sesuatu yang hilang

Ucapan selamat tidur dan selamat pagi dari pria itu mengingatkanku bahwa ada yang hilang di antara kita. Ada sesuatu yang mengganjal namun tidak teraba oleh kata. Apa? Apa? Apa? Aku terus bertanya. Sambil berjalan bergandengan tangan denganmu, sambil tertawa denganmu dan sambil tidur di sampingmu. Aku terus menerus menanyakan hal yang "hilang" itu. Hal yang membuat hari indah kita menjadi sesak di malam hari kemudian berujung pada mimpi buruk dan menyalahkan bantal atau posisi miring.
Bukan, yang salah bukan aku atau kamu. Tapi hal yang hilang itu adalah sebuah kesalahan besar. Tapi apa? Aku tidak bisa merabanya dengan kata. Berkali-kali kuucapkan padamu bahwa ada yang salah di antara kita. Ada yang tidak "beres", ada yang mengganjal seperti jakun di lehermu, tapi lebih besar, lebih sesak dari sekedar tersedak nasi di kerongkongan.
Aha, aku tahu. Sesuatu yang hilang itu terkikis karena kesibukan. Terlupa karena rutinitas yang monoton. Akhirnya menjadi suatu yang salah ketika kita berdua bersama. Aku ingin mengadu padamu tentang hal yang hilang ini. Tapi, kataku terhenti saat menatap matamu yang sayu menahan kantuk. Terhenti juga saat kamu menyandarkan kepalamu di bahuku dan memintaku membangunkanmu setengah jam lagi. Terhenti juga karena kamu begitu lahap makan dan aku tak tega mengganggu jam makanmu.
Ini Ramadhan kedua kita bersama. Dan pesan dari pria itu masih saja mengganggu pikiranku selama ini. Tentang yang hilang itu. Tentang yang harus kukatakan kepadamu meski pun perih. Tentang keegoisanku. Tentang tuntutanku. Tanpa pembelaanmu di dalamnya.
Aku merindukanmu yang dulu. Kamu yang dulu selalu bilang kapan akan tidur dan kapan akan bangun. Kamu yang selalu mengucapkan kata cinta dan sayang dan takkan berhenti sebelum aku membalasnya. Kamu yang tidak pernah mempertimbangkan setitik nila dapat merusak susu sebenggala. Kamu yang selalu bercerita tentang apa pun, bukan menyalahkanku atas segalanya. Itu yang hilang.
Saat aduanku tersirat, aku kemudian memikirkan tentangmu. Selalu dirimu. Kamu yang selalu memulai pembicaraan. Kamu yang selalu membuat inisiatif untuk bertemu denganku. Kamu juga yang selalu meminta maaf duluan. Aku terlalu egois untuk memintamu kembali seperti dirimu yang dulu. Tapi, apakah aku salah jika aku ingin kamu menghadirkan kembali sesuatu yang hilang itu?
Apakah hidup kita lebih baik ketika kita tidak bersama sesuatu yang hilang itu? Atau kita lebih bahagia dengan situasi yang seperti ini? Jujur saja, kata selamat pagi dan selamat tidur itu lebih mengena di hatiku jika kamu yang mengucapkannya.

