sia-sia

Sering, aku merasa apa yang kulakukan sia-sia. Tapi baru kali ini ada bukti nyata bahwa yang kulakukan adalah sia-sia.

Buku kampus itu memandangku dengan aneh, aku lagi? tanyanya enggan. Aku tersenyum dan menjawab, ya... kau lagi, kau pasti bosan berurusan denganku, akupun bosan berurusan denganmu.
"Buku kampusnya satu a!" Kataku.
"Dua ribu." Kuserahkan selembar uang dua ribuan dan berjalan menjauhi tukang foto kopi di kampus, menimang-nimang si buku yang terus mengajakku bicara itu.
Masih belum menyerah? Tanyanya.
Tidak akan, takkan sesulit dulu. Jawabku.
Bagaimana jika lebih sulit?
Sudahlah kau diam saja! Kataku. Kumasukan si buku kampus itu untuk menghentikan pembicaraan dengannya.
Ya, dialah si buku kampus, kawan di tengah malamku yang panjang, yang kuajak berdoa sambil menggoreskan keletihan di tiap garisnya. Kuajarkan ia bagaimana cara menjadi buku yang baik, yang enak di baca, yang mudah di lihat dan tak membosankan. Kuajari dia cara menjadi si anak sopan tak punya harga diri, yang harga dirinya baru saja dijual di tukang foto kopi itu seharga dua ribu rupiah.

Aku menghempaskan tasku yang penuh sesak ke atas meja, menghela sejenak dan mulai membuka isi tas itu, kubuka si buku kampus, dia mulai tertawa. Ah kamar ini lagi! Katanya sambil tertawa lepas.
Jari telunjukku menyusuri buku yang kubeli beberapa minggu lalu, persisnya kuingat, saat itu aku harus memutuskan membeli buku kuliah atau novel kesukaanku, harga diriku juga sudah terjual, kujual di hadapan si pembaca yang biasa menawarku murah dengan nilai tujuh puluh dan itu adalah harga terbesar yang diberikan, maka kupilih buku kuliah dan mengucapkan selamat tinggal pada novel-novel.
Aku saja bernilai dua ribu. Seru si buku kampus. Aku menaruh beberapa tumpukan buku yang akan menguntai malam denganku di dekat si buku kampus.
Jadi aku kini menjadi si buku hitam? Tanyanya lagi. Aku tak mengacuhkannya, aku tak ingin mengotori pikiranku yang seputih salju ini oleh pikiran kotor si buku kampus yang butut dan berpengalaman itu. Aku pernah dimiliki oleh seorang mahasiswa serajin kau, ah tidak, bahkan lebih rajin, akhirnya dia terjatuh pingsan dan masuk rumah sakit selama hampir sebulan. Pernah juga aku menjadi saksi bisu seorang mahasiswi yang dilarikan ke UGD karena menemaniku semalaman. Tahun lalu juga aku menjadi teman sakit lambungmu, sakit kepala dan ginjalmu. Lupakah?
Sudahlah. Ini takkan menjadi seperti itu. Kataku.
Aku mulai menuliskan kata-kata itu, perlahan tinta hitamku mengisi baris-baris suci, dari satu baris menjadi satu paragraf, lembar dan halaman.
Kau akan berakhir dengan terbujur kaku memegangiku. Kata si buku kampus. Dia seolah mengancamku, seolah memperingatiku. Kau akan terbujur KA-KU. Katanya.
Tak kudengar jeritan si buku kampus itu hingga tadi siang, dia kembali ke tanganku. Kutelusuri bait-bait paragraf yang kutulis kemarin hingga tak tidur. Kosong?
Kemudian kudengar di balik pintu hijau, si pembaca bilang bahwa yang kulakukan sia-sia, dia takkan pernah menilai apa yang telah kukerjakan.

Si buku kampus benar, aku terbujur kaku. Sia-sia?
Lambungku mulai bergerak liar, menyatakan kemurkaannya.
Si buku kampus tertawa puas saat melihat mataku terbelalak menatapnya.

Kosong?
Untuk malam tanpa tidur itu nilaiku adalah kosong?
Untuk pengorbanan membeli buku ketimbang novel, nilaiku adalah kosong?

Kepalaku mendidih. Pandanganku seolah menggelap. Aku hanya ingin merobek si buku kampus! Ingin kumusnahkan semua buku kampus!!!



