terimakasih, kedua orang tuaku, adik-adikku, Furkon dan seluruh keluargaku dan keluarga Furkon yang mendoakanku...
tak ada yang lebih baik dari ini. Rasanya, aku komplit!

selamat ulang tahun, Reorio!

"Selamat Ulang Tahun, Reorio."
Lalu dia menjawab, "Makasih, Killua."
Aku pun bertanya, "Masih ingat ternyata dirimu padaku."
Dia hanya tertawa kecil.

Aku dan dia sama-sama memudar dalam diam. Dalam jarak satu sekat.
Aku menjalani hidupku. Menemukan belahan Joker-ku. Dan dia menemukan Marina Teguh-nya.
Lalu mengurai sajak-sajak yang takkan terbaca olehnya. Di hatinya, dia pun mengukir cinta yang nadanya sudah sumbang, terlalu lama disimpan.
Ah, memang hidup ini begini, Reorio. Itu namanya cinta monyet.

Terimakasih, cantik!

Kau benci jika aku memanggilmu cantik. Tapi bagiku, kau tak hanya sekedar cantik-nya wanita. Bukan yang berpoles bedak dan bergincu merah di bibir. Kau punya kecantikan yang entah bagaimana, kubilang inner beauty.
29 Februari jelas bukan ulang tahunku. Kau pun tahu itu. Karena kau selalu mengingat ulang tahunku, bahkan sejak awal kita baru berkenalan.
"Selamat 29 Februari, semoga Allah memudahkan kita dalam segala urusan dan mimpi-mimpi indah kita. Amin." Katamu. Tak ada lilin harapan yang bisa kutiup karena memang bukan ulang tahunku, meskipun aku ingin kau ada di sini, nyatanya aku tidak meminta kau untuk kembali.
Kemudian aku mendapati sebuah hadiah darimu. Aku mati-matian bilang bahwa kau tak perlu memberiku banyak barang, tapi semati-matian aku menolak, semati-matian juga kau terus memberi.

Mimpi-mimpi indah kita. Aku cukup mendengar rencanamu yang begitu spektakuler untukku. Tentang rumahnya, dindingnya, kacanya, ladangnya, anak-anak yang akan berlarian mengitari meja makan kita nanti, segalanya.
"Terimakasih, cantik!" Kataku.

cemburu

Furkon.
Andai saja kamu tahu. Aku cemburu buta, inginnya merusak semua benda di hadapanku. Menyusulmu ke Sulawesi dan membunuh gadis-gadis di sana yang mengganggumu.
Furkon.
Aku bisa tertawa. Tersenyum tenang. Padahal aku di sini resah gelisah.
Tapi aku tahu. Aku harus mempercayaimu. Seperti kau mempercayaiku.
Biarkan sampah-sampah itu berkeliaran di depan matamu, mataku, tapi hanya kau yang ada di hatiku dan aku yang ada di hatimu.

Setiap detik yang kulewati di Jawa ini terasa penuh dengan omong kosong. Inginnya aku segera menyusulmu ke sana. Tak peduli lagi tentang apapun yang ada di Jawa ini.
Tapi, kau berusaha cepat lulus untukku. Kau melawan rasa malasmu mengerjakan skripsi demi aku. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Karena aku bisa mencintaimu dengan sabar, tak perlu terburu-buru dan diburu-buru. Untuk apa memburumu jika hanya aku yang kau tunggu?

 Hey Furkon, yaa habibi...
Aku mencintaimu karena Tuhanku, begitu pun aku mencintai Tuhanku, semuanya karenamu.

21021012

dermaga

Aku percaya bahwa hal baik datang pada saat yang tepat dan pada orang yang tepat juga.
Terimakasih, Tuhan, yang Furkon sembah lima waktu, waktu dhuha dan waktu malam... Terimakasih, Tuhan, yang menyayangiku dan memberikan segala macam nikmat yang tak jarang kuingkari bahkan kulupakan. Terimakasih, Tuhan yang memberikanku hidup dan merasakan jutaan rasa bahagia bersama orang yang pertama dan kuharapkan terakhir untuk kucintai, Furkon.


Tak terbayang akhirnya perahu yang berlayar sepanjang 20 tahun hidupnya tanpa henti akhirnya berlabuh di sebuah dermaga. Entah perahu itu disebut karam, tersangkut atau terjebak selamanya. Yang jelas kapal itu bilang bahwa dia enggan berlayar lagi. Enggan bertemu badai-badai palsu dan angin laut yang memabukan. Biarlah terdampar di dermagamu, kekasihku, selamanya.
Ada yang bilang bahwa aku adalah si dermaga yang menerima kapal yang kelelahan berlayar itu. Tapi bagiku, aku adalah kapal yang kelelahan berlayar. Aku mau dermaga yang ini saja. Yang sudah kusandarkan ini saja. Yang di bibir pantainya menjadi saksi perjanjian dengan ciuman dan pelukan.


aku merindukanmu, Furkon... segala hal tentangmu...

Aku hanya ingin duduk di sampingmu. Seperti beberapa minggu lalu saat kau masih di sini. Aku tak ingin banyak bicara seperti saat terakhir kita bertemu. Sungguh aku hanya ingin diam dan melihatmu saja. Aku ingin memandangi wajahmu saat kau tertidur dengan helm biru menempel di kepalamu dan tanganmu terlipat di dada.

Aku hanya ingin mencium bibirmu sedikit saja. Tidak lama seperti terakhir kali aku mencium bibirmu. Aku tidak ingin banyak mengunci bibirmu. Aku ingin mendengar kau bicara, banyak. Bicaralah, karena aku hanya akan mencium bibirmu, sedikit.