BuRam

Siapa yang gak kenal BuRam alias (Buku Ramadhan). Isinya adalah lembar-lembar kosong yang harus diisi sama kuliah subuh, kolom pengerjaan sholat dan ayat yang dibaca. Haha. Terus di bawahnya ada tanda tangan kita, orangtua sama penceramah plus cap masjid.
Saya bukan tipe anak yang bisa disuruh untuk mengerjakan rutinitas yang bukan rutinitas keseharian saya. Seperti contohnya, saya tidak mandi dua kali sehari kalau saya tidak main kotor-kotor, selain malas, alasan lainnya adalah untuk penghematan air. Saya juga jarang menyikat gigi dua kali sehari karena kadang saya lupa atau ingat saat saya sudah terlalu ngantuk untuk menyikat gigi atau kadang karena air di rumah yang terlalu dingin. Sebenarnya hal ini jangan ditiru. Tapi meski pun begitu, saya tahu kebiasaan seperti itu salah. Seharusnya mandi itu dua kali sehari, bahkan di tengah gurun sekali pun harus tetap mandi dua kali sehari. Haha.
Nah, menulis BuRam juga bukan sebuah rutinitas. Entah apa alasan pemerintah (dulu) mewajibkan siswa untuk menulis buku Ramadhan. Mungkin alasannya adalah agar menanamkan akhlaq yang baik untuk siswa muslim. Padahal, justru malah akhlaq yang terbentuk adalah akhlaq tukang tipu, seperti saya. Haha.
Saya menulis ceramah kuliah subuh itu dari kultum yang ada di tv, lima menit sebelum buka puasa karena setelah sholat subuh, saya langsung tidur dan baru bangun jam enam atau setengah tujuh. Lalu untuk bacaan ayat di Qur'an, dari jauh sebelum puasa saya sudah menargetkan membaca minimal 30 ayat dalam sehari, jadi saya tulis di kolom pembacaan qur'an hingga hari terakhir puasa. Lalu ketika puasa dimulai, saya langsung membaca 30 ayat setiap harinya sesuai dengan yang sudah saya tulis. Lama kelamaan, puasa membuat tubuh lemas dan waktu untuk membaca qur'an dipakai untuk tidur. Kan tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. Haha. Jadilah saya melewatkan jadwal 30 ayat itu. Akhirnya terus menerus hingga ketika dihitung, saya baru membaca sekitar 78 ayat dalam sebulan. Cukup signifikan jika dibandingkan dengan pembacaan qur'an di bulan-bulan biasa.
Nah, kekreatifan saya itu muncul di puasa tahun selanjutnya ketika saya bertemu dengan BuRam lagi, awalnya ceramah yang 5 menit sebelum buka puasa itu kini tidak saya tulis lagi, tapi menggunakan ceramah yang tahun lalu, hanya dirubah letak hari dan tanggalnya saja, copy paste alias copas. Haha.
Itu pun berlanjut hingga tahun selanjutnya dan selanjutnya lagi dan lagi dan lagi hingga akhirnya saya di SMA tidak harus menulis BuRam tapi harus ikut pesantren kilat selama 2 minggu. Dan saya belum pernah menipu di pesantren kilat selama 2 minggu itu. Saya mengikuti rangkaian acara, dari sholat dhuha, sholat berjamaah, sholat sunnat rawatib, hingga membaca qur'an bersama, lalu ikut thausiyah dan selama itu saya jujur. Pulang ke rumah setengah jam sebelum berbuka dan saya menghabiskan waktu setengah jam itu untuk membaca qur'an.
Bahkan di SMA itu saya ikut nuzulul qur'an. Halah, jelas sepertinya Tuhan tidak merestui tindakan penipuan saya. Tapi, cukuplah yang seperti itu dijadikan pelajaran. Lalu setelah lulus SMA, saya menikmati mendengaran ceramah subuh sambil menunggu adzan subuh atau mendengarkannya di radio sambil membereskan buku-buku untuk pergi ke kampus. Hahaha...

