bunga

yang harum tidak selalu bunga.
yang bunga pun tidak selalu harum.

bangkai, meskipun berwujud bunga, tidak akan pernah harum...


 17 april 2012

butuh berton-ton coklat untuk merayuku agar bilang "Ya" padamu.
butuh ribuan buket bunga mawar agar kau merebut hatiku.
butuh milyaran kebaikan yang menetes di jantungku yang membatu.

Tapi hanya butuh aku untuk mencerahkan harimu.
Selamat malam, Ang.
Aku tahu perasaan lebih dalam dari sekedar kata-kata.

15 April 2012

seorang gadis membual

Seorang gadis kecil tengah membual.
Aku diam.
Dia terus bicara. Mungkin dia berpikir dunia suka pada bualannya.

"Hey kau bukan Joker!"
"Kau As Hati. Yang selalu kehilangan arah dan tujuan."

Seorang gadis kecil itu masih membual.
Aku masih diam.
Dia semakin keras bicara. Dia terus berpikir bahwa dunia percaya pada bualannya.

"Diamlah! Kau pikir semua orang goblok dengan percaya pada kata-katamu? Semakin kau bicara, kau mempermalukan dirimu sendiri, tahu?" Jeritku.

Seorang gadis itu tengah berpikir.
Aku tadi menyentaknya.
Dia tak lagi bicara. Tapi aku yakin itu hanya sementara.
Dia akan membual lagi.
Karena dia tercipta dari bualan.

"Hey kau, bualanmu tidak ber-seni, tahu! Merusak citra saja."

April 14th, 2012

sekecup surat untuk kekasih tercinta

Hai yang di sana. Aku berani menyebut namamu dengan lantang di setiap pembicaraan, puisi dan laguku karena aku tahu kau adalah milikku. Hari ini hari Sabtu. Sungguh dua minggu ke belakang adalah hari yang paling melelahkan bagiku. Bayangkan saja, saking inginnya aku segera lulus, aku menyegerakan mengerjakan BAB 1, 2 dan sekaligus instrumen penelitian. Itu demi kamu, Furkon.

Aku merindukanmu. Rasanya kalau tidak ingat ada sidang komprehensif bulan depan dan aku harus menyelesaikan bimbingan BAB 1-3 ku, aku pasti sudah berangkat ke sana menghampirimu meskipun hanya untuk bertegur sapa.

Apakah kau sehat di sana, kekasihku? Aku benar-benar dimabuk kerinduan di sini. Jerawat demi jerawat muncul tanda ketidakstabilan hormonku yang merindukanmu. Aku rindu sensasi hormon kebahagiaan di tubuhku saat kau duduk di sampingku.

Setiap kali aku menyandarkan kepalaku di bantal dan berpikir untuk malas-malasan. Tiba-tiba saja sosok wajahmu muncul di kepalaku. Semakin aku mencoba menghapusnya, semakin kuat juga wajahmu terbayang. Aku pun jadi teringat obrolan kita dulu. Kau dulu bilang bahwa kau sedang bekerja untuk masa depanmu bersamaku. Seketika aku diliputi rasa malu. Bayangkan saja, kau mati-matian mencari uang untuk menyegerakan niat ibadah kita, sedangkan aku justru santai sambil bermalas-malasan. Menulis ini pun adalah hal yang paling buang-buang waktu. Aku tidak perlu menulis panjang lebar agar kau tahu bahwa aku begitu mencintai dan merindukanmu. Untuk membuka facebook saja susah, sekalipun kau membukanya, itu hanya untuk melihat apakah aku menulis sesuatu untukmu. Dan tulisan ini adalah satu dari ratusan, bahkan ribuan tulisan yang sudah kubuat dan takkan pernah kau baca.

Ya, kau benar, aku tidak perlu menjadi penulis, filsuf atau pun seorang sineas untuk dicintai olehmu. Karena aku pun mencintaimu bukan karena kau tidak bisa menulis, kau suka berfilsafat dan karena kau seorang sineas muda berbakat.

