucapkan selamat tinggal sementara untuk naik gunung dan jalan-jalan.
Aku ga sempet nemuin adik aku, soalnya aku sendiri ga mampu nahan diri. Masa tiba-tiba aku ikut ngegabung grup pecinta alam adik aku? Kan ga lucu. 

Aku kemarin menulis sebuah tulisan yang belum sempet aku publish, dan belum sempet juga aku kasih judul, seperti biasa, sebuah tulisan prematur yang ga kuat lagi aku terusin.



Ibu saya mungkin sekarang dimisalkan seekor Ibu Burung Unta yang sangat overprotektif pada telurnya. Di rumah, kami jarang menggunakan kata sakit, sedih, luka atau menangis untuk mendeskripsikan perasaan secara gamblang. Kami terbiasa untuk memahami perasaan dari air muka, dan laku. Saya yakin apa yang Ibu saya rasakan saat ini melebihi seluruh kata itu. Bahkan lebih dari perasaan seorang Ibu yang anak perempuannya tertawa di atas air matanya, bahkan juga mungkin lebih dari perasaan seorang Ibu yang air matanya sudah tidak mampu dihapus oleh tisu. 
Bu, kalau tidak mampu dihapus tisu, kalau saya tawarkan lap kain, bagaimana?
Ibu saya mengenal saya lebih dari 3 bulan. Kami bahkan tidak punya tanggal pasti untuk diingat kapan tepatnya kami mulai bersatu menjadi sahabat selama ini. Saya bahkan tidak tahu kapan pastinya saya menyangkut di dinding rahimnya hingga kemudian saya memaksa keluar melalui saluran vaginanya. Tapi saya yakin, meski pun saya keluar dari vagina, tempat gelap, becek dan lembab, ketika saya meminta dikeluarkan dari ubun-ubun, Ibu saya pasti akan setuju, meski pun itu akan menyakiti dirinya. Namun saya bukan anak yang suka dan mampu untuk berbahagia ketika Ibu saya bersedih dan menitikan air mata.
Ibu saya menyimpan dendam tersendiri di dalam dadanya. Saya, adalah orang yang paling sering mengecewakan Ibu saya, tapi Ibu saya tidak pernah bilang bahwa dia menyimpan rasa kesal di hatinya pada saya. Dia selalu bilang bahwa dia bisa memaafkan dan akan selalu memaafkan semua kesalahan saya. Ya, itu adalah Ibu saya. Ibu saya tidak pernah menghukum saya, memaki pun tidak pernah,  tapi dia bisa menyimpan kebencian.
Dan Ibu saya memang sedang bisa dimisalkan sebagai seekor Ibu Burung Unta yang overprotektif pada telurnya. Ketika saya tanya siapa, dia pun menjawab bahwa dia membenci batu batu tolol yang memelintir kaki anaknya kemarin hari. Sekejap, sebuah kilat menggelegar dan menusuk ke dalam jantung saya.
Saya menganggap masalah yang menerpa saya angin lalu, tapi Ibu saya menganggapnya adalah sebuah beban besar yang mengganjal di dalam hatinya. Saya berulang kali bilang tidak apa-apa, tapi orang yang kecewa atas cerita yang pahit saya itu adalah Ibu saya. Saya hanya bisa membantu meringankan kecewa Ibu saya dengan memegang bahunya kemudian menghiburnya sedikit.
Mom, kita sedang naik gunung, jika dengan naik gunung ini kita bisa memaafkan dan merelakan, kita satu langkah lebih dekat kepada Tuhan kita. Biarkan yang tidak bisa memaafkan dengan satu langkah mundurnya, Mom...






Situ Lembang, 2 Februari 2013.