logam mulia

Aku tidak pandai berpuisi. Aku juga tidak bisa merangkai kata dengan cukup jelas saat logam mulia itu perlahan-lahan masuk ke jari manisku. Entah kenapa yang kuingat saat itu hanyalah tawa. Padahal tak ada sesuatu yang lucu. Tak lelucon yang dilemparkan Furkon untukku. Tapi rasanya geli saja saat Furkon memasangkan logam itu di jari manisku. Tawaku meledak saat mengetahui bahwa cincinnya longgar sedikit. Tapi aku segera menghentikan tawaku karena aku tahu Furkon kecewa. Aku tahu dia kecewa karena aku mungkin lebih kurus dari ingatannya. Haha.
Furkon sudah mendamba-dambakan momen itu sejak 6 bulan lalu. Dia bercita-cita untuk membuat kejutan untukku. Muncul di depan rumahku, berlutut sambil menyodorkan logam mulia itu plus tempatnya. Sayangnya Furkon memang bukan tipe orang yang bisa membuat kejutan-kejutan. Mungkin kesalahan itu ada padaku juga. Aku tidak pernah bisa berpura-pura bodoh dan pura-pura tidak tahu di depan Furkon, padahal jelas aku tahu segalanya. Haha. Jadi saat Furkon sedang mencoba serius dalam bicara, aku terus menerus menahan tawa hingga membuat konsentrasi Furkon untuk serius buyar.
Logam itu terasa berat sekali di jariku. Mungkin sekitar 2-3 kali lipat dari logam yang biasa kupakai di jariku. Tiba-tiba saja ada perasaan sayang. Aku bukan orang yang apik, bukan orang yang cermat. Kadang aku kehilangan pulpen yang jelas-jelas kuselipkan di jari jemariku. Kadang aku tidak melihat ada orang yang menyapaku di jalan karena aku terlalu terfokus pada jalanan. Aku takut menghilangkan cincin berharga dari Furkon itu.
Karena aku tahu Furkon membelinya dengan keringat. Aku tahu Furkon membelinya dengan mengorbankan jam tidurnya. Jadi, apakah aku bisa menjaga sesuatu yang begitu berharga? Setelah cincin itu terpasang di jari manisku, aku merasa setiap orang yang kutemui pasti memandangi cincin itu. Dan jujur saja aku takut ada yang mengambilnya. Aku tidak mau cincin itu hilang. Aku tidak mau...
Jadi, aku simpan saja di kamar. Tapi, Furkon marah. Dia bilang lebih baik dia melihatnya hilang saat sedang dipakai olehku dari pada hilang dari pandangannya karena aku enggan memakainya. Lalu Furkon mulai merendahkan diri dan cincinnya, dia mulai meracau tentang harganya yang tak seberapa, modelnya yang biasa saja, warnanya yang salah, ukurannya yang tidak pas dan kegagalannya untuk membuat kejutan untukku. Jadi aku memakai cincin itu lagi, kupakai di jari tengahku bersama dengan cincinku yang lain. Tapi Furkon tetap ingin di jari manisku.
Entah sudah berapa kali aku dan Furkon membahas tentang keberadaan cincin itu. Aku masih menyimpan banyak tawa. Haha. Nanti saja kuceritakan lagi. Ah logam mulia, ada saja masalah yang kau bawa...

aku sayang kamu

"Buat aku mah orang yang mempermasalahkan kata sayang dan cinta itu anak kecil. Buat aku mah sama aja." Kata Furkon padaku. "Kayak jaman-jaman SMA aja ngebedain antara suka, sayang sama cinta."
"Aku ngebedain, Kak."
"Maksudnya?"
"Iya, buat aku, kata suka, sayang sama cinta itu beda arti."
"Terus kalo aku bilang aku sayang sama kamu, itu menurut kamu artinya apa?"
"Ya sayang itu bisa sayang sebagai teman, bisa sayang sebagai saudara. Kan aku juga gak mungkin bilang 'aku cinta siswa-siswa aku' hahaha... bisa berabe mereka mikirnya aku tebar pesona."
"Apa coba bedanya antara sayang sama cinta?"
"Penggunaan kata aja sih sebenernya. Kakak kan udah pernah punya pacar sebelumnya, jadi perasaan yang namanya sayang, cinta, nyaah, semuanya udah jadi satu dalam satu kata. Kalo buat aku, aku sayang sama temen-temen aku, aku suka sama cowok-cowok yang manis dan cakep, tapi aku cuma cinta sama satu cowok. Batasan dalam setiap kata itu nyata. Aku gak pernah ngumbar kata cinta sebelumnya. Kalo aku cuma sedang didera perasaan naksir, aku bilang aku 'suka'."
"Jadi, selama ini kamu selalu ngebales 'aku sayang kamu' ke aku artinya aku dianggap jadi temen? Ga boleh. Enak aja. Aku cinta sama kamu, kikitku."
"Makanya aku juga selalu bilangnya aku sedang sangat sangat sangat mencintaimu, Ang Furkon."
"Pokoknya kita sesuatu..."
"Aku juga sesuatu."


