kita


Kita bermula dari obrolan "sudah" dan "belum" lalu diakhiri "aku mencintaimu". Kemudian "ya" dan "tidak" lalu "aku merindukanmu". "Maaf aku sedang sibuk", "sedang banyak tugas" dan "hey, ayo kita nonton berdua", kita berpegangan tangan, merasakan getaran listrik menjalar dari ujung syaraf di jemariku menuju simpul syaraf di otakku.

Aku katakan "berhenti" dan "tidak akan pernah lagi" tapi nyatanya aku selalu kembali dan berteriak, "maaf". Jika besok-besok kita memulai dengan "kamu selalu" maka akan diakhiri dengan "ayo kita perbaiki semuanya". Entah kita apa, tidak sanggup berpisah tapi selalu berperang ketika bersama. Kita selalu bilang "kembali" lalu salah satu dari kita melanjutkan "terus saja menyakiti".

Jika tidak ada di antara kita yang saling menyahut dan menjawab, apakah besok masih ada "kita"?

cerpen aku dimuat jadi e-book!

seriusan, kemarin ini aku lagi ngekonsep tulisan baru, intinya keluhan adik saya tentang kenapa saya sekarang ga bikin tulisan yang "berbobot" lagi. ya, aku emang ga berbakat bikin tulisan "berbobot". seriusan bukan merendah...
aku bahkan heran kenapa dulu aku pake nama Novelis coba? WEW...
tapi aku kaget tadi malem, ternyata salah satu caprukan aku masuk jadi e-book gitu... hahaha!
download geura.. :D
Antara seneng, terharu jeung era... kenapa? aku sok malu mendadak kalo nama aku masuk di tulisan orang... hahaha.
untuk antologi mah meureun aku ga bakalan pernah bisa, nya keun lah dalam bentuk e-book ge... :D