journey 3676mdpl

(photo by : luckythaocta)
Selamat pagi, RANU PANE...
Itulah yang aku ucapin pas aku bangun dari tidur sekitar jam 4 pagi. Semaleman aku tidur di luar tenda. Yang lain di dalem. Hehe. Aku sampe di Ranu Pane jam 7 malem (19/10/12). Karena kemaleman, akhirnya aku tidur dulu di camp yang disediain sekitar 100 meter jalan ke atas tempat perijinan. Setelah ngediriin tenda dan makan malem, kita semua tidur. Sepanjang malam, angin berhembus kenceng banget. Beruntung sleeping bag aku itu tebel dan nyaman banget. Jadi aku ga ngerasa kedinginan sama sekali kecuali di bagian tarang (baca: kening) soalnya aku sengaja ngasih celah sedikit buat oksigen masuk. Suwer, rasanya mimpi banget bisa ke Semeru, tidur di Ranu Pane, persis sama apa yang aku impi-impiin selama ini.
Jam 6, setelah selesai sarapan, kita ngepak barang lagi, beresin tenda terus siap-siap ke perijinan buat ngelanjutin perjalanan ke Ranu Kumbolo. Setelah perijinan beres, kita nyusurin jalan aspal sampe mentok ke jalan yang ga ada aspalnya lagi. Di situ, kita sempetin foto-foto di depan gapura selamat datang. Tulisannya aja keren banget, "SELAMAT DATANG PARA PENDAKI GUNUNG SEMERU". Sumpah, foto di sini adalah yang aku impiin dari dulu. Kesampean juga. Alhamdulillah. Makasih ya Alloh... :D
Jalan sekitar 50 meter ke dalam gapura ini, akhirnya kita nemuin tanjakan pertama yang bikin nafas empot-empotan. Haha. Serius. Pas di sini, aku sempet mikir, "baru awal aja udah disiksa gini, gimana nanti?" tapi semangat ga kendur. Kaki tetep dilangkahin selangkah demi selangkah dan si tanjakan ini ga berhenti sampe ketemu pos 1. Di sini, aku bisa simpulin, semua orang yang bilang kalo track ke Ranu Kumbolo itu enakeun adalah boong, kenapa? Karena seenak-enaknya naik gunung, ga bakal kayak jalan-jalan di kota. Tetep aja nemu tanjakan males. Haha.
Jangan pernah mengira kalo papan LANDENGAN DOWO ini adalah pos 1. Aku juga salah ngira. Dan di sini, kita bisa ngeliat kalo jarak dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo adalah 10,5 km. Jujur ini adalah perjalanan terpanjang selama rekor naik gunung aku. Aku belom pernah jalan sejauh ini sebelumnya.
Ini adalah WATU REJENG. Aku sendiri ga tau artinya REJENG itu apa. Tapi yang jelas, bentukan batunya ini bikin ngeri. Dan pas aku lagi istirahat, sambil ngatur nafas dan ngelurusin kaki, aku pribadi memikirkan pola-pola batu di Watu Rejeng ini banyak yang mirip bunga, banyak gua dan lain-lain. Hehe.
Kalo ada yang nanya ARE WE THERE YET? Aku jawab, kalo udah ngeliat Watu Rejeng, berarti perjalan masih sekitar 4,5 km lagi. Hahaha. Masih jauhlah. Tapi di Watu Rejeng ini udah ngelewatin Pos 1. Jadi enak. Jalannya udah ga terlalu nanjak. Sebenernya banyak banget yang ga aku foto. Masalahnya fisik waktu itu udah ga kuat. Maklumlah, dari seluruh anggota kelompok, ga ada satu pun yang pernah ke Semeru. Jadi kita semua cuma jalan aja, ngikutin jalan yang ada. :D
Setelah 4 kilometer jalan. Akhirnya kita bakal sampe di miniatur surga. :p namanya RANU KUMBOLO. Waktu di sini, bisa diliat sendiri kalo bibir aku udah pucet pasi. Pas di tengah jalan, aku tiba-tiba ngerasa laper. Dan aku tau fisik aku sendiri, aku ga pernah ngerasa laper kalo engga hipotermia. Jadinya aku rada rewel untuk minta makan dulu di tengah jalan ke Ranu Kumbolo. Aku ngerasa kedinginan banget. Jantung juga udah empot-empotan, kepala udah minta tidur. Wah wah wah, itu adalah yang aku pikirin pas semua itu sekaligus nyerang di waktu yang sama.
Dan akhirnya nyampe di Ranu Kumbolo. Pas nyampe pun aku langsung ngejatohin tas terus langsung ngejatohin badan ke tanah. Sampe ditanya sama beberapa pendaki, dikirainnya aku pingsan. Hehe. Dan aku jawab kalo aku ga apa-apa. Setelah sekitar setengah jam gak bisa gerak-gerak, aku mulai minum terus foto-foto. Banyak foto yang aku hapus gara-gara ngeliatin muka pucet aku banget. Hehe. Sabotaselah dikit, biar keliatan keadaan aku gak terlalu nyeremin.
Setelah satu jam diem di pinggir danau, akhirnya aku jalan lagi ke sisi Ranu Kumbolo yang deket tanjakan cintanya. Jujur aku kira waktu aku udah nyampe pas sekitar 700 meter sebelum Ranu Kumbolo. Aku udah jalan sempoyongan. Jantung aku udah kerasa sakiiittt banget. Mana bahu aku keram, jadi ga bisa nengok. Kayaknya kalo ada hewan buas atau aku jatoh, aku udah ga bisa nolong diri sendiri. Dan ngeliat Ranu Kumbolo di ujung belokan itu kayak aku ngeliat fatamorgana. Serius. Aku kira ajal aku udah nyampe di situ.
Tapi mungkin ceuk Alloh, hidup aku masih panjang untuk keliling dunia dulu. Hehe. Dan ga tau kekuatan dari mana, yang aku tau, aku cuma harus jalan selangkah demi selangkah. Terus terus terus. Dan sampailah aku di Ranu Kumbolo. Di sini, pas aku nyentuh airnya, rasa sakit di jantung aku yang ngeganggu itu tiba-tiba ilang (bentar). Hehe.
Ranu Kumbolo pagi-pagi. Pas pagi-pagi, setelah sarapan, pas aku lagi ngeberesin tenda. JRET. Jantung aku tiba-tiba sakit lagi. Duh deh. Semua anggota kelompok aku keliatan lagi semanget-semangetnya. Perjalanan tetep lanjut. Dan tanjakan cinta, adalah cobaan yang gak kalah berat. Aku ada di barisan paling belakang, yang lain udah pada nyampe di atas tanjakan cinta. Aku masih megangin dada sambil berdoa, memotivasi diri sendiri kalo aku harus bisa! Bisa! Bisa!
Dengan muka pucet lagi, sekali lagi. Haha. Aku sendiri heran kenapa uyuhan aku bisa senyum. Dan jelas senyum dipaksakeun. Hehe. Untungnya Hilmi, temen di depan aku, selama perjalanan ngelewatin Padang Lavender ini, dia itu dzikir terus. Dan dalam hati aku ngikutin dzikirnya dalam setiap ayunan kaki.
Meski pun aku sakit, meski pun emang bener kata Ayah aku kalo aku sebenernya gak cocok untuk ada di tempat seekstrim Semeru, aku punya semangat! Dan semangat itu yang bikin aku mau terus jalan meski pun sakit. Dan mau pulang juga dengan selamat. :)
Setelah itu kita sampe di CEMORO KANDANG. Di Cemoro Kandang ini kita duduk sekitar setengah jam sambil minum. Dan aku itu kalo udah cape banget, senengnya minum sesuatu yang asem-asem dan ada rasanya. Jadi aku minum cairan oralit. Baru setelah aku teguk 3 kali sepenuh mulut. Aku dikasih tau kalo cairan oralit itu ga boleh banyak-banyak dan kalo yang ga biasa bisa bikin mual-mual sampe muntah. Waktu itu aku ga khawatir, soalnya aku ga pernah muntah dan ga pernah mau muntah. Tapi nasib berkata lain. Perut aku mulilit, bukan mules pengen BAB. Dibilang sakit maag juga bukan. Yang jelas aku ngerasa ga enak badan. Keringet dingin turun ke tengkuk aku. Aku lagi-lagi kedinginan. Kepala aku kerasa berat dan mata berkunang-kunang.
Udah deh, perjalanan paling banyak sakitnya buat aku. Aku sendiri ga tau obatnya apaan, jadi aku diem aja. Kalo istirahat ya istirahat. Kalo mata aku udah ga kuat dibawa jalan, aku minta istirahat duduk. Dan Cemoro Kandang itu tanjakan semua sampe puncaknya. WOW bangetlah pokoknya.
Semangat aku adalah sepatu aku yang warnanya dari ijo tai kuda berubah jadi abu-abu gara-gara abu sepanjang jalan. Hehe. Itu entah beneran warnanya jadi abu-abu atau mata aku emang udah ga bener liat warna waktu itu.
Badan aku emang udah lemes banget. Tapi aku udah janji sama diri sendiri bakal terus jalan. Karena diem ga akan ngebawa kemana pun. Selangkah demi selangkah. Aku nyampe di peristirahatan sebelum Jambangan terakhir, waktu itu aku udah terlalu cape untuk duduk. Jadi aku terusin aja jalan selangkah demi selangkah.
Dan hadiahnya apa?
Aku ngeliat puncak MAHAMERU. Reflek aku langsung teriak. Dan efek budek yang dari tadi aku rasain tiba-tiba ilang pas aku teriak. Aku kira puncak MAHAMERU udah deket, jadi aku terusin jalan sampe nemuin spot ini. Namanya adalah JAMBANGAN.
Semakin dekat dengan mimpi aku untuk ada di puncak. :) Tapi perjalanan ga berakhir di sini. Masih harus jalan ke Kalimati sepanjang 1,2 km.
Dan Jambangan itu tracknya rada nyebelin juga. Tracknya banyak pasir, bikin jalan rada susah tapi enakeun kayak dipijat refleksi. Hehe. Setelah jalan sekitar 1,2 kilometer. Nyampelah di Kalimati. Pas nyampe di Kalimati, aku ngedenger bunyi berdebur. Sumpah aku kira itu pohon tumbang. Pas diliat....
WEDUS GEMBEL muncul dari puncak Mahameru. Warnanya agak kuning-kuning gitu. Pekat. Dan di Kalimati, kaki aku gemeteran. Aku takut sama Wedus Gembel. Just imagine, Mbah Maridjan aja matinya sama wedus gembel. Kalo si Wedhus itu tiba-tiba turun ke Kalimati? Aku duluan yang mati kayaknya. Udah mah aku ga suka lari. Lari aku lambat. Jantung sama fisik juga gak ngedukung. Udah deh.
Perjalanan dilanjut ke Arcopodo. Dan tracknya sama nanjak, bahkan lebih ekstrim dari pada tanjakan pertama setelah gapura selamat datang, tanjakan cinta, cemoro kandang. WOW banget deh. Dan aku, sebagai pendaki pemula, cewek juga, sangat menyarankankan untuk para pendaki wanita yang pemula juga untuk lebih baik berkemah di Arcopodo. Serius. Apalagi kalo berat badannya lebih dari 45 kilogram. Sumpah ripuh.
Mungkin satu hal yang ga aku sadarin waktu aku naik ke Arcopodo adalah berat badan aku udah turun ke angka tigapuluhan. Itu juga faktor yang bikin aku jadi rada kuat nanjak. :)
Pas jam 12 malem, temen-temen aku pada muncak. Aku engga. Kenapa? Aku ga sakit kok. Justru waktu di Arcopodo, aku ga sakit. Jantung aku baik-baik aja saat itu. Tapi ada temen aku yang sakit. Dan aku udah janji sama diri sendiri sejak sebelum perjalanan dimulai, kalo ada satu yang ga naik, ga ada yang bakal naik, terutama aku.
Waktu di Arcopodo, aku sendiri heran, aku ngerasa badan yang sedang aku bawa itu begitu ringan. Jauh beda sama waktu aku nanjak di Cemoro Kandang atau tanjakan cinta. Mungkin faktor berat badan aku yang berkurang juga. Dan aku itu emang lagi gampang ilang berat badan. Makanya aku ngejaga jangan sampe aku bermasalah sama kesehatan apalagi lambung. :(
Sekitar jam 9 pagi, temen-temen aku udah balik lagi ke camp Arcopodo. Cuma 1 orang dari 5 orang yang berangkat, yang bisa ke puncak. Jujur aja, pas aku memilih untuk tidak ke puncak, padahal puncak tinggal sekitar 1 km lagi jalan, aku sama sekali ga ngerasa sedih atau pun kecewa. Bahkan sampai hari ini. Aku sendiri aneh. Aku adalah yang paling terobsesi untuk ke puncak Semeru. Tapi, aku ngerasa, kayak Ranu Kumbolo yang ngajak ngobrol aku, Arcopodo pun sama, seolah mereka bilang kalo aku nanti ada kesempatan kedua, ketiga bahkan pergi sama anak aku dan suami aku ke puncaknya. Lucu yah?
Sekitar jam 10 kita turun. Udah gitu langsung dikebut ke Ranu Kumbolo. Difoto di papan ini adalah mimpi aku juga. Aku nempelin foto papan ini di laptop Toshiba aku, aku tempel di kaca kamar, di pintu kamar, bahkan aku ngebagi-bagiin foto papan itu ke temen-temen aku. Hehe. Dan akhirnya, aku bisa berfoto beneran sama papan itu.
Aku mau cerita sedikit ah, dua minggu sebelum aku berangkat, aku ketemu sama kakek-kakek. Dia bilang kalo aku jangan ke puncak. Dia bilang bahaya dan segala macemlah. Waktu itu karena aku ga tau itu puncak apa, jadi aku kira itu adalah puncak Karenceng. Padahal, pas aku ngeliat foto yang aku ambil setelah keluar dari Arcopodo, aku ngerti puncak apa yang kakek-kakek dalam mimpi aku itu tunjuk. Itu puncak ini. Puncak Mahameru.
Jujur aku emang janji sama diri aku sendiri aku ga mau ngeliat foto Ranu Kumbolo, Ranu Pane, Kalimati, Arcopodo, bahkan puncak Semeru sekali pun. Alesnnya adalah karena aku mau ngeliat mereka secara LIVE. Terus, gimana mungkin aku mimpiin tempat ini kalo aku belum pernah ngeliat foto dan belum pernah kesana sebelumnya?
Di Ranu Kumbolo. Aku jujur semakin mensyukuri perjalanan aku ini. Meski pun aku gak ke puncak. Hehe. Entah kenapa aku ngerasa kalo perjalanan ini berkualitas banget, soalnya beneran sebuah pembuktian kalo aku MAMPU. Meski pun jantung aku empot-empotan kalo digeber kekencengan. Meski pun muka aku pucet selama difoto dan gak ada rona pipi merah kayak biasa. Hehe.
Di Ranu Kumbolo. Masalah baru muncul. Aku mual setiap kali nyium sarden, kornet, nasi. Aku udah gak kuat jalan, rada semena-mena nyuruh temen satu jurusan aku, Septian untuk ngebikinin aku mie goreng. Aku kira aku bakal bisa makan minimal setenganya. Tapi pas aku makan di garpuan pertama (makannya pake garpu), aku mual lagi. Aku cuma nambah dua garpuan lagi terus tidur sampe pagi. Aku udah ga bisa kompromi sama badan aku.
Pagi-pagi, perjalanan pulang dimulai lagi. Seperti biasa, jantungku empot-empotan lagi. Pagi itu aku sarapan cuma sekitar 4 sendok makan, aku makan bareng sama Sijejes. Gak sengaja nasi yang aku makan kecampur sama sarden di sisi Jejes makan, dan langsung aku mual lagi. Selesai sudah makannya. Di perjalanan, mungkin karena cuma makan 4 sendok tadi pagi dan kemarin sore cuma makan 3 garpuan mie, aku lemes. Kalo aku bareng sama Furkon, Furkon pasti ngeluarin kompor, bikinin aku kopi atau minimal teh dulu. Sayangnya orang yang pengertian dan ngerti fisik aku itu lagi ga ada, dan aku sendiri malu untuk minta istirahat lebih lama lagi.
Bang Ade, tim purwakarta yang ngikut rombongan aku untuk pulang, akhirnya ngasi aku choki-choki. Dan aku itu inget sama pesennya Furkon, kalo cape, makan yang manis-manis sedikit demi sedikit. Sumpah kalo mau bawa sikap egoisnya aku, aku maunya makan dulu, di situ kayaknya udah batas kemampuan badan aku banget. Aku nabrak ranting, hampir jatoh gara-gara kesandung batu. Kanan kiri udah gak keliatan. Padahal kanan aku waktu itu jurang.
Di tengah jalan, bahu aku bermasalah lagi, keram. Karena pas ada orang, aku minta tolong Hilmi untuk mijitin. Setelah agak enakan, baru perjalanan dilanjutin lagi. Ada temen aku yang udah kebelet pengen BAB, Borin. Jadi dia buru-buru banget buat nyampe ke Ranu Pane. Karena aku juga ga mau nyiksa dia, aku maksain badan aku untuk tetep jalan, selangkah demi selangkah yang penting maju. Untungnya jalan waktu itu udah banyak turunannya. Cuma kaki aku jadi sakit gara-gara jalan di atas paving block.
Setelah Pos 1, Watu Rejeng, nurunin tanjakan gapura selamat datang. Aku ga sanggup nanjak lagi. Akhirnya aku sama Memet nungguin ada motor yang lewat untuk nebeng. Ternyata bener ada motor warga, dan kita nebeng sampe pos perijinan di Ranu Pane. Hehe.
Sebelum pulang, foto-foto lagi di Ranu Pani. :) Muka di sini udah gak karuan. Ya nahan sakit. Ya nahan dingin. Nahan laper juga. Nahan kaki pegel. Kepikiran duit juga sih, soalnya aku baru sadar kalo duit aku tinggal dua belas ribu lagi. Mampus bangetlah...
Orang lain seneng ketemu kota, aku malah ngerasa susah. Soalnya kalo ketemu kota, artinya aku mesti punya duit, ga bisa modal senyam-senyum minta makan kayak waktu di gunung. :(
Sekianlah cerita perjalanan ke 3676mdpl aku. Doain ya, beberapa hari lagi aku berangkat ke Semeru lagi untuk bener-bener muncak.
Untuk kalian, orang-orang yang pernah satu perjalanan denganku, kalian pada akhirnya tetep bakal ada di dalam cerita hidup aku, suka atau engga. Dan aku tetep merasa "suka" dengan perjalanan aku ke Semeru kemarin sama kalian, ya meski pun kalian merasa rugi. :)
Cerita ini berdasarkan apa yang aku rasain dan apa yang aku liat. Terimakasih ya Alloh untuk perjalanan kemarin, ridhoin aku untuk bisa ke puncak beberapa hari lagi, ya? :D

