Tampilkan postingan dengan label tensho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tensho. Tampilkan semua postingan

hey Stephen

 Dan ini adalah lagu-nya Stephen, yang diputar di kepalaku setiap kali aku ngeliat dia. :) Come feel this magic, Steve, i've been feeling it since i met you... i love the way you walk, you talk and how you say my name. I really miss your brown eyes. :p hahaha, rest in peace, dear. :*


Hey Stephen, I know looks can be deceiving but I know I saw a light in you
As we walked we were talking and I didn't say half the things I wanted to
Of all the girls tossing rocks at your window
I'll be the one waiting there even when it's cold
Hey Stephen, boy you might have me believing I don't always have to be alone.

'cause I can't help it if you look like an angel
Can't help I if I wanna kiss you in the rain so
Come feel this magic I've been feeling since I met you
Can't help it if there's no one else
I can't help myself

Hey Stephen, I've been holding back this feeling
So I've got some things to say to you
I seen it all so I thought but I never seen nobody shine the way you do
The way you walk, way you talk, way you say my name
It's beautiful, wonderful, don't you ever change
Hey Stephen, why are people always leaving
I think you and I should stay the same

They're dimming the street lights
You're perfect for me why aren't you here tonight?
I'm waiting alone now so come on and come out and pull me near
Shine, shine, shine

Hey Stephen I could give you fifty reasons why I should be the one you choose
All those other girls, well they're beautiful but would they write a song for you


Myself, can't help myself
I can't help myself. 


Hey Stephen --- Taylor Swift


harus terpisah


Sendiri, sendiri ku diam, diam dan merenung
Merenungkan jalan yang kan membawaku pergi
Pergi tuk menjauh, menjauh darimu
Dirimu yang mulai berhenti
Berhenti mencoba, mencoba bertahan
Bertahan untuk terus bersamaku
Ku berlari kau terdiam
Ku menangis kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia
Ku pergi kau kembali
Ku coba meraih mimpi
Kau coba ‘tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu
Bayangkan.. bayangkan ku hilang, hilang tak kembali
Kembali untuk mempertanyakan lagi cinta
Cintamu yang mungkin, mungkin tak berarti
Berarti untuk ku rindukan
Ku berlari kau terdiam
Ku menangis kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia
Ku pergi kau kembali
Ku coba meraih mimpi
Kau coba ‘tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu
Ini harusnya kita coba saling melupakan
Lupakan, lupakan kita pernah saling bersama
Ku berlari kau terdiam
Ku menangis kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia
Ku pergi kau kembali
Ku coba meraih mimpi
Kau coba ‘tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu


my point of view about this song...
pertama, aku gak tau siapa itu Cakra Khan. tapi suaranya itu beneran mirip sama announcer Ardan, yang namanya Jan Peter Lucky. Dan aku suka sama suaranya si Peter ini. Hehe. Pas denger si Cakra, jujur aku suka juga sama suaranya Cakra. Serak-serak gimanaaaa gitu. hehe. pas searching di internet, ternyata doi ga jelek-jelek amat segitu mah. hahah.
setiap kali nyobain nyanyiin lagu ini, seraaak pisan ini suara, hehe. sesek! wew...
really an original soundtrack for me, for my 3676mdpl journey...

catatan facebook 16 Oktober 2012.


Kemudian, dia bilang kalo lagu itu juga adalah soundtrack perjalanannya. oke, anggep aja kebetulan. anggep aja waktu aku lagi ngepost tulisan itu, dia ga OL dan baca. :p



cermin

Aku teringat awal pertemuan kita. Kita jauh lalu mendekat saling berhadapan. Aku melihat ke dalam matamu dan menemukan pantulanku di dalam dirimu. Aku keruh, entah apa yang kau lihat dalam diriku. Kita bergerak dalam diam, menciptakan hubungan intim dalam kesunyian.
Kau ada di sampingku, sejak kau ada di sampingku, aku punya perasaan yang tak bisa kujelaskan. Aku menatap matamu dan aku menemukan diriku disana. Kita sama dalam segala hal, kecuali hati.
Dalam ribuan orang yang menenggelamkanmu dalam kumpulannya, aku akan bisa menemukanmu. Dalam jarak pandang ribuan meter pun meskipun mataku minus, aku pasti akan bisa melihatmu. Tak ada kata rindu terucap dari mulutku karena aku memang belum pernah merindukanmu.

Di akhir perjalanan kebersamaan kita. Aku memutuskan untuk tak lagi menatap pantulanku yang ada di dalam dirimu. Aku membalikkan badanku dan berlalu. Masih sering kudengar kau memanggil namaku. Masih sering kau menyebut namaku.
Dalam jarak ribuan kilo darimu, aku berpikir. Tentang kita. Mengapa tak pernah ada bedanya?

Aku tidak merindukanmu. Dan aku kembali pergi ke tempat-tempat yang pernah kudatangi bersamamu. Rasanya sama saja, antara aku sendiri dan bersamamu.
Kau candu, seperti canduku untuk menatap pantulanku di cermin. Kau candu, cermin yang sempurna yang bisa memperlihatkan bayanganku secara utuh.

Lalu aku berhenti berkaca dan aku memang tidak suka menatap pantulanku di cermin. Aku tidak mau terperangkap dalam perasaan yang sama seperti perasaanku padamu.
Kau tahu, aku selalu menginginkan menatap pantulanku di kaca benggala rumahku yang kini tersimpan di Cipedes. Jarak membuatku tak bisa menatap pantulanku di sana lagi.
Dua minggu lalu, aku menatap pantulanku di kaca benggala itu. Aku melihat diriku dan perasaannya sama seperti aku menatapmu. Ada yang berbeda, di belakangku muncul sesosok bayangan yang samar kulihat dalam gelap kemudian berdiri di sampingku.

