tidur
Heran sama badan aku. Kadang aku sama sekali gak ngerasa ngantuk berminggu-minggu sampe aku stres sendiri ngitungin detik yang aku lewatin tanpa ngerasa ngantuk. Aku normal apa engga yah, adalah pertanyaan aku setiap kali ngeliat orang tidur pules di mana pun dan kapan pun.
Tapi kadang juga aku bisa jadi sangat kebluk. Buktinya aku ngerasa pengen tidur mulu. Bahkan aku punya kecemasan sendiri kalo aku gak bisa tidur siang dan gak tidur 9 jam malem-malem. Aneh kan?
Kemaren, aku tidur cuma sejam sampe dua jam sehari selama semingguan sebelum aku mau syuting. Eh, sekarang pas deket mau syuting, aku malah pengen tidur yang banyak.
Kayak sekarang nih, aku sebenernya pengen banget tidur pules. Tapi inget mesti sahur, terus mesti nyiapin properti buat persiapan syuting, terus mandi, terus berangkat ke kampus, briefing masalah film sampe sore, terus terus terus terus.... aku stres! Jadinya gak ngantuk.
Apa gara-gara aku menganggap tidur adalah sesuatu yang sakral? Ya gak sakral gimana? Aku itu susah banget tidur pules. Lima menit sekali pasti bangun. Kalo di Korea tuh orang kayak aku udah pada bunuh diri saking stresnya gak bisa ngerasain tidur yang pules.
Semoga briefing hari ini gak nyampe sore, jadinya aku bisa tidur siang sampe maghrib. Haha.
sahabat laki-laki
Aku selalu berandai-andai. Bagaimana jika aku terlahir sebagai seorang pria. Lalu hidupku yang penuh larangan ini dan itu berubah menjadi kehidupan yang bebas dan menyenangkan. Bagaimana rasanya?
Selama ini aku sudah muak menjadi wanita. Dunia yang penuh dengan high heels dan bedak. Dunia yang penuh dengan rumpi dan gencet-gencetan. Selalu saja harus bersikap manis ketika bertemu sesama wanita. Aku tidak bisa bilang maneh dan anjing sesuka hatiku. Padahal, dua kata itu adalah dua kata yang selalu aku pikirkan ketika aku bicara pada sesama wanita, terlebih pada mereka yang tidak kusukai. Aku ingin memanggil mereka bebel atau goblog, sesuai dengan watak mereka. Sungguh.
Aku punya banyak teman pria, mereka semua baik dan aku suka kehidupan mereka. Tak ada yang mengeluh jika mereka berbagi secangkir kopi tanpa sikat gigi atau cuci muka dahulu. Juga tidak ada yang protes meski pun mereka tak mengganti pakaian berhari-hari. Dan panggilan maneh dan anjing itu seperti panggilan kesayangan pada sesama mereka.
Wanita itu bergerak dalam kata, tapi para pria bergerak dalam sikap. Mereka tak segan untuk mengepalkan tinju dan menonjok siapa saja yang berani mengganggu temannya, tak peduli temannya itu salah atau benar. Sedangkan wanita, mereka bertele-tele dalam kata, tindakan mereka nol. Dan memang wanita diciptakan untuk menjadi calon ibu yang cerewet.
Teman wanita yang benar-benar ada di sampingku untuk membimbingku, di depan untuk menunjukan arah yang baik dan di belakang sebagai pemberi tahu yang salah dan benar bagiku masih bisa dihitung dengan jari. Kemana wanita yang lain di dunia ini? Entahlah, mereka dengan dunianya, mungkin, dengan high heels dan etude-nya.
Kelaminku membatasi langkahku. Aku sering berandai-andai, bagaimana jika aku adalah seorang pria, apakah aku akan jadi best friend Furkon? Ataukah justru aku harus menjadi saksi bisu ketika Furkon justru mencintai gadis lain karena aku tidak terlahir sebagai wanita di hidupnya? *ceurik ngagogosok taneuh*
Yah, meski pun aku tetap seorang wanita dengan segalal keterbatasanku dan segala kekuranganku, jika harus kehilangan detik-detik berharga bersama keluargaku dan Furkon, aku tidak rela juga. Aku tidak mau ada gadis yang menggantikan aku di hati keluargaku dan Furkonku.