obrolan di Kirpay...

follow follow an

Mumpung lagi demam twitter, makanya saya nulis tentang twitter. Banyak orang yang mempermasalahkan tentang istilah follow dan follower. Ada yang bilang ketika seseorang banyak followers-nya, maka dia itu seperti Nabi. Kalau saya sendiri sih nggak mau ambil pusing. Bebas aja orang mau bilang pengikut atau apa. Tapi saya pribadi sih menganggap followers itu adalah orang-orang yang ingin tahu apa yang kita lakukan, ehm saya maksudnya.
Kalau orang-orang ribut pengen saling di-followback alias follback, saya tidak pernah meminta untuk di-follback. Saya sendiri saja mengikuti status orang-orang atas kemauan saya sendiri, untuk apa saya meminta orang mengikuti status yang saya umbar?
Hal yang paling membuat saya malas adalah ketika seseorang memberi mention dan ingin agar dia segera di-follback sama saya. Otak saya menolak dengan serius. Saya tidak mau masalah yang dulu sempat ada gara-gara facebook terulang lagi di twitter. Tapi hati saya luluh juga, akhirnya terpaksa saya mengklik tombol follow dan muncullah status orang yang tidak mau saya follow itu di beranda saya.
Saya kapok dengan masalah dunia maya. Orang-orang belum cukup dewasa menanggapi sesuatu yang berhubungan dengan dunia maya. Status yang seharusnya dibahas di dunia maya malah jadi perbincangan di dunia nyata. Begitu juga dengan sesuatu yang harusnya ada di dunia nyata, tiba-tiba muncul di dunia maya. Banyak yang berdoa pada Tuhan di twitter, padahal sudah jelas Tuhan tidak punya twitter dan tidak akan pernah tahu bahwa dia adalah trending topic world wide di dunia twitter.
Jadi saya mohon untuk orang-orang yang mau mem-follow, follow-lah dengan tulus. Jangan meminta balasan untuk di-follback, banyak sedikitnya followers tidak mempengaruhi kecerdasan atau ketebalan dompet. Followers itu hanya orang yang ingin tahu, yah anggap saja seperti itu, jangan lebih.
Silahkan untuk meng-unfollow saya. Karena saya memang tidak perlu punya banyak followers...

si Hijau

Hijau, ingat tidak ketika kita berjalan di pantai Kuta dan kau tak hentinya bercerita tentang penyuluhan go green-mu? Aku memperhatikan setiap gerak yang dilakukan bibirmu. Kau selalu menggigit bibir bawahmu sebelum mengatakan sesuatu. Aku ingat lesung di kiri bawah bibirmu, selalu semakin dalam ketika kau tersenyum. Gigi-gigimu yang runcing dan tajam. Ah, aku ingin lidahku menyentuh gigi-gigi itu. Aku tak akan marah jika kau menggilas bibirku dengan keras. Aku menginginkannya, Hijau.
Aku terbius aroma tubuhmu yang sangat "lelaki". Aku tahu aroma itu keluar melalui pori-pori tubuhmu yang terbanjiri oleh keringat, membuat aroma itu lengket dengan tuannya hingga hidungku dapat menciumnya. Aroma tubuhmu membuatku yakin bahwa aku mencintaimu, Hijau!
Kau tiba-tiba saja berlari, menjauh. Aku memanggil namamu berkali-kali. Hijau! Hijau! Hijau! Aku memanggilmu. Tapi kau tak jua menoleh. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan perasaan yang begitu nyata?


Yah, setidaknya saya sudah mencoba membuat sesuatu yang disebut "puisi". Sebelum akhirnya saya tiba-tiba terinspirasi untuk adanya adegan "pembunuhan". Heheh.

kebebasan itu....