12 oktober 2010

lintah eksklusif

Aku bingung. mungkin karena aku terlalu bodoh memahami sebuah perasaan. Atau aku memang sengaja ingin buta atas perasaan yang tersirat?

Apa harus, meninggalkan teman lama dan memusuhinya untuk mendapatkan teman baru? Aku selalu belajar bahwa baju baru tak pernah seenak baju lama. Entah mungkin karena aku lebih suka buku dari pada baju ?

Aku tak mengerti, apa harus ada senyum berbalut luka disetiap tawa? Pagi ini kau menghampiri dengan senyum penuh makna, bicara dengan kata-kata halus seolah kita kawan lama yang terpisahkan, kemudian siangnya kau mulai bertingkah tak acuh seolah yang tadi pagi kau hampiri adalah kotoran, tak ingin kau sentuh sedikitpun. Sore hari, ketika perutmu lapar, pakaianmu basah, kau memintanya untuk membelikanmu makanan dan meminjamkan handuknya untukmu.

Ada perasaan menggelitik yang benar-benar mengganggu saat aku memperhatikan mereka. Rasanya aku ingin ikut campur dan marah, tapi aku adalah orang luar yang tak tahu keadaan di dalam, maka aku diam.

Berteman dengan mereka seolah memiliki beberapa sisi kepribadian, kadang baik, jahat, labil, kemudian kembali stabil, dinamis dan kembali statis... entahlah.

Seolah tak ada keinginan mempertahankan pertemanan, membiarkannya hancur, lapuk dan hilang, membara, tak terpisahkan kemudian kembali hancur. Seolah jika terjadi saling gigit antara teman, maka mereka akan membentuk arena yang pas untuk melakukannya. Atau ketika minoritas dijauhi, mereka membiarkan semuanya berjalan seperti itu.

Aku pikir aku ini kurang dewasa memaknai persahabatan, ternyata masih ada yang lebih buruk dariku.

Ketika aku menghentikan suatu pertemanan eksklusif, aku akan memulainya dengan menyadari bahwa dia berdampak buruk untukku, menjadikan proses metamorfoself-ku untuk menjadi kupu-kupu indah terhambat, maka aku menjaga jarak. Kemudian perlahan menarik diriku, karena takkan ada yang menyadari kehadiran dan kepergianku.

Tapi ini? mereka tetap berteman eksklusif, seperti lintah, menyedot hingga habis, ketika kenyang mereka tinggalkan dan ketika butuh mereka bergelayut.

Lintah, ya mereka lintah. Yang kutahu, seperti itu bukan pertemanan.



101010

"selamat ulang tahun"

Menit kelima di hari jadiku. Aku masih terus menatap jam tanganku sambil menunggu sms yang masuk. Tak ada. Tak ada yang masuk. Tak ingatkah? Tak ada ritual jam 12 tepat cinderella seperti biasanya. Tak ada untaian sms yang berusaha mengirim sms tercepat.
Menit ketujuh. Sebuah sms masuk, beratas namakan teman yang kukenal itu.

Aku tak ingin perayaan, dan aku bersungguh-sungguh saat mengucapkannya. Aku akan sangat marah jika seseorang melempariku telur atau menyiramku dengan air. Aku tak ingin hadiah, dan aku bersumpah tak menginginkannya karena kutahu, meminta seseorang untuk mengingatku saja itu sudah hadiah yang luar biasa.
Menit kesembilan, sms lainnya masuk, sebuah ucapan datang dari teman yang tak kukenal siapa, yang tak kusadari kehadirannya, dia asing bagiku tapi aku begitu dekat untuknya.

18 tahun aku hidup tanpa perayaan, tak pernah ada temanku yang tahu kapan hari ulang tahunku. Tak ada yang pernah mengucapkannya dan tak ada yang peduli. Hanya ucapan selamat dari adik-adikku, ibuku, dan ayahku, doa mereka sebelum mereka memotong kue di pagi hari atau ritual berpelukan sambil membisikan kata-kata doa. Aku kecewa saat salah satu adikku melupakan hari ulang tahunku, aku hanya ingin diingat.
Diulang tahunku yang ke-17, 3 orang yang mengaku sahabatku dengan lantang berkata, "Emangnya ada acara apa sih Ta? Kamu ulang tahun kan tanggal 1, 5, 12, 19 atau kapan gitu kan?"