sepenggal sabar




            Waktu SMA, aku punya guru cewek, orang Jogja dari keturunan ningrat. Beliau punya nama ningrat, demi kenyamanan saya gak akan nyebut satu huruf pun dari nama beliau. Jadi, beliau ini mulai ngajar saya ketika saya duduk di kelas 2 SMA. Saya dulu pure menganggap bahwa beliau guru killer yang emang ga pernah senyum, apalagi bermurah hati sama siswa. Kenapa? Karena kakak-kakak kelas saya pun diperlakukan sama. Ga ada satu orang pun yang dapat perlakuan spesial.
            Sejak beliau ngajar di kelas saya, nilai mata pelajaran saya yang diajar sama beliau bener-bener dikorting. Kalo dulu saya bisa dapet nilai 8 di raport, sama beliau paling banter 6,5. Kalo ada ulangan harian, beliau suka melototin saya dan bilang kalo nilai saya itu jelek, Cuma dapet 2 atau 3, padahal saya dapet 6. Heran memang. Tapi saya diem aja. Toh buat apa ngebales melototin beliau? Mata saya jauh lebih sipit dan mau semelotot apa pun, ya yang keliatan mata geuneuk kayak baru bangun tidur.
            “Itu loh, anak Ibu, Deri, gara-gara pacaran, nilainya jadi turun. Apalagi pacarnya, makin turun. Mereka berdua kerjaannya pacaran saja. Nah itulah kenapa pacaran waktu masih jadi siswa itu dilarang, karena tidak ada manfaatnya.” Tutur beliau panjang lebar di sela-sela mengajar mata pelajarannya. Tidak terlewat, beliau memelototi saya lagi. Saya hanya diam.
            Guru saya itu adalah seorang walikelas untuk kelas nomor 9. Di kelas itu, Deri bertugas sebagai ketua kelas. Deri pacaran dengan teman sebangku saya, namanya Dini. Deri dan Dini memang bukan anak yang sangat pintar, seperti anak pada umumnya aja, kalo nyontek, nilainya baru bisa dikatrol ke angka 7 sampai 8, kalo usaha sendiri ya 2 atau 3 pun sudah lumayan.
            Di kelas 3 semester 2, saat itu saya sedang duduk berkumpul bersama teman-teman saya tanpa Dini. Guru itu kemudian menghampiri saya. “Hey Dini, kamu itu jangan pacaran saja. Liat nilai Deri, nilai Deri turun. Sebentar lagi mau UN, kamu seharusnya belajar. Kamu tau engga, lembar jawaban kamu di mata pelajaran saya itu salah semua. Saya kasihan aja jadi saya tambahin jadi 5.”
            Setelah beliau selesai meluapkan kemarahannya selama ini, saya pun mulai bicara. “Bu, saya Lukita, bukan Dini. Dini itu temen sebangku saya.”
            “Tapi saya sering liat kamu pulang sekolah bareng sama Deri. Berdua-duaan di kantin.”
            “Oh, kalo itu, saya sama Deri satu organisasi, Bu. Deri ketuanya, saya sekretarisnya. Jadi saya sama Deri sering kerjasama untuk mengarsipkan kegiatan organisasi setiap minggu, Bu.”
            “Kamu bukan Dini?”
            “Bukan Bu.”
            “Berarti selama ini saya salah orang. Saya kira kamu yang pacaran sama Deri. Kamu namanya siapa?”
            “Lukita.”
            “Sebentar.” Beliau kemudian mengambil daftar nilai di dalam tasnya. Telunjuknya dengan aktif mencari huruf L kemudian mencari nama saya, Lukita. Ketika beliau sudah menemukannya. “Oh, Lukita. Iya, saya salah. Nilai kamu bagus.” Katanya, lalu beliau tersenyum. Dan itu adalah senyum pertamanya sejak beliau menjadi guru di kelas saya. “Tingkatkan lagi ya. Sudah bagus ini.”
            Dan akhirnya saya tau, alasan mengapa beliau sering memelototiku di kelas dan menyebut nama Deri sambil hidungnya seolah menunjuk ke arahku. Beliau salah orang. Ketika semester baru dimulai, beliau berubah menjadi super baik pada saya. Beliau jadi sering ramah dan sering meminta saya untuk menjelaskan atau memberi contoh pada bahasan-bahasan yang beliau berikan. Dampak dari sikap baik beliau adalah beliau sekarang seolah memusuhi Dini teman saya. Tidak jarang Dini menangis selama pelajaran guru saya itu. Saya tidak bisa membela Dini, karena Dini dan Deri saling mencintai meski pun mungkin terlalu dini untuk mengikrarkan cinta di masa SMA sebagai cinta sejati.
            Sore tadi, 4 tahun setelah saya lulus dari SMA, beliau mengajak saya berbincang di perpustakaan SMA. Tempat dimana beliau tahu bahwa saya bukan Dini. Beliau pun membuka obrolan dengan basa-basi menanyakan bagaimana kabarku, kuliahku dan apa yang sedang kukerjakan sekarang ini hingga akhirnya beliau bercerita tentang putranya. “Anak Ibu, yang paling besar. Kamu tahu?”
            “Engga Bu.”
            “Dia itu bilang sama Ibu, dia menyukai seorang gadis, gadis ini bukan gadis biasa, dia adalah gadis luar biasa. Kenapa? Karena dulu, saya pernah memusuhi anak gadis ini. Saya benci pada anak gadis ini karena saya dulu mengira bahwa dia adalah anak perempuan yang suka pacaran dan anak gadis yang malas belajar. Tapi memang saya heran, gadis ini tidak pernah menghindar ketika bertemu dengan saya. Selalu mengucapkan salam meski pun saya hanya membalasnya dalam hati.
“Dan dia tidak pernah bermain-main ketika saya sedang mengajar, dia menulis semua yang saya katakan dan selalu mengerjakan tugas dengan baik. Saya memberikan nilai yang kecil karena hasil pekerjaannya memang sangat jelek. Ternyata, saya salah orang. Gadis itu bukan gadis yang suka pacaran dan malas belajar. Saya salah menilai penampilan seseorang. Dan anak saya sudah mencintai gadis itu dari sejak gadis itu masuk SMA kelas 1.
“Saya sendiri tidak mengerti kapan mereka berdua pernah bertemu. Tapi putra pertama saya itu bilang bahwa gadis itu adalah cinta pertamanya. Dan putra saya, karena cintanya, maka ia memilih untuk mengejar cita-citanya, kemudian mencari pekerjaan yang layak agar kemudian bisa ta’aruf pada gadis itu. Sayang seribu sayang, ketika putra saya melihat facebook gadis itu, gadis itu sudah berpacaran dengan orang lain.
“Tidak hilang akal, pacarnya masih anak kuliahan. Putra saya pun meneruskan mengejar pekerjaan yang layak agar bisa mencukupi kehidupan bersama gadis itu nanti. Tapi ketika melihat facebook gadis itu lagi, gadis itu ternyata ditinggal jauh oleh pacarnya. Putra saya tidak mau hilang akal, dia menginginkan gadis itu. Tapi saya bilang, jangan. Ketika seorang gadis berani untuk melepaskan kekasihnya pergi jauh, maka dia pun sudah menambatkan hatinya pada kekasihnya itu dan tidak akan berbalik pada siapa pun.
“Putra saya patah hati. Gadis itu adalah kobaran semangatnya selama ini. Saya tau pasti, butuh waktu lama agar hati putra saya itu sembuh, maka saya bilang pada anak perempuan saya, adik dari putra saya yang patah hati itu untuk menikah lebih dulu. Adik-adikmu datang kemarin ke pernikahan putri saya, kenapa kamu tidak?” Tanya beliau pada saya. Saya kaget, saya kira beliau akan terus bercerita hingga malam menjelang, karena beliau tidak memberikan jeda untuk saya berkomentar.
“Saya sedang ada acara film di Jakarta, Bu.” Kata saya bohong. Jelas bohong. Ibu saya menyuruh saya agar ikut, tapi saya menolak dan saya lebih memilih untuk nonton tivi di rumah.
“Putra saya berharap bisa bertemu dengan kamu lagi, seperti dulu saat kamu dan dia bertemu. Tapi mungkin suratan Tuhan juga bahwa kalian tidak bisa bersama.”
“Maksud Ibu, gadis itu saya?” Tanya saya. Saya tidak terlalu memperhatikan detil ceritanya, beliau selalu menggunakan kata ganti Gadis untuk menceritakan Dini di kelas, dan saya tidak merasa bahwa saya adalah si Gadis yang diceritakan oleh beliau.
“Iya. Siapa lagi? Cuma kamu yang tetap ramah sama saya padahal saya sudah jelas ketus sama kamu. Kamu tidak ingat putra saya? Putra saya bilang dia pernah ngobrol sama kamu waktu kamu baru masuk SMA.”
Saya menggeleng perlahan. Saya sama sekali tidak ingat kalo saya pernah ngobrol dengan anak dari guru yang dulu melakukan perang dingin sengit pada saya. Saya pun tidak pernah sedetik pun terpikir bahwa putra beliau yang jurusan kedokteran itu akan jatuh cinta pada saya. Saya memang sering mendengar beliau menceritakan putra-putra dan putrinya. Tapi saya tidak berpikir bahwa itu adalah sebuah undangan terbuka agar saya bisa membuka hati.
Sebenarnya, dua minggu lalu saya sempat membuka facebook putra guru saya itu. Saya memperhatikan foto profil, foto-fotonya lalu status-statusnya. Tapi hanya sekedar ingin tahu saja, tidak lebih.
“Jadi, bagaimana?” Tanya beliau.
“Apanya Bu?”
“Tetap pada pilihan kamu? Kamu tidak akan menyesal jika putra saya nanti dengan gadis lain?”
“Bu, jodoh sudah diatur Tuhan. Kalau memang berjodoh, kenapa saya dipertemukan dengan orang lain? Saya tidak mau kehilangan apel di dalam keranjang untuk mengejar apel di atas pohon. Saya tidak mau terjatuh dan saya memang tidak mahir memanjat.” Saya pun akhirnya mengutip kata-kata beliau ketika beliau dulu menceritakan tentang majas perumpamaan.
Beliau tersenyum lagi. Dan saya baru mengerti apa itu kesabaran dari putra guru saya itu yang bahkan saya tidak tahu namanya. Kesabaran itu bukan tentang seberapa lama menanti, tapi seberapa setia selama penantian itu. Ya, sebelum saya pura-pura jadi orang bijak, saya cukupkan sepenggal kisah hidup saya.