Aku hanya ingin memeluk tubuhmu saja. Merasakan detak jantungmu di dadaku. Aku ingin menghirup sedalam mungkin wangi tubuhmu dan menjejali lehermu dengan ciuman-ciumanku. Aku hanya ingin memeluk tubuhmu saja.

Aku tidak akan tidur saat kita sedang bersama. Aku janji. Aku akan menemanimu semalaman terjaga hanya untuk terus merasakan kehangatan tubuhmu.

Aku ingin kau di sini. Karena menunggu itu membosankan.

Stereomantic - Pergi Jauh

hari ini aku pergi jauh / melayari lautan yang biru / ‘kan kuberi kejutan untukmu / kekasih yang telah lama kurindu // apa yang ternyata terjadi / kau tak lagi mengenalku / wanita berparas sendu / telah bersanding denganmu / kumerasa sia-sia / begitu mahal harganya / mencari cinta yang kau curi dariku // hari ini aku pergi jauh / kau takkan pernah lagi kurindu

rindu


Di tempat KKN. Sebuah tempat yang baru. Yang tak pernah kusambangi sebelumnya. Bahkan memikirkannya pun tidak. Lalu aku berada di sini. Di tempat yang dingin. Membuat hidungku membeku. Dan hipotermia-ku kambuh.
Kopi yang kuseduh malam ini bercerita tentang ingatan-ingatan lamaku. Dan anehnya yang aku ingat adalah kalian.

Aku ingat saat menemani Rani bermain DDR di bulan puasa. Mendengar teriakan-teriakan galaunya sepanjang jalan atau jeritan yang tak sempat dia keluarkan. Mungkin kau tak berharap aku tahu. Dan aku pun tak berharap untuk tahu.
Dan entah mengapa, padahal aku tidak begitu dekat denganmu, Nezar. Tapi aku memberanikan diri mengetik sebuah sms, "Zar, lagi ada waktu gak? Aku mau curhat."
Purwa, aku merindukan saat kita berjalan jauh bersama. Diawali dengan lagu-lagu sumbang kemudian curhatan itu keluar begitu saja. Dan aku ingat terakhir kali aku bercerita padamu adalah saat aku pulang dari pernikahan Teh Siti. Ternyata jarak itu pun tidak begitu jauh untuk menguraikan ceritaku tentang si dia dan dianya.
Rukman, ceria rasanya ketika naik gunung sambil mendengar celotehanmu untuk si "kamu". Aku selalu malu ketika naik gunung murung sedangkan kamu selalu tertawa dan menebar senyum. Berbahagialah, karena kau pantas berbahagia.
Di bibir pantai Parangtritis, cerita tentangmu mengalir. Rasanya meskipun kita tidak menyukai pantai, tapi pantai punya daya magisnya sendiri. Membuka segala macam pintu, termasuk pintu hatimu.

Di tempat KKN. Masih perasaan yang sama. Kerinduan pada sosok kalian. Kerinduan pada sosok Furkon. Senyum ramah. Hangat peluknya dan wangi tubuhnya.
Kopi ini hampir habis tapi aku masih ingin bercerita. Sudah hampir jam 12, cinderella harus segera pulang. Dan ada sepasang kelopak mata yang harus ditutup.

26 Januari 2012

kehilangan




                Lucu rasanya ketika merasa kehilangan. Seperti mati saja. Aku selalu bertanya-tanya, apa dunia terus berlanjut ketika aku mati? Apakah akan ada yang merindukanku? Apakah ada yang akan merasakan bahwa aku hilang dari dunia ini?
                Aku tahu semua jawaban dari pertanyaanku adalah Ya. Dunia akan terus berlanjut meskipun aku sudah mati. Begitu juga hari ini. Sudah tiga puluh hari sejak Dia pergi meninggalkanku. Waktuku di sini terus berjalan. Juga waktunya di sana. Meskipun berbeda detik, menit jam dan hari, waktu terus berjalan.
                Akan ada seseorang yang merindukanku. Karena aku juga merindukan Dia yang pergi meninggalkanku. Biasanya aku selalu bisa melihat wajahnya. Mengganggunya dengan lelucon yang kudapat dari internet atau teman-temanku. Berebut tas atau menyuruhnya membuatkan minuman atau makanan untukku. Ya, semuanya terjadi seolah “biasanya”. Kali ini tidak. Aku tidak bisa lagi leluasa menatap wajahnya. Menatap foto tidak sama dengan menatap wajahnya langsung. Foto tidak berkedip, foto tidak tersenyum balik saat aku menyunggingkan senyum, juga foto tidak menghapus air mataku dengan tawa saat lelehannya sudah menggenang di bola mataku. Lelucon yang biasa kulontarkan kini kunikmati sendiri. Aku tak lagi berebut tas atau memintanya membuatkan makanan dan minuman untukku.
                Juga akan ada yang menyadari bahwa aku hilang. Karena seluruh jalan di Jawa ini terasa sepi. Jalan yang kususuri setiap sore ketika pulang dari kampus membawa ingatanku tentangnya. Saat aku naik vespa dengannya. Tempat-tempat yang pernah kukunjungi dengannya dan tempat yang akan kukunjungi dengannya berputar di kepalaku.
                “Jawa sepi.” Kataku berulang-ulang. Tapi aku tidak bisa bilang, “Ayo cepat pulang!”. Aku menikmati hari-hari ini dengan harapan bahwa waktu berjalan dengan sangat cepat. Nyatanya waktu terasa berjalan semakin lama.
                Dia hanya pergi meninggalkanku sejauh 28 cm di peta Indonesia. Tapi entah mengapa jarak 28 cm di peta terasa sangat jauh?


1 Januari 2012