Apakah permintaanku terlalu muluk-muluk jika aku hanya ingin ritual jam 12 itu? Diotakku terbayang nama-nama orang yang kuingat ulang tahunnya dalam otakku, setiap tahun selalu kuucapkan selamat ulang tahun untuknya, tapi mereka tak memperhatikanku.

Ketika aku berteman dengan seseorang, hal paling kecil yang bisa kulakukan adalah mengingat hari ulang tahunnya, mengucapkan selamat di tepat jam 12, meluangkan waktu untuk membuka mata dan mengirimi sms, perhatian kecilku. Dalam hati aku berharap, ketika aku menebar kebaikan, aku berharap kebaikan itu akan kupetik nantinya.

Bertahun-tahun bersama tak menjadikan kita dekat, hal termudah yang bisa kulakukan adalah hal tersulit yang pernah kau pikirkan, aku tahu aku tak akan pernah bisa memaksa seseorang menyukaiku, tapi... apakah satu ucapan selamat saja tidak bisa? apakah sedikit perhatian kecil dengan mengingat tanggal lahirku saja tidak bisa?

Aku bahkan bisa mengingat tanggal, jam hingga menit ketika kau dilahirkan... bagaimana denganmu?

Apakah kau mengenalku, orang asing?

Di 19, pertama kalinya aku mendengar lagu selamat ulang tahun membahana di telingaku, terucap dari bibir teman-teman di kampusku. Hari itu selalu kuingat karena hari itu adalah hari besarku, tak pernah ada yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun sebelumnya untukku selain keluargaku. Hari itu, merupakan hadiah terbesar yang pernah kumiliki, sebuah doaku terkabul, aku hanya ingin diingat... meskipun si lagu itu diucapkan untuk teman-teman yang lahir di bulan oktober lainnya juga.

Di 20, aku tak berharap apapun. Sejauh ini, hanya ada 3 orang yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun untukku...

Aku dengan bodohnya masih menanti 3 kata paling membahagiakan, 1 lagu yang akan menjadi lagu paling merdu hari ini.

"Selamat ulang tahun..."





7 oktober 2010

sayang...

3 taun kita bersama, berantem, teriak-teriak, saingan, saling sikut, saling tendang, saling pepet sampe hampir tabrakan, semuanya kita lakuin sama-sama. Lain siang, lain juga malem. Kalo siang, sesedih apapun aku untuk menghadapi kamu, aku terus senyum, terus saingan sama kamu, seolah aku adalah tebing yang ngga bisa kamu kalahin dengan mudah. Kalo malem, air mataku baru jatuh, menangisi kenapa kamu ga bisa bersikap lebih murah hati sama aku?

hampir seribu hari kita bareng-bareng, aku seolah ga kenal kata selamat tinggal yang suatu saat pasti bakal aku ucapin ke kamu. Setiap harinya, bahkan disaat terakhir aku ketemu kamu, aku selalu berpikir bisa ketemu lagi. Padahal aku salah...

6 bulan ga ketemu sama kamu, itu adalah waktu terpanjang sepanjang sejarah sejak aku ketemu sama kamu, rasanya kosong banget, ada yang ilang dalam diri aku, ga bisa lagi belajar fokus, lagian... siapa yang mau aku kejer?

Hari ini, udah 2 taun lebih kita ngga ketemu, aku ngga tau kabar kamu, ngga pernah ngobrol sama kamu lagi. Tapi aku nemuin fakta-fakta untuk menghentikan aku nyari kamu, ternyata 3 tahun, waktu yang selalu aku itung itu ga pernah kamu itung, kamu bahkan ga pernah pengen aku ada, kamu benci banget sama aku, sampe bilang kalo kamu ga mau baikan sama aku selamanya. Makanya aku ga nyari kamu, meskipun dulu kamu bilang mau nyari aku lagi kalo udah lulus SMA, ternyata kamu lupa juga.

Sebentar lagi ulang taunku, 5 taun sejak aku kenal sama kamu, kamu ga pernah ngucapin satu ucapanpun buat aku, kamu selalu lupa. Aku emang bukan orang yang pantes buat kamu inget sih, aku juga nyadar diri disitu.

Dan setelah semua sikap buruk kamu ke aku, aku tetep aja, sayang sama kamu. Aku tau, kamu pasti tau kalo aku sayang sama kamu, tapi kamu bertingkah kayak orang bodoh n pura2 ga tau. Aku juga nyadar diri lagi, aku ini apa dan seperti apa aku.