Jam Terbang


Kita ketemu ya besok, ada hal yang perlu kita obrolin.

Apa?

Aku butuh tau hal yang benernya.

Oke.

dan semalaman itu, saya menunggu datangnya pagi yang bergerak begitu lambat. Heran, kenapa malam seolah enggan lewat ketika saya sudah tidak sabar menunggu esok. Kemudian bergerak sangat cepat ketika saya butuh banyak istirahat malam.
hari yang saya tunggu tiba. Dan dia tepat berada di tempat janjian kami. Tersenyum melambaikan tangan agar saya tau pasti dia ada di sana.

Udah makan?

Udah.

Minum?

Udah.

Apa dong yang belum?

Nuntasin penasaran aku. Kamu mau tanya apa sih sebenernya?


Saat itu, bibirmu membentuk lengkung, membuat semburat senyum dan saya tau, saya habis dikerjai oleh rasa penasaran saya sendiri. Apa? Apa? Saya memburumu dengan pertanyaan.

Ngelurusin persepsi aja. Aku sayang sama kamu, dan kita bersahabat baik selama ini. Ya meskipun kita emang ga intens curhat tentang segala hal dikarenakan, satu: kamu udah punya pacar; dua: kita emang ga pernah curhat masalah ga penting. 

Terus?

Kamu udah ngelakuin kesalahan apa?

Banyak. Saya sendiri lupa berapa banyaknya.

Yang paling gede apa?

Yang paling gede ga berhubungan sama kamu atau orang-orang di sekitar saya. Itu masalah personal yang bahkan Tuhan pun kalo nggak ngintip langsung dalam hati saya, maka Ia ga bakalan tau.

Oke, ada masalah yang berhubungan sama manusia?

To the point aja, kamu pengen ngelurusin persepsi atau pengen tau semua masalah saya? Kalo dijabarin, kamu bakal keilangan jadwal masuk kuliah kamu.

Apa bener kamu... 

Dia menulis dengan cepat di selembar kertas yang baru saya sadari sudah dia siapkan bahkan sebelum saya datang. Kemudian dia menutupi seluruh hasil tulisannya. Menatap saya, menunggu reaksi yang muncul karena saya sempat mengintip dia menulis kata 'marah', 'meninggalkan' dan 'gunung'. Dia membenarkan letak duduknya lalu mendekatkan tubuhnya ke arah meja, menggeser kertas itu perlahan ke arah saya. Saya cepat menyentuh punggung tangannya agar dia berhenti menggeser kertas itu. Kemudian saya tersenyum, akhirnya rasa penasaran saya tuntas.

Saya menyayangi kamu juga. Rasa sayang saya, bukan hanya ketika melihat kamu tersenyum atau membuat saya senang saja. Saya sayang sama kamu, tetap, meski pun kamu tiba-tiba berubah marah, menyebalkan bahkan kamu sering nggak bales sms dengan alasan ga punya pulsa. Saya tetap sayang sama kamu. Saya memang tidak bisa mengharapkan kamu akan sayang sama saya ketika saya marah atau ketika saya menyebalkan. Tapi, saya adalah saya yang kamu liat di hari pertama kali kita ketemu. Ketika perbedaannya hanya saya bisa mengucapkan ratusan kata dalam 5 menit dan dulu hanya 10 kata dalam setengah jam, anggaplah saya memang sedang tidak mood untuk bicara banyak-banyak.

Aku tau, kamu memang bukan orang yang kayak gitu. Jadi, alasannya apa?

Kamu pernah denger saya mengeluhkan rasa sakit nggak?

Aku mengerti.

Saya bersahabat dengan kamu, di awal pertemuan, saya tidak mengharapkan untuk jadi sahabat kamu. Saya hanya berusaha menjadi orang yang baik untuk kamu tapi tetap jadi diri sendiri. Saya menghormati keputusanmu untuk menjadi orang yang super annoying, dan kamu pun menghormati keputusan saya untuk menjadi orang yang diam. Selesai. Itu jawaban saya untuk segala persepsi orang yang mengganggu pikiran kamu. Ketika saya dinilai tidak cukup baik untuk orang lain, pikirin aja sama kamu, kemungkinan kejahatan yang jauh lebih besar yang bisa saya lakukan tapi nggak saya lakukan.