Biarlah gigi seriku ini menghalangi kata maneh dan anjing untuk para wanita yang tidak kusukai itu. Asalkan Furkon dan keluargaku tetap menjadi milikku seorang. Toh aku hidup bersama mereka yang kucintai, tidak dengan mereka yang membenciku.
Amin.
berharga
Kamu memang bukan satu lembar uang lima ribu rupiah di akhir bulan.
Bukan juga matahari yang menyinari bumi.
Tapi, kalau kamu tidak ada, rasanya dunia ini mendadak sepi.
Entah mengapa juga aku selalu merasakan efek slow motion saat kamu berada jauh dariku.
You're worthy but you never wanna know...
27 Juli 2012
1:15
Aku belajar bahwa tidak semua orang mau mendengarkan apa yang ada dalam isi otakku, ah bukan, bukan tidak semua orang, tapi semua orang. Semuanya tetap indah kalo lo tetap jadi diri lo, sepertinya kata itu salah besar. Dan aku sadar sekarang.
Ini hidup, bukan desktop komputer yang ada recycle bin-nya. Jadi, ketika semuanya disebut "buang", maka dibuanglah selamanya.
Ah sudahlah, toh hidup terus berlanjut.
Aku belajar bahwa tidak semua orang mau mendengarkan apa yang ada dalam isi otakku, ah bukan, bukan tidak semua orang, tapi semua orang. Semuanya tetap indah kalo lo tetap jadi diri lo, sepertinya kata itu salah besar. Dan aku sadar sekarang.
Ini hidup, bukan desktop komputer yang ada recycle bin-nya. Jadi, ketika semuanya disebut "buang", maka dibuanglah selamanya.
Ah sudahlah, toh hidup terus berlanjut.
melukis lagi
Tiba-tiba aku rindu pada sketch book-ku yang hampir dua tahun ini kutumpuk bersama buku-buku kuliah. Aku ingat, sekarang semakin banyak orang yang mendalami bidang melukis. Dan aku pun mengasah kembali kemampuanku itu. Aku kemudian memutuskan menggambar wajahku sendiri sebagai objeknya.
Sret sret sret. Hampir lima menit pensilku menggaruki permukaan kertas hingga akhirnya aku sadar bahwa gambarku sudah 50% selesai. Karena aku takjub pada hasilnya, aku langsung meng-upload hasil gambarku itu. Kemudian setelah adzan isya, aku kembali menggambar.
Guruku dalam melukis hanyalah insting. Aku tidak tahu bahwa harus menggambar lingkaran terlebih dahulu sebelum menggambar sebuah wajah, aku justru menggambar dari bagian yang kusuka saja. Seperti gambar ini, aku menggambar dari bagian yang entah dari mana, lalu kemudian aku mengarsir kesana kemari dan memberikan bayangan disana dan disini.
Hasilnya, aku pribadi puas. Cukup seperti ini saja.
it's about love
I though that my father is the only one in this whole universe that never feel in love to someone or something... Yeah, i just though.
Aku mengenal sosok Ayahku sebagai sosok yang sangat mandiri, berprinsip dan berwibawa. Entah mengapa aku selalu grogi untuk bicara dengannya, aku bahkan jarang bicara tentang topik yang penting dengannya. Aku bisa diam seharian jika beliau enggan mengajakku bicara. Karena entah mengapa, beliau kadang sedang sibuk memikirkan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa kujamah oleh otakku, hingga kadang dia tak mendengar apa yang orang-orang bicarakan. Meski pun begitu, beliau adalah Ayah terbaik di dunia ini.
Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana Ibuku mau menerima sosok pria yang begitu dingin itu menjadi suaminya? Bagaimana jika Ibuku punya masalah, apakah Ibuku memendamnya sendiri?