Malem ini, meskipun pedih banget buat nginget kamu, fakta-fakta itu, aku tetep aja peduli sama kamu, minimal profil fb kamu aku buka sebulan sekali, aku kasih komentar atau jempol di status kamu. Soalnya, aku sayang sama kamu. Ga bisa lupa gitu ajah.

Aku tau, aku juga dulu ngelakuin banyak kejahatan, nyuekin orang, pura2 ga tau, persis kayak apa yang kamu lakuin sama aku, aku sekarang dapet balesan yang setimpal.

Aku sedih liat kamu dapet balesan yang kayak gitu juga, hey, aku maafin kamu... karena aku begitu sayang sama kamu, menerima kamu, semua kelemahan kamu, memuja kamu, aku maafin kamu... ga masalah sama air mata yang beberapa taun lalu, ga masalah banget... tenang ajah!



3 oktober 2010

...

“Adalah membuang buang waktu untuk terus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang tidak kita sukai.”
- Iga Massardi.

Kayaknya sih kata-kata itu emang bener, kayak sekarang aja, guw belom nemuin alasan yang jelas untuk berlama-lama ada DISINI! Guw masih tetep ngerasa, guw ga seharusnya ada disini, penyangkalan, penyangkalan dan penyangkalan lagi... Guw pengen ngerasa betah, tapi gimana caranya? Guw pengen ngerasa punya sesuatu, tapi apa?

Sejenak, ketika guw baru ngerasain punya sesuatu, punya alasan buat tinggal disini lebih lama, punya alasan ngebantai keidealisan guw, akhirnya guw disadarin lagi kalo itu ternyata bukan alasan yang tepat... Si alasan guw itu ditempatin tepat disaat guw emang butuh alasan, meskipun guw taw ga masuk akal, guw terima, soalnya guw ga bisa mikir apa-apa lagi...

Ketika guw ngerasan ini loh rumah guw! ternyata guw salah, bukan rumah, bukan tempat yang menyenangkan untuk disinggahi. Guw maw kemana sih sebenernya?

Kayak sekarang, pas guw dihadepin di masalah kayak gini, dikucilkan, GUW BOSEN! dari dulu orang-orang kayak gitu terus sama guw, apa sih salahnya guw? apa sih kesalahan yang ga bisa dimaafin dari guw? okelah, guw emang ga suka disuruh-suruh, soalnya guw cape! guw ga sanggup diperintah-perintah, guw bukan tipe orang yang bisa seenaknya diperintah. Guw salah disitu? guw rasa semua orang kayak gitu, ga akan mau disuruh-suruh, di babuin.

Seumur hidup guw, sampe umur guw 19 maw ke 20, guw belom pernah ngucilin orang, guw belom pernah ngehina agama seseorang, guw ga pernah ngehina fisik seseorang, guw juga ga pernah ngomongin kejelekan temen2 guw sendiri sampe mulut guw berbusa, guw selalu nyoba JUJUR atas semua hal yang ada di diri guw, ucapan guw, otak guw, hati guw...

Sekarang, guw masih ngerasa semua yang guw lakuin ini sia-sia. Ini bukan hidup yang guw pengen! Bukan jurusan yang guw pilih! Bukan tempat yang guw idam-idamkan...

Tapi dalam penyangkalan ini, guw masih berpikir jernih, bahwa hidup itu ga selalu diisi sama apa yang guw pengen, ga selalu diisi juga sama yang guw pilih, ga diisi juga sama yang guw pengen. Guw disitu masih sadar, kalo hidup ini juga adalah labirin, dimana guw bisa salah belok, salah jalan dan lupa arah.

Kasih guw alesan, kenapa guw ngebuang ambisi guw taun lalu? kasih guw petunjuk kenapa waktu itu guw berpikir itu adalah alesan yang tepat? dan kasih guw penjelasan, kenapa ternyata semua alesan itu jadi kebohongan buat guw? apa guw korban permainan kata2 manis?

Guw ga bisa terima, guw ga bisa... tadinya guw pikir guw bisa, tapi tetep aja ga bisa. Meskipun setiap harinya guw bersikap seolah ga ada yang aneh, ga ada kegagalan dalam hidup guw dan yang ada cuma batu loncatan, tapi... BATU LONCATAN APA? Ga peduli berapa kali guw bilang, guw maw ngabisin sisa kekecewaan guw hari ini, tapi besok guw ga akan inget lagi tentang kekecewaan guw, tetep aja guw ga bisa...