Ingin sekali rasanya aku mengirimkan kata demi kata ini dalam sebuah surat yang dilabeli kecupanku tepat untuk hatimu. Setiap hari. Selalu. Tapi aku tahu, tanpa itu pun aku sudah mengecup hatimu berkali-kali, setiap hari dan selalu.

Hey, pria dengan rambut gondrong yang cantik parasnya. Aku merindukanmu. Aku tahu, semakin banyak menulis, orang-orang akan menilaiku bahwa aku semakin membual. Aku tidak pernah membual ketika dulu kuucapkan aku (belum) mencintaimu dan aku (sudah) mencintaimu. Karena sekarang, aku sedang dan selalu berusaha untuk terus mencintaimu.

Kau bukan tipe pria yang suka diberi puisi gombal. Meskipun kau sering memberikan puisi-puisi yang kutahu bahwa puisi itu hasil jerih payah mencari katamu hingga berbulan-bulan. Terimakasih.

Semoga suratku mengecup hatimu lagi, kekasihku, kikindeuwan-ku...

Surat dari Arya


                Aku masuk ke sebuah kelas bernama XI IPA 2. Aku terus berdoa semoga hari ini aku bisa mencerdaskan siswa-siswi terbaik bangsa, bukan menjerumuskan mereka. Aku juga berdoa agar aku bisa mengajar dan tetap tersenyum manis pada para siswa.
                Aku mengucapkan salam saat langkah kakiku pertama masuk. Rasanya jarak pintu dengan meja guru begitu jauh sekali. Nafasku yang berpacu dengan waktu dan detak jantungku membuat adrenalinku semakin meningkat. Aku semakin nerveous.
                Seperti biasa, hal yang selalu kulupakan adalah mengabsen, tapi tidak kali ini. Kuabsen satu persatu siswa dengan santai dan tetap untuk tidak lupa tersenyum.
                “Arya Pandu?”
                “Saya Bu.” Sahut seorang anak lelaki yang duduk di bangku belakang. Bajunya sengaja dia keluarkan dari celananya. Mukanya kusut dan saat menyahut, dia sedang menggaruk kepalanya sehingga rambutnya tambah terlihat acak-acakan.
                Pertemuan pertamaku dengan kelas IPA 2 itu begitu berkesan, bagiku. Pasalnya aku baru merasakan mengajar di SMA, di dalam kelas dan bersama seorang guru pamong. Waktu aku PPL, aku hanya sekali ditunggui oleh guru pamong, lalu pertemuan selanjutnya dibiarkan hingga akhirnya ujian. Dan waktu itu siswa SMP yang kuajar, belum pernah aku mengajar siswa SMA.
                Di pertemuan kedua, siswa bernama Arya Pandu memasukkan makanan ke dalam mulutnya saat aku sedang menerangkan tentang fungsi dan struktur dari alat ekskresi. Aku memperhatikan anak itu terus menerus. Dia dengan lihai terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya saat mataku berpaling darinya.
                Hampir 20 menit dia memakan makanannya. Aku kemudian berpikir untuk menghukumnya agar dia jera. Sempat terpikir untuk mengeluarkannya dari kelas, tapi aku ingat, aku bukan guru Biologinya yang asli, bisa saja dia mengadu pada guru pamongku dan penelitianku di sekolah ini dibatalkan. Aku cepat cari cara lain agar bisa membuat Arya jera.
                Aku kemudian berpikir untuk menegurnya langsung. Tapi sepertinya Arya punya andil yang cukup besar di kelas ini. Mood di kelas naik ketika Arya yang aktif, lalu turun ketika Arya diam. Keberadaan Arya di kelas ini adalah kunci.
                “Arya Pandu?”
                “Saya Pandu, Bu.”
                “Kamu sama temen sebangku kamu, coba ke depan dan bawa soal di buku.” Kataku. Teman sebangkunya yang bernama Fadlan dengan cepat berjalan ke depan dengan membawa buku. Arya masih sibuk merapikan bajunya.
                Setelah berdiri di depan kelas, aku meminta Fadlan membacakan soal dan membiarkan Arya yang memberikan jawaban beserta alasan dari jawabannya. Benar saja, mood siswa lain untuk belajar bertambah besar saat Arya ke depan dan menjelaskan dengan jawaban, “Saya tau jawabannya, Bu, tapi saya gak tau alesannya kenapa.”
                Tawa meledak di kelas setiap kali Arya kebingungan menjawab pertanyaan dari Fadlan. Sedikit demi sedikit, aku memandunya untuk mengingat materi yang sudah kuajarkan. Aku bisa melihat di balik tubuh yang dekil dan lusuh itu, Arya punya otak yang cerdas. Terbukti dengan jawabannya yang hampir semua benar tapi tidak beralasan.
                Setelah hampir sepuluh soal dijawab, aku mempersilakan Arya dan Fadlan duduk. Aku bisa melihat Arya menghapus keringat di keningnya saat dia kembali duduk di kursinya. Lalu aku mulai menjelaskan mengapa aku menyuruh Arya ke depan. Kubilang bahwa makan di kelas adalah hal yang tidak sopan untuk dilakukan, apalagi ketika ada guru yang sedang mengajar. Aku memberi dispensasi untuk minum, tapi tidak untuk makan.
                Hari ini adalah hari terakhir aku mengajar di kelas Arya. Aku memberikan soal post-test, lembar angket dan meminta siswa mengkritik cara mengajarku dan segala hal yang ada sangkut pautnya dengan pembelajaranku.
                Aku membaca satu persatu sambil tersenyum senang. Rasanya meskipun kritik itu seolah menjustifikasi ketidakadilan padaku, aku bisa menerimanya dengan lapang dada. Ada sebuah surat yang membuatku tertawa.
                “Ibu sangat jeli. Guru saya sendiri pun belum pernah melihat atau mengetahui saya makan di kelas. Tapi Ibu Lukita tau. Hebat! Saya InsyaAllah akan berubah.”
                Aku tahu siapa penulis dari surat itu. Aku kemudian berpikir, andai saja waktu itu aku tidak mensiasati untuk membuat Arya jera. Mungkin dia akan menulis bahwa dia membenciku karena mempermalukannya di depan teman-temannya.
                Aku pun akan berubah, Arya. Banyak mendengarkan kritik dan saran yang kalian berikan. Terimakasih untuk doa, dukungan, kritik dan sarannya. Hidup Adiparo!