Yes, itu baru sahabat aku. Udah ini mau kemana?

Nonton gratis yuk di GIM?

Emang ada?

Ada.

Saya tidak tahu dengan jelas mana yang kawan dan mana yang lawan. Saya hanya berusaha jadi kawan sekaligus lawan yang baik saja. Toh memikirkan penilaian orang terhadap saya tidak memperkaya diri saya. Tapi ketika saya menjadi baik atau tidak cukup baik, saya memperkaya diri saya untuk menjadi trending topic di pikiran orang itu.
Bicara jam terbang pertemanan, persahabatan, pacaran, itu sama sekali tidak berpengaruh pada kualitas hubungan itu sendiri. Saya punya ruang spesial untuk semua orang di dalam hati saya. Dan kalian boleh memilih keluar jika memang tidak mau ada di sana lagi.
Saya nggak ngerti sama orang yang menilai pertemanan dari jam terbang. Are you a pilot?

balada kornet, sarden, emih...


Banyak hal yang berubah.
Salah satunya, eh bukan, banyaknya adalah kebiasaan jelek aku.
Sebelum pulang dari Semeru, aku masih makan mie 2 bungkus sendirian pake telor terus ditambah nasi + kornet. Edan, emang, aku juga ga ngerti kenapa kalo lagi laper, aku suka kalap. Dan kalap aku waktu itu ga bikin berat badan aku nambah. Yeah, krisis berat badan sejak Juni 2012. Entah kenapa berat badan aku yang dulunya 45 kilo tanpa naik apalagi turun berubah jadi 42 sampe 40 kilo.
Setelah pulang dari Semeru, engga sih, tepatnya setelah nginep malem kedua, di Ranu Kumbolo, aku ngerasa badan aku menolak keberadaan sarden. Aku pikir wajar, agak amis-amis gitu kan? Ternyata pas di Kalimati, aku jadi enek banget sama Kornet & Emih. EMIH? EMIIIHHH... Serius, jurig emih bisa illfeel sama emih?
Dan aku pengen muntah nyium bau emih, emih kuah lebih spesifiknya. Ini hampir 4 bulan aku ga nyentuh kornet sama sarden. Kalo pagi-pagi Ibu aku bikin sarapan nasi goreng pake kornet, aku ga pernah makan nasi gorengnya. Ada raut kecewa di wajah Ibu aku, tapi aku sendiri ga bisa ngilangin rasa mual di perut aku. Aku serius mau muntah kalo nyium bau kornet atau sarden.
Predikat jurig emih harus aku sabet lagi, dan emih pertama yang aku makan adalah emih gelas setelah 3 minggu pulang dari Semeru. Waktu itu, pas lagi nyedot-nyedot sulur emihnya, tiba-tiba aku pengen muntah, padahal mulut udah penuh sama emih yang siap masuk kerongkongan. Akhirnya, aku minum air sebanyak-banyaknya dan memaksa emih yang ada di mulut aku untuk ditelen sama air. Setelah itu, lambung aku sakit.
Sampe detik ini aku belom berani makan emih kuah, dan satu-satunya emih yang mau aku makan adalah emih goreng rasa rendang, selain itu aku tetep mual. Malem ini, barusan, Ibu aku ceritanya bikin pizza gitu. Aku seneng, tapi berubah enek lagi ketika tau di atas pizza itu bertabur sekitar 300 gram kornet. Ga tega bikin Ibu kecewa, aku paksain makan, dan tubuh aku merinding...
Aku belom pernah alergi sama makanan yang (dulu) aku suka. Aku pengen rebutan bagian tengah pizza kayak adik-adik aku, tapi aku sadar, makin ke tengah, makin banyak lagi kornetnya. Percaya ga percaya juga, aku ngeliat kaleng sarden aja pengen muntah.
Emang, sesuatu yang berlebihan itu ga baik. Sampe hari ini, aku belom nyobain emih baso lagi... Aku lupa rasanya baso.
Sekarang, kalo ga makan sehari 4 kali, aku terancam ga bisa pake celana panjang/ rok lagi di rumah karena semua kedodoran. Baca blog temen aku yang berat badannya lebih parah dari aku, aku ngeri. Aku ga mau disebut anak SMA atau anak SMP yang lagi mabal. Aku ga mau disebut anak semester 1. PISSSAAANNN...
:(
Tapi Ibu aku bilang, yang penting akunya ga sakit. iyah, aku ga sakit, tapi aku jadi gampang kedinginan, lemak aku ararilang :(

Beda ketika pacaran dan sesudah menikah

1. Kepeleset
Pacaran: ops hati-hati beibh, sambil merangkulnya. :)
Menikah: makanya hati-hati, mata ditaruh di mana?

2. Nonton dibioskop
Pacaran: ngantuk beibh, sini kepalanya rebahin aja di bahu abang. :)
Menikah: ngantuk? Kalo mau tidur di rumah aja, ayo pulang...

3. Sakit
Pacaran: biar abang temenin, abang selalu ada di samping kamu beib...
Menikah: lebay banget sich lo... Segitu aja sakit!