Kalo guw ditanya, maw apa guw besok, guw ga tau guw maw apa! Guw sendiri bingung... hidup kayak gini itu ga pernah ada di benak guw, dan berapa umur guw sekarang? ketika semua orang sedang sibuk bikin masa depannya, guw masih aja bingung tentang 5 detik setelah ini, guw ga tau... guw ga taw maw ngapain...

Guw terlontar jauh dari cita-cita yang guw pengen, guw ga tau jalan balik lagi...

Guw cuma minta, kasih guw alesan... kenapa? kenapa senin sampe jumat itu ada? kenapa sabtu sama minggu itu selalu lebih cepet dari senin? kenapa malam itu lebih singkat dari siang?

Guw ini ngomong apa sih?

Guw pengen teriak, pengen keluar dari sini, pengen ke kehidupan yang guw idam2in dulu, tapi guw ga sanggup ngulang dari awal. Guw ga sanggup kehilangan lebih banyak lagi... segini aja guw udah cukup ngegembel, ilang ambisi, ilang tujuan hidup, ilang alesan guw buat disini, ilang juga rumah guw, dan guw ga nemuin alesan tepat untuk tetap tinggal disini lebih lama.

2 oktober 2010

Name of The Game

"...sebelum kita saling kenal, kalian tidak mengenalku, bahkan setelah menghabiskan waktu bersamapun, mungkin kalian tetap tidak mengenalku,,,"
-Name of The Game-


Saat aku membaca tulisan itu, air mataku sempat menetes, bergelantungan sebentar kemudian berhamburan sambil menari. Diatas tetesan-tetesan air mata itu aku berkaca...

2008, aku berpisah dengan sahabat-sahabatku, rivalku, teman-temanku. Aku berdiri sendiri disebuah kampus asing yang belum pernah kuimpikan atau kudambakan. Aku selalu meratap, aku berada dalam titik kecewa, aku tak berharap punya teman. Aku ingin seperti batu di sungai, cukup diam saja, terkikis dan hilang.

Perlahan, Tuhan menyodorkanku kawan, teman-teman, rumah... tak pernah sebahagia ini sebelumnya, seolah aku menjadi diriku sendiri, aku menemukan titik-titik kabur tujuan hidupku berubah menjadi jejak yang meniti anak tangga.

Aku temukan novel, puisi, teman-teman, seolah Tuhan baru saja menghembuskan nyawaku pada saat itu. Aku tak lagi peduli dengan "siapa yang memakai baju hijau tosca" atau "si anak kepsek"...

Semuanya sedang terlihat sama untukku.

2009, aku masih merangkak menuju hidupku, aku baru bangkit... aku baru merasakan apa itu hidup. Baru kali ini aku bisa menjawab siapa aku saat orang bertanya tentang jati diriku.

Aku menemukan kata "Novelist" untuk melengkapi namaku, jantungku, hatiku, pikiranku, bingkai duniaku...

Kalian mungkin takkan peduli dengan apa yang telah terjadi padaku, juga kalian takkan peduli dengan otakku, pikiran-pikiranku...

Tapi aku akan bercerita, saat itu Tuhan sedang membuka bingkaiku, ayahku sedang membuka tali kekangnya padaku dan aku juga sedang membuka bungkus kado yang menutupiku bertahun-tahun...

Kalian tahu, aku begitu menyukai kalian, meskipun aku kesal dengan sikap kalian yang cuek, aku sangat menyayangi kalian...

Maka aku menyapa kalian setiap pagi, tersenyum saat bertemu dengan kalian, menjawab pertanyaan kalian, menjawab sms yang kalian berikan. Karena aku... sangat menyukai kalian...

Entah apakah kalian menyukaiku atau tidak, aku tak peduli, karena saat itu aku sangat menyukai kalian.

2010, kalian menghadapkanku pada kenyataan, bahwa...

Kalian tidak menyukaiku, kalian membenciku.

Tak suka dengan sikapku.

Kalian mau tahu perasaanku? Saat itu aku merasa ditolak, kurasakan dicampakkan dan diacuhkan, bahkan di benci.

