HELLPRINT

(photo by : Rio Padiga)
Selama hampir semingguan Furkon di Bandung, aku terus mengajaknya jalan-jalan. Ah, kata itu kupakai hanya agar meyakinkan kepada orang-orang bahwa aku yang "mengejar" Furkon, padahal Furkon merengek terus agar aku mau diajak pergi jalan-jalan dengannya. Dia selalu bertanya kapan aku bisa ke Jogja lagi, kapan aku bisa ke Malang, kapan aku bisa ke Batam atau kapan aku bisa kemping di gunung dengannya?
Aku mau. Aku mau. Aku mau. Tapi waktu tidak mengijinkan. Ada tim Paskibra yang harus tampil (meski pun gagal), ada skripsi yang harus segera dibundel, ada pria yang merengek untuk pergi jalan-jalan denganku, belum datang lagi yang lain, yang lain dan yang lain lagi.
Aku pun ingin pergi jalan-jalan, tapi... yah, terlalu banyak alasan yang terbuat ketika aku memikirkan untuk me-refresh kepalaku ini untuk melihat bangunan-bangunan atau sekedar untuk foto-foto.

8 Juli 2012 kemarin aku akhirnya pergi menonton HELLPRINT di Lanud Sulaiman. Perjalanan ke sana memakan waktu hampir 2 jam karena aku naik kendaraan umum dan menyicip berbagai jenis kemacetan. Setelah sampai di Lanud, aku pun disiksa untuk berjalan kaki, memutar jalan, mengantre hingga akhirnya masuk ke lokasi konser.
Angin di Lanud Sulaiman bertiup kencang, aku memang tidak suka angin meski pun terkadang aku angin-anginan, kepalaku mendadak sakit dan aku baru ingat bahwa aku belum makan :( akhirnya aku mengajak Furkon mencari makan di stand yang ada di lapangan situ. Aku memesan 3 gelas es jeruk dan seporsi nasi goreng. Setelah kenyang, akhirnya band bernama Burgerkill itu pun tiba. Aku berdiri tepat di tengah-tengah kerumunan. Lagu yang mengawali burgerkill itu adalah Anjing Tanah, salah satu lagu favoritku. Haha.
Biasanya, saat mendengarkan lagu Anjing Tanah, aku memejamkan mataku, meresapi saat satu persatu senar gitar dipetik hingga akhirnya mulai berteriak, "ANJING TANAAAAAAAHHHH... LIIIIAAAARRR!!!"
Nah, di bagian itu biasanya kepalaku otomatis manggut-manggut (baca: headbang) mengikuti lagu. Saat itu, tak hanya kepalaku yang disentak-sentak ke bawah seperti itu, tapi ribuan orang di sana pun melakukan hal yang sama. Dan rasanya, uhhh tidak perlu ditanya, EDAAANN, sensasi!
Biasanya aku menikmati lagu-lagu metal itu sendirian, padahal rasanya ingin membuat orang lain pun merasakan hal yang sama, tapi kemarin, WOW! Ada rasa ketagihan untuk menghentak-hentak kepala seperti itu lagi.
Setelah Burgerkill selesai tampil, aku langsung pulang. Di perjalanan pulang, jantungku diaduk-aduk berkali-kali dalam waktu yang lama dengan penambahan kecemasan dan kelinglungan. Hal itu tiba-tiba membuatku kembali untuk menyenangi rumah. Padahal hari itu aku sudah bertekad untuk "jauh" dari rumah. Haha. Jalanan memang seperti itu. Pantas saja Furkon selalu melarangku jalan-jalan sendirian. Mungkin alasannya adalah itu, agar jalanan tidak "menyentuh"-ku.
Demi A Rio, aku tidak akan menceritakan hal yang terjadi. Aku jadi ingat dengan kaos yang dipakai oleh seorang gadis punk, tulisannya "saudara bukan lagi soal darah, tapi soal kepedulian". Dan di situ, setelah kejadian itu, aku sadar bahwa aku peduli dengan orang-orang di sekitarku, hingga entah bagaimana caranya keberanian itu muncul untuk mendorong si pria yang mabuk itu dan terus mempertahankan teman...
Padahal hari ini, ketika aku menulis ini, aku mengingkari semboyan utamaku yang berbunyi, "nyawaku cuma satu", karena kemarin meski pun nyawaku cuma satu, aku berani menyodorkan nyawa itu ke depan pemabuk itu. Jika hari ini si pemabuk itu datang lagi, mungkin jantungku ini sudah berhenti berdetak.
Rasa ketagihan untuk ikut headbang itu hilang ditelan rasa sakit yang mencucuki jantung ketika aku duduk di angkot dalam perjalanan pulang. Rasanya lebih baik menghentak-hentakkan kepala di kamar meski pun mengganggu tetangga dari pada bersentuhan dengan orang-orang itu lagi. Lagi-lagi aku bilang, "untung Izrail datangnya telat", kalau saja Izrail datangnya lebih cepat, mungkin ada pisau yang bertahta di perutku malam ini.


terimakasih

Tuhan, sungguh terimakasih. Meski pun untuk ikut ujian komprehensif kemarin rasanya sulit, terimakasih kau tidak membuat semangatku hilang begitu saja. Kau menempatkanku dalam keluarga yang men-support seluruh keputusan dan semua hal yang sedang kulakukan. Kau pun memberikanku keluarga (pacar) yang sangat baik, menerimaku, mendoakanku, bahkan rela berpuasa agar aku bisa sukses. Ah, sungguh. Apalagi yang bisa kupinta?
Hanya terimakasih yang bisa kuucapkan, rasanya ucapan terimakasih di skripsiku takkan muat dalam 2 lembar. Begitu banyak orang yang mendukung dan menyokongku dari belakang. Begitu banyak nama yang mendoakan keberhasilanku. Ujian munaqosah tinggal dua hari lagi. Terimakasih telah membawa Furkon ke rumahku hari ini. Terimakasih juga atas rezeki yang kau berikan hingga Furkon bisa membelikanku sebuah cincin... heheh
double thanks, God!

seluruh nafas ini

i just love this video clip. i'm just like seeing my self and my boyfriend. sometimes i'm yelling to him when i feel that he never hear what i say. but he never yells to me. he always talks softly, calling my name gently. then whenever i get mad to him, i just shut my mouth up. i don't talk to him so long.
any mistakes that i've made, he's the one that always asking forgiveness. i feel so childish when he does.
all this breath, he's really giving all his breath for me. when i ask for climbing mountain, he agreed and we climb. he gives his jacket for me or hold me tight to keep me warm. i'm just like his universe.
he gives me chocolate, gives me ice tea when i'm thirsty. and always look happy for me, anything happened. Well dear, i'm so sorry for yelling you once.

nonton

Ini foto pacar saya yang diambil setelah kita nonton film Dark Shadow. Hari itu hari Sabtu, pacar saya baru pulang dari kerja di Sulawesi, dia langsung dateng ke rumah, ketemu sama Ayah saya terus keukeuh ngajakin nonton. Sebenernya saya cape, tapi berhubung untuk menggembirakan pacar saya, akhirnya saya ngajakin dia nonton ke Jatos. Pacar saya itu nanya, "film yang bagus apa, sayang?", saya jawab gak tau. Nah  dari mulai parkiran motor, kita itu ceritanya pegangan tangan. Tiap kali saya ngehindar, pacar saya selalu bilang, "ada apa sih sayang?". Setiap kali pertanyaan itu muncul, saya selalu gak enak hati. I feel so guilty... akhirnya kita pegangan tangan sampe ke bioskopnya. Dari jauh saya ngeliat film Dark Shadow, saya ngeliat pacar saya dan pacar saya pun tak terduga lagi ngeliat saya. Saya pun bilang, "Dark Shadow yah Ka?", pacar saya bilang dia juga pengen nonton itu. Haha.
Saya emang manggil pacar saya dengan sebutan Ka Aang atau A Aang. Kebiasaan dari pertama kenal, jadi ketika harus memanggil nama Aang atau Furkon itu cuma dalam tulisan aja. Hehe.
Terakhir saya nonton sama pacar saya itu sebelum dia berangkat ke Sulawesi, kita nonton film Poconggg. Pacar saya paling gak suka disuruh nonton film Indonesia. Katanya sih gak bermutu, kalo buat saya sih yang gak bermutu itu film horornya. Kalo film komedinya lumayan. Haha. Tapi meski pun begitu, pacar saya tetap menyayangi saya.
Terus pacar saya nganter saya pulang. Besoknya dia udah muncul di rumah saya pas saya lagi tidur siang, dia ngajakin ke rumah Pak Aki. Setelah ngobrol kesana kesini seharian, besoknya dia ngajak ketemu lagi. Kali ini minta anter beli hape ke BEC.
"Ka Ang, aku cape. Kalo mau liat-liat dulu, sok jalan aja, aku mau duduk di sini. Nanti kalo udah ada yang mau dibeli, baru bilang ke aku." Kataku setelah muterin BEC 3 lantai selama dua kali. Hahaha. Maaf Ka, aku memang bukan cewek yang suka diajak jalan-jalan di Mall, aku lebih suka diajak naik gunung atau backpacker dari pada jalan-jalan di Mall. Maaf sekali.
Setelah dari BEC, saya ngajak pacar saya itu ke Nangkringan deket kampus punya temen saya. Di sana Ka Ang menjadi surprise bagi semua orang. Dan setelah saya dan Ka Ang jalan sampai bunderan Cibiru, pembicaraan kami kemudian menuju perempuan berambut panjang yang kami temui di Nangkringan itu. Saya hanya bilang, "kalau sudah ada nama lain yang mengisi hati, mengapa benci itu masih ada? Bukankah bedanya benci dan cinta itu hanya setipis jembatan sirotol mustaqim?". Doa saya masih sama untuk gadis berambut panjang itu, semoga selalu berbahagia, dengan siapa pun, meski pun tidak dengan Furkon-ku. Amin. Aku menyayangimu, wahai gadis berambut panjang yang kutemui di Nangkringan hari Senin. Aku masih menyayangimu, kamu kuanggap sebagai saudaraku sendiri...

cokelat panas

Malam ini, saya insomnia lagi. Insomnia itu sudah menjadi penyakit kambuhan jika saya terlambat tidur semenit saja. Sambil menunggu mata saya lelah berpendar memandangi langit-langit, saya membuat secangkir cokelat panas. Tiba-tiba teringat pada Ibu saya. Ibu saya selalu membuatkan cokelat panas sebelum saya tidur. Saya ingat terakhir Ibu saya membuatkan saya cokelat panas itu saat saya kelas 4 SD. Biasanya saya selalu pura-pura tidur agar melewatkan acara minum cokelat panas sebelum tidur. Ibu saya harus menghampiri satu persatu anaknya, memperhatikan sudah berapa teguk yang masuk ke dalam lambung anak-anaknya, barulah dia berpindah ke anak yang lain. Ibu saya dengan sengaja membeli cokelat bubuk berkualitas merk vanhouten. Harganya memang lebih mahal, tapi rasa memang tidak pernah berbohong.
Lama kelamaan, kebiasaan minum cokelat panas itu mulai menghilang dan akhirnya saya tidak pernah minum cokelat panas lagi. Mungkin karena itulah saya sering insomnia, susah tidur, bahkan saya punya gangguan tidur. Saya sering bangun ketika tidur dan susah tidur lagi. Butuh waktu berjam-jam lagi untuk membuat saya terlelap kembali.
Saya pun ingat ketika hujan turun, lantai rumah saya akan sedingin es. Maka Ibu saya memakaikan kaos kaki dan berselimut bersama di tempat tidur besar, tertidur hingga hujan reda atau pagi datang. Sebelumnya, Ibu saya pasti membuatkan cokelat panas juga. Kemudian bercerita tentang si topi merah dan serigala, timun emas dengan buto ijo. Cerita favorit saya adalah si timun emas dan buto ijo, karena Ibu saya selalu bercerita dengan bahasa jawa yang mendayu-dayu, kadang bernyanyi lalu sebelum akhir cerita, saya sudah tertidur.
Sekarang rasanya ingin dibuatkan lagi cokelat panas itu. Ingin mendengar cerita itu lagi. Ingin sekali rambut saya dielus-elus agar cepat tidur. Haha. Dulu tidur adalah gerbang imajinasi saya, menciptakan mimpi, bertemu dengan orang-orang, merasakan deja vu dan lain-lain. Tapi sekarang, tidur hanyalah sekedar kebutuhan agar tubuh tidak kelelahan dan agar mata dapat beristirahat.

Lalu saya mengucapkan selamat tidur... semoga cokelat panas membawa saya ke mimpi yang indah. ^_^

teman KKN

Aku bukan tipe orang yang mudah bergaul dan mendapatkan teman. Aku perlu kerja keras untuk mendapatkan teman yang mau menerimaku apa adanya. Yah, meski pun Furkon bilang bahwa jika orang lain tidak menyukaiku karena "aku", berarti dia bukan orang yang baik untuk dijadikan teman, aku tetap saja berusaha untuk menjadi yang baik agar disukai banyak orang.
Contoh mudahnya adalah teman SMP atau SMA, aku tidak begitu respect terhadap teman-temanku yang itu. Bukan maksud melupakan, tapi dulu aku memang tidak dekat, bahkan sering aku melupakan nama-nama mereka sehingga aku sendiri minder untuk menyapa. Akhirnya aku berpura-pura tidak melihat atau tidak kenal pada mereka.
Pertemananku yang aneh dimulai ketika kuliah, aku berteman dengan Mira karena sama-sama "berbeda". Lalu berteman dengan Euis karena sama-sama "aneh". Kemudian berteman dengan orang-orang dari komunitas Rumput, kemudian lintas komunitas, hingga sahabat museum, siswa, teman-teman adikku lalu merambat ke teman-teman Furkon. Haha.
Aku pesimis untuk mendapatkan teman, apalagi di tempat KKN. Aku takut bertemu dengan orang yang gaya hidupnya glamor dan "diskotik" abis. Aku menyadari bahwa "gadis gunung" tidak akan mudah mendapatkan teman. Tapi ternyata aku salah. Sebagian besar teman KKN-ku adalah teman dari temanku di komunitas lain atau teman dari temannya Furkon. Haha, ternyata ada untungnya juga Furkon selalu membawaku kesana-kemari, mengenalkanku dengan orang yang satu dan yang lainnya, menjejalkan nama dan wajah mereka di otakku. Haha.
Aku dengan santai bercerita bahwa aku suka naik gunung, aku digigit pacet, memperlihatkan satu persatu bekas luka dari naik gunung di tubuhku dan menceritakan pengalamanku membuat film. Sepertinya menjadi diri sendiri tidak menyiksa orang lain, mereka lalu menerimaku. Yah, meski pun ada yang memandangku sebelah mata karena aku ogah memakai rok ke setiap acara pengajian. Tapi segala hal berjalan dengan sangat baik. Bahkan thanks A Ipay, karena aku mengenalmu, si ketua KKN-ku yang sok tahu itu tak berani macam-macam denganku. Haha.
Hingga sekarang, hampir 5 bulan sejak aku berpisah dengan teman KKN-ku, aku masih sering bertukar informasi. Tentang apa pun, bahkan mereka menjadikanku tempat curhat. Padahal aku sendiri heran, aku hanya memberikan saran yang bagiku adalah saran yang pasti akan disarankan padanya juga, tapi... ah ya sudahlah. Yang jelas, Furkon memang orang yang berpengaruh di hidupku. Berkat dia, aku mengenal lebih banyak orang dan dikenal oleh banyak orang juga.
Luph Aang... <3

sepotong cincin



Hanya karena sepotong cincin, kita bertengkar. Membicarakan ini dan itu, hal-hal yang sudah terjadi, belum terjadi dan yang akan mungkin terjadi. Padahal hanya masalah sepotong cincin. Kau ingin menyarangkan cincin itu di jari manisku dan aku ingin kau menyarangkannya di hari akad saja. Hanya sepotong cincin, padahal.
Kita lalu bicara tentang sikap-sikap kita yang dulu cuek, tak pernah membicarakan hal ini dengan serius hingga membelit ke urusan kuliah dan kesibukan. Lalu berguling-guling dalam pasir maaf hingga akhirnya aku menelan ludah yang pahit. Kau pun lalu berlutut-lutut memohon ampun.
Kita sedang membicarakan apa sih sebenarnya? Masa depan sudah begitu jelas untukku dan untukmu. Lalu mengapa hanya karena sepotong cincin kita harus berdebat berjam-jam?
Ah, andai saja aku menyesal saat mulai mendebatmu, bukan setelah mendebatmu. Maafkan aku...
^_^

saya bukan penulis

Saya bukan penulis. Bahkan pengetahuan tentang kepenulisan pun tidak saya praktekan. Masalahnya pengetahuan yang paling nempel adalah pengetahuan untuk selalu ingat memberi titik dan koma. Itu saja. Dulu saya sering membuat kalimat yang begitu panjang. Jika ada "lalu", maka tidak akan pernah ada titik. Kemudian saya belajar bahwa ada atau tidak adanya "lalu" atau "kemudian", titik itu harus selalu ada. Apalagi koma.
Saya sering mengganti judul blog saya, entah ini sudah yang keberapa kali. Soalnya terkadang saya merasa "sombong" dengan judul yang saya gunakan. Tidak perlu contoh, pembaca yang setia membaca blog saya pasti tahu dari awal sampai hari ini perjalanan blog saya. Haha.
Saya mulai menulis di blog ini sejak tahun 2008, awalnya yang saya isi hanya lagu. Bisa dicek arsip tahun 2008-nya :p. Lalu mulai saya menuliskan diary hingga akhirnya saya menulis puisi, cerpen, lalu resume film, prosa dan novelet. Haha. Sungguh sebuah perjalanan!
Inginnya saya hapus karena mungkin tulisan-tulisan saya yang lawas itu akan jadi bumerang untuk saya di kemudian hari. Tapi, saya tidak tega. Rasanya seperti membunuh diri saya sendiri. T_T. Jadi, bagaimana pun akhirnya nanti, saya tetap enggan menghapus blog saya ini.
Di blog ini saya sisipkan tulisan-tulisan tentang kekesalan saya pada seseorang, sesuatu atau harapan yang tidak tercapai. Haha. Saya bukan tipe orang yang suka curhat kepada teman. Saya punya sikap antisipatif untuk kemudian diadu domba atau cerita saya diputar balikan atau dimaknai ganda. Jadi, saya tulis saja. Jadi kalau ada kesalahpahaman, salahnya itu ada di saya, jadi bisa saya klarifikasi karena ada bukti otentik berupa tulisan ini. Hehe.
Saya tidak memaksa orang lain untuk membaca blog saya, toh saya memang bukan artis, bukan penulis profesional yang tulisannya bermakna dan indah. Jadi, bebas saja. Kalau mau baca, silahkan, tidak mau juga silahkan. Saya tidak lagi butuh diapresiasi. Toh saya bukan penulis. :)
Saya suka bercerita tentang Furkon, tentang apa yang ada di pikiran saya, tentang apa yang terjadi di sekitar saya dan pendapat saya tentang sesuatu. Saya menulis kadang hanya untuk meluapkan beban pikiran saya, biasanya kalau saya banyak berdiskusi dengan Furkon, saya hanya menuliskan ringkasan hasil diskusi dengan Furkon. Tapi Furkon terkadang sibuk, jadi saya menulis saja semau saya dan mengartikan sesuatu itu sepengetahuan saya saja.
Kalau saya boleh memilih, saya mau jadi seorang scooterist, guitarist, backpackerist, hahaha. Tapi saya bahagia dengan kehidupan saya yang sekarang. Bersama Furkon, ketidakmampuan saya menulis, diskusi bersama Furkon, pemikiran subjektif saya, duduk bersama Furkon, mendengarkan celotehan orang-orang tentang saya dan menjelek-jelekan Furkon, saya dan Furkon, saya dan Furkon...
Ah, yang jelas, di dunia saya, Furkon itu bukan seorang yang rela begadang untuk memantrai seseorang. Love you, Furkon.
^_^

untuk teman-teman seperjuanganku...

Lilis, aku mengingatmu dengan kerudung putih dengan corak biru. Aku lalu berkenalan denganmu di aula kampus saat kita sedang OPAK. Lalu kita berteman. Aku melupakanmu lagi dan lagi, berkenalan lagi dan lagi hingga akhirnya aku benar-benar mengingat wajahmu saat kau mengirimiku pesan di masjid. Ingat tidak, Lis?
Kau memang yang paling baik, paling rajin memberitahukanku jadwal kuliah, tugas dan jadwal ujian. Keberhasilanku yang seperti ini dimulai olehmu, sungguh! kau adalah teman pertamaku, yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku saat orang lain tak tahu kapan hari ulang tahunku. Kau juga yang tetap duduk di sampingku saat orang-orang memusuhiku.
Ah Lilis, kamu "kolot" dan aku sangat beruntung bisa berteman denganmu, di hampir empat tahun kita bersama. Terimakasih untuk segalanya, Lis. Maaf aku selalu mengeluhkan kostanmu yang begitu jauh, mengomentari kamarmu di lantai 3 yang tangganya sangat menyiksa itu dan aku selalu menjelek-jelekan si Ikan-mu. Hehe, maaf.

Aku mengenalmu sebagai si Nenx Euiz SukaPulpy, gadis yang "mirip" aku. Seseorang yang meng-add facebook-mu harus bilang bahwa dia meng-add-mu agar kau segera meng-confirm-nya. Seseorang harus menyapamu dengan menyentuh tangan atau lenganmu agar kau sadar bahwa orang itu menyapamu. Seseorang juga harus mulai bercerita agar kau up to date pada gosip panas di kampus. Ya, aku mengenalmu sebagai gadis yang seperti itu. Dan aku beruntung kau ada, jadi aku takkan merasa bahwa aku adalah makhluk aneh yang "sendirian" di dunia ini. Karena ada kau yang sama "aneh"-nya. Hehe. Kesamaan kita mungkin karena kita lahir di bulan yang sama dan dengan tanggal yang berdekatan.
Kita memulai cerita dari kuntilanak di kostanmu hingga cerita-cerita horor yang membuat Lilis tersiksa mendengarkan obrolan kita. Haha, setelah ini, aku akan sangat merindukan obrolan kita, baso HI dan nonton film bareng.

Untuk Mira, aku tidak ingat kapan pernah meng-add facebookmu. Tapi setelah berulang kali aku membuat facebook, akulah yang selalu meng-add-mu duluan. Kita dekat karena kita sama-sama punya kamera, sama-sama suka protes dan membuat resolusi aneh untuk menentang kerajaan lebah. Haha. Kita (dulu) sama-sama suka menulis, membuat puisi yang "tidak sengaja" menyakiti perasaan beberapa pihak. Tapi menurut seorang sastrawan, puisi kita bagus.
Kita sama-sama membuat akun di xanga, menulis berbagai hal agar tidak terbaca para "penguntit". Sepertinya meski pun kamu di Cijapati, kita takkan sering bertemu juga kecuali kalau ada acara-acara besar. Aku suka melihatmu berjuang untuk Kateter dan skripsimu dalam waktu yang bersamaan. Hehe, kita sakit bersama, aku sembuh duluan. Semoga kamu juga cepat sembuh, Ya.

Papap, Alpariji. Entah sudah berapa orang yang bertanya, "si zets pacaran sama si Lukita? Mira? Euis? Lilis?" haha. Terimakasih sudah berbagi film personal taste yang sampai sekarang pun belum beres kutonton. Aku bahkan sudah malas karena kau sudah menceritakan akhirnya. Terimakasih juga telah membantu men-download program moodle saat aku berencana membuat skripsi tentang e-learning. Haha. Cepat sukses zets, ada wanita yang menunggumu...

Kiky, HI-mu selalu kutunggu. Semoga tidak tersesat lagi dalam percintaan. Segera temukan dermagamu, jangan mudah menurunkan jangkar jika kau belum yakin. ^_^

Lalu yang lain, yang namanya enggan kusebut karena aku belajar bahwa hanya beberapa orang saja yang mau namanya dicantumkan dalam tulisanku, hehe. Semoga cepat selesai dengan urusan perkampusannya. Tanpa kalian, aku tidak akan menjadi film maker yang lolos di Jakarta dan di Bandung. Haha. Tanpa kalian juga, aku mungkin masih mengurung diri seperti katak dalam tempurung atau masyarakat Athena dengan guanya. Tanpa kalian, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Furkon. Untuk semuanya, meski pun maaf itu begitu tabu keluar dari bibir, terimakasih sajalah...

minder

Aku minder saat harus bertemu dengan orang-orang banyak. Aku tidak terbiasa bicara di depan orang banyak karena sebelumnya tak ada orang yang menginginkanku untuk bicara. Aku terbiasa untuk duduk di belakang, dikucilkan dan dihina.
Hingga suatu ketika, si gadis yang selalu dihina ini menjadi bintang, guru-guru memujiku karena kemampuanku dalam pelajaran komputer. Dulu orang yang bisa dengan mahir memakai komputer hanyalah para sekretaris atau perkantoran saja. Lalu aku, seorang gadis berumur 13 tahun dapat dengan mahir mengoprasikannya. Hal itu sedikit membuatku punya "muka" untuk bertemu dengan orang-orang di dunia ini dan untuk bicara di depan umum.
Kemudian di SMA, saat aku berumur 16 tahun, guru komputerku lagi-lagi memanggilku, dia memintaku untuk menjadi orang pertama yang mengisi tempat "ketua" dari organisasi teknologi informasi sekolah. Sebuah komunitas yang bergerak di bidang programming dan desain. Karena aku merasa bahwa aku bisa karena terbiasa, maka aku mengundurkan diri dan mengajukan orang lain. Aku semakin punya "muka" untuk menghadapi dunia.
Lalu di perkuliahan, saat orang lain sudah sibuk dengan handphone-nya yang canggih, aku hanya memiliki sebuah handphone jadul dengan layar yang pecah, sehingga aku hanya bisa membaca pesan dari layar di bawahnya. Tapi dosen komputerku lagi-lagi memuji kemampuanku dalam hal teknologi informasi. Aku kini punya "muka" setelah mendapatkan nilai A, bahkan dosen itu bilang bahwa dia belum pernah bertemu dengan mahasiswa mana pun yang semahir aku.
Sekarang, tanpa komputer pun aku bisa punya muka untuk menghadapi dunia. Bahkan meski pun kemampuanku hanya bercerita dan menulis tanpa ilmu tentang kepenulisan, aku masih bisa berkarya dan punya pembaca.

Aku kemudian teringat cerita kakak kelasku, Acil namanya. Dia berasal dari dusun terpencil, pinggiran kota, yang tidak ada sinyal handphone apa pun dan untuk bersekolah, harus melewati banyak tanjakan dan turunan. Dia pun dulu merasa minder. Tapi Tuhan menganugerahinya kemampuan melukis. Dari lukisannya, dia bisa memberi vespa, membiayai kuliahnya, menghidupi dirinya dan melakukan banyak perjalanan yang "wow".
Aku kemudian melihat pacarku sendiri, Furkon. Dia pun berasal dari daerah terpencil, tapi dengan kepintarannya, dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Aku bahkan kagum padanya karena dia mempelajari begitu banyak hal. Dan itu tidak kulihat dari orang-orang yang dulu menghinaku. Seujung tai kukunya pun tidak.

Lalu kita (manusia) harus menjadi yang mana? Menghina seseorang tidak menjadikanmu lebih baik. Dan bagiku sekarang, tidak perlu minder. Toh orang tidak tahu berapa uang yang tersimpan di dalam dompet kita. Mereka juga tidak tahu seberapa jauh kita sudah berusaha dan seberapa sakit hati kita karena terhina. Tetap saja memandang ke depan.