Kebebasan itu TEORI. Katanya udah bebas untuk menyandang gelar sarjana. Katanya udah bukan mahasiswa lagi. Katanya udah harus mengaplikasikan ilmu di kehidupan sehari-hari. Nyatanya masih aja ngurusin skripsi. Masih aja nungguin dosen dari pagi sampe sore. Masih aja dianggurin sama dosen pas jam makan siang. Masih aja gak boleh pake sendal capit ke kampus Masih juga mesti nungguin ijazah sebelum di launching ke kehidupan real.
Kebebasan itu ILUSI. Katanya bebas ngelakuin apa pun dan jadi apapun. Katanya yang penting aku bahagia dan bisa bebas berekspresi. Padahal semuanya tergantung sama apa yang mereka suka. Semuanya tergantung sama pendapat mereka dan pendapatku di-nol-kan.
Kebebasan itu PALSU. Katanya boleh pergi kemana pun yang aku mau. Katanya boleh tidur jam berapa pun aku perlu. Katanya boleh ngelewatin berbagai kegiatan olahraga. Tapi nyatanya ada batas. Nyatanya gak bisa sembarang tidur. Nyatanya pasti ada aja alasan untuk diganggu.
Kebebasan itu ANEH. Katanya bebas berpakaian asal sopan. Padahal cuma pake jaket belel aja pasti diprotes. Udah gitu disumputin juga lagi si jaketnya.
Kebebasan itu FANTASI. Udah bangun untuk menentukan pilihan yang bukan pangeran pun juga masih aja diomongin.
kebebasan itu LUCU. Apa sih yang gak lucu ketika ngomongin kebebasan?

katakan "tidak"

Sudah banyak bermunculan slogan "katakan tidak". Contohnya katakan tidak untuk narkoba, katakan tidak untuk freesex, katakan tidak untuk rokok, dan lain sebagainya. Tapi saya mengatakan tidak untuk "menasehati".
Agama saya memang mengharuskan untuk saling mengingatkan terhadap kebaikan. Tapi kali ini, saya tidak tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Apakah saya perlu menasehati orang lain atau saya yang perlu dinasehati.
Ada seorang siswa saya yang menurut saya terjerumus untuk fanatik terhadap agamanya. Saya tahu dia adalah penganut baik dari agama itu. Saya dan siswa saya itu menganut agama yang sama. Hanya terkadang pandanganlah yang membuat agama saya itu terlihat banyak dan bermacam-macam. Nah, pandangan itu juga yang membuat saya ragu untuk menasehati siswa saya itu.
Sebagai gurunya, saya ingin sekali pikirannya terbuka dan mengerti tentang kemajemukan, bahwa dia tinggal di negeri bernama Indonesia, bukan negeri dengan satu agama, tapi berbagai agama dengan satu Tuhan. Tapi saya sendiri ragu, apakah saya perlu mengingatkan hal itu ataukah justru saya yang perlu diingatkan untuk membela agama saya?
Saya bukan tipe orang yang suka memperdebatkan masalah agama. Toh semua agama sama saja, satu hal yang membedakannya hanya keyakinan. Toh setelah mati, kita bertemu Tuhan yang sama. Mencari tahu Tuhan mana yang paling benar itu seperti debat kusir. Toh sudah jelas Dia yang menciptakan seluruh agama, Dia juga yang menciptakan berbagai macam keyakinan.

Kenapa Tuhan nyiptain banyak agama kalo Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara?
Anissa di film cin[T]a 

Itulah yang membuat saya yakin pada dasarnya semua agama itu menyembah Tuhan yang sama, hanya caranya saja yang berbeda. Sekarang, saya takut untuk menasehati siswa saya itu karena saya takut dianggap mendoktrin atau membuat seseorang menyembah Tuhan dengan "cara saya". Saya sadar, siapa saya? Nabi saja bukan, Rasul pun tidak. Saya tidak diberikan mukjizat apa pun, bahkan satu ayat mukjizat pun tidak. Maka saya tidak berani menasehati. Takut saya sendiri salah. Salah menjawab di mata pelajaran matematika tidak akan sefatal saat salah menjawab masalah agama.
Jadi, sambil saya asyik dengan kebingungan saya. Akhirnya saya putuskan untuk mengatakan tidak pada menasehati. Semua orang boleh punya caranya sendiri untuk berhadapan dengan Tuhannya. Saya pun punya cara sendiri. Jangan karena hanya berbeda pandangan, maka timbul perasaan benci. Bagaimana pun manusia dimata Tuhan sama, yang membedakan hanya keimanannya saja.