ke 1763 mdpl

Untuk keenam kalinya aku ke Kerenceng. emang, euweuh gawe kata temen-temen seperjalanan aku yang udah pernah pergi bareng ke Karenceng. toh Karenceng gitu-gitu aja, ga rubah-rubah. ga nambah indah, tapi makin banyak sampah. hehe. BUKAN AKU YANG NAMBAHIN SAMPAHNYA, serius. tapi da emang niat aku adalah buat olahraga, kalo aku mau ke Rinjani, aku mesti persiapan fisik lebih oke lagi. resume aku selama perjalanan ke Karenceng adalah tingkat mopo aku berkurang drastis. kalo masalah kaki yang kaku sih aku udah ga bisa apa-apa lagi, itu bawaan dari dulu. jadi si kaki ini selalu minta istirahat meski pun badan aku ga cape-cape banget. pas di tanjakan baeud, yang dulu aku minimal berhenti 10 kali untuk meniti tanjakan baeud, tadi subuh aku cuma berhenti sekali. dan tanpa aku tau, di dalem tas aku itu ada air 2 liter sama makanan full buat perang di puncak. tapi kok tumben, bukannya mau sombong, tapi kok ga berat? hehe. terbukti kan kalo aku cukup tangguh dengan keterbatasanku untuk melanjutkan trip ke Rinjani. hahaha.
Awal perjalanan ke Karenceng aku ga pede. pertama, aku bawa adik-adik aku, keempat-empatnya. mereka itu sama sekali ga naik gunung kayak aku. mereka naik gunung cuma buat seneng-seneng doang, selebihnya, naik gunung bukan jadi prioritas kesenangan mereka. puncak juga bukan tujuan mereka. tapi pas aku bilang aku mau ke Karenceng, mereka semua nyaut satu suara pengen ikut. Ibu aku bilang kalo aku ajak adik-adik aku aja, biar adik-adik aku tau gimana cara aku naik gunung. akhirnya, kita berlima berangkat bareng sama Gustian, Dendi, Naufal sama Andre. Gustian sama Dendi kebetulan mantan murid aku di Paskibra, mereka pernah bareng naik ke gunung Geulis sekitar setahunan lalu. Naufal sama Andre adalah temen-temen Dendi tapi bukan dari SMA tempat aku ngajar.
Di awal perjalanan, aku memimpin di depan. alasannya adalah aku yang hapal track, kedua, karena aku yang paling tua, ketiga karena mereka semua nganggep aku yang paling bisa di antara yang lain. di awal jalan aja kaki aku langsung kaku, akhirnya aku pindah ke belakang, ngebiarin anak-anak duluan yang jalan. perjalanan awal mulus, sampe akhirnya muncul badai cetar membahana. hahaha. turun hujan sama sedikit badai. akhirnya, karena aku emang diamanatin bawa terpal, aku pasang terpal dulu. awalnya anak-anak nolak, mereka pengen ngelanjutin perjalanan aja meski pun ujan-ujanan. tapi aku larang, masalahnya aku ga mau tanggung jawab kalo mereka sakit. akhirnya, berhenti dulu, bikin energen dulu sambil ngobrol-ngobrol.
Setelah si badai cetar membahananya beres, kita lanjutin perjalanan. sekitar setelah jalan satu jam, anak-anak yang di depan bilang kalo jalannya jadi turun. aku kaget, setau aku, selama lima kali sebelumnya aku naik Karenceng, ga pernah aku temuin turunan sebelum sampe Tanjakan Baeud. pas aku cek, ternyata salah jalan. aku coba nyari jalan pintas. dan ternyata, feeling aku sambil ngeliat perjalanan dari awal tadi, Karenceng itu kayaknya udah ga pernah dijamah sama pendaki lagi. terbukti dari semaknya yang lebat, jalanan yang ilang, terus juga beberapa jalan yang sebenernya jalan yang lama ditutup sama ranting-ranting gitu.
Akhirnya, setelah jalan 3 jam-an, kita nyampe di camp. langsung bagi-bagi tugas, ada yang nyari kayu bakar, bikin tenda, masang terpal. tapi si Dendi sibuk sendiri bikin "Damar". pas api unggun udah nyala, barulah ketauan kalo si anak-anak yang dibawa sama Dendi ga bawa makanan selain makanan kayak mie. untungnya Ibu aku ngebawain 10 bungkus nasi. jadi bisa ngebagi sama yang ga bawa makanan. dan akhirnya kita makan malam itu.
Kalo nyeritain Ibu aku, itu bisa panjang banget. Ibu aku itu orangnya perhatian banget, jadi suka nyuruh bawa ini itu. kadang yang ga perlu dibawa pun diselip-selipin dalem tas. kalo aku keluarin, beliau akan berusaha masukin lagi ke dalam tas. kalo aku keluarin lagi, barulah beliau negor untuk aku bawa. kalo aku keukeuh ga mau bawa, beliau akan bilang kalo dia nyuruh bawa cuma buat kenyamanan aku doang. nanti beliau bakal nyerita tentang dampak dari ini dan itu. intinya adalah aku harus bawa yang beliau inginkan. jadi, waktu kemarin aku ke Semeru, meski pun aku keukeuh ga mau bawa termos atau sari kurma di botolan, akhirnya aku bawa juga. tujuannya adalah untuk menyenangkan hati Ibu. kalo hati Ibu udah seneng, aku percaya ga akan ada hal buruk yang menimpa aku selama di perjalanan. doa orangtua adalah doa yang paling manjur, apalagi doa Ibu yang solehah. :D
Jam 4 pagi kita semua mulai jalan ke Tanjakan Baeud. adik aku yang keempat sempet jatoh gara-gara kejegal sama pohon gede dan dia lagi ga liat gara-gara terpesona sama pemandangan kota di bawah. aku yang kebetulan jalan di paling depan karena yang lain ga hapal jalan ga tau sama sekali. cuma emang punya feeling ga enak aja pas aku jalan. makanya aku berkali-kali nanyain keadaan adik-adik aku di belakang aku. untungnya, adik aku itu tangguh, meski pun udah jatoh nyuksruk, dia masih tetep punya semangat untuk ke puncak Karenceng. meski pun tulang keringnya luka gara-gara jatoh, dia tetep aja menikmati perjalanan dan tetep sempet bilang, "Sis, indah banget yaaaa..."
Hati aku mendadak terenyuh, ini ketiga kalinya dalam waktu kurang dari satu bulan hatiku terenyuh. pertama pas ngeliat Ranu Kumbolo, di situ mata aku berkaca-kaca, antara sedih, seneng, campur aduk semuanya. kedua pas ngeliat puncak Mahameru, pusat segala keinginanku selama ini. dan yang ketiga, pas adik aku yang udah kena bertubi-tubi cobaan untuk ke puncak, nahan sakit, dia tetep bilang kalo lampu kota yang diliat dari puncak tanjakan baeud itu indah, sunrise itu indah. Subhanalloh pisanlah. adik saha heula atuh?
Pas di puncak, mereka foto-foto, nerbangin pesawat harapan. terus selangkah demi selangkah ninggalin puncak Karenceng. pergi aja udah susah, apalagi pulangnya. pas pulangnya, aku sendiri kepeleset puluhan kali pas di tanjakan baeud. tadinya mau putus asa, mau diem weh di tanjakan baeud sampe ada yang mau ngakod aku. jantung aku berasa mau copot pas adik aku yang cowok sama adik yang bungsu jatoh nyuksruk berdua sampe guling-guling. aku udah lemes, di kanan kiri itu jurang, banyak tanaman kering yang tajem. pikiran aku udah macem-macem selama kurang dari sedetik merhatiin proses adik aku yang laki-laki jatoh terus ga sengaja ngeseleding tekel kaki adik aku yang  bungsu. terus mereka berdua guling-guling sampe kepentok pohon gede. pas aku teriakin nama adik laki-laki aku, adik laki-laki itu ketawa ngakak terus adik aku yang bungsu juga ketawa. di situ, kekhawatiranku mulai reda. pas di rumah, mereka nyeritain kisah kenapa akhirnya mereka bisa guling-guling barengan. setiap kali aku naik gunung, permintaan aku sama Alloh cuma satu kalo tiba-tiba ada hal buruk yang terjadi, yang celaka tolong jangan orang yang aku ajak, aku weh gapapa.
Selama turun dari camp ke bawah, kita berhenti tiga kali. itu karena jari-jari aku berasa udah mau copot. masalahnya baju aku basah gara-gara waktu ke Tanjakan baeud, aku yang paling depan, jadi embun itu aku serap semuanya. sepatu aku jibrug basah. si Naufal sama Andre pada bilang kalo mereka mau duluan jalan soalnya aku jalannya pelan-pelan banget. pas aku lari, jalan cepet, adik-adik aku pada seneng ternyata karena jalan yang aku pilih buat turun sambil lari itu jalan yang udah ga licin dan udah ga banyak ranting. pas aku sama adik-adik aku udah di bawah, eh si Naufal sama Andre ketinggalan di belakang. alasan ketinggalannya pun konyol, mereka bilang lecet kaki, padahal awalnya mereka minta ijin jalan duluan dengan alasan jalan aku pelan-pelan banget.
Setelah turun, adik aku yang cowok negur aku. dia bilang kalo aku seharusnya gak ngajak orang yang ga peduli sama dirinya sendiri. penilaian adik aku adalah karena anak-anak itu ga bawa makanan yang siap dimakan, mereka ga bawa sleeping bag, ga bawa kompor, bahkan minum pun dihemat gara-gara aku yang ngingetin terus, kalo aku ga ngomong mungkin air minum mereka udah habis dari sebelum ke Tanjakan Baeud. ya semua orang punya penilaian masing-masing. tapi buat aku sih selama orang yang ikut sama aku itu seneng sama perjalanannya, dia mau ngabisin minum, ngabisin makan, bahkan ngabisin lapak pun aku ga peduli.
Di perjalanan ke Karenceng kali ini, aku belajar, kalo naik gunung itu ga pernah menyenangkan. kalo udah ngeliat puncak terus mau apa? dibawa pulang? kan ga bisa. terus tujuannya buat apa? buat mengenal sisi yang tersembunyi dari adik-adik aku lebih dalam? aku ga sekepo itu. diri sendiri yang bikin segala sesuatu nyaman dan menyenangkan. seriusan.
Pas aku bilang ada pacet penghisap darah kalo lagi ujan, adik-adik aku yang cewek langsung ga nyaman. tapi aku bilang kalo pacet itu tinggal ditetesin air tembakau atau garem, setelah itu, mereka semua ngerasa nyaman lagi. selalu ada solusi untuk setiap ketidaknyamanan, masalahnya, mau diterima atau engga. kalo mau enak sih ngaso aja di rumah, jadi anak kuper yang ga pernah mau tau dunia luar terus bisanya cuma nyalahin orang. di rumah aja kalo mau makan minimal mesti ngambil piring sama ngambil nasi di rice cooker, ga pernah tuh ada cerita kalo mau makan tinggal buka mulut terus kenyang. kalo minta kasur empuk di puncak Karenceng, setelah kasur empuk, nanti minta apa? minta tai lalat aku yang di muka dipindahin ke pantat? aku bukan ginnie tapi aku bisa ngusahain sesuatu semampu aku. kayak aku ngusahain bikin adik aku nyaman, ngabeubeurat tas sendiri dengan terpal dan adik aku yang cowok bawa tenda. kalo untuk aku sendiri, aku ogah banget bawa kayak gituan, aku sih pake jas hujan juga udah cukup. ngiuhan di bawah pohon juga gapapa.
Tapi aku sih yakin, adik aku itu cerdas. ga perlu aku jelasin panjang lebar maksud ini dan itu yang aku lakuin dari kemarin. mereka cerdas untuk membaca situasi dan peka sama sekitar. dan aku bangga jadi saudara mereka seumur hidupku. kita awalnya orang lain di surga, tapi Tuhan menentukan bahwa Ayahku harus menikah dengan Ibuku. aku harus lahir dari rahim Ibuku. aku lahir lebih dulu dari adik-adikku. meski pun sehari kita jarang ngobrol karena kesibukan masing-masing, tapi ada koneksi kepedulian yang ga perlu dijelasin sama kata-kata. tapi di keluargaku, semuanya terbaca.