Pernah baca new moon? Ya, aku berdiri di depan kaca seperti Bella dan Edward. Tapi aku melihat aku, bukan nenekku. Aku melihat seorang pria dengan kemeja berwarna hitam, tubuhnya kurus, matanya belo dan rambunya gondrong.
Dan aku benci melihat pantulan itu. Si pria itu kemudian berdiri di sampingku, sama-sama menghadap kaca.
"Lihat. Aku melihat pantulan aku dengan kekasihku." Kata pria itu.
"Aku melihat seorang yang cantik dan itu kamu." Kataku sambil pergi dari frame kaca itu.

Apa bagusnya sebuah kaca jika aku punya sosok yang nyata di sampingku yang tangannya bisa kupegang, rambutnya bisa kusentuh, badannya bisa kupeluk dan pipinya bisa kucium?
Tentu aku lebih suka diberi uang Rp.100.000,- dari pada Rp.1000,-

^_^

Ay...

"Kalo marah, jangan lama-lama, Ay... Hidup ini singkat." Kataku mengingatkanmu. "Contohnya aja aku. Kemarin aku masih semester 5, masuk Rumput dan baru aja mulai naik gunung. Padahal masih banyak gunung yang belum aku daki, tapi waktuku buat naik gunung tinggal dikit lagi. Jangan lama-lama marahnya, Ay. Jangan biarkan sesal menghantuimu."

Penaku berbusa untuk menceramahimu, Ay. Mulutku masih diam dan masih enggan menyapamu, tapi penaku selalu menyapamu. Semoga kau takkan punya penyesalan.


21 Agustus 2011

balada gosip!

Beberapa tahun lalu. Di kamarku. Ada gosip yang tersebar. Semerbak seperti parfum yang baru kubeli kemarin sore.
Sandal bututku mengawali, dia merindukan sepasang sepatu bola. Sepatu yang dulu pernah berjalan bersamanya melewati jalan-jalan aspal. Sungguh menggelikan sebuah sepatu bola berjalan di aspal. Sandal bututku bilang, bahwa dia memanggil sepatu itu si ular keket. Sepatu itu berwarna hijau muda yang sangat norak. Namun tetap seksi ketika berlaga di lapangan hijau.

Ternyata sandal e*ger-ku tak mau kalah. Dia pun bercerita tentang sebuah sepatu, masih sepatu bola. Dia pun memanggilnya dengan sebutan yang sama, si ular keket. Dia adalah sebuah sepatu bola dengan warna hijau yang pandai mencuri hati lawan-lawannya di lapangan hijau. Tidak seksi, kata sandal e*ger-ku, tapi dia gagah dan rupawan.

Sandal high heels-ku pun punya pujaan. Dia adalah sepatu pentopel hitam seharga tiga puluh lima ribu yang ujungnya rusak karena dipakai menendang bola. Sandal high heels-ku memanggil si sepatu pentopel, buaya. Karena hak bagian bawahnya terbuka. Seperti buaya yang lapar dan takkan merasa kenyang.

Sepatu pentopelku bercerita tentang sebuah sandal jepit butut berwarna abu-abu. Dia adalah sandal yang menemaninya berjalan di sore hari yang indah diselingi tawa renyah.

Dan aku yang tak mau kalah, aku bercerita tentang kertas-kertas puisi yang kubakar dan kukirim ke neraka. Dan dus-dus yang kubeli untuk mengurung sandal dan sepatu-sepatu itu agar tak lagi menemui pujaan mereka.

Hari ini, kuingatkan mereka saat mereka menjerit histeris ingin dikeluarkan dari dus-dus itu. Ada yang berbeda. Mereka tak lagi suka bergosip. Bahkan meskipun dus-dus itu tak lagi membelenggu. Mereka semua diam di tempatnya. Dan tak ada suara apapun yang kudengar.



10 Juli 2011

cerita untukmu

Kawan, berhentilah memusuhiku seperti si Plagiat. Aku tak sejahat yang kau pikirkan. Aku juga tak sepicik keliahatannya. Pun tak sebaik uang recehan yang kuberikan begitu saja pada pengemis-pengemis jalanan.
Aku hanya aku saja. Yang tak bisa kau paksakan harus menjadi yang kau inginkan.
Kawan, andai saja kau menyadari, sebentar lagi bulan suci yang kau agung-agungkan. Dimana pintu maaf terbuka lebar dan kita bisa berjabat tangan sebagai seorang sahabat seperti dulu.

Kawan, aku punya banyak cerita, sedikit memanasi tapi aku memang menyimpan cerita ini untuk kau. Aku mempersiapkan sebuah cerita yang kulalui saat kau berhenti mendengar. Cerita ini bagiku takkan cukup kubagi hanya untuk orang-orang yang biasa lalu lalang dalam hidupku. Kau punya andil, kawan, maka cerita ini kusisakan untukmu.

Kemarin, kekasihku melihatmu, aku tidak, lalu ketika aku menyadari bahwa kau melihatku, aku memanggil namamu keras. Berharap kau berbalik dan menatapku. Aku mau bercerita saat itu. Jadi semua cerita lumer dengan kata-kataku saat itu. Sayangnya kau tak melihatku.