4. Laper
Pacaran: ya nanti abang anterin makanannya ya beibh...
Menikah: makan sono, manja banget sich lo !!!

5. Beli pakaian
Pacaran: biar abang yang bayarin beibh. :)
Menikah: belanja mulu lo, lo kira gampang apa cari duit!

6. Boncengan dimotor
Pacaran: dingin ya beibh, peluk abang aja. :)
Menikah: makanya bawa jaket, dongo banget sich lo!

7. Minta anterin
Pacaran: biar abang aja yang anterin beibh...
Menikah: lo kan bisa pergi sendiri!

8. Makan sepiring berdua
Pacaran: karena romantis.
Menikah: karena susahnya hidup hahaha.

9. Makan di luar
Pacaran: di Cafe.
Menikah: di Warteg.

10. Kebelet pipis
Pacaran: dianterin dan ditungguin ke Wc VIP.
Menikah: sono ke Jamban pinggir empang, biar gratis.
 
Funny, ketika emang dibaca pas otak lagi rada mengsle. Tapi kalo diperhatiin, jirr, serius cewek kalo udah nikah cuma dijadiin babu doang buat suaminya? Yang bisa seenaknya dipanggil lebay, manja, dongo bahkan dianggep kayak budak belian yang bisa diperlakukan seenaknya.
Funny? Think twice deh kayaknya. Aceng Fikri aja yang mengumpamakan milih istri kayak beli baju aja banyak yang protes, apalagi dengan guyonan di atas? THAT'S NOT FUNNY AT ALL. 

"urang nyesel nyarita ka kamu."

image
"Urang nyesel nyarita ka kamu."
Aku sungguh berpikir bahwa, kau adalah si orang lain, yang satu-satunya, mau, bisa dan akan selalu; nya-man bersamaku.
"Urang nyesel nyarita ka kamu."
Hingga sebuah godam yang sangat-sangat-sangat besar menghantam dadaku. Lalu yang kurasakan adalah aku jatuh.
Aku percaya ada waktu bahagia untuk kita. Akan ada pelangi setelah petir dan badai, dan aku tidak butuh cetar membahana untuk mempercayai itu semua.
A-kan-a-da-su-a-tu-sa-at-nan-ti.
Tapi.
"Urang NYESEL nyarita ka kamu."
Kau minta sabar, aku beri. Kau minta mengerti, aku beri. Kau minta jantung pun aku beri. Ya, seperti katamu, meski pun tidak bisa kuberikan dengan tanganku sendiri. Tapi nyawa itu bukan ada di jantung.
Dan aku kehilangan nyawaku.