partner





aku bolehlah agak sombong sedikit ngobral masalah pengalaman naik gunung. aku banyak ketemu sama orang, dari yang paling mandiri, segala barang dibawa sendiri, ga pernah ngeluh dan selalu keliatan adem ayem; sampe yang ngeresein, ngabisin minum, ngabisin makanan, tidur ngorok, dan itu adik saya sendiri :p hahaha tapi adik saya meski pun rese dia mau ngebawain barang-barang yang berat, cuma ceroboh aja sih minusnya.
dari semua perjalanan, kenapa aku kok tertambat sama satu orang? aku ngerasa cocok banget kalo naik gunung sama dia. ga tau tuh dia ngerasain yang sama apa engga. haha.emang sih rese, ga pernah bawa makanan, minum pun minta, sleeping bag suka minta berbagi, tapi rajin, mau ngebawain tas, mau ngebawain barang2 yang berat, mau masakin, ngambilin air, nyuci piring bekas makannya, bahkan bisa jadi pengambil kayu bakar juga. kalo udah selesai naik gunung, dia bikinin es teh manis sama ngajakin makan nasi goreng. kadang es jeruk. hehe. dan aku suka banget sama makanan-minuman itu.
dia itu hadiah paling bagus dari Alloh deh pokoknya. dia cape juga ga pernah ngomong, selalu ngasih semangat dengan bilang, "di depan kita berhenti dulu". padahal FAKE! PENIPUUUU!!! pas aku duduk, dia bilang, "di depan aja biar lebih enak". dan akhirnya kalo gak gara-gara aku ngadat pengen istirahat, perjalanan terus dilanjut tanpa istirahat. kejam! tapi kalo aku sih suka, soalnya itu bentuk motivasi yang keren banget.
aku suka keingetan sama cerita seorang perenang handal yang cepet banget dan emang berbakat. ga tau tuh kalo dia sebenernya titisan putri duyung apa dugong. hehe. ceritanya, dia itu berenang puluhan kilometer gitu, dia rencananya mau nyebrangin samudera buat ke pulau lain. di dua pertiga jalan, dia tiba-tiba nyerah. semua orang aneh, kenapa dia nyerah? padahal udah bentar lagi nyampe. pas ditanya, si perenang itu bilang kalo pas dia berenang, dia mikirin apa yang bakal dia lakuin setelah nyampe di pulau selanjutnya, dan dia gak nemuin jawaban itu. terus? buat apa dilakuin, gitu pikirnya.
aku juga sering kayak gitu, udah jauh ngelakuin sesuatu, terus pas mikir alasan kenapa harus dilakuin, aku bingung. buat apa? kayak waktu kemarin ke Semeru. pas nyampe Arcopodo, aku udah ngerasa puas. aku kehilangan alasan untuk ke puncak. aku mau ke puncak, banget, tapi temen aku sakit, jadinya aku nemenin dia. tapi alasan aku untuk ke puncak itu masih ada sampe sekarang. dan aku berniat balik lagi ke Semeru untuk sampe ke Mahameru.
pernah pas aku ke Manglayang, aku kehilangan tujuan pas udah cape banget di perjalanan ke puncaknya. di situ, beban tas yang cuma berisi sleeping bag jadi berasa bawa beras berton-ton. seriusan. kaki berasa digelayutin lemah ratusan kilo. tapi pas itu, aku langsung ditemuin sama batu-batuan untuk didaki. di situ aku nemuin kesenangan baru, akhirnya aku sampe di puncak. pas nyampe puncak aku sendiri aneh, tujuannya buat apa? toh di puncak Manglayang ga bisa ngeliat ke arah kota, ketutupan sama pohon semua. tapi aku tau bahwa aku harus ke Manglayang dulu sebelum ke Semeru. biar orang-orang yang ngeremehin dengan bilang, "ngapain ke Semeru? tah Manglayang coba daki dulu!" kan kalo aku udah nyampe puncaknya, aku tinggal bilang, "udah! makanya aku mau ke Semeru ge." HAHA!
banyak cara orang untuk ngedown-in mental seseorang. tapi aku selalu berusaha positif thinking. Alloh nyiptain begitu banyak gunung, lembah, pantai, kota, buat apa kalo engga dieksplor habis-habisan? kalo bisa diperawani! hehe.
dan aku suka  sirik sama orang-orang yang punya banyak duit, banyak waktu, banyak tenaga, banyak kesempatan tapi mereka ogah-ogahan ngeeksplor alam. padahal andai aja aku yang dikasih semua itu, aku pasti mau bangeeeettt...
oke, balik lagi ke orang yang cocok buat aku ajak naik gunung, hehe. dia mungkin udah ga suka naik gunung lagi, soalnya biasanya naik gunung cuma buat nemenin aku doang. yang dia cari bukan lagi puncak, tapi pengen ngabisin waktu selama mungkin sama aku. hehe. ya Alloh, nuhun telah mengirimkan orang itu di hidup aku. sugan jadi barokah, ga cuma jadi guide di gunung tapi guide di kehidupan aku. hehe, aaaaammmiiinnn..........

"belum terpanggil

terhitung, dua tahun sudah aku berkawan dengan Nezar, Purwa, Rukman, Nabil, Fitri, Rani, Abdu, dan yang lainnya. aku masih ingat ketika pertama kali bertemu dengan mereka di masjid kampus untuk technical meeting, sama-sama diam. tapi seingatku, Nezar adalah yang paling terlihat "hutan" dibandingkan dengan yang lain. gayanya yang santai udah beda sendiri. :D
waktu di Kareumbi, Nezar itu jalan paling belakang, seperti selalu. waktu aku hipotermia pas ke Kerenceng bareng sama A Ucup, dia yang nemenin aku untuk jalan paling belakang. hehehe. Nezar, Purwa, Rukman adalah temen yang paling baik pas aku naik gunung. Purwa apalagi, waktu aku ke Manglayang pertama kali dan mopo karena kaki aku gak pake kaos kaki jadi kaku kedinginan, dia yang masih nemenin aku jalan paling belakang saat yang lain ninggalin aku di depan, bahkan pacar aku sendiri ninggalin. Rukman itu yang paling menginspirasi, si 80kilo yang mampu ke Kerenceng :D
Nabil itu temen backpacker paling menyenangkan, gak banyak protes. diajak jalan jauh hayu, diajak susah, kepanasan, bawa barang berat, tersesat bahkan sampe banyak tanya sama orang di jalan, semuanya HAYU. gak banyak ngeluh. cuma ngeluh pas perjalanan pulang aja gara2 kepanasan, yang lainnya, Nabil itu ada di peringkat cewek pertama yang selalu aku ajak jalan-jalan. sayangnya belom ada kesempatan kedua untuk jalan-jalan sama si Bebek lagi. semoga nanti ada.
pas aku ke Semeru, aku pengen bangeeeeett ngajak temen-temen aku itu. sayangnya Nezar mau ke Ujung Genteng. Purwa kuliah. Nabil sibuk. Rani sama si Fitri say no. Abdu keburu dicemburuin sama pacarnya. jadilah aku pergi asa setengah jiwa. :p
aku pinjem carriernya Nezar waktu itu, lumayan membantu pembawaan barang aku sampe ke Arcopodo. carriernya juga ngertiin banget kalo bahu kanan aku emang lebih tinggi dari pada yang kiri, jadi si tali di kiri itu lebih sempit dari pada di kanan. cuma belibet pas mau makenya aja, selama perjalanan asik-asik aja tuh.