Saat itu, aku berteriak dalam hati, "Lihatlah yang cantik ini..."

he's my sunshine... my big yellow sun...
he's the black of my pen...
he's the white of my paper...
he's the dark of the night...
and he keeps my hands warm near his heart...
that's the first time i feel his heartbeat...
i don't mind if he thinks to play on me that time
i'm madly in love with him...

itulah yang kuucapkan saat tanganku berada tepat di jantungnya di bawah tumpahan bintang-bintang, kawan...
"feel-nya itu loooohhh kawaaaaannn...."

4 Juli 2011

ruang sunyi


Aku mendatangi ruangan yang dulu kutinggalkan. Ruangan yang dulunya tempat singgah aku dan kau. Di sofanya, kita sering bertukar cerita dan pendapat tentang berbagai hal. Ruangan itu lebih mirip kost-kostan dari pada sebuah rumah. Ya, kita membangunnya dalam situasi yang begitu akrab bersahabat, aku bahkan tak sadar bahwa kau merencanakan sebuah rumah, bukan sebuah gasibu. Aku masih ingat saat tawaku lepas mendengar deskripsi ruangan ini yang menjadi sebuah rumah. Kau membuatku seperti seseorang yang mabuk, padahal yang mabuk adalah kau.

Suatu ketika. Aku pergi meninggalkan ruangan itu dengan hantaman keras di pintu. Aku berjanji takkan pernah masuk ke dalam lagi. Setiap hari, aku melewati ruangan itu dan ruangan itu selalu sunyi. Tak ada satu suarapun keluar dari ruangan itu. Semua orang mulai bercerita tentang ruangan sunyi yang membuat perasaan terbakar itu.

Aku bertanya-tanya, mengapa ruangan yang sudah lama tak kudatangi itu ternyata masih tetap sama? Masih ada rasa hangat namun begitu canggung. Masih ada sisa marah dan benciku kemarin tapi sekarang lebih cenderung pada kasihan.

Ruang sunyi itu membuatku mengerti bahwa itu bukan rumah. Hanya sebuah ruangan. Yang diisi oleh satu orang yang berambisi tinggi mendirikan gedung bertingkat di atasnya, dan diisi oleh seorang yang terlalu polos untuk mengerti cinta dan pembangunan rumah.





8 Juni 2011

last...

i love how you walk with your hands in your pockets


last kiss - taylor swift


Kubayangkan saat nanti kau datang lagi. Saat itu aku akan tertawa. "Buat apa lagi?"
Dan seperti ucapan orang-orang padamu, aku pun akan bilang, "...kita kayak gini ajah."

kemeja biru

hingga kurasa bahagia mengakhiri segalanya...

Lirik lagu itu mengantarku menuju alam mimpi. Disana kutemukan kau. Tentu saja dengan kemeja biru yang akan kau pakai di hari pernikahanmu nanti. Ya, kau pernah bilang seperti itu padaku. Saat kita berteman sangat akrab bahkan tanpa rasa risih aku bisa mendorong tubuhmu bahkan menarik-narik tasmu hingga kau hampir jatuh.
Aku bertanya-tanya, apakah kau pernah marah? Tidak, kau berjanji takkan pernah marah, meskipun kesalahanku sudah terlalu banyak dan meskipun aku berbohong. Kau bilang kau takkan pernah marah.
Kawan... bibirku bergetar memanggilmu dengan sebutan itu. Sudah terlalu usang lidahku mengucapkan kata yang hampir bahkan tidak kuucapkan lagi.
Kawan... kau marah sekarang. Kau bahkan tak memberiku celah, kesempatan, bahkan aku masih berharap mendapat dana umum...

Dalam mimpi itu. Kita hanya berjalan berjauhan. Aku seolah bisa mencium aroma khas tubuhmu. Entahlah, hidungku menerjemahkan aroma tubuhmu bukan sebagai wangi ataupun bau. Aroma khas dan itu tak bisa kudeskripsikan dengan kata-kata. Rangkaian kata takkan pernah sempurna mendeskripsikannya.
Aku betah berlama-lama duduk disampingmu tanpa takut hidungku kesakitan menahan bau atau wangi tubuhmu. Aku suka kau yang tak pernah pakai parfum. Aku suka kau yang apa adanya, yang sederhana seperti itu saja.

Tentu saja orang itu bukan KAU, yang membenciku setelah mencintaiku, dia juga bukan KAU, yang memaksakan perasaanmu padaku, dia juga bukan MEREKA. Dia ya dia saja...
Di sampingnya, dalam kenyataan yang juga mimpi, aku bisa menjadi diriku sendiri.

Saat terbangun dari mimpiku, aku baru ingat. Orang itu tak pernah kulihat wajahnya...
hey kemeja biru... aku ingin masuk dalam mimpi dan menemukanmu disana.

Ketemu di blok M yah!



12 April 2011

sebentar lagi hari bumi...

Tensho... Aku jarang memanggil namamu akhir-akhir ini... Bukan karena aku bosan... Tapi karena ideku sudah terkuras untuk menceritakanmu...
Melihatmu dengan kemeja biru kemarin, membuatku mengingat kejadian pertama kalinya kita bermusuhan, ah tidak! Tepatnya aku mendiamkanmu... kau berusaha meminta maaf padaku tapi tak kugubris...

Kali ini, aku yang mmeinta maaf tapi kau tak menggubrisnya...
Aku sedikit kecewa...
Aku tahu kau masih tetap Tensho-ku...
Oh ya, sebentar lagi hari bumi...
Ga lupa kan?

maret, sapa aku!!!