  

fresh graduates seeking for first job


Yeah, that one probably me! Gue banget. Saya gitu loh. Aku pisan. Haha.
Sebelum saya lulus beberapa minggu kemarin, rasanya banyak sekali yang menawari saya kerjaan. Dimulai dari kerjaan yang tidak ada fee-nya hingga yang fee-nya lumayan. Ya lumayan untuk ukuran saya. Lagi pula saya butuh uang minimal untuk ongkos dan makan di luar saja karena saya masih tinggal di rumah Ibu dan Bapak saya. Hehe. Tapi sekarang, setelah gelar sarjana itu dengan sah diberikan pada saya, saya jadi banyak bengong. Masalahnya kok tiba-tiba kerjaan itu sulit sekali dicari?
Sekarang saya sok sibuk bikin film, meski pun saya memang pengen banget bikin film, tapi sebenarnya bikin film itu cuma sekedar kesibukan selagi nganggur. Menurunkan ilmu yang saya pelajari untuk adik-adik saya di komunitas. Setelah itu saya mau cabut dari dunia perfilman. Saya memang bukan Hanung Bramantyo yang hidupnya dari film. Saya juga bukan marvelous Stephen Spielburg. Jadi, saya sepenuhnya sadar bahwa dengan title seorang bachelor's degree of biology education itu tidak akan membuat saya kaya raya dengan film. Udah beberapa judul film saya produksi, meski pun saya cuma jadi kameramennya aja. Salah satunya film pertama saya itu TSOL alias the simplicity of love. Lanjut ke film kedua saya yang judulnya SATU, filmnya bisa dilihat di bawah ini.
Film ketiga saya ya Cinta Dalam Ember. Tapi di film ini saya cuma kerja jadi behind the scene, ah sudahlah! Karir saya di bidang perfilman memang gak pernah bagus. Setiap kali saya ngajuin script, pasti ditolak. Sekalinya hampir mau produksi, eh crew-nya kabur. Padahal semua udah hampir selesai. Heran!
Film keempat saya itu Orang Ketiga. Menceritakan perselingkuhan, biasanya perselingkuhan itu ada orang ketiga yang biasanya juga wanita, tapi di film ini saya menceritakan bahwa orang ketiga-nya itu adalah seorang pria dan yang berselingkuh adalah pacar si wanita. Kebetulan saya bermain jadi pemeran juga di film ini. Ternyata muka saya kece juga buat masuk frame. Haha.
Film kelima saya judulnya Sepotong Malam. Setelah diapresiasi di StoryLab Bandung, saya gak pernah nonton film itu lagi. Haha.
Film keenam saya judulnya Jody. Kalo untuk film ini, saya sebagai kameramennya aja belum pernah liat hasil akhir dari filmnya. Padahal film ini diproduksi bulan Agustus 2011 tahun lalu. Sampai Juli 2012 ini saya belum pernah liat hasil filmnya. Ah entahlah, terlalu banyak film ghoib yang saya kerjakan.
Film terbaru yang saya kerjakan adalah Cinta Itu Kamu. Disutradarai oleh salah satu temen saya yang lolos 50 besar LA LIGHTS Indie Movie 2012 sama saya. Hahaha. Film itu bergenre cinta dengan latar belakang kehidupan mahasiswa labil.
Jadi, setelah film-film itu dibuat, saya heran. Saya masih saja nganggur. HAHAH. Kata Furkon, aku harus menikmati, tapi sungguh saya tidak bisa menikmati sedetik pun. Rasa bosannya menumpuk di ubun-ubun.