sosok yang selalu aku kagumi adalah sosok-sosok mereka itu. Nezar dulu pernah bilang, "wah eL, kayaknya aku belum terpanggil untuk ke Kerenceng!"
lalu di acara pelantikan anggota Rumput, Nezar gak berangkat. aku dulu heran, kenapa Nezar selalu bilang kata "belum terpanggil", ada apa dengan kata itu? apakah benar Tuhan "memanggil" jiwa seseorang untuk naik ke gunung? benarkah?
tapi aku, meski pun tidak terpanggil, selalu memaksakan untuk hadir. selalu seserenteng, dateng gak diundang, pulang suka gak tau diri. hehe. aku banget. dan aku selalu punya cerita yang aneh-aneh atau pengalaman yang gak diduga kalo aku seserenteng gitu.
kayak waktu ke Kerenceng pas pelantikan anggota Rumput, jiwa aku gak ikut di dalam acara itu. cuma gara-gara pacar aku bilang kalo aku harus ikut dan kalo aku ga ikut, dia juga males ikut, jadinya weh aku maksain ikut. padahal aku udah ogah. pas di sana, aku ngerasa kosooooonngg banget. temen ngobrol di sana cuma pacar aku doang, yang laen berasa gak nyambung.
dan aku sakit pas nyampe di rumah A Acil. demam gila. aneh-aneh aja. akhirnya pas malem aku pulang sama A Restu, pacar aku bilang pulangnya mendingan pagi-pagi aja, tapi aku keukeuh mau pulang malem itu. soalnya aku gak enak badan. akhirnya, pacar aku ngelepasin aku pulang dengan was-was.
besok besoknya, aku sakit, demam terus sampe 2 mingguan.
belum terpanggil. emang bener. sesuatu itu indah pada waktunya *serius*
kata Nezar tentang "belum terpanggil" adalah pas aku ngajak dia ke Semeru. lagi-lagi aku punya cerita yang kurang menyenangkan. hehe, tapi kalo nurutin kata panggilan Tuhan, Tuhan kapan mau kasih aku kesempatan bener-bener ke Semeru dengan sepenuh hati? masalanya aku udah minta selama 2 taun kok gak dikabul-kabul sih?
"belum terpanggil" kata Nezar untuk ketiga kalinya pas aku ngajak ke Semeru lagi bulan Desember. mungkin ke Semeru itu kayak naik haji, ada rezeki tapi kalo hati belum kepanggil ya gak akan pergi. hati kepanggil tapi kalo ga ada rezeki ya gak akan pergi juga. kalo nunggu keduanya komplit, kapan atuh berangkatnya? isn't?
tapi aku pun mengiyakan "belum terpanggil" kata Nezar. aku berkali-kali diajak ke Gede-Pangrango, dulu udah mau banget, tapi orang yang ngajaknya ngundur waktu berangkat, akhirnya bentrok dan aku gak jadi ikut. setelah itu aku gak lagi merasa "terpanggil" untuk naik gunung. aku berhenti naik gunung hampir setaunan sampe akhirnya aku ke Semeru. bukan gak mau naik gunung, keinginan itu selalu ada tiap kali aku ngeliat gunung, tapi lagi-lagi kalo masalah jiwa, semua susah dijelasin.

kemarin malem aku main ke Angkringannya Purwa. udah lama banget gak ke Angkringan. terakhir ke Angkringan itu waktu habis nganter pacar aku beli hape. waktu itu ketemu sama hampir setengah anggota komunitas aku tapi tetep weh ketemu sama temen yang udah lama gak aku temuin teh aku mah ngobrolnya sama pacar aku.
Purwa itu adalah orang yang pengen banget aku ajak ke Semeru, meski pun kadang ngeselin, aku suka banget sama ekspresi excitednya dia kalo ngeliat puncak, ngeliat pemandangan yang bagus, awan yang berarak, bulan yang penuh, bintang jatuh, hewan lucu, hahaha... bahkan dia itu suka gak ngerasa cape, lagi nanjak, sempet-sempetnya nyanyi, dan aku belajar untuk selalu menikmati tiap tanjakan dari dia. selalu nyanyi meski pun ngos-ngosan, minimal satu kalimat aja dalam lagu. :D
semoga Desember itu dia setuju buat ikut ke Semeru.

Pur, Ranu Kumbolo gak seindah apa yang Doni Dirgantara ceritain di novel 5 cm, lebih indah Pur. Hijaunya dari jauh mirip kayak Green Emerald, pas deket, saking biru pekatnya, awan itu bukan lagi berarak di langit, tapi awan seolah bercermin di Ranu Kumbolo, mengagumi keindahan mereka satu persatu. Bohong banget Doni nyerita Ian bisa ngelewatin Tanjakan Cinta dengan mulus sambil mikirin Happy Salma, bohong banget. Ngos-ngosan, dan ngebalik ke belakang itu gak rugi! Ranu Kumbolo semakin cantik kalo diliat dari Tanjakan Cinta. Kamu tau padang Lavender? SUPER INDAH. Dan Mahameru itu jelas lebih agung dari dialog,
"Puncaknya namanya apa, Ta?"
"Mahameru."
lebih agung, lebih lebih lebih. Sesuatu yang kata-kata gak bisa capai. Kamu jangan percaya keindahan yang ditulis Doni di novel 5 cm, semuanya jauh lebih indah ketika mata kamu yang nyaksiin itu sendiri. Dan foto-foto di google gambar, semuanya gak ada tandingannya. Aku berani bertaruh kamu pasti mau nangis pas pertama kali ngeliat Ranu Kumbolo, sama kayak aku kemarin. Ranu Kumbolo itu super cantik. Kayak lukisan pelukis ternama aja. Kamu bahkan harus ngucek beberapa kali mata kamu sebelum akhirnya kamu sadar kalo yang kamu liat bener-bener Ranu Kumbolo.
Pas kamu nyentuh airnya, Ranu Kumbolo seolah mengajari kamu arti dari damai. Aku serius. Kamu harus kesana, Pur, liat dengan mata kepala kamu sendiri. Kalo ternyata setelah pulang dari puncak Mahameru kamu bilang gak akan pernah balik lagi ke sana, itu pilihan kamu. Tapi aku, aku yang dulu ngira gak bakalan pengen balik lagi, aku justru mikirin kapan bisa ke sana lagi meski pun aku baru nyampe ke Ranu Kumbolo.

dan semua orang di sekelilingku selalu bikin cerita buat hidup aku. temen-temen kaum Rojali yang kemarin nemenin aku ke Semeru pun juga ngajarin banyak, mereka ngajarin arti "cuma punya tekad". aku kemana pun cuma punya tekad, sisanya nekat, kemampuan nol, daya tahan tubuh satu per sekian, paling gede ya tekad. dan aku ngerti, kalo yang ngegerakin badan aku untuk terus naik ke Arcopodo itu ya cuma tekad, yang lainnya naik karena nekat. aku pulang dengan planning rute perjalanan, tapi pulang sama mereka dengan keterpaksaan ikut ke W*lhi dulu, nyasar di kostan orang lain, sampe aku kepergok di jalan ketemu sama sepupu aku, pas dia sms aku bilang NGACO KAMU, padahal heueuh emang aku yang ketemu sama dia. dan pas aku sadar, aku ada di komplek yang sama tempat tante aku tinggal, aku cuma ada beberapa blok dari beliau. bagus pisan. di perasaan aku yang campur aduk, yang lain sibuk dengan obrolan masalah puncak (gagal). di situ, kalo boleh milih, dari pada aku ketauan sama bibi aku, aku lebih baik mati.
selama perjalanan ke Gubeng, aku berharap gak ketemu sama siapa pun lagi, bahkan ketemu supir angkot pun aku gak mau. aku takut kalo si supir angkot itu ternyata tetangga sodara aku di sono. jiiirrr, perasaan campur aduk. waktu backpacker sama pacar aku, aku bilang kalo aku ga mau nongkrong di Malioboro, aku takut ketemu sama sodara aku yang ada di Jogja, untungnya beliau ngerti. jadi kita lebih milih untuk jalan-jalan ke tempat lain selain Malioboro. pas di Surabaya, kalo mau ngomong egois, aku pengennya kita tetep di rencana naik kereta, bukannya nyesat di bungurasih, kegape sama sepupu aku di jalan, mesti duduk santai nungguin detik-detik eksekusi. untungnya Alloh masih sayang sama aku. kalo engga, mampus! mereka paling cuma kena hukuman gak boleh pergi-pergian sebulan atau maksimal 3 bulan. kalo aku, mungkin bisa kehilangan segalanya seumur hidup aku.
kalo ngomong masalah egois, aku ngerasa udah jauh berkorban dengan mau-maunya naik bus ke bungurasih, pas ditanya mesti naik bus apa jawabannya ngambang, pas ditanya mau kemana jawabannya nunggu temen, temen apa? temen yang mana?
catatan penting buat orang yang mau pada backpacker. backpacker emang KERE, tapi backpacker gak berarti bunuh diri, apalagi gak punya planning perjalanan. jangan harap ada cerita menarik dari perjalanan yang gak ada planningnya. aku sadar aku perempuan, resiko diperkosa, dirampok, dibunuh, dijambret, itu tinggi banget. makanya aku gak mau asal pergi ke tempat yang "bahaya". nah ini, mana bawa bocah, aku disuruh ngikut kaki mereka, mereka ga tau jalan. ah sudahlah, aku kapok.
catatan penting tuh, backpacker KERE, tapi gak berarti BUNUH DIRI. tah catet!
aku sih mikir dari sisi positifnya, bener mungkin kata Nezar dengan kata "belum terpanggil". aku ngajak orang-orang yang cuma modal nekat, yang langsung loyo ketika kakinya keseleo, barang bawaannya berat, kedinginan, laper, patunjuk-tunjuk bawa tenda, pada mau ninggalin beras, gak bisa kontrol minum. ya ya ya.
semoga orang selanjutnya yang ngajak aku ke Semeru itu "terpanggil". Amin.