Tatapan kalian, pernahkah kalian berpikir bahwa tataoan itu sungguh membuatku bersedih?

Aku yang memikirkan kesehatan kalian, mengutamakan kepentingan KITA? dan kalian membenciku...

Masih di 2010...

Aku masih menangis dalam tawa.

Aku berpura-pura, langit biru dan matahari bersinar cerah, padahal duniaku masih hancur...

Aku mengenal kalian, tapi kalian tak mengenalku...

Mungkin selamanya akan seperti ini...

Dua tahun lalu, aku tak mengenal kalian karena kalian tak mengenalku, tapi perlahan kutarik benang merah takdir kita, menunjukan bahwa kita memang diharuskan bertemu diatas panggung dunia ini, bersama...

Sekarang, Dua tahun setelah itu, kalian masih tetap tak mengenalku, meskipun aku sudah sangat mengenal kalian.

Mungkin, di dua tahun terakhir kita berada disini, kalian masih tetap takkan mengenalku. Aku belajar, bahwa cinta dan rasa kasih itu, apapun bentuknya dan kepada siapapun itu diberikan... tak selalu mendapat jawaban yang setimpal.

Dan aku selalu benar, 5 tahun lalu aku bilang, bahwa cinta itu bukan hubungan timbal balik.

Juga 2,5 tahun yang lalu kubilang bahwa aku bagaikan mayat hidup, aku bernafas, berjalan, berbicara, tersenyum, tertawa… namun dengan hati yang hanya terbuat dari darah yang mengalir didalamnya. Tapi berita bagusnya, aku merasakan aku bergerak, meskipun aku tak tahu, aku bergerak maju atau mundur… ataukah hanya aku yang merasakan pergerakan ini adalah berita bagus ?

Dan mereka yang lalu lalang dihadapanku akan tetap mengacuhkanku. Entah pertama kali menginjakan kaki di gedung ini atau mungkin terakhir kalinya, aku mungkin akan mengenang diriku sendiri sebagai mayat hidup yang berjalan 4 tahun disini...

20 september 2010

batu cinta Maryah

Namanya Maryah, seorang gadis dengan perawakan tubuh ramping namun tak terlalu tinggi. Senyumnya manis, berkesan sangat anggun ketika dia bicara atau berjalan. Gelengan kepalanya, anggukan kepalanya, saat dia mengangkat bahu, semua orang pasti terpukau. Matanya bening, memancarkan ketulusan namun membelenggu jutaan makna dalam tiap kedipan matanya.

Maryah juga adalah gadis yang pintar, dia selalu menjadi juara kelas saat dia masih SD, SMP, dan SMA, bahkan di kuliahan diapun menjadi ketua Senat Mahasiswa dan memiliki prestasi yang gemilang. Semua orang menyukainya, tapi aku tak terlalu menyukai Maryah, bukan karena dia cantik dan aku tidak, bukan juga karena dia memiliki seorang tunangan tampan dan aku masih jomblo. Sejak pertama bertemu dengannya, hatiku bergemuruh untuk membencinya, untuk menghindarinya daripada berteman dengannya.

Aku selalu mengikuti firasat yang kadang terkesan konyol dan tidak masuk akal. Aku meminta maaf atas kekhilafanku yang tak mampu meredam rasa kebencian dalam dadaku saat bertemu dengannya. Maaf sekali.

Waktu itu hari kamis, saat sahabatku bilang bahwa Maryah kini bertunangan dengan pacarnya. Aku seolah menelan biji salak dan tertahan di tenggorokanku, hingga aku tak mampu berkomentar apa-apa selama sahabatku itu bercerita. Kepalaku dipenuhi amarah, seolah si Maryah ini juga telah merebut pacarku. Ingin rasanya aku menghampiri si Maryah dan mulai mencaci kelakuannya, bagaimana mungkin dia menyakiti perasaan sahabatku, seorang wanita dan diapun seorang wanita?

Kudinginkan kepalaku sambil mendengar cerita, beberapa hari aku mencari tahu tentang pertunangan mereka, akhirnya kudapati informasi bahwa si Maryah ini mendekati pacar sahabatku pelan-pelan dan membuatnya berpaling hati. Muaklah sudah aku pada si Maryah. Biasanya aku masih ingin menerima senyumnya saat berpapasan denganku, namun kini aku sedang sangat membencinya dan tak ingin melihat wajahnya.