air mata intan & naganya si raja emas


Setelah kemarin Indonesia dikejutkan oleh pemberitaan seorang gadis yang mengaku dapat mengeluarkan intan dari kelopak matanya. Lalu setelah diricek ternyata itu hanyalah manipulasi belaka, akhirnya Indonesia dikejutkan lagi oleh keberadaan naga si raja emas yang berasal dari Ambon itu.
Pertama kali saya mendengar berita tentang si gadis yang mengaku dapat mengeluarkan intan dari matanya itu dari sebuah infotainment di televisi yang dulu lebih sering membahas hal-hal yang menjadi mitos kemudian diceritakan dengan menarik dan memberitakan kenyataan yang sebenarnya, kemudian hari ini lebih sering membahas gosip murah dan berita-berita tidak penting. Salah satunya adalah berita si gadis berairmata intan itu.
Dari awal kemunculan gadis itu, saya sudah menyayangkan pernyataan gadis itu yang menurut saya "jago bohong". Tapi, ah apalah urusan saya dengan gadis yang sudah jelas terbukti kebohongannya itu. Saya jujur saja sangat berharap yang keluar dari kelopak matanya itu bukan hanya intan sintetis, tapi juga bisa keluar mie ramen dan segelas es jeruk. Haha.

Entah apa yang terjadi dengan berita-berita di Indonesia. Apakah sudah bosan dengan pemberitaan perceraian, perebutan anak, pencemaran nama baik dan korupsi? Muncullah seorang pria Ambon yang mengaku memiliki seekor naga, beberapa pakar telematika dengan cepat langsung mericek keberadaan foto yang diumbar-umbar itu. Kemudian para pakar itu dengan sangat meyakinkan bercerita bahwa naga tersebut hanyalah kebohongan belaka.
Saya sebagai sarjana muda sangat menghargai seseorang yang ahli di bidangnya, masalahnya untuk mendapatkan gelas SARJANA saja butuh kuliah selama 4 tahun, untuk MAGISTER selama 2 tahun. Waktu itu bukan sesuatu yang bisa dinilai oleh bisa dan tidak. Sudah jelas ketika seseorang dinobatkan sebagai pakar telematika, tentu dia sudah mengerti tentang segala hal dan resiko yang akan dia tanggung dari segala ucapnya.
Saya dulu pernah membaca sebuah puisi dari seorang penyair bernama Kyai Matdon, beliau berkata, "media sudah sakit", puisi lengkapnya bisa dilihat di sini. Media memang sepertinya sudah sakit, menceritakan segala sesuatu tanpa disaring terlebih dahulu. Sudah tahu bangsa ini sedang sekarat harapan pada pemimpin negerinya, eh malah disodorkan dengan ponari, air mata intan dan sekarang naga.
Saya pribadi percaya naga itu pernah ada, sebelum ada peradaban manusia dengan gadget dan sebelum Hercules menaklukan titans untuk menyelamatkan Olimpus tentunya. Secara logika saja, bagaimana mungkin ada seekor naga tinggal di Indonesia tanpa seorang pun tahu? Bagamana mungkin naga dengan nafas api, tubuhnya yang bersisik seperti ikan yang demikian keras itu bisa lolos beterbangan di langit tanpa ada satu satelit NASA pun yang menyadarinya? Kelelawar saja terdeteksi, apalagi makhluk yang demikian agungnya itu?
Lalu si raja emas itu memberi makan apa pada naga itu? Remah-remah roti dan nasi bekas makan malamnya? Itu naga, dengan tubuhnya yang besar itu dia pasti bisa memakan 3 sapi untuk satu kali jam makannya.
Media itu sudah sakit. Apakah Anda sekalian kekurangan berita? Untuk para pemirsa setia televisi, lebih baik otak kalian ditumpulkan dengan segudang berita tentang riniSyah dan pacarnya Ubub yang mengaku-ngaku menjadi anggota kerajaan Malaysia dari pada menonton berita kebohongan tentang air mata intan dan naganya si raja emas. Setidaknya menonton si riniSyah itu tidak memberi harapan dan perubahan apa pun pada keyakinan kita, tidak merusak moral, hanya merusak mata yang melihatnya.