Aku sering mendengarkan cerita Ayahku tentang bagaimana dia mengasuhku saat aku masih bayi dan caranya membagi waktu antara memancing dan mengasuhku ketika Ibuku sedang mengajar. Berdasarkan ceritanya, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa aku dan memancing itu memiliki posisi yang sama penting di hidup Ayahku. Aku dan senapannya pun memiliki harga yang hampir sama di hidup Ayahku. Sometimes i though he doesn't love me, he loves his life more than he loves me.
Tapi, di usiaku yang hampir menginjak 22 tahun ini, Ayahku kemudian bertutur tentang pengalamannya. Bahwa dia pernah menjadi sosok pria yang rela mengantar kekasih hatinya jalan-jalan ke mana pun kekasihnya mau meski pun dia baru pulang kerja dan sangat lelah. Dia pun pernah menjadi sosok pria yang membelikan apa pun yang kekasih hatinya inginkan meski pun harus menguras tabungannya. Dia pun pernah menjadi sosok pria yang sangat takut kekasih hatinya pergi meninggalkannya. Dan wanita yang beruntung itu adalah Ibuku.
Pertanyaanku tentang bagaimana dan mengapa tiba-tiba luruh mendengar penuturan Ayahku. Rasanya aku mengenal sosok seseorang yang baru, orang yang namanya terselip di antara namaku, orang yang mencari uang untuk kebutuhanku, orang yang rela terjaga untuk menjamin tidak seekor nyamuk pun menyentuh kulitku.
Pantas saja kadang aku sering merasa kamalinaan ketika Furkon mengajakku jalan-jalan, rasanya aku selalu ingin mengiyakan tanpa pernah sekali pun menolak. Ternyata darah kamalinaan itu memang ada dalam diriku yang diturunkan oleh Ayah dan Ibuku. Aku yakin, seperti Ayahku dan Ibuku, aku dan Furkon pun suatu saat nanti pasti bisa menceritakan bagaimana seorang sarjana Biologi bertemu dengan sarjana Teknik Informatika dan menjalin kasih kepada anak-anakku. Amin.
Aku mengenal sosok Ayahku sebagai sosok yang sangat mandiri, berprinsip dan berwibawa. Entah mengapa aku selalu grogi untuk bicara dengannya, aku bahkan jarang bicara tentang topik yang penting dengannya. Aku bisa diam seharian jika beliau enggan mengajakku bicara. Karena entah mengapa, beliau kadang sedang sibuk memikirkan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa kujamah oleh otakku, hingga kadang dia tak mendengar apa yang orang-orang bicarakan. Meski pun begitu, beliau adalah Ayah terbaik di dunia ini.
Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana Ibuku mau menerima sosok pria yang begitu dingin itu menjadi suaminya? Bagaimana jika Ibuku punya masalah, apakah Ibuku memendamnya sendiri?
Aku sering mendengarkan cerita Ayahku tentang bagaimana dia mengasuhku saat aku masih bayi dan caranya membagi waktu antara memancing dan mengasuhku ketika Ibuku sedang mengajar. Berdasarkan ceritanya, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa aku dan memancing itu memiliki posisi yang sama penting di hidup Ayahku. Aku dan senapannya pun memiliki harga yang hampir sama di hidup Ayahku. Sometimes i though he doesn't love me, he loves his life more than he loves me.
Tapi, di usiaku yang hampir menginjak 22 tahun ini, Ayahku kemudian bertutur tentang pengalamannya. Bahwa dia pernah menjadi sosok pria yang rela mengantar kekasih hatinya jalan-jalan ke mana pun kekasihnya mau meski pun dia baru pulang kerja dan sangat lelah. Dia pun pernah menjadi sosok pria yang membelikan apa pun yang kekasih hatinya inginkan meski pun harus menguras tabungannya. Dia pun pernah menjadi sosok pria yang sangat takut kekasih hatinya pergi meninggalkannya. Dan wanita yang beruntung itu adalah Ibuku.