Maret... sapa aku...

Aku memohon...

Jadikan aku best fren-mu lagi...

Aku merindukan saat-saat kita bersama. Aku merindukan candaan kita. Pesan-pesan yang berisi lagu, saling bersahutan, saling memojokan.
Aku berubah. Tulisanku mulai rapi sedikit. Mulai berkenalan dengan titik koma. Tanda baca dan tanda seru. Lebih banyak tanda tanya dan keraguan.
Kau tak bisa menerima perubahanku. Aku masih aku yang dulu, hanya sedikit merapikan diri. Tidakkah aku terlihat lebih menarik?

Aku mengalami hal-hal menarik belakangan ini. Andai saja kau mau mendengarnya. Kau sudah bosan. Kau sedang berpaling dari cerita-ceritaku.
Tak ada, kawan. Tak ada yang bisa menggantikanmu. Ribuan orang kuceritakan kisah yang sama. Hanya padamu kuceritakan hal luar biasa itu.

Aku ingin mendengar kisahmu. Hal apa saja yang kau lalui di januari-februari itu tanpaku? Kurasa aku melewatkan banyak hal dan kau enggan menceritakannya padaku.
Aku ingin mendengarnya. Melihat semangat tanganmu yang bergerak mereka adegan untukku. Merasakan hal spektakuler yang terjadi melalui urat nadimu.

Tuhan... aku melewatkan banyak hal. Bawa Maret padaku, buat dia menyapaku! Kumohon... jadikan aku best-frennya lagi... seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.. Kumohon...

24 Februari 2011

berbalik

Dia bilang aku berubah, dia tak mengenaliku lagi sejak aku memaafkannya. Aku tersenyum. Ternyata tak hanya mereka yang menyadari perubahanku. Kau juga. Padahal aku hanya banyak diam dan memperhatikan. Tertawa bersama sesuatu yang membahagiakanku dan memilih untuk tak menganggap ada masyarakat kuno itu. Begitu mudah kan? Aku hanya berbalik.

"Apa ini kehidupan kamu di luar?"
"Emangnya kenapa?"
"Aku cuma bisa liat kamu senyum dan ketawa sama beberapa orang yang masih bisa diitung pake jari. Aku kira kamu ga bisa senyum."
"Aku memang sengaja. Aku hanya ingin membagi senyum pada orang-orang tertentu."
"Jadi ini kamu?"
"Ya, di luar dinding, di luar kertas-kertas HVS, di luar buku bersampul pelangi... inilah aku."
"Bukankah aku juga temanmu?"

Aku berbalik dari dunia yang menjemukan. Aku tak peduli suara riuh di belakangku yang bilang aku harus berbalik. Aku bukan Socrates yang bisa dengan mudah mati. Meneguk racun dengan tanganku? Lebih baik kusembur dulu racun itu ke muka-Mu.

Aku berbalik. Dari yang tak bisa memaafkanmu, berubah menjadi memaafkanmu. Mengerti bahwa kau memang si manusia yang tak tahu diri dan aku adalah manusia yang malang saat itu. Aku bermain dengan cahaya yang kau bawa, kemudian saat tersadar itu api, api itu sudah melalap pakaianku.

Aku berbalik.



16 Februari 2011

untuk kawanku...



Kawan... kamu kenapa? kau menjauhiku, membencikukah? apakah kau juga telah termakan berita bohong tentangku? aku masih tetap sama... sama seperti tahun lalu saat aku baru mengenalmu... saat mataku baru terbuka tentang keberadaanmu... aku tak menjadi monster yang mereka ucapkan. Aku masih tetap aku! Aku masih suka mie goreng... aku masih suka nu green tea madu... aku masih suka lidah buaya... aku juga masih suka baso... apa ada yang salah denganku, kawan?

kawan... kamu kenapa? apa kita tak bisa bersahabat baik seperti dulu lagi? apakah kau telah berubah menjadi seorang yang tak kukenal? apakah kesadaranmu mulai muncul dan perasaan malu untuk berteman denganku hinggap di kepalamu? apa kamu masih suka baso sepertiku? apa kamu masih membenci novel? atau kamu sekarang sudah suka puisi dan melupakan jati dirimu?

kawan... kita kenapa? apa ada yang salah dengan pertemanan kita selama ini? apakah kau sudah lelah membelaku? atau kau sudah bosan mendengar cerita usangku? aku masih ingin bercerita, banyak hal yang belum kuceritakan, masih maukah kau mendengarkannya?

kawan... kenapa denganku? kenapa tatapan matamu begitu asing? kenapa kau seolah mendiskriminasikanku? kenapa kau tak pernah tersenyum lagi seperti dulu? apa yang salah denganku?

kawanku... kukira hujan badai takkan mampu memisahkan pegangan erat tangan kita... kukira kita akan selalu memiliki... kukira kau akan menjadi mata disaat mataku tak mampu melihat dan aku akan menjadi tangan yang akan menuntunmu... kukira akulah si sendok dan kaulah si garpunya...

mungkin tidak, kawan... mungkin pertemanan kita takkan semudah itu. Tapi aku bukan monster, aku masih tetap aku... aku yakin, orang asing yang sedang menatapku itu bukan kamu...