setelah naik gunung

Aku selalu punya cerita menarik tentang "setelah naik gunung"...
salah satu contohnya adalah aku sendiri, setelah naik gunung, badan aku remuk kayak diinjek-injek gajah. sendi-sendinya jadi kaku. niatnya mau olahraga yang ada malah aku mesti istirahat total semingguan buat ngembaliin badan yang remuk itu. dan itu adalah contoh kalo aku emang bukan orang yang dilahirkan untuk jadi pendaki gunung. hahaha. tapi itu dulu, sekarang sih udah enggak. tiap kali naik gunung, aku selalu bersyukur karena bisa bersin. soalnya mungkin jantung aku kurang kuat untuk ngelakuin hal yang namanya bersin, tapi kalo udah diolahragain, aku bisa bersin beberapa kali dalam sehari. dan itu prestasi yang luar biasa juga buat aku.
waktu itu aku naik gunung sama temennya pacar aku, namanya Ilham. waktu itu kita ke Manglayang, sampe puncaknya. dan di puncaknya ada makam gitu. dan aku baru tau kalo ternyata track itu bahaya. well, keur mah inditna ge peuting jam 7, jadi teu apal jalan, teu ningali kenca katuhu, dan aku nyampe ke atas dan pulang dengan selamat. pas perginya, aku malu banget sama Ilham, aku mopo, istirahat mulu. dan aku kepisah jauh di belakang. dan itu terus berlanjut sampe puncak. sumpah, malu banget! meski pun cuma aku doang ceweknya dalam kelompok itu, tapi ya atuhlah jangan sebegitu memalukannya. :( tapi pas turun, si Ilham ujug-ujug yang minta istirahat. ternyata kaki dia gak kuat untuk menuruni jalan. hahaha. di situ, aku dengan bangga jalan nurugtug ke bawah tanpa minta istirahat. dan akhirnya aku tau, kalo setiap orang itu punya kelemahan, entah kelemahan sama tanjakan atau turunan. :D
naik gunung yang menarik selanjutnya adalah sama anak-anak Paskibra. mereka aku suruh bawa minum minimal seorang 1,5 liter. dan gunung yang bakal didaki adalah gunung Geulis. awalnya mereka semangat, sampe akhirnya pas nyampe tempat camp, mereka ninggalin air yang mereka bawa itu terus masing-masing cuma bawa sebotol isinya 600ml. sumpah, waktu itu aku mau marah tapi gimanaaaa gitu. jadinya itu keresek isi air hampir 6 liter dijinjing berdua sama aku dan pacar aku. haha. sampe puncak pula! dan pas di puncak, mereka berebut air. berasa pengen neke kepala mereka satu-satu kayak di game Molly. haha. pas turun, air udah abis. dan aku emang jarang minum, jadi di tas aku masih ada sebotol air weuteuh yang biasanya selalu aku bawa pulang lagi ke rumah. dan air itu jadi bahan rebutan sengit.
naik gunung selanjutnya adalah sama si Ghazy dan kawan-kawan pesantrennya. gunungnya adalah Kerenceng. aku kira, mereka berangkat sama guide yang berpengalaman, basically naik gununglah minimal. eh, pas aku samperin, ternyata anak SMA kelas 2 yang baru masuk ekskul pecinta alam di sekolah, belom pernah camping, cuma pernah hiking doang. disitu aku tegur habis-habisan. lucu juga, mereka itu pengen liat puncak. haha. akhirnya, mereka semua aku ajak turun, bukannya aku anterin sampe puncak. masalahnya itu jam 6 sore, aku lemah juga ngapalin jalan. males dong kalo mesti tersesat bareng bocah-bocah SMA. tapi karena aku kasian, jadinya mereka aku ajak turun terus camping di bawah pohon pinusnya. di situ, mereka bilang kalo tenda yang mereka bawa buat cewek (aku), aku cuma senyum-senyum. aku liat mereka gak bawa sleeping bag, gak bawa matras, gak bawa jaket tebel. pas jam 7, mereka satu persatu mengendap masuk ke dalam tenda. dan akhirnya mereka ngumpul di dalam tenda karena saking dinginnya. mereka laper, aku tanya mereka bawa makanan apa aja. dan mereka jawab mereka cuma bawa ubi sama daging ayam mentah. HAHA! ubinya pun udah abis dimakan. di situ, aku ketawa dalam hati habis-habisan. akhirnya aku bikinin api unggun buat ngebakar dagingnya. mereka sempet nawarin makan daging ayam itu, cuma aku udah makan sebelum naik gunung dan masih kenyang, jadi aku engga ikut makan. puas aja ngeliatin mereka makan dengan begitu lahapnya. sekitar jam 9 malem, mereka pada tidur. api unggun beberapa kali mati, aku yang udah pake sleeping bag pura-pura tidur, nungguin reaksi mereka kalo kedinginan. dan mereka patunjuk-tunjuk untuk nyari siapa yang mesti ngambil kayu bakar. disitu aku ketawa lagi. pas kayu bakarnya udah ada, apinya malah mati, dan enggak nyala. akhirnya aku bangun, nyalain lagi si api unggunnya terus mereka tidur lagi. pas subuh, mereka pada bangun, aku masih pura-pura tidur. mereka bilang kalo mereka mau turun dulu sampe nemu warung, beli air, makanan terus coba naik lagi ke puncak. sekitar jam 6an aku bangun, duduk-duduk doang ngeliat mereka kelaperan. mereka gak punya kompor, gak punya makanan lagi, lemes banget semuanya. di situ, salah satu anak bilang kalo mereka lebih baik naik ke Kerenceng lain kali, hahaha. barulah aku tanya, mereka mau sarapan atau enggak. mereka jawab mereka udah gak punya makanan sama minuman, air yang mereka bawa diabisin untuk wudlu. aku langsung bikinin energen sama mie rebus. ngeliat mereka makan lahap, lagi-lagi aku ngerasa gak laper. dan aku gak makan lagi. setelah ngelipet tenda, mereka siap-siap turun. air mereka udah bener-bener abis, dan pas turun, mereka lemes banget. mereka mulai nyalahin ubi yang tadi malem mereka makan, yang bikin tenggorokan mereka sesek susah nafas. dan aku, yang kalo mereka berhenti untuk istirahat, minum dengan asiknya dari botol minum yang aku bawa, dan mereka sengaja enggak aku bagi. lumayan menyiksa sih kalo menurut aku mah, dan lumayan ngasih mereka pelajaran. naik gunung itu bukan sekedar mindahin tempat tidur sama meja makan ke gunung, tapi ngerubah semua kebiasaan yang biasanya selalu tersedia jadi mencari dan usaha dulu.

naik gunung selanjutnya adalah pas ke Semeru, gila aja perjalanan ranu pane sampe ranu kumbolo itu temen-temen aku ngabisin waktu 8 jam. ya jujur aja, bahu aku itu suka bermasalah kalo ngegendong tas lebih dari 6 jam. makanya pas udah 7 jam, aku langsung lari biar cepet nyampe ke ranu kumbolo. dan mereka ketinggalan 1 jam dibelakang aku. di tengah jalan pas aku lari, bahu aku kram beneran. kepala aku gak bisa nengok, tangan juga gak bisa digerakin. aku makin cepet lari aja terus pas nyampe pos 4, aku duduk bentar ngerelaksasiin bahu aku. setelah agak lama, barulah aku turun sampe ke ranu kumbolo. cerita lain adalah masalah air. kelompok aku yang satu ini udah ngerti tayammum, jadinya aku gak perlu repot-repot debat masalah penggunaan air. tapi sumpah, temen-temen aku ini suka banget sama minum. awalnya aku ketawa-ketawa, tapi kesini-sininya jadi lumayan kesel juga. di Arcopodo sempet berantem masalah air. dan buat aku itu gak patut diributin, seharusnya ngerti masing-masing. dan aku simpen tenaga aku untuk meniti tanjakan maut arcopodo dari pada berdebat masalah air. toh aku udah bawa sebotol penuh air di punggung aku. masalah lainnya adalah mungkin karena emang aku sekelompok sama orang-orang yang baru pertama kali naik gunung, jadinya mereka gak punya itungan sendiri tentang kapan mesti mulai jalan dan kapan mesti nyampe tujuan. rada repot sih, ranu kumbolo sampe kalimati aja 5 jam, padahal orang lain itu maksimal 4 jam. ranu pane sampe ranu kumbolo 8 jam, padahal orang lain 6 jam maksimalnya. dan kalimati sampe arcopodo itu 2,5 jam padahal rata-rata orang itu sejam udah nyampe. dan aku sempet ngitung waktu, aku turun dari arcopodo ke kalimati itu sejaman, dan yang lain ngabisin waktu sampe dua jam. dari kalimati ke ranu kumbolo aku ngabisin waktu 3 jam, kalo yang lain 4,5 jam. tapi pas pulangnya, dari ranu kumbolo sampe ranu pane cuma ngabisin waktu sekitar 5,5 jam, itu pun gara-gara bareng sama tim purwokerto, kalo engga, mungkin ngabisin waktu 7-8 jam lagi. makanya aku rada males nyeritain perjalanan aku ke Semeru, soalnya gila, estimasi waktunya MEMALUKAN! emang sih aku bukan pendaki gunung yang handal, tapi sumpah aku malu kalo selama itu. semoga ada kesempatan lagi untuk aku ngukur estimasi waktu untuk ke Semeru dengan prestasi yang lebih baik. aku sendiri gak berani nyerita ke ibu aku tentang cerita lengkapnya, soalnya aku takut beliau khawatir, nyangkain anaknya gak mampu naik gunung, padahal aku mampu, cuma perjalanan kemaren emang banyak banget istirahatnya... :(

dan itulah cerita-cerita setelah naik gunung yang menarik buat aku. ya, kita bisa tau karakter sebenarnya seseorang pas di gunung, dan kita juga bisa tau seceroboh apa kita di gunung ketika kita bersama orang yang berhati-hati. intinya mah, tidak selalu apa yang jadi pandangan kita terhadap seseorang salah atau benar, yang penting mah akhirnya pulang dengan selamat. apalagi cerita yang lebih menarik selain pulang dengan selamat sampai rumah?

pelis jangan ditiru

 Ceritanya, pas nyampe Cemoro Kandang, saking cantiknya si Cemoro Kandang ini, refleks pas liat batang kayu yang penuh coretan, akhirnya aku pun ikut nyoret-nyoret. Haha. Pelis jangan ditiru! ini mah tindakan gak bertanggung jawab dari seorang pendaki gunung. SERIUS!
aku menitipkan harapan aku untuk ke Semeru lagi... :D hehe, ini pun jangan ditiru! SERIUSAN BRAY!

menyesal atau tidak?