Maryah menghampiriku di suatu sore, aku sudah berjalan meninggalkannya tapi dia tetap mengejarku, dia bertanya tentang kemarahanku, aku tentu tak mampu membeberkan cerita pedih sahabatku itu, maka kutanya dia tentang tunangannya.

Lama sekali aku berbincang dengannya. Dia bercerita bahwa dia sudah menyukai si pacar sahabatku itu sejak lama, dan sengaja mendekatinya meskipun tahu dia telah memiliki pacar. Kemudian dia dengan sengaja mengajak si pacar sahabatku itu menemui orang tuanya dan bilang bahwa si pacar sahabatku itu melamarnya.

"Kau gila!" Teriakku saat mendengar ceritanya. Dia mulai menangis dan meratap, bahwa dia tak mampu hidup tanpa si pria itu. Aku tertawa saat mendengar penjelasan bodohnya. "Kau seperti anak kecil! Menginginkan sesuatu yang bukan milikmu! Mencuri sesuatu milik orang lain!"

Dia kemudian bercerita bahwa dia telah menuliskan nama si pacar sahabatku itu di atas batu cinta, dimana nama yang tertulis disana akan terikat selamanya. Aku semakin geli mendengar penjelasan Maryah. Luntur sudah semua rasa benci dalam hatiku, hanya rasa kasihan yang mendalam yang tersisa.

"Aku hanya manusia biasa..." Katanya sambil terisak.

"Kau bukan manusia, kau tak berhati, tak berotak! Kau pencuri kecil..."

Aku merasa beruntung, aku tak pernah menginginkan sesuatu yang bukan menjadi milikku, dan meskipun prestasiku biasa saja, aku tak pernah kehilangan akal sehatku, dan bahkan meskipun aku memiliki fisik yang menarik, aku tak pernah kehilangan hati nuraniku...

Ah Maryah, kau ini malang atau sangat beruntung?







19 september 2010
untuk Sinay, tidakkah kau malu mengakui bahwa kau menginginkan kekasih orang lain dan kau menuliskannya diatas batu cinta?

plagiat, aku dan jati dirinya....

Sebenarnya untuk menyebutkan rasa ga suka, ga juga sih... soalnya aku dan dia adalah 2 orang yang memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Entah bagaimana, aku melihat dia terkadang seperti mesin foto copy dari diriku sendiri. Terkadang seperti adik-adikku yang kerjaannya ikut-ikut hobiku, atau kadang kayak anak kecil yang suka ngerewong. Mungkin juga karena aku bukan kakak yang terlalu baik atau bahkan sama sekali tidak baik, jadi aku suka marah kalo ada yang ikut-ikut sama aku.

Padahal, coba aku telusuri kesamaan antara aku dan dia, aku dan dia sama-sama ingin diperhatikan, sama-sama ingin menjadi planet venus bagi seseorang dan sama-sama ingin menjadi bintang. Ga salah kalo tiba-tiba ngerasa kerasa saingan, padahal engga sama sekali. Kalo di liat-liat juga, sifat aku sama dia tuh mirip-mirip, sama-sama anak pertama yang paling disayang sama ayah, sama-sama permintaannya selalu di kabulin, dan sama-sama manja, tapi kayaknya manjanya dia sih kelebihan deh! hehehe... soalnya aku terkena infeksi sifat kemandirian dari ibuku, jadi ga mau bergantung sama orang, suka jalan sendiri dan ga suka jalan pelan-pelan, kalo bisa setiap hari adalah berlari. Hahahaah...

Jadi, ketika dia memutuskan untuk menjadi penulis, aku jelas memanggilnya plagiat, aku secara alamiah tersaingi olehnya. Kadang, dia membuatku tak mampu berkata-kata saking kesalnya, tapi kadang dia bisa menjadi seorang yang sangat menyenangkan dan manis, aku benci juga ketika semua orang bilang dia cantik, padahal... ya sudahlah! Definisi cantik itu relatif, tergantung siapa yang liat, buktinya, kakak-kakak angkatnya lebih suka bilang aku yang cantik dari pada dia. 

Seperti yang kulakukan pada adik-adikku, aku juga akan diam dan tak memperhatikannya, anggap saja dia baru menemukan jati dirinya dan jati dirinya itu adalah mirip sepertiku. Hahahah...

Baiklah, adik kecil... seperti itu saja, cukup.