kewani-lakian

Aku selalu gigit jari dan menahan kesal saat Ibuku melarangku pergi backpacker dengan alasan bahwa tak ada teman yang mendampingiku. Mengapa harus ada yang mendampingi?
Apa salahnya pergi sendiri, menikmati jalan-jalan sendiri dan tak ada yang diajak bicara di sampingku? Apa salahnya bertanya dan memutuskan sesuatu dengan intuisiku sendiri, tak bergantung pada orang lain. Tapi aku memang tak berani melawan titah Ibuku, jadi aku menurut jika beliau tak mengijinkanku untuk pergi.

"Kalau Aang ikut, kamu boleh pergi." Pesan Ibuku. Jadi, setelah aku punya pacar, kebebasanku semakin tertawan. Apalagi sekarang Aang itu sedang bekerja untuk mencari modal masa depanku dengannya. Ah, tak perlu membicarakan betapa kekanak-kanakannya aku yang tak memperdulikan Aang yang sedang sibuk. Aku dan Aang punya urusan dan kehidupan masing-masing. Hohoho...

Aku ingin pergi ke ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Jogja minggu ini. Ibuku lagi-lagi bilang, tidak. Dia memaksaku harus punya teman untuk pergi ke sana. Kucoba meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Tapi tetap saja tidak boleh.

Saat aku sedang membuka satu persatu situs perjