kutub yang mencair

Ada yang hilang, kutub yang kubiarkan dingin kini mencair...

Aku terus merindukan sentuhan-sentuhan lembut tangan, yang tak kalah lembut dari sentuhan tangan Bundaku.
Aku terus mencari wangi-wangi, yang bukan bunga, yang bukan buah, yang membuatku aman berada dalam lingkup wangi itu.
Ada penjepit kertas di ujung bibirku, membuatku tak bisa menolak untuk tersenyum.
Ada racun yang menggelitiki lambungku, membuat perutku bergetar dan terus tertawa.

Kutub-mu yang dingin telah mencair, itu kata semua orang padaku.
Semua orang asyik membicarakan tulisanku yang kini melulu tentang kutub itu. Global Warming, kataku tegas. Tapi tak ada yang percaya.

Tapi seperti benar-benar global warming...



9 Juli 2011

Taylor Swift - The Story Of Us

i used to think that one day we'd tell the story of us,
and how we met
and how the sparks flew instantly
and people would say they're the lucky ones

i used to know my place was the spot next to you,
now i'm searching the room for an empty seat
cause lately i don't even know what page you're on

oh, a simple complication,
miscommunications lead to a fallout,
so many things that i wish you knew
so many walls up, i can't break through

now i'm standing alone in a crowded room
and we're not speaking
and i'm dying to know
is it killing you like it's killing me, yeah

and i don't know what to say since a twist of fate,
when it all broke down
and the story of us
looks a lot like a tragedy now

next chapter

how did we end up this way?
see me nervously pulling at my clothes
and trying to look busy
and you're doing your best to avoid me

i'm starting to think one day i'll tell the story of us
how i was losing my mind when i saw you here
but you held your pride like you should have held me

oh, i'm scared to see the ending,
why are we pretending this is nothing?
i'd tell you i miss you but i don't know how
i've never heard silence quite this loud.

now i'm standing alone in a crowded room
and we're not speaking
and i'm dying to know

is it killing you like it's killing me, yeah

and i don't know what to say since a twist of fate,
when it all broke down
and the story of us
looks a lot like a tragedy now

this is looking like a contest
of who can act like they care less
but i liked it better when you were on my side

the battle's in your hands now
but i would lay my armor down
if you said you'd rather love than fight

so many things that you wish i knew
but the story of us might be ending soon

now i'm standing alone in a crowded room
and we're not speaking
and i'm dying to know
is it killing you like it's killing me, yeah

and i don't know what to say since a twist of fate
when it all broke down
and the story of us
looks a lot like a tragedy now
now, now, now

and were not speaking,
and i'm dying to know
is it killing you
like it's killing me?

and i don't know what to say since a twist of fate,
'cause were going down
and the story of us
looks a lot like a tragedy now

the end

gombal!

"Kamu adalah pertama dan akan menjadi satu-satunya..." Kata-kata yang terlontar dari mulutnya di telepon itu begitu nyaring dan jelas. Jelas mengisyaratkan bahwa aku adalah si satu dan satu-satunya dalam cerita cintanya.

Kata itu sudah bertahun-tahun yang lalu kudengar tapi masih saja terngiang di telingaku. Bukan dengan suara si pemiliknya, tapi hanya rentetan katanya saja. Dan setiap kali aku mengingatnya, aku merasa kau adalah tukang gombal yang hebat!
Entah sudah berapa wanita yang dia jajaki sejak terakhir dia berhubungan denganku. Dan semuanya selalu berakhir menjadi musuh. Dan aku tertawa karena dia pun melakukan hal yang sama padaku. Dia memusuhiku dan enggan berbicara denganku. Padahal, aku selalu melihatnya tiap hari dan rumahnya pun tak jauh dari rumahku.
Dulu aku yang menjadi korban kata-kata gombalmu, lalu ada seorang wanita malang yang lain, lalu ada lagi dan lagi dan lagi. Hey, wajahmu yang tidak terlalu tampan itu ternyata berharga jual tinggi juga. Ternyata banyak yang menginginkanmu meskipun aku tak tahu bagian mana yang mengesankan darimu selain kata-kata gombalmu itu.
Aku tahu dengan pasti ini bukan urusanku. Kau mau berhubungan dengan siapapun bukan urusanku. Hanya saja, apa aku tadi mendengar kau memanggil kekasih barumu itu "yangyang" (ini hanya nama fiktif belaka)?  Aku merasa sangat dekat dengan panggilan itu. Dulu kau memaksaku untuk memakai nama itu padahal aku sama sekali tak mau. Terdengar seperti sebuah ejaan dalam bahasa inggris yang artinya pasti ada unsur gombalnya
Aku dulu dipanggil seperti itu. Gadis malang setelahku pun kau panggil dengan panggilan yang sama, begitu pun sesudahnya dan yang sekarang pun kau panggil dengan sebutan yang sama. Wah, kau bisa penangkap ikan yang handal! Kau menangkap ikan dengan syair yang sama dan dengan cara yang sama. Ajari aku, aku juga mau sehebat kau!
Tapi aku tentu tahu, keahlianmu yang seperti itu ditunjang dengan begitu melankolisnya sikapmu dan idealisnya pemikiranmu. Berbeda denganku yang terkadang pragmatik dan sembrono, tentunya tak semua pria bisa kudapatkan dengan cara yang kau lakukan.
Ya, ya, ya.

Aku ingat banyak hal saat kita masih bersama. Kau paling suka membuatku merasa bersalah, mengumbar kata cinta di dinding situs pertemananku. Seolah agar semua orang tahu bahwa kau adalah satpam galakku. Kau berteman dengan semua teman yang kumiliki dan tak membiarkan aku bergerak leluasa.
Dipikir-pikir, aku dulu cukup bodoh juga untuk selalu mengikuti apa keinginanmu. Aku berusaha menjadi wanita yang mandiri, berpikiran luas dan cerdas, membuang sikap kekanak-kanakanku, kadang juga aku seolah tak menjadi diriku sendiri. Apakah kau melakukan hal yang sama pada kekasihmu hari ini?
Kuharap dia adalah dirinya sebelum berkenalan denganmu dan kau tak mengubahnya menjadi prototipe diriku yang paling kau cintai. Kau cintai? Entahlah kawan, aku merasa kau sangat mencintaiku, terbukti jelas bahwa kau memanggil semua kekasihmu dengan panggilan yang kau berikan untukku. Kau juga menyanyikan lagu yang selalu kau nyanyikan untukku. Kau seolah sedang mencumbu prototipe-ku karena ketidakmampuanmu mendapatkanku.
Aku merasa kasihan padamu. Sungguh. Dan aku lebih kasihan lagi pada kekasih-kekasihmu itu. Mereka kau anggap seperti aku. Sungguh kau terlalu. Jika aku jadi kekasihmu itu, aku pasti sudah melemparmu jauh-jauh dari hidupku seperti yang pernah kulakukan. Kututup mataku dan kukatakan dengan keras TIDAK untuk pria sepertimu! Hehehe... sayangnya aku sudah melakukannya sekali dan selamanya.

Aku senang melihat kau baik-baik saja. Dunia memang tidak sesempurna keinginan kita, ya kan kawan? Seperti biasa, aku ingin bilang, aku tak merasa menyesal meninggalkanmu, andai saja aku bisa menyesal.
Kawan, kau tak perlu kekanak-kanakan untuk memusuhiku seperti ini. Bersikaplah dewasa seperti yang kau bilang dulu. Kau begitu childish. Hihihi....



8 Juli 2011

sepi

So please,
Let me be free from you
And please, let me be free
I can face the truth.
-pretend : secondhand serenade-



Saat mendengar lagu ini. Aku teringat tahun lalu. Tahun lalu pada hari ini aku duduk di depan game DDR sendirian. Aku memperhatikan warna yang berpendar di layar. Saat itu semuanya terasa kosong dan hampa. Aku dulu pernah merasa sangat kosong dan sering sekali merasa seperti itu terlebih jika aku sedang sendiri. Itu juga alasanku mengapa selalu mencari keramaian dan membungkam telingaku dengan lagu-lagu keras. Membiarkan gendang telingaku terasa mau pecah dan tak bisa mendengar suara-suara pelan.
Aku belum belajar berteriak dan meluapkan semua dengan pergi ke puncak yang tinggi. Maka pada mesin DDR itulah semua perasaanku tercurahkan. Pada orang-orang asing yang tersenyum dan mengajakku bermain bersama dan selalu kutolak. Juga pada karyawan yang mulai akrab dengan kehadiranku yang intens.
Jika jam sudah menunjukan pukul 9, maka aku bersiap pulang dan mengucapkan selamat tinggal pada DDR, berjanji bahwa besok aku akan bertemu dengannya lagi. Selalu seperti itu hingga akhirnya rasa sepi itu menjadi nyata saat tak lagi kudengar handphone-ku berbunyi nyaring dan lagu yang kukenal menjadi lagu sedih.
Apakah itu tahun lalu? Sepertinya sudah bertahun-tahun kurasakan itu semua. Sejak pertama kali aku mengenal DDR hingga akhirnya ada musik sempurna yang mengubah segalanya.

It's hard to be all alone
I never got through your disguise
I guess I'll just go, and face all my fear

Hari ini. Inbox-ku sudah penuh dua kali sejak jam 10 pagi kubersihkan. Ada lagu yang berbeda yang mengubah segalanya...


7 Juli 2011

Dalam perantauanku

tanjakan ke puncak ini membuatku sadar tentang sepenuhnya diriku. Aku mulai mengerti apa maksud dari "yang berkeinginan kuat". Aku baru mengerti mengapa terkadang dibenci oleh beberapa orang. Karena mungkin saja mereka ingin membunuh mimpiku, tapi aku terlalu kuat untuk membunuh apa yang kupercayai.
Aku tak peduli orang bilang bahwa aku takkan kuat mencapai puncak itu. Aku yakin dan aku harus sampai ke puncak itu. Aku takkan pernah kembali sebelum puncak itu kudaki dan aku bertemu dengan Tuhan disana.
Nafasku memburu, rasa sakit menjalar di bahu dan betisku. Tapi aku takkan pernah berhenti. Aku takkan mengalah pada kelemahan fisik. Keringat menetes deras dari kepala ke pipiku, menyatakan rasa lelah yang takkan segera bisa dihilangkan dengan butiran-butiran air segar sekali pun.
Tuhan, aku baru kali ini meragukan diriku sendiri. Baru kali ini aku merasa ngeri dengan tanjakan-tanjakan dan rasa sakit. Aku meragukan bahwa aku akan sampai disana meskipun aku tahu aku akan sampai disana.

Ciremai. Kata itu seolah menjadi mimpi buruk, padahal aku merasa kata itu adalah mimpi indah yang akan segera menjadi nyata. Ah Tuhan, pilar-pilar langitmu itu begitu megah dan menjulang. Julangannya bahkan bisa merobek mega sampai hatiku.
Aku merasa bukan siapa-siapa sekarang. Karena untaian kataku terhenti saat leherku tegap menatap dan tak kubiarkan menunduk. Kau, Tuhan, adalah kata-kata sempurna, kau adalah inspirasi yang takkan pernah di duakan oleh kata-kata manapun.


3 Juni 2011

cerita untukmu

Kawan, berhentilah memusuhiku seperti si Plagiat. Aku tak sejahat yang kau pikirkan. Aku juga tak sepicik keliahatannya. Pun tak sebaik uang recehan yang kuberikan begitu saja pada pengemis-pengemis jalanan.
Aku hanya aku saja. Yang tak bisa kau paksakan harus menjadi yang kau inginkan.
Kawan, andai saja kau menyadari, sebentar lagi bulan suci yang kau agung-agungkan. Dimana pintu maaf terbuka lebar dan kita bisa berjabat tangan sebagai seorang sahabat seperti dulu.

Kawan, aku punya banyak cerita, sedikit memanasi tapi aku memang menyimpan cerita ini untuk kau. Aku mempersiapkan sebuah cerita yang kulalui saat kau berhenti mendengar. Cerita ini bagiku takkan cukup kubagi hanya untuk orang-orang yang biasa lalu lalang dalam hidupku. Kau punya andil, kawan, maka cerita ini kusisakan untukmu.

Kemarin, kekasihku melihatmu, aku tidak, lalu ketika aku menyadari bahwa kau melihatku, aku memanggil namamu keras. Berharap kau berbalik dan menatapku. Aku mau bercerita saat itu. Jadi semua cerita lumer dengan kata-kataku saat itu. Sayangnya kau tak melihatku.

Saat itu, aku berteriak dalam hati, "Lihatlah yang cantik ini..."

he's my sunshine... my big yellow sun...
he's the black of my pen...
he's the white of my paper...
he's the dark of the night...
and he keeps my hands warm near his heart...
that's the first time i feel his heartbeat...
i don't mind if he thinks to play on me that time
i'm madly in love with him...

itulah yang kuucapkan saat tanganku berada tepat di jantungnya di bawah tumpahan bintang-bintang, kawan...
"feel-nya itu loooohhh kawaaaaannn...."

4 Juli 2011

sepi

Setelah pemikiranku yang terkadang begitu skeptis akan sesuatu;
setelah pendapatku telah kukeluarkan semuanya dari otakku;
setelah aku habis menertawakan caraku berpikir yang kian meruncing dan kasar;
aku merasa kosong.

Karena aku tahu.
Aku sedang meniupkan angin;
yang nantinya kutuai badai;
cukup besar untuk membuat semua hal yang kusayangi menghilang.

Aku akan sendiri lagi.
Aku akan merasa sepi lagi.

Kali ini, bahkan sebelum benar-benar bersentuhan dengan sepi, aku sudah bisa merasakan dinginnya.
Tubuhku menggigil dalam balutan selimut tebal yang hangat.
Aku takut sendiri, aku tak mau merasa sepi.
Tapi membiarkan pemikiranku membusuk juga adalah sebuah dosa.
Tuhan, kenapa kau buat aku merasakan takut jika kau berikan anugerah terbaik, yaitu sebuah pemikiran yang begitu skeptik?
Hilangkan rasa takutku, Tuhan. Aku lebih suka menerima berkat-Mu yang berisik pemikiran skeptik ini dari pada rasa takut.


29 Juni 2011

bukit bintang

Tuhan, dimanapun, yang aku lihat hanya bulan. Satu bulan. Satu cahaya di tengah gelapnya langit malamku. Seindah apapun bulan atau bintang, aku lebih suka matahari, di bawahnya, aku bisa melihat segalanya, aku bisa melihat wajahnya, taringnya, peletnya...

-bukit bintang-
11 Juni 2011

ruang sunyi


Aku mendatangi ruangan yang dulu kutinggalkan. Ruangan yang dulunya tempat singgah aku dan kau. Di sofanya, kita sering bertukar cerita dan pendapat tentang berbagai hal. Ruangan itu lebih mirip kost-kostan dari pada sebuah rumah. Ya, kita membangunnya dalam situasi yang begitu akrab bersahabat, aku bahkan tak sadar bahwa kau merencanakan sebuah rumah, bukan sebuah gasibu. Aku masih ingat saat tawaku lepas mendengar deskripsi ruangan ini yang menjadi sebuah rumah. Kau membuatku seperti seseorang yang mabuk, padahal yang mabuk adalah kau.

Suatu ketika. Aku pergi meninggalkan ruangan itu dengan hantaman keras di pintu. Aku berjanji takkan pernah masuk ke dalam lagi. Setiap hari, aku melewati ruangan itu dan ruangan itu selalu sunyi. Tak ada satu suarapun keluar dari ruangan itu. Semua orang mulai bercerita tentang ruangan sunyi yang membuat perasaan terbakar itu.

Aku bertanya-tanya, mengapa ruangan yang sudah lama tak kudatangi itu ternyata masih tetap sama? Masih ada rasa hangat namun begitu canggung. Masih ada sisa marah dan benciku kemarin tapi sekarang lebih cenderung pada kasihan.

Ruang sunyi itu membuatku mengerti bahwa itu bukan rumah. Hanya sebuah ruangan. Yang diisi oleh satu orang yang berambisi tinggi mendirikan gedung bertingkat di atasnya, dan diisi oleh seorang yang terlalu polos untuk mengerti cinta dan pembangunan rumah.





8 Juni 2011

menuju puncak (lagi)

Hari ini aku akan naik ke puncak (lagi). Tak ada doa-doa yang ingin kupanjatkan, tak ada harapan yang ingin kugantungkan, juga tak ada penyesalan yang ingin kuintrospeksi...
Tapi kali ini, seperti saat aku naik ke puncak Kerenceng, aku mau berterimakasih lagi pada Tuhan. Aku hanya ingin memanjatkan rasa terimakasih yang tak sanggup kuungkapkan dengan sujud-sujud atau ritual yang orang lain lakukan.

Makasih Tuhan...

Puncak hari ini yang akan kudaki adalah Manglayang. Tuhan, Juli aku akan pergi ke Ciremai. Aku ingin menikmati keagunganmu yang ada disekitarku dulu sebelum beranjak lebih jauh dan lebih tinggi lagi.
Lusa, semoga aku berada di atas keagungan-Mu yang cantik, gunung Geulis...

September, Tuhan...
Izinkan aku ke Mahameru-Mu...





2 Juni 2011
bergumam sambil ngepak barang-barang