Pertanyaanku tentang bagaimana dan mengapa tiba-tiba luruh mendengar penuturan Ayahku. Rasanya aku mengenal sosok seseorang yang baru, orang yang namanya terselip di antara namaku, orang yang mencari uang untuk kebutuhanku, orang yang rela terjaga untuk menjamin tidak seekor nyamuk pun menyentuh kulitku.
Love isn't about going somewhere, not about giving a thing, not about being someone she likes, love's about how you can trust your lover... Cinta itu adalah tentang kamu yang memilih satu orang itu, hidup dan mati, satu kali memilih seumur hidup.Ayahku benar bahwa pilihan itu begitu banyak di dunia ini. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan menjadi sampel, teknik random sampling sample. Tapi tidak semua pilihan mau untuk kita pilih.
Pantas saja kadang aku sering merasa kamalinaan ketika Furkon mengajakku jalan-jalan, rasanya aku selalu ingin mengiyakan tanpa pernah sekali pun menolak. Ternyata darah kamalinaan itu memang ada dalam diriku yang diturunkan oleh Ayah dan Ibuku. Aku yakin, seperti Ayahku dan Ibuku, aku dan Furkon pun suatu saat nanti pasti bisa menceritakan bagaimana seorang sarjana Biologi bertemu dengan sarjana Teknik Informatika dan menjalin kasih kepada anak-anakku. Amin.
Kedelai Berulah, Tempe dan Tahu Korbannya
Ramadhan ini Indonesia, terutama Jawa Barat sedang diguncang perhelatan antara perajin Tahu-Tempe dan Pemerintah. Harga kacang kedelai yang meroket membuat perajin Tahu-Tempe mau tidak mau tapi mau menaikan harga hasil produksinya dan memperkecil ukuran dari produksinya. Akhirnya saya mengerti mengapa Ibu saya selalu senewen setiap kali pulang dari pasar. Dia selalu mengeluhkan ukuran Tahu dan Tempe yang semakin kecil dan harganya yang semakin melambung. Oh, ternyata inilah alasannya.
Perajin Tahu-Tempe berharap pemerintah bisa menekan harga jual dari kacang kedelai kepada para perajin sehingga perajin bisa berproduksi normal dan memperbaiki kesejahteraan hidupnya. Sedangkan pemerintah, diam seribu bahasa, tidak mau memberitahu bahwa sesungguhnya kedelai yang beredar di pasar Indonesia berasal dari impor. Faktanya, pertanian Indonesia tidak menghasilkan kedelai yang layak untuk dijual kepada para perajin. Well, kalau saya ditanya sumbernya dari mana, yang jelas saya bukan petinggi yang melupakan golongan bawah. Saya juga bukan golongan bawah yang selalu ingin melihat ke atas.
Menurut saya, demo yang dilakukan oleh para perajin Tahu-Tempe itu hanya merugikan mereka sendiri sebagai pedagang. Pertama, meski pun banyak yang menginginan Tahu-Tempe sebagai lauk makanannya, jika hal ini terjadi terus menerus, justru malah Pemerintah semakin asyik menggalangkan program "ganti nasi", yang sekarang dirubah menjadi "ganti kedelai". Kedua, jika konsumen sudah dibiasakan untuk makan jagung, kentang dan umbi-umbian lain, lalu melupakan Tahu-Tempe, siapa yang rugi? Pemerintah atau perajin Tahu-Tempe itu sendiri?
Mencari siapa yang bertanggungjawab atas kemahalan harga kedelai di pasaran seperti memendam kasura di daging sendiri. Sudah jelas kacang kedelai itu diimpor bukan diproduksi oleh dalam negeri, bagaimana mungkin harganya bisa diatur seenak dengkul Pemerintah? Kalau mau pintar, seharusnya para perajin Tahu-Tempe bekerjasama dengan para petani Kedelai. Di Islam pun diajarkan untuk Musaqoh, Muzaroah dan Mukhabaroh.