review ALVIN AND THE CHIPMUNKS 4 Chipwrecked

image

Director: Mike Mitchell

Stars:Justin Long, Matthew Gray Gubler and Jesse McCartney

Alvin and the Chipmunks. Sebenernya aku kurang seneng sama film jenis kayak gini, kenapa? Soalnya aku berasa kayak bayi yang lagi diboongin kalo bulan itu bisa ditangkep dan disimpen di dada kayak lagu "Ambilkan bulan Bu." Hehe.Tapi santai aja, aku sih tetep ditonton selama alurnya asik dan ga ngebosenin.
Film ini punya sisi lucu yang buat aku berpikir bahwa kelucuannya itu lebih deket ke kata tolol dari pada menyenangkan. Dave, seorang manusia, manajer dari boyband Alvin and the Chipmunks, dan Dave ini menganggap kalo Alvin, Simon sama Theodore adalah anaknya. HAHA! Sesayang apa pun aku sama binatang atau tumbuhan, aku ga pernah berpikir bahwa dia itu adalah anak aku. :p Tapi karena target dari film ini bukan penonton seusia aku, jadinya aku memaklumi, memaklumi ketololannya. Hehe.
Selain itu, kenapa harus naik kapal pesiar untuk nyampe ke tempat penghargaan musiknya? Kenapa kagak naek pesawat aja? Nah, sebelum aku mulai berkicau dan sok-sok-an jadi pengamat film yang baik, lebih baik aku mulai nyeritain gimana sebenernya film Alvin and the Chipmunks itu.
Ceritanya dimulai ketika Alvin dan temen-temennya mesti ikut ke acara penghargaan musik gitu. Dan mereka berangkat naik kapal pesiar. Seperti biasa, Alvin selalu bikin masalah dan masalah yang dia bikin juga selalu bikin Dave kehabisan kesabaran. Pendek cerita, Alvin akhirnya dihukum sama Dave karena tingkah kekanak-kanakan dan kenakalannya.
Meski pun dihukum, Alvin tetep nakal, dia menyelinap keluar kamarnya terus pergi ke pesta gitu dan kenalan sama cewek-cewek cantik. Dan ketika Dave tau, udah jelas dia marah. Dave akhirnya ngebawa mereka keluar untuk hanya boleh main permainan sejenis hockey gitu. Tapi Alvin tetep nakal, dan dia minjem layangan punya anak kecil di sana dan dia naik ke layangan itu terus berlaku seolah dia lagi naik paralayang. Awalnya ga apa-apa, meski pun Simon udah ngingetin kalo mereka ga boleh main itu karena itu bahaya.
Sayangnya dan beruntungnya, Alvin ga mau denger. Akhirnya, ketika angin kenceng, temen-temennya ga mampu lagi nahan Alvin, Simon sempet ngiketin tali layangan itu ke kursi malasnya Dave. Sayangnya kursi malas itu malah ikut kebawa sebelum akhirnya lepas dan ngebawa para chipmuks itu ke negeri antah berantah.
Dave yang panik langsung nyari paralayang, sayangnya sempet dicegah sama Ian dan akhirnya, mereka terbang bareng sebelum akhirnya jatoh ke tengah lautan gara-gara mereka berantem terus.
Alvin dkk sendiri sampe di sebuah pulau dan nemuin Zoe, seorang gadis pulau yang sama-sama tersesat. Zoe nawarin tempat tinggal untuk para chipmunks. Pas mau turun dariflying foxbikinan Zoe, salah satu chipmunks perempuan, Eleanor, jatoh dan kakinya terkilir. Setelah itu, Simon digigit sama laba-laba beracun yang merubah Simon jadi Simone dan bergaya prancis.
Dave sama Ian akhrinya sampe di pulau yang sama dengan Alvin dan mereka nyariin Alvin di pulau itu. Ian, yang di beberapa episode sebelumnya jahat, di episode ini jadi baik dan mau ngebantuin Dave untuk nyari si Chipmunks meski pun berusaha ngeracunin pikiran Dave untuk lebih baik menikmati uang asuransi jiwa dari para chipmunks. Tapi Dave tetep menolak.
Alvin sendiri, karena ngerasa temen-temennya berubah langsung jadi chipmunk yang bertanggung jawab, dia bikin rumah gitu untuk temen-temennya. Sedangkan Simon yang berubah jadi Simone jadi chipmunk romantis banget dengan gaya prancis ngedeketin si Jeanette.
Brittany akhirnya sadar kalo pulau yang mereka tinggali itu punya gunung volkano yang aktif dan siap meledak. Brittany nyoba ngasih tau temen-temennya, sayangnya Zoe, yang ternyata bukan terdampar, tapi sengaja dateng ke pulau itu untuk nyari harta karun malah nyandera Jeanette untuk ngambil harta karun di dalam gue dibalik air terjun.
Dave akhirnya nemuin Theodore sama Simone di jalan. Waktu itu, Simone masih lupa ingatan. Mereka akhirnya sepakat untuk bikin perahu untuk ninggalin pulau itu. Setelah perahunya jadi, mereka baru sadar kalo si Jeanette itu ilang sama Zoe. Simone pingsan dan setelah bangun kembali jadi Simon. Mereka pun nyari Jeanette.
Setelah ketemu, mereka akhirnya ninggalin pulau itu. Dan Zoe dapet pelajaran berharga dari Ian, bahwasanya, perasaan iri, dengki, kebencian, semua itu bersifatconsumed, mereka menggerogoti kebahagiaan dan kesenangan. Tapi ketika mampu ngelepasin perasaan iri, dengki dan kebencian, semuanya terasa indah dan dunia ini bisa dinikmati.
Saat mereka terombang-ambing di kapal, mereka saling meminta maaf dan akhirnya mereka ditolong sama tim SAR terus mereka nyanyi weh di acara penghargaan musik. Mereka nyanyiin laguBorn This WaysamaFireworks. Di akhir cerita, di pesawat, Alvin lagi-lagi bikin onar dan Dave pun berteriak untuk yang kesekian kalinya, "ALVIN!!!"
Nah, buat aku mah anti-klimaks dari film ini terlalu gampang. Ga asik! Hehe. Pas Ian ngasih pelajaran lewat kata-kata ke Zoe, itu bentuknya doktrinase doang, bukan dalam sikap riil dan buat aku, film ga seharusnya ngejelasin doktrinnya secara jelas, cukup tersirat aja. :)