"Haha. Butut! Teu rapih."
itulah komentar yang muncul ketika aku mengupload sketsa gambarku di album situs jejaring sosialku. biasanya aku selalu merasa tidak mau kalah, jadi kemudian pertengkaran kata-kata terjadi. tapi waktu itu, dua minggu lalu, aku enggan bertengkar, jadi aku memilih untuk mengiyakan bahwa gambarku memang belum bagus, tidak rapih dan aku bahkan tidak menggunakan prinsip-prinsi dasar untuk menggambar sketsa. lalu aku mengakui kekurangan dan kelemahanku.
"Harusnya kamu teh pake garis bantu. Garis bantu itu bla bla bla bla bla." Dia kemudian menerangkan masalah garis bantu, masalah teknik menggambar sketsa dan masalah skala. di situ, aku merasa bahwa sebenernya mungkin aku harus ikut wadah orang-orang yang sudah biasa menggambar sketsa, jadi aku bisa belajar dari mereka.
itu dua minggu lalu. setelah hari itu, aku berangkat ke Malang, melakukan perjalanan "berbahaya" dengan membawa 5 gadis dan 1 orang pria yang belum patut disebut pria. dzikirku tidak putus, pun doaku. aku meminta pada Sang Khalik agar menjaga jiwa dan raga kami selama perjalanan hingga kembali pulang ke rumah. dan aku pun menetapkan dalam hati untuk pulang dengan selamat tanpa kurang satu helai rambut pun.
selama perjalanan, aku mengerti sedikit demi sedikit tentang konsep kematian dan kehidupan. kakiku tidak sekali dua kali tersandung akar pohon dan hampir jatuh. mataku juga tidak sekali dua kali hampir tertusuk ranting di depanku. bisa saja saat kakiku tersandung, aku masuk ke dalam jurang, berakhir dengan kaki patah atau kehilangan nyawaku. segala kemungkinan itu ada. dan benar saja, naik gunung tidak mempercepat atau memperlambat kematian, dengan apa pun, pada akhirnya manusia akan mati, takdir yang menentukan kapan dan bagaimana manusia akan mati. that's the point ceuk aku mah.
ayahku melarangku untuk pergi ke Semeru. banyak alasan, pertama karena memang fisikku yang lemah, ketidakmampuanku menahan dingin, kebiasaanku yang terkadang lupa dan selalu merasa kenyang, lupa minum, dan banyak kemungkinan lain yang sebenarnya mampu membunuhku kapan dan dimana saja. kedua, karena ayahku tahu, refleks dan pengetahuanku tentang naik gunung itu begitu minim, aku tidak mungkin siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. tapi akhirnya, aku mampu juga ke Semeru, bahkan memimpin hingga Arcopodo.
ketika temanku bilang bahwa dia sakit dan tidak mampu ke puncak. aku langsung ingat pada sosok Ayahku yang mati-matian bilang bahwa aku tidak boleh ke Semeru. maka aku urung naik ke puncak, dengan alasan menemani temanku yang sakit itu. di situ, aku memikirkan kemungkinan tentang blenk 75, pasir, wedus gembel, gas beracun, batu pijar. padahal, puncak semeru tidak menentukan hidup atau mati seseorang. iya, PADAHAL. tapi tetap saja, aku merasa takut. aku ingat saat melihat wedus gembel keluar dari puncak semeru saat aku sedang di Kalimati. jujur saja, lututku lemas. sungguh, Semeru itu bukan Kerenceng. bukan Manglayang. bukan gunung Geulis. BEDA! she's alive...
tidak ada perasaan menyesal setitik pun saat aku memutuskan untuk tidak ke puncak. tidak ada perasaan kesal atau dongkol karena aku gagal ke puncak. rasanya lega saja. tidak semua orang bisa sampai Arcopodo, dan bagiku itu sudah prestasi luar biasa. luar biasa untuk tubuh yang mudah binasa ini. luar biasa juga untuk kegiatan mengendap-endapku.
saat aku mendengar cerita dari teman-temanku yang ke puncak, ada yang dikecup batu, ada yang dihadang kabut, ada yang dihadang tubuh yang lelah. dalam hati, aku bilang pada diriku sendiri, mungkin saja jika aku di atas, aku mengalami hal yang lebih menakjubkan atau lebih mengerikan dari yang mereka alami. huh...
sesampainya di kota Malang, aku memikirkan kembali tentang keputusanku yang terkadang membawa malapetaka bagi hidup orang lain. misalnya saja, karena aku bercerita tentang kemegahan Semeru, teman-temanku tertarik, berbohong pada orangtua mereka, lalu ketahuan, isinya semua PETAKA, PETAKA, PETAKA!!! aku kemudian ingat kata-kata Mas Godheg di Kalimati, "aku lebih baik ikut mati sama temen-temen yang celaka dari pada harus hidup tapi disalahin sama pihak keluarga yang ditinggalin". sayangnya, aku ga mau mati di gunung. aku mau mati di rumah, dikelilingi orang yang menyayangiku. jadi, lain kali, mungkin akan jauh lebih baik kalau aku pergi sendiri, atau pergi dengan orang yang orangtuanya tidak mempermasalahkan kegiatan naik gunung dan perijinannya.
selama dua minggu itu, petaka justru menyapa temanku yang sebelum keberangkatanku berbincang tentang garis bantu. beliau mengalami kecelakaan motor, remnya blong di Maribaya. saat itu beliau pergi berdua dengan temannya, malang untuk temannya, dia meninggal karena kecelakaan tersebut. sedangkan temanku itu masih diberikan kesempatan untuk hidup dan mensyukuri kehidupan.

AH GUE NGOMONG APAAN SIH? ah ya gitu deh, baca aja.
intinya, aku kembali memikirkan bahwa sebenarnya, naik gunung atau tidak, mengajak orang atau tidak, ijin atau tidak, orangtua setuju atau tidak, semua manusia pasti akan mengalami kematian. entah itu sekarang, besok, lusa, kapan pun dan dimana pun. seperti aku yang tidak mau menyesali hal-hal yang telah terjadi, para orangtua pun sama, mereka tidak mau menyesali karena membiarkan anak-anaknya garasak-gurusuk.
Ah Tuhan, kalau naik gunung itu bahaya, kenapa Engkau menciptakan gunung-gunung yang menjulang sebagai penopang langit untuk bumi? kalau manusia harus ditemani dalam perjalanan demi mendapatkan motivasi, kenapa manusia pada akhirnya diadili sendiri-sendiri? Tuhan, aku punya banyak pertanyaan, cik atuhlah pasihan abdi terang...
semoga partner naik gunungku selanjutnya tidak membuatku memikirkan pertimbangan untuk menyesal atau tidak. cepat sembuh, temanku, aku mau belajar tentang garis bantu untuk membuat sketsa gambar...

mesti olahraga

satu tulisan lagi sebelum tidur.
kali ini mau nyeritain betapa malesnya aku untuk olahraga, mempersiapkan diri ke S. huh deh!
jadi, selama dua mingguan ini, yang aku pikirin adalah :
  • temen di perjalanan aku
  • rute perjalanan
  • budget
  • karcis
  • peralatan
  • tenda
  • jaket
  • baju toga
  • sepatu
  • gaiter
  • teknis pemberangkatan
  • jadwal naik gunungnya
  • perijinan
  • obat
dan aku ga sedikit pun inget sama badan aku. huh deh!
aku sadar kalo badan aku emang bukan badan tukang naik gunung. naik gunung buat aku cuma sekedar seneng-seneng aja. aku bahkan mau pensiun beneran kalo suatu saat aku udah gak pengen lagi naik gunung. dan aku juga sadar kekurangan yang aku punya. jadi, aku lebih memilih backpacking dari pada naik gunung. tapi, sekali ini, aku pengen bangetlaaah naik gunung, dan aku mau ke S.
setelah ke S, mungkin aku bakal pikir-pikir ulang kalo diajak naik gunung. dan aku gak begitu sirik kalo orang lain pergi ke Ciremai atau gunung yang lain, tapi gak tau kenapa aku sirik banget kalo orang lain pergi ke S. wahai para pembaca, doakan aku yah biar aku selamat sampe di S, terus pulang lagi dengan selamat.
okelah, mulai sekarang aku bakal mikirin masalah kesehatan aku. aku harus olahraga. dan itu juga yang mesti aku ingetin ke temen-temen aku. jangan sampe kena hipotermia. jangan sampe kekurangan di bagian fisik.
semoga lancar! amin...

pesen tiket KA di Kircon

sebelum tidur, berkarya dikitlaaaahh... :)
hari ini, aku ke kampus, tujuannya bukan ngambil ijazah, tapi buat ketemu sama teman-teman seperjuangan aku yang mau ke S. hehehe, masih berahasia tentang S padahal orang-orang pada tau apa itu S. wkwkw. gosip emang cepat nyebar.
setelah diskusi tentang peralatan, keberangkatan dan tempat yang bakal dituju setelah ke S, akhirnya aku meluncur ke stasiun Kiara Condong. terakhir kali aku stasiun ini adalah taun lalu, waktu mau backpacker sama Furkon ke Jogja. Dan satu-satunya aturan yang aku inget adalah mesti pesen tiket seminggu sebelum keberangkatan. tapi ternyata ada aturan baru, aturan itu adalah :
  1. mesti pesen tiket minimal seminggu sebelum keberangkatan (meski pun ekonomi)
  2. tiket mesti berdasarkan identitas dari orang yang bakal ada di dalam kereta nanti (perlu katepe sodara sodara)
  3. pesen tiket bisa di alfamart atau di indomart, terus struk bukti bayarnya dikasiin ke stasiun terus dituker sama tiket (yang ini rada belibet, jadi mending beli langsung di stasiunnya)
  4. jadwal loket buka adalah jam 7 sampe jam 5 sore
dan aku melewatkan 3 poin dari peraturan baru. jadi pas nyampe di stasiun Kircon jam setengah 6 sore, loket tutup, sempet celinguk-celinguk. apalagi Kircon yang sekarang beda banget sama Kircon yang dulu penuh calo, pedagang asongan sampe pengemis. yang sekarang lebih rapi, mirip sama stasiun Lempuyangan yang sekarang deh. :) terimakasih PT KAI untuk fasilitas yang menyenangkan itu. :) kenapa ga dari dulu coba kayak begini? haha
pas aku dateng ke alfamart untuk pesen tiket, aku ngelewatin poin 2, jadi aku cuma bawa 1 KTP punya aku doang sama SIM punya ibu aku. ternyata, aturan barunya adalah nama calon penumpang harus sama dengan identitas. Awalnya aku rada ngotot sama SPB di alfamart, "aku kan mau pesen tiket ekonomi a, kenapa belibet kayak pesen turangga?"
setelah dijelasin, akhirnya aku ngerti bahwa ternyata pesen tiket yang ga sesuai dengan identitas nantinya bakal dihanguskan alias ga berlaku. parah juga yah peraturan yang sekarang. tapi bagus sih, jadinya gabanyak calo. dan aku suka kalo stasiun aman. :D
tapi sebelnya, aku gajadi mesen tiket hari itu, jadinya rencana besok mau ke stasiun lagi buat mesen tiket,, huh deh!
inilah sedikit informasi tentang pembelian tiket kereta api di Kircon, semoga bermanfaat bagi para backpackers yang mau jalan-jalan. oh ya, kalo mau jalan-jalan, ajak-ajak yaaaa :) peraturan ini baru berlaku tanggal 1 september 2012.