kawan, di kepalaku berputar-putar kenangan kita dulu. Saat kau kedinginan, aku memberikan jaketku untukmu... kau tahu aku tak pernah mau membawa payung, jadi kau memayungiku... kau yang menarik tanganku jika aku jalan terlalu cepat... aku menuntunmu berjalan di pinggir jalan... kau membantuku menyebrang... aku membawakanmu makanan... kau menawarkanku minum... aku mengajarimu untuk tak makan sembarangan... kau mengajariku untuk minum air putih...

kawan... aku selalu tahu kau bukanlah seorang yang mengisi kekosonganku.... kau adalah yang melengkapi kekuranganku... aku baru merasa banyak kekurangan setelah aku merasa sempurna bersamamu...

kawan... aku berdiri 3 jam di depan rak buku di toko buku hanya untuk memilih 1 dari 2 novel yang akan kubeli... aku juga tak minum 3 hari karena tak ada yang mengingatkanku... kadang aku harus melewati puluhan menit untuk berjalan selamat ke seberang... tasku juga selalu penuh dengan makanan, terkadang basi karena aku lupa menghabiskannya... aku hampir lupa untuk tersenyum juga!

kawan... andai saja ada kamu! mungkin aku bisa menanyakan pendapatmu... mungkin aku juga akan minum karena ada yang mengingatkanku... juga ada yang menyebrangkan jalan untukku... dan menghabiskan makananku... dan aku juga pasti punya seseorang yang akan tersenyum padaku...

kawan... andai saja ada kamu... 3 jam di depan rak buku akan terasa lebih bermakna... jaketku takkan terasa begitu panas karena kupakai seharian... jaketku juga takkan basah karena ada payung yang melindungiku... takkan ada tawa bahagia kita juga...

kawan... kamu kenapa? ini aku, temanmu! teman yang setiap hari kau ajak bicara... apakah kau lupa? ataukah ada makhluk dari planet mars yang mencuci otakmu?

aku sangat merindukan saat kita bersama...



8 des 10

mengawali september ini


Mengawali September, kumulai dengan sejuta harapan, mulai menebarkan jangkar-jangkar mimpiku karena aku akan bersauh untuk mendapatkan tujuan mimpiku.

Aku ingin melebarkan sayapku, membuka mataku tentang dunia...

Selamat datang, september, tadinya kupikir kau lebih baik berlalu dengan cepat, tapi ternyata tak baik juga berpikir seperti itu..

Jadi, mari kita nikmati september ini...



September 1st, 2010

untuk 'mantan' temanku

aku duduk sendirian mendengarkan lagu sindentosca yang berjudul kepompong dan aku sedikit demi sedikit aku mulai mendendangkannya. Setiap kali aku mendengar lagu itu, aku tak mengingat siapa-siapa lagi kecuali KAU!
aku tak ingat kebaikanmu, karena aku tak berhutang padamu dan kau tak berhutang apapun padaku. Aku juga tak ingat masa-masa indah kita, karena semua berlalu dengan baik-baik saja dan bagiku semuanya indah.

aku mengenalmu tak lama, baru saja beberapa persen dari seluruh kumpulan nafas yang kuhembuskan. Aku juga tak mengetahui apa-apa tentangmu, tapi aku selalu memperhatikanmu, bahkan aku bisa bertaruh, aku lebih mengenalmu dibandingkan dengan dirimu sendiri.
aku melihat kau berlenggak-lenggok diatas bumi ini, begitu cantik dengan kesolehanmu, tapi yang kulihat adalah seorang makhluk yang penuh dengan kesendirian dan takut ditinggalkan. Aku tak mengerti mengapa aku selalu memperhatikanmu padahal kau sering sekali mengacuhkanku bahkan tak menganggapku ada.

Aku adalah orang yang pertama, yang selalu tahu apakah kau mengambil seluruh mata kuliahmu atau tidak. Aku juga orang yang selalu bertanya, apakah kau telah menyelesaikan tugasmu atau belum. Aku juga yang memikirkan bagaimana nasibmu yang harus bergelimang kemewahan sedangkan kau kutahu takkan bisa menggapainya.
Aku selalu menyesalkan setiap kali kau tak mengambil seluruh mata kuliahmu semester ini, aku tak mengerti jalan pikiranmu, tapi aku tahu dimana kelemahanmu, aku tahu mengapa kau tak bisa mengambil semua mata kuliah itu. Dan aku adalah orang yang pertama menyesal sebelum orang tuamu, aku yakin itu.
Aku selalu mempertanyakan sikap cuekmu pada semua tugas yang diberikan dosen, aku bukannya ingin menjadi malaikat penolongmu, tapi untuk pertemanan kita, untuk kebersamaan kita yang dulu, kau bisa mulai menatapku dan meminta bantuanku, didunia ini, aku hanya ingin bermanfaat bagi orang lain, dan aku tahu aku bisa, tapi aku tak bisa melakukannya jika kau tak ingin memanfaatkanku...
Aku selalu memperhatikan ekspresimu ketika teman-teman barumu memamerkan barang baru padamu, kuperhatikan ujung matamu yang berair, bibirmu yang bergetar, aku tahu apa yang kau pikirkan saat itu.

aku mungkin bukanlah lagi teman yang baik untukmu, mungkin karena aku tak bisa menahan emosiku ketika kudengar kau gagal mengambil seluruh mata kuliah di semester ini, aku begitu kesal! karena aku belum pernah berteman dengan orang-orang yang bodoh, aku selalu memiliki teman yang jenius, sepasang pundak yang bisa kupegang saat aku akan jatuh dan sepasang tangan yang akan menghardik kesalahan-kesalahanku, tapi kau? kau membiarkan dirimu sendiri terjatuh dalam lubang kesengsaraan hidupmu sendiri.
Aku disini, dengan kepintaran yang kumakan sendiri, dengan pengetahuan yang kupendam sendiri dan seluruh kemampuan yang tak pernah bisa kusalurkan, aku menyesali tak mampu membantumu...
aku ingin berlari, mengguncang tubuhmu, membangunkanmu dari keterpurukan, tapi kau terus membiarkan dirimu terjatuh di dalamnya.