review ICE AGE 4

image
ICE AGE 4. Nah, kalo tadi aku males bahas Mozart's Sister, kali ini dengan senang hati aku mau bahas tentang Ice Age 4. Dan aku baru tau kalo film ini baru premier 2 Januari 2013 kemarin. Nah aku udah nonton bajakannya dengan full HD dan transletnya bagus banget. :D yah meski pun transletnya itu bahasa Inggris, tapi seriusan, aku merasa puas dengan videonya, seriusan bagus banget!
Ice Age 4 ini dimulai ketika Manny sama Ellie (Mammoth raksaksa) udah punya anak yang dikasih nama Peaches, si Peaches ini adalah setengah Mammoth dan setengah lagi Opossum. Penasaran kan? Makanya nonton deh! Hahaha.
Peaches ini ceritanya udah jadi mammoth remaja yang lagi puber dan pengen ngedeketin pejantan yang cakep, namanya Ethan. Ayahnya (Manny) jelas ngelarang, dia ga suka kalo Peaches ini berpetualang. Nalurinya sebagai seorang ayah bekerja dengan sangat baik, over protektif, tepatnya.
Ketika mereka lagi berantem, muncullah keluarganya si Sid yang dengan sengaja mau ngebuang neneknya Sid yang cerewet abis. Mereka pura-pura kangen sama si Sid terus akhirnya mereka pergi ninggalin si neneknya untuk dijagain sama si Sid. Ketika mereka lagi sibuk berantem masalahin neneknya si Sid, Peaches ini pergi lagi nyamperin si Ethan.
Baru aja si Peaches nyamperin Ethan, Manny udah muncul terus marahin si Peaches di depan temen-temennya. Peaches ngerasa malu banget dan bilang bahwa dia lebih baik ga punya ayah. Dan ketika kata-kata itu terlontar dari mulut Peaches, tiba-tiba gempa bumi dateng dan terjadi longsor. Akibat longsor itu, Manny, Sid, Diego, neneknya si Sid itu berpisah dari Ellie dan Peaches yang masih ada di daratan. Mereka terdampar di bongkahan es sampe ke tengah laut.
Di tengah laut, setelah badai, angin topan dan cobaan lain, mereka akhirnya ketemu sama kapalnya kapten Gutt. Sebenernya ga bisa disebut kapal juga, soalnya itu sama-sama bongkahan es. Nah kapten Gutt ini adalah seekor gorilla, dan mereka adalah bajak laut.
Si Manny dan kawan-kawan akhirnya ditawan sama si kapten Gutt, awalnya mereka mau diceburin ke dalam laut yang penuh ikan hiu, tapi akhirnya berkat trik dan umpan satu-dua yang baik dari Manny dan Diego, mereka ga jadi diceburin ke laut. Malahan akhirnya kapal si kapten Gutt rusak dan mereka kembali ke bongkahan esnya itu.
Pas kapal kapten Gutt berlayar, ada satu awaknya yang ketinggalan, yaitu Shira, macan cantik yang masih satu spesies sama Diego. Mereka akhirnya berlayar ke sebuah pulau. Pas nyampe di pulau itu, Shira tiba-tiba lari dan dikejer sama Diego. Akhirnya, ketemulah kapal barunya si kapten Gutt. Dan Kapten Gutt ini pengen balas dendam ke Manny karena mereka udah ngancurin kapal kapten Gutt.
Setelah ada pertarungan sengit, akhirnya kapal Kapten Gutt itu bisa diambil sama Manny dan dipake berlayar untuk nemuin Ellie sama Peaches di daratan lain. Di tengah jalan, mereka ketemu monster laut, monster laut ini mungkin kayak Putri Duyunglah, tapi mereka beneran monster, mereka bisa menjelma jadi apa pun, bikin halusinasi, nanti kalo korbannya ngedeket, mereka ngebunuh si korbannya itu. Untungnya, Manny itu sadar ketika bayangan yang dia liat adalah si Ellie dan Ellie bilang, "Manny kamu benar, kamu selalu benar."
Manny tiba-tiba sadar dan ngeuh kalo Ellie itu ga akan pernah bilang Manny bener. Kenapa? Karena Manny sama Ellie itu sama-sama egois dan sama-sama ga mau kalah. Dan itu bagian yang aku suka dari film Ice Age 4. Ketika udah mengenali pasangan, maka ada perubahan sekecil apa pun pasti ketauan. Dan aku yakin Ellie sama Manny itu pasangan yang saling jujur, soalnya kalo ga jujur, gimana mau tau kepribadian masing-masing?
Manny langsung ngebawa kapalnya ngejauh dari tempat monster laut itu. Film Ice Age itu menarik karena selalu ngebawa tupai purba yang selalu berburu kenari. Dan di setiap episode Ice Age, tupai itu cuma bisa sesaat menikmati keberadaan kenari di sampingnya dan dia ngabisin waktu lama untuk mencari biji kenarinya itu. Ketika tupai purba itu ngejer harta kenarinya, dia papasan sama si monster laut juga. Monster laut itu pertama berubah jadi tupai cewek cantik, lucunya, si tupai purba itu sama sekali ga tertarik dan dia lebih milih meneruskan perjalanan. Ketika monster laut berubah jadi kenari, barulah si tupai purbanya tertarik.
Hahaha. Nah itu, pria itu digoda sama 3 hal, harta, kekuasaan sama wanita. Dan ga ada satu pria pun yang bisa menolak salah satu dari tiga godaan itu, atau bahkan ketiga-tiganya bercampur jadi godaan mahadahsyat di lubuk hati pria. :p
Ketika Manny sampai di home bridge, ataumeetingpoint untuk ketemu sama Ellie dan Peaches,Home Bridge udah runtuh dan Manny nemuin kapten Gutt sedang menyandera anaknya, Peaches. Akhirnya pertarungan dimulai lagi, lebih seru karena ternyata neneknya si Sid ini punya peliharaan yang dipanggil "precious" yaitu seekor paus.
Setelah Peaches berhasil diselamatin, giliran Ellie yang disandera. Dan Peaches beraksi, dia ngeluarin jurus setengah mammoth setengah opossum-nya untuk ngelawan si kapten Gutt dan dia menang. Akhirnya, mereka semua mencari daratan baru untuk tempat tinggal.
Nah, kisah lain muncul dari si tupai purba, dia nemuin Stratlantica, kota kenari untuk kaum tupai. Saking senengnya, dia ngambil semua kenari yang ada di sana tapi kemudian berhenti ketika nemuin satu kenari raksaksa di tengah Stratlantica. Pas dia mau nyabut kenari itu, si tupai raksaksa dikasih tau kalo itu adalah 'pengganjel' biar Stratlantica tetep ada dan jadi pulau. Tapi karena saking pengennya sama kenari itu, si tupai purba nyabut kenari raksaksa itu dan semua air yang ada di sana kesedot ke dalam tanah dan ninggalin si tupai purba itu di sebuah tempat kering yang namanya padang pasir.
Film ini sungguh sangat sangat sebuah hiburan untuk aku yang 2 hari kemarin movie marathon nonton Hwang Jin Yi. Di bagian awal filmnya pun bagus banget, nyeritain si tupai purba yang masuk ke dalam inti bumi. Dan itu sulit untuk dijelasin sama kata-kata. Untuk para pembaca, aku saranin banget untuk nonton film ini. Selain menghibur, film ini juga punya alur cerita, visual effect, musik dan gambar yang bagus.

Directors: Steve Martino, Mike Thurmeier

Writers: Michael Berg (screenplay), Jason Fuchs (screenplay), many more.

Stars: Ray Romano, Denis Leary and John Leguizamo many more.