9 september 2010

mengawali september ini


Mengawali September, kumulai dengan sejuta harapan, mulai menebarkan jangkar-jangkar mimpiku karena aku akan bersauh untuk mendapatkan tujuan mimpiku.

Aku ingin melebarkan sayapku, membuka mataku tentang dunia...

Selamat datang, september, tadinya kupikir kau lebih baik berlalu dengan cepat, tapi ternyata tak baik juga berpikir seperti itu..

Jadi, mari kita nikmati september ini...



September 1st, 2010

Dialog antara Tuhan dan aku

---Ketika aku sudah menjatuhkan pilihan

Tuhan merangkul pundakku, berbicara dengan suaranya yang lembut dan halus, "Aku sedang mempersiapkan sebuah hadiah untukmu." katanya. Aku tersenyum, "Hadiah apa, Tuhan?", diapun menjawab, "Oh, kau telah menlihat kisi-kisi hadiahnya, begitu indah, bukan? Itu adalah hal yang paling kau inginkan selama ini, aku tak perlu lagi menjelaskan tentang apa isi hadiah itu."

"Ya, Tuhan. Apakah dia adalah hadiahku?"

"Kau menginginkannya?"

"Ya, sangat."

"Percayalah padaku, seperti dahulu, seperti biasanya, dan seperti yang akan terus kau lakukan, kau harus mempercayaiku... Aku tak pernah mengecewakanmu, bukan? Kujamin, hadiahku takkan ada satu goresanpun yang akan membuatmu merasa merugi. Jika kau inginkan dia, kau bisa memilikinya, tapi kau akan mengerti... Bahwa kau layak mendapatkan lebih, lebih dari apa yang kau miliki sekarang."

Aku merenung, memikirkan tentang tawaran Tuhan dan kenyataan yang sedang kualami. "Kau akan melihat..." Bisik Tuhan padaku. "Aku ingin memilih yang ini saja, Tuhan. Yang nyata dihadapanku, yang jelas kusentuh dan bisa kurasakan kehadirannya."

"Baiklah..." Tuhan tersenyum padaku, kutahu Tuhan kecewa atas pilihanku, tapi aku hanyalah manusia, seperti Adam yang tak mampu menahan keinginannya untuk mencicipi buah Tin. Dan Tuhan adalah zat yang sangat menyayangiku, mengagumiku kehadiranku namun dia menyembunyikannya dibalik kebijaksanaan, agar ciptaan-Nya yang lain tak beriri hati padaku. Tak lama kemudian, aku datang pada Tuhan dengan air mata membasahi pipiku, hati yang terluka dan harapan yang kandas. Bagiku surga yang kemarin kurasakan berubah menjadi padang tandus dan aku kehausan mencari penyejuk jiwaku. Tuhan memelukku, air matakupun semakin berderai, dan dia menyesal telah membiarkanku memilih, jadi dia mulai memarahiku.

"Kubilang apa, tunggulah. Apakah rasa cintamu padaku telah hilang hingga kau membiarkan dirimu sendiri terluka sejauh ini? Apakah hanya dia yang pantas mendapatkan cintamu?"

"Kau selalu pantas, Tuhan. Maafkan aku." Tuhan membelai lembut kepalaku dengan tangannya yang hangat dan menghapus air mataku.

Sejak saat itu, aku mulai berjalan-jalan lagi di surga, ditemani Tuhan yang baik disisiku, tak ada lagi yang akan mengangguku karena aku sudah memutuskan untuk menunggu lebih lama lagi. Kemudian Tuhan mulai mengejekku dan mengajakku berpuisi kembali, akupun memulainya dengan sebuah pelajaran berharga kemarin... "Aku datang kepadamu dengan lagu-lagu indah yang kutulis sendiri, kubernyanyi untukmu, sayangnya kau tak mengerti arti lagu-lagu itu, maka aku mengembalikan hatiku ke surga, agar Tuhan menjaganya hingga ada seseorang yang dapat mengerti lagu-lagu yang kunyanyikan itu..."

Dan Tuhan mengubah padang tandus itu menjadi surga lagi untukku, Terimakasih Tuhan.


[diinsipirasi oleh kata-kataku, "Aku mencintaimu, tapi hanya setengah. Mengapa? Karena aku membutuhkan setengahnya lagi untuk bangkit jika kau meninggalkanku."]

28 Agustus 2010