Aku ingat ketika kita awal bertemu, kita berjanji untuk lulus bersama, memakai toga di bulan Maret tahun 2012 bersama, saling mendoakan untuk kelulusan skripsi yang bahkan belum terpikirkan judulnya... jika begini, bagaimana semua janji kita akan terpenuhi?
Aku tak berkata dengan sombong bahwa aku akan lulus lebih dulu daripadamu, aku hanya khawatir, bagaimana jika kita tak dapat lulus bersama-sama? bukankah kita berteman?

Bagimu, mungkin aku hanya mantan yang tak usah kau ingat lagi. Semua candaan kita dulu, semua kenangan kita, mungkin hanya melintas diotakmu sebagai mimpi yang tak pernah terjadi...

Aku, begitu memperhatikanmu, kawan...
aku tak pernah ingin meninggalkan satu kawanku pun di belakang, semuanya kurangkul, semuanya kubawa menuju masa depan bersamaku, bersama-sama...
aku menyayangimu, kawan...
bahkan kuyakin kekasihmu yang kau puja itu tak mampu menyayangimu dan memperhatikanmu seperti aku...

Kemarin, untuk memanggil namamu saja aku seperti orang asing dan kau menjawabku seperti kau menyahut orang asing...
hatiku begitu terluka, melihat kau seperti itu, melihat kau sekarang dan membayangkan kau dimasa depan...

aku hanya dapat berdoa untukmu, untuk kesuksesanmu, untuk kebahagiaanmu...



26 Agustus 2010

Ga ada lagi

aku akan berhenti mengasihani diriku sendiri, karena aku akan mulai menghukum setiap kesalahan yang kubuat dengan hukuman yang setimpal. Aku takkan lagi dengan mudah memaafkan diriku sendiri atas perbuatan yang kulakukan, atas kata yang kuucapkan dan setiap makna yang tersirat. Aku akan bertindak keras, hingga apa yang kupikirkan adalah apa yang kukatakan, apa yang kukatakan adalah apa yang ingin kusampaikan dan apa yang ingin kusampaikan adalah apa yang benar-benar ingin kusampaikan dan apa yang kusampaikan adalah apa yang tersirat di benak lawan bicaraku.

aku akan bicara tentang AKU, AKU, AKU dan semua orang akan berkata, YA KAMU! aku takkan lagi bicara banyak tentang apa yang ingin kusampaikan, aku akan mulai banyak menulis lagi.
aku akan melupakan semua kebaikan yang telah kulakukan dan aku akan terus melakukan lebih banyak kebaikan untuk kulupakan lagi.
aku juga akan menjadi seseorang yang berada dipojokan, memperhatikan dunia dibalik semua diamku lagi. Aku juga akan melupakan rasa menjadi bintang yang bersinar dan menyinari, aku akan mulai mengingat menjadi bayangan dalam gelap.

mulai sekarang, aku akan lebih banyak memaafkan, memaafkan dengan hati ikhlas dan membiarkan semua yang terjadi menjadi kenyataan. Aku akan berhenti menyangkal dan mulai menerima. Aku juga akan berhenti mengeluh dan mulai mensyukuri apa yang telah kumiliki. Aku akan berhenti menangis dan menggantinya dengan senyum.

aku takkan merubah haluan hidupku seperti kemarin, terjebak disebuah pilihan hingga Tuhan yang baik membuka mataku dan mengembalikanku ke jalan hidupku yang sebenarnya. Aku akan terus berjalan di jalanku, aku akan melupakan ribuan mil perjalanan yang telah kutempuh kemarin karena sebentar lagi aku akan sampai di tujuanku yang sebenarnya. Aku akan lebih banyak menghargai apa yang telah Tuhan berikan kepadaku, karena mungkin saja lain kali ketika aku merubah haluan hidupku, Tuhan tak mengembalikanku lagi, maka aku akan lebih berhati-hati.

dan aku akan terus berdoa, agar aku tak lagi menemui fatamorgana lain dalam hidupku sebelum aku mencapai daratan yang akan kutuju itu. Semoga tuhan setuju ketika aku bertekad, "GA ADA LAGI".




19 agustus 2010

punggung tangan


aku adalah sisi tangan terbuka, terlentang dengan kejujuran dan harapannya
kau adalah sisi tangan tertutup, satu sisi lain dari diriku sendiri
aku merasa sangat memilikimu,
sangat mengenalmu,
seolah setiap celah kecil darimu itu selalu kutahu,
padahal aku tak mengenal apapun...

karena aku mengenalmu seperti saat tanganku ini kumiringkan,
aku hanya melihat sedikit dari seluruh punggung tanganku itu,
sisi yang kulihat ini, kau perlihatkan, kau buat seolah kau sama sepertiku,
penuh kejujuran dan dengan harapanmu ingin menggapaiku...

tapi aku salah,
kau adalah sisi punggung tangan, yang tertutup, yang penuh dengan bayangan,
yang menyimpan sejuta kebohongan dan kebusukan...