Aku sungguh berharap bisa bikin film kayak gini juga. Haha. Yah sederhana aja dulu, ga usah yang muluk-muluk. :)






review Mozart's Sister

image
By Stephanie Merry
Friday, Nov 04, 2011
Long before bands traveled from one stage to the next via tour buses, there were musicians doing the same with horse-drawn carriages. Leopold Mozart, one of history's most infamous stage dads, was among those facing the elements to herald his young son's prodigious abilities.
But that wunderkind wasn't the only talented family member, and "Mozart's Sister" gives Wolfgang's older sibling, Maria Anna (nicknamed Nannerl), her due.
Rene Feret's fictionalized account of Nannerl's adolescence turns out to be a lush, if overly long, account of the family's relationship and the young girl's arguably wasted natural abilities. It's an ultimately tragic tale about a victim of the male-dominated system.
As the French film opens, the Mozarts find themselves stuck in the road, due to a broken axle. This leads to an auspicious pit stop at a nearby abbey, where the permanent residents turn out to be none other than Louis XV's daughters. Nannerl forms a close friendship with the youngest girl, Louise, before the family moves on to Versailles to perform.
In a Shakespearean twist, Nannerl ends up dressed as a boy and performing in front of Louise's brother, the recently widowed dauphin, heir to the throne. The pair form a kinship based on their shared love of music, which persists (even as it becomes romantically complicated) once Nannerl's true identity is revealed. It's a man's world, and yet the young royal requests that the girl send him original musical compositions.
While Leopold dedicates himself to Wolfgang's flourishing musical career by giving Nannerl's scamp of a younger brother extensive lessons in composition, he refuses to do the same for his daughter. Even as a self-taught composer, though, Nannerl excels.
But given her lot in life - both as a woman and one of low birth - her talent only goes so far.
"Mozart's Sister" feels like a rococo reverie. The film was shot inside Versailles, which borders on the best sensory overload when you factor in the gorgeous classical soundtrack. Stunning lead actress, Marie Feret (daughter of the director) has perfected the staid look of longing, leaving her ambivalent desires to please her father and satisfy her own musical cravings eternally evident. It all adds up to a satisfying period drama, right down to the characters 'politely restrained emotions.
Feret's script tends to include more than it needs to - both of the Mozart children become extremely ill at various points, which doesn't further the plot so much as extend the running time - yet the writer-director excels at revealing personalities through telling moments. When Louise asks Nannerl to take and dispose of a book filled with debaucherous accounts, the girl does as she's told, obediently throwing the offending material into a fireplace without sneaking a peek. And while Leopold is often portrayed as a bully, he shows up as a more nuanced character.
Just as the musically inclined family slowly made its way across Europe, "Mozart's Sister" is a meandering but transporting journey, which offers glimpses of a world as resplendent as it is stifling.
Jujur aku males ngereview film ini. soalnya buat aku mah terlalu slow pergerakan filmnya, dan aku keburu pengen megang hape, ngecek sms, ngapdet status atau ngambil minum. jadi makin weh aku ga bisa konsen sama inti filmnya. tapi sedikitlah aku ceritain tentang apa ini filmnya.
Film ini secara garis besar nyeritain seorang gadis, namanya Maria-Anna atau dikenal dengan nama Nannerl Mozart. Nannerl ini adalah kakaknya Wolfgang Amadeus Mozart. Siapa Wolfgang? Oke, buat yang ga up to date sama siapa itu Wolfgang, Wolfgang itu yang bikin lagu FIGARO FIGARO yang dipake di salah satu film tom & jerry gitulah. kalo aku pribadi sih kenal sama Wolfgang ini dari ayodance, dimana lagunya "amadeus" adalah lagu favorit aku di game ayodance. :p
Nannerl ini menurut aku mah sama berbakatnya kayak si Wolfgang, cuma saat itu, anak umur 7 taun yang bisa bikin komposer lagu itu kan WOW banget, jadilah si Wolfgang ini yang terkenal. Padahal kalo sekarang, ada film August Rush. Dan kalo disuruh milih, aku lebih suka August Rush dari pada Mozart's Sister. Soalnya alur ceritanya lebih menantang dari pada film Mozart's Sister sendiri. :)
Nah, si Nannerl ini jatuh cinta sama pangeran Louis, sayangnya pangeran Louis ini mesti menikah sama Maria-Joseph, putri dari kerajaan lain. Kalo di film sih si pangeran itu menolak dan ga berhubungan dengan si Nannerl kecuali satu ciuman di jidat sama bibir. HAHA!
Perselingkuhan pun tercium dari jaman baheula-na. Dan menurut sejarah yang aku baca,the realNannerl ini adalah selingkuhannya si pangeran sampe mereka punya anak 2 dan akhirnya si Nannerl menikah dalam usia 77 tahun sama orang lain.
Ya, sejarah bisa dibolak-balik, tapi mereka ga bisa menyumpal saksi mata, telinga dan tangan dari kejadian yang menurut aku mah memalukan itu. Dan untuk film itu, aku benci banget sama si pangeran Louis. Kenapa? Soalnya dia teh pria yang ga tau diri banget, ya udah sih kalo udah punya calon istri mah ga usah lirik-lirik sampe bikin hidup orang lain menderita. Kalo ga suka, kenapa mau menikah? Kalo cintanya emang kuat, kenapa mau-maunya dipisahin sama pilihan orangtua? Ah eta mah sia weh nu hayang oge, ngarawu ku siku, dasar bejat. Hehe.
Dan aku tetep lebih suka sama August Rush, meski pun ceritanya ga jauh beda. Tapi seenggaknya August Rush masih mengajarkan kesetiaan meski pun ga bersama dan ga bisa bersama. :)