syok IELTS

Hari Kamis (04/10) kemarin aku sama Debus (nama disamarkan) pergi ke ITB. Ceritanya kita mau tes TOEFL buat ke luar negeri. Berbekal uang tujupuluhlimarebu berdasarkan keterangan temen-temen si Debus, akhirnya kita berangkat. Kita janjian di Pangdam depan kampus terus naik Damri sampe Cicaheum. Pas di bus, ujug-ujug si Debus bilang kalo dia lupa bawa foto 3x4. Padahal dari kemarin dia yang paling ngewanti-wanti jangan sampe lupa bawa foto 3x4. Huh deh. Akhirnya, niat yang awalnya mau daftar berubah jadi mau nanya informasi doang. Setelah sempet salah arah sampe ke mesjid Salman, akhirnya temen Debus bilang kalo gedung UPT Bahasa itu deket FMIPA ITB yang deket air mancurnya. Jadilah akhirnya kita masuk ke areal ITB-nya.
Dulu, 4 tahun lalu aku masuk ke ITB, ada sensasi hate ngagulutuk tiap kali jalan atau lewat ITB, tapi sensasi itu udah ilang. Soalnya aku udah lulus kuliah, haha. Dan perasaan penasaran buat masuk ITB udah enggak ada lagi. Heran aku ge, sekarang-sekarang gak ada tuh kampus yang bikin aku WOW. Semuanya kerasa biasa aja.
Pas udah nyampe di deket gedung FMIPA, kita tanya-tanya mahasiswa di sana tentang keberadaan gedung UPT Bahasa. Setelah nanya dan dapet, kita masuk ke ruangannya. Ternyata, jadwal tesnya tanggal 31 Oktober, sedangkan deadline penyerahan formulir buat sekolah keluar negeri aja 30 Oktober. Terus bapak-bapak di sana bilang aku mendingan tesnya di UPI aja, soalnya waktunya suka lebih cepet. UPI jadwalnya pertengahan bulan. Karena aku ragu, akhirnya nongkrong di deket gedung FMIPA ITB sambil ngesms temen-temen di UPI buat nanyain info masalah tes TOEFL di UPI. Pas udah ngemantepin mau daftar, ternyata keburu istirahat. Akhirnya kita sholat dulu ke mesjid Salman. Itu pertama kalinya aku sholat di mesjid Salman, haha. Selama tinggal di Bandung, aku bahkan enggak punya rasa "mau" untuk sholat di mesjid Salman, tapi akhirnya, sholat juga di mesjid ini. Hehe.
Setelah sholat, kita nyari makan di seberang mesjid salman. Setelah mesen makanan dan sedikit "cerewet" masalah harga, porsi dan rasa makanan, baru deh kita balik lagi ke gedung FMIPA. Kalo di (mantan) kampus aku, lima belas ribu itu dapet daging segede kepalan tangan, nasi super banyak, udah pake lalapan, tempe tahu dua, terus sama minuman yang wah. Tapi kalo di kampus ITB, lima belas ribu cuma dapet ayam segede tiga jari digabungin, nasi seempret, tahu satu ipis pisan dan tahu yang gak kalah irit. Haha. Beda budget sih.
Pas balik lagi ke gedung FMIPA, petugasnya udah beda lagi. Pas aku mau daftar, mereka keukeuh, dosen bangetlah pokoknya, jadi bener-bener "jangan biarkan mahasiswa tersesat". Hehe. Baik banget menurut aku sih, mereka tetep bilang kalo misalnya aku butuh buat tanggal 30 Oktober, mendingan di UPI. Mereka bilang pusatnya sama, cuma jadwal tesnya aja yang beda. Terus mereka bilang kalo aku tes tanggal 31 Oktober, si sertifikatnya gak bisa jadi dalam seminggu dua minggu, soalnya yang bulan september aja baru jadi hari itu. Gitu katanya. Terus mereka ngasiin nomor telepon balai bahasa UPI sama denah UPI. Sumpah, (mantan) kampus aku butuh orang-orang kayak mereka. Dan pas ngecek jam, itu baru 12.50an dan mereka mau ngelayanin mahasiswa meski pun merekanya masih makan. HEBAT! Coba kampus aku, mahasiswa butuh bimbingan dosen kalo belom jam 13.30 mah gak akan dilayanin. Alesannya istirahat dari jam 12 sampe jam 1 buat makan, terus jam 1 sampe setengah 2 buat sholat. Sungguh, peenes.
Akhirnya, aku sama Debus milih buat pulang. Tapi sebelumnya mau ngecek harga IELTS ke salah satu bimbingan bahasa gitu di daerah Sulandjana. Pas masuk, si Mbak di sana langsung nyapa. Jadilah aku tanya, "Mbak, tes IELTS di sini berapa yah?"
"Seratus delapan sembilan yuesdi." Jawab Mbak itu. Otak aku waktu itu berpikir cepet, cuma okelah, dalam tulisan ini aku perlambat. Waktu itu aku udah yakin harganya pasti dalam dolar, dan ketika si Mbak itu bilang seratus, aku langsung syok. Seratus dolar kan udah sekitaran sejuta di rupiah. Terus nambah lagi delapan puluh sembilan itu kan berarti sekitar sembilan ratus ribu di rupiah. Apalagi tambahan USD (baca : yuesdi). Gilaaa! DOLAR kan!
"Itu di Indonesia berapa yah?" Tanyaku sambil menutupi rasa syok aku. Aku sebenernya udah yakin pasti juta-juta, cuma biar gak keliatan syoknya, jadilah aku pura-pura menjalankan conversation seperti biasa.
"Sekitar satu koma delapan sampe satu koma sembilan." Jawab si Mbak. Dalam hati, aku semakin bilang, "tuh kan! tuh kan! tuh kan!" Dan mataku saat itu memperhatikan si Mbak gak ngedip. "Juta." Kata si Mbak mengakhiri obrolan kita. "Ini jadwalnya. bla bla bla. Terus ini jadwal workhopnya."
"Oh, mesti ikut workshop?"
"Enggak, kalo udah siap tes langsung tes aja, workshop cuma buat pemantapan aja, dikasih kisi-kisi pengisian gitu."
"Oh, boleh minta kertas itu lagi?"
"Boleh. Ambil aja." Kata si Mbak sambil ngasiin kertas satu lagi buat aku bawa pulang.
"Makasih Mbak."
"Iya sama-sama."
Dan akhirnya kita keluar dari tempat IELTS itu dengan kaki ngadeg-deg. Hampir dua juta buat tes IELTS itu bukan uang main-main. Jujur aja aku langsung pesimis, ceritanya mau kuliah di luar biar dapet beasiswa, yang ada malah keluar duit gede. Haha.
Setelah itu, kita dateng ke museum geologi karena pulangnya masih searah angkot yang sama. Pas nyampe di sana, aku baru tau kalo ternyata museum geologi sekarang pake tiket masuk, perasaan dulu mah gratis-gratis aja. Hehe. Akhirnya kita foto-foto terus pulang lagi deh.
Sumpah, aku enggak tau sebagus apa bahasa Inggris aku, makanya kalo misalnya aku ikut tes yang hampir dua juta itu terus gak lulus kan lebar banget! Mendingan duitnya aku pake buat ke Rinjani. Jelas gak bikin kecewa hati! Huh deh. Akhirnya, setelah aku optimis dari kemarin, sekarang-sekarang aku mulai pesimis. Mahal amat sih mau ke luar negeri teh!!!

HELLPRINT

(photo by : Rio Padiga)
Selama hampir semingguan Furkon di Bandung, aku terus mengajaknya jalan-jalan. Ah, kata itu kupakai hanya agar meyakinkan kepada orang-orang bahwa aku yang "mengejar" Furkon, padahal Furkon merengek terus agar aku mau diajak pergi jalan-jalan dengannya. Dia selalu bertanya kapan aku bisa ke Jogja lagi, kapan aku bisa ke Malang, kapan aku bisa ke Batam atau kapan aku bisa kemping di gunung dengannya?
Aku mau. Aku mau. Aku mau. Tapi waktu tidak mengijinkan. Ada tim Paskibra yang harus tampil (meski pun gagal), ada skripsi yang harus segera dibundel, ada pria yang merengek untuk pergi jalan-jalan denganku, belum datang lagi yang lain, yang lain dan yang lain lagi.
Aku pun ingin pergi jalan-jalan, tapi... yah, terlalu banyak alasan yang terbuat ketika aku memikirkan untuk me-refresh kepalaku ini untuk melihat bangunan-bangunan atau sekedar untuk foto-foto.

8 Juli 2012 kemarin aku akhirnya pergi menonton HELLPRINT di Lanud Sulaiman. Perjalanan ke sana memakan waktu hampir 2 jam karena aku naik kendaraan umum dan menyicip berbagai jenis kemacetan. Setelah sampai di Lanud, aku pun disiksa untuk berjalan kaki, memutar jalan, mengantre hingga akhirnya masuk ke lokasi konser.
Angin di Lanud Sulaiman bertiup kencang, aku memang tidak suka angin meski pun terkadang aku angin-anginan, kepalaku mendadak sakit dan aku baru ingat bahwa aku belum makan :( akhirnya aku mengajak Furkon mencari makan di stand yang ada di lapangan situ. Aku memesan 3 gelas es jeruk dan seporsi nasi goreng. Setelah kenyang, akhirnya band bernama Burgerkill itu pun tiba. Aku berdiri tepat di tengah-tengah kerumunan. Lagu yang mengawali burgerkill itu adalah Anjing Tanah, salah satu lagu favoritku. Haha.
Biasanya, saat mendengarkan lagu Anjing Tanah, aku memejamkan mataku, meresapi saat satu persatu senar gitar dipetik hingga akhirnya mulai berteriak, "ANJING TANAAAAAAAHHHH... LIIIIAAAARRR!!!"
Nah, di bagian itu biasanya kepalaku otomatis manggut-manggut (baca: headbang) mengikuti lagu. Saat itu, tak hanya kepalaku yang disentak-sentak ke bawah seperti itu, tapi ribuan orang di sana pun melakukan hal yang sama. Dan rasanya, uhhh tidak perlu ditanya, EDAAANN, sensasi!
Biasanya aku menikmati lagu-lagu metal itu sendirian, padahal rasanya ingin membuat orang lain pun merasakan hal yang sama, tapi kemarin, WOW! Ada rasa ketagihan untuk menghentak-hentak kepala seperti itu lagi.
Setelah Burgerkill selesai tampil, aku langsung pulang. Di perjalanan pulang, jantungku diaduk-aduk berkali-kali dalam waktu yang lama dengan penambahan kecemasan dan kelinglungan. Hal itu tiba-tiba membuatku kembali untuk menyenangi rumah. Padahal hari itu aku sudah bertekad untuk "jauh" dari rumah. Haha. Jalanan memang seperti itu. Pantas saja Furkon selalu melarangku jalan-jalan sendirian. Mungkin alasannya adalah itu, agar jalanan tidak "menyentuh"-ku.
Demi A Rio, aku tidak akan menceritakan hal yang terjadi. Aku jadi ingat dengan kaos yang dipakai oleh seorang gadis punk, tulisannya "saudara bukan lagi soal darah, tapi soal kepedulian". Dan di situ, setelah kejadian itu, aku sadar bahwa aku peduli dengan orang-orang di sekitarku, hingga entah bagaimana caranya keberanian itu muncul untuk mendorong si pria yang mabuk itu dan terus mempertahankan teman...
Padahal hari ini, ketika aku menulis ini, aku mengingkari semboyan utamaku yang berbunyi, "nyawaku cuma satu", karena kemarin meski pun nyawaku cuma satu, aku berani menyodorkan nyawa itu ke depan pemabuk itu. Jika hari ini si pemabuk itu datang lagi, mungkin jantungku ini sudah berhenti berdetak.
Rasa ketagihan untuk ikut headbang itu hilang ditelan rasa sakit yang mencucuki jantung ketika aku duduk di angkot dalam perjalanan pulang. Rasanya lebih baik menghentak-hentakkan kepala di kamar meski pun mengganggu tetangga dari pada bersentuhan dengan orang-orang itu lagi. Lagi-lagi aku bilang, "untung Izrail datangnya telat", kalau saja Izrail datangnya lebih cepat, mungkin ada pisau yang bertahta di perutku malam ini.