ketika aku melihat seluruh sisi punggung tanganku ini, aku baru tahu...
aku akan kehilangan seorang teman,
aku harap kau tahu, bahwa aku begitu sulit untuk memaafkan,
karena aku sudah terlalu jauh berpikir bahwa kau adalah bagian dari diriku...

semua ini persis seperti novel yang kubaca beberapa waktu lalu,
ketika semua ini harus berakhir dengan air mata,
aku sangat terluka dengan kejujuranmu itu,
karena kupikir selama ini kau telah memperlihatkan semua bagian dirimu...

aku sudah banyak memaafkan dan menerimamu, banyak sekali...
hingga akhirnya semua usaha memaafkanku itu masih saja kebohongan didalam kebohongan...
kau punggung tangan yang menusukku sendiri, membuatku mati perlahan.
lagunya hampir berakhir, ceritaku ini bahkan lebih sedih daripada Romeo dan Juliet...
hingga membuat air mataku terkuras sepanjang waktu aku mengingatnya...

aku akan lebih banyak memaafkan... lebih banyak dari kemarin...
aku akan lebih banyak mengerti... lebih mengerti bahwa mungkin saja ini masih kebohongan...
aku akan lebih banyak diam dan mendengarkan... karena aku akan lebih banyak tertipu jika aku terus bicara...
aku akan lebih membahagiakan dan menyayangi diriku sendiri... karena aku tak ingin hidup dalam kebohongan... karena aku masih ingin menjadi sisi tangan yang terbuka, terlentang dengan kejujuran dan harapanku...
meskipun harus kukikis perlahan si harapanku itu...



18 agustus 2010



memaafkan

aku harus melupakan rasa sakit hatiku jika aku masih ingin hidup untuk esok, aku juga harus memaafkan orang-orang yang membuat hatiku terluka karena di dunia ini semua orang pasti akan menyakiti dan disakiti, entah dengan sengaja ataupun tak sengaja.
aku tentu takkan munafik bahwa rasa pedih itu masih tertinggal di lubuk hatiku, tapi... ya sudahlah! tak ada lagi yang perlu disesalkan, nasi telah menjadi bubur, kata-kata kasar telah terucap dengan lantang, caci dan makian itu terlontar begitu jauh menancap dalam hati dan sulit menariknya... yang jelas aku akan terus memaafkan, sesulit apapun itu...
jika aku bisa memaafkan seseorang tanpa orang itu meminta maaf padaku, aku yakin bahwa aku telah dewasa dalam menangani masalah, aku pantas untuk mengemban tanggung jawab lebih tinggi lagi dan aku bisa memimpin diriku sendiri kearah yang lebih baik setiap waktunya...
aku takkan lagi mempedulikan rasa sakit yang ditimbulkan, karena waktu jugalah yang akan menghapus rasa sakit itu, membuat kita lupa dan memaafkan...

kemarin aku menangis, aku kecewa dan aku menyalahkan keadaan, tapi itu semua membuatku semakin terpuruk, membuatku tak mampu berdiri dan menatap ke depan...
aku selalu bisa berdiri lagi dari keterpurukanku, tak peduli seberapa dalam dan seberapa sulit jalannya, karena aku percaya aku adalah orang yang kuat!
jadi kali inipun, meskipun sakit, aku akan memaafkan.
aku akan melupakan.



15 agustus 2010



10'sshow

---untuk 10'sshow

i thought, i have to refuse u now. i'm afraid i don't have any courage if it's happen tomorrow, when my love began so strong and i just can't let you leave...
i have to hurt you now, i have to make u go away from me, before u pull my heart next to yours, before it's become one...
i can't live without permissions, and to love you is forbid, i won't to cross the line, i won't to break the rule...
maybe i have to set you free, so please, fly as high as u can, spread ur wings as long as u can and just leave me here. i leave you, i've already falling in love to you, but you can leave me, i'll not chase u to any where, i'm not a good chaser... then maybe i'll promise to let you go, never looking for you, ever...
you could say that i'm an evil, unhearted one, but this tears, they're won't coming out if nothing's hurt.
sarang haeyo, 10'sshow...
saranghae...

let me cry tonight and forget you for the morning...

you have to know, that i can't just let something flow, i have to decide anything from now if i have to have and handle it tomorrow. i have to decide to be with u or not from now, i have to build anything for my protection, i can't live just like a snake and ladder, this day we climb up, then few second more we slip down, that's not me, and that's will not happen in my life.
i calculate all possibilities for my life, if i choose you, i'll never ever search for another...
but you're forbid.
then, why should i do?

pesimis

hey, kamu jangan baca, tulisanku ini hanya akan membunuhmu, aku tak ingin membunuhmu dengan kata-kataku ini!


aku berusaha dengan sangat keras untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa menjawab tantangan yang baru saja di berikan padaku... belum 24 jam aku menyanggupi tantangan itu, kemudian nyaliku kembali ciut, aku berpikir untuk menjadi pecundang lagi untuk ke sekian kalinya...

mungkin aku salah... aku melebarkan sayapku terlalu lebar hingga menutupi tempat dimana aku berpijak, aku mungkin sekarang adalah sosok kacang yang lupa pada kulitnya, bisa jadi aku adalah orang yang tak tahu diri yang selalu kusebutkan itu saat ini...

baru saja aku merasa memiliki segalanya, kini aku merasa tak memiliki apapun... untaian kata ini jika dibandingkan dengan sentuhan nyata tangan tentu takkan ada bandingannya... rasa bahagia dalam impian yang kuberikan tentu takkan sebanding dengan semburat senyum nyata selama 2 tahun di sisimu... aku tak memiliki apapun.