Bagi Anda yang belum tahu, mari saya beritahu. Musaqoh adalah kerjasama antara pemilik kebun (tanah) dengan petani penggarap, yang hasilnya dibagi berdasarkan perjanjian. Musaqoh ini hukumnya ja'iz (boleh). Rukunnya adalah :
- Pemilik kebun dan petani penggarap (Saqi).
- Pohon atau tanaman dan kebun yang dirawat.
- Pekerjaan yang dilaksanakan baik waktu, jenis dan sifat pekerjaannya.
- Pembagian hasil tanaman atau pohon.
- Akad, baik secara lisan atau tertulis maupun dengan isyarat.
- Pohon atau tanaman yang dipelihara harus jelas dan dapat dilihat.
- Waktu pelaksanaan musaqah harus jelas, misalnya: setahun, dua tahun atau sekali panen atau
- lainnya agar terhindar dari keributan di kemudian hari.
- Akad Musaqah yang dibuat hendaknya sebelum nampak buah atau hasil dari tanaman itu.
- Pembagian hasil disebutkan secara jelas
- Pemilik dan penggarap sawah.
- Sawah atau ladang.
- Jenis pekerjaan yang harus dilakukan.
- Kesepakatan dalam pembagian hasil (upah).
- Akad (sighat).
- Pada muzara’ah benih dari pemilik tanah, sedangkan pada mukhabarah benih dari
- penggarap.
- Waktu pelaksanaan muzara’ah dan mukhabarah jelas.
- Akad muzara’ah dan mukhabarah hendaknya dilakukan sebelum pelaksanaan pekerjaan.
- Pembagian hasil disebutkan secara jelas.
Sudah saatnya Indonesia berpikir. Sudahi saja demonya, sudahi juga mempermasalahkan siapa yang salah. Allah tidak akan merubah nasib dari seseorang jika bukan orang itu yang merubahnya. Kemiskinan bukan kutukan. Jika ingin mendirikan negara Islam, sudah sepatutnya dilakukan dari mulai menegakkan hukum-hukumnya, seperti hukum perekonomiannya. Jangan hanya ingin menegakan hukum Islam dalam hal pornografi saja. Cukupkan sekian membicarakan tentang artis porno dan video-video porno, toh di akhirat nanti kita dihisab masing-masing, yang penting sekarang adalah bagaimana hari ini kita makan dan bagaimana esok anak kita bisa bersekolah.
best thanks
Best thanks di hidupku, di duaribuduabelas ini, itu kuberikan pada Furkon. Secara tidak langsung, Furkon melebarkan kotak pertemananku. Aku mengenal ribuan orang karena aku mengenal Furkon, kata-kata ini sudah sering kuucapkan di setiap tulisanku. Tapi benar, ini adanya.
Kali ini aku memberanikan diri untuk membuat film dengan genre thriller, pembunuhan dan kehidupan malam. Sebenarnya aku sudah mendambakan membuat film seperti ini sejak lama, tapi aku terbatasi oleh kemampuanku. Aku tidak tahu bagaimana cara membuat efek darah, membuat efek luka, dan lain-lain.
Furkon mengenalkanku pada teman-temannya yang juara nasional dalam bidang artistik, anak-anak teater. Dan aku juga sudah sering mengucapkan bahwa aku sangat ingin ikut teater, sayangnya restu orangtuaku tidak jatuh pada bidang seni. Dan film ini, Yaa Rabb, terimakasih...
Aku ingin berusaha sekuat tenaga untuk film ini. Film yang menjadi dambaanku selama ini.
Sungguh, Furkon, jika aku tidak pernah mau untuk memberikan waktu untuk mengenalmu lebih jauh, aku pasti masih terkurung dalam lingkaran setan. Terimakasih sudah membentangkan jangkauan tanganku lebih jauh. Masihkah kamu ingat perbincangan kita di Pusdai tahun lalu? Kamu benar, aku punya potensi dan aku memang harus keluar dari lingkaran itu.
Dan teman-temanmu itu membuatku takjub.
Langganan:
Postingan (Atom)