aku tetap menjadi pendengar yang baik, mendengarkan dengan hati yang berlubang semakin dalam. aku mencoba mencari, mengorek semua kelebihan yang kumiliki tapi semuanya hanya dalam impian, kusadari aku tak hidup dalam sebuah tempat bernama kenyataan... aku tinggal bersama surga duniaku, kau sendiri bahkan tak bisa menggapainya meskipun pintunya sudah kubuka lebar untukmu...

setiap kata-katamu melubangi hatiku semakin dalam, aku berteriak karena merasa sangat sendirian, tapi tak ada yang mendengarkanku... aku berteriak karena sebuah luka menganga yang tak mampu kuobati sendiri... tapi kau bilang semuanya hanya mimpi...

aku ingin bilang padamu... aku tak sanggup terus menerus menjadi pendengar saja. aku tak sanggup mempercayai lubang dalam hatiku ini adalah mimpi, bagaimana mungkin sebuah mimpi terasa menyakitkan seperti ini? tidak bisakah kau merasakannya?

saat aku mencoba menuliskan apa yang kurasakan, kau memprotesku dengan keras... kau bilang kata-kataku ini seperti belati yang membunuhmu, setiap bagian dalam dirimu tercabik keluar hingga kau tak lagi merasakan kau hidup... lalu apa yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan lukamu?

i feel so ONE all this time, i thought you could be my couple so i can share anything to you... but why can't u listen to me a while? why u let me quiet and save all my tears alone?
you could say that i'm stupid, yeah... i let the words spoken, her words from ur mouth...
yesterday i laugh when u play ckckck with me, but now, i regret! why i have to happy just because that silly words? it's not from your own joke, it's from another one...
i feel stupid. why i have to feel happy? why i have to feel TWO when all this time i still ONE?!

lagi-lagi dalam hidupku aku merasa pesimis. mungkin kali ini aku akan membiarkan aku menjadi yang kalah lagi.

sudahlah tuhan, kirimkanlah orang yang tanpa masa lalu untukku, agar tak ada yang perlu dia ingat selain aku. aku lelah menerima orang-orang yang tak kukenal dan terlebih lagi dia adalah kenangan yang terus hidup. rasanya aku seperti pelarian. mengapa kau tak memberiku kesempatan untuk berbahagia dengan yang tak punya masa lalu? kau seolah senang membuatku menangis hanya untuk mendengar cerita-cerita masa lampau... kau juga senang membuat lubang di hatiku ini melebar... kau juga sepertinya tertawa ketika aku berjalan seperti mayat hidup yang baru saja kehilangan jantung dan nafas kehidupannya...

tuhan... aku bosan dengan permainanmu yang ini ini saja... bukankah kau seorang maestro skenario? buatlah sebuah skenario yang lebih menyenangkan untukku dan lebih mudah, aku bukan seorang aktris yang pandai berakting, aku adalah seorang yang kritis terhadap karya-karyamu, aku tak pernah sabar menanti akhir dari sebuah cerita, aku selalu ingin mengintip apa yang akan terjadi di akhir cerita.

kirimkanlah seorang tanpa masa lalu, jadi aku bisa dengan mudah menyesuaikan peranku... aku bukan juliet yang suka di putar-putar oleh takdir dan takut membuat langkah cepat, aku juga bukan romeo yang akan mati dengan mudah...

cabut saja dia dari hatiku ini, aku tak bisa bermain peran dengan baik jika kau memasangkanku dengannya, sudahlah tuhan... buang saja dia! kembalikan saja dia pada si masa lalunya, aku sendiri saja, aku berperan monolog saja jika kau masih belum menemukan aktor yang tepat untukku...

aku pesimis, tuhan, untuk sebuah akhir bahagia... karena aku belum pernah melihatnya secara nyata. aku lelah, tuhan. dihadapkan pada cerita seperti ini setiap hari, selalu menjadi pendengar, tak boleh melangkah jauh, kakiku dirantai dan tanganku terpasung untuk bercerita padamu...

apakah dari ribuan aktormu di luar sana tak ada yang tak bermasa lalu? ataupun jika ada yang bermasa lalu, carikan yang tak ingat pada masa lalunya untukku... aku bosan seperti ini terus!

kau membuatku seperti kaca yang menghubungkan aktormu dengan masa lalunya. mengapa aku harus senyata kaca? mengapa tak kau biarkan aku kusam oleh debu hingga tak ada yang menatapku seperti kaca?

aku curiga, jangan-jangan kau lupa padaku... kau lupa memiliki aktris sepertiku karena aku terlalu banyak protes dan kau menyangka aku adalah gembel jalanan yang hanya meributkan makan apa hari ini...

tuhan, jadi gembelpun tak apa... asal jangan kau hadapkan aku pada manusia-manusia masa lalu yang tak kukenal siapa...

sungguh...

jika kau tak sanggup memberikanku cerita yang bagus, berikan pulpen dan kertasmu, biarkan aku membuatkan cerita untukku sendiri...

tuhan, aku telah kehilangan harapanku... sepertinya aku akan berhenti memaksakan akhir yang bahagia, karena aku sendiri telah merasakan akhir yang pahit.

jauhkan dia dariku, tuhan... masa lalunya hanya membuat lubang di hatiku semakin dalam... dan aku tak mau menjerit tapi tak ada yang mendengarku...

jadikan aku gembel...

mayat hiduppun tak apa...

asal tanpa manusia masa lampau...

cukup.





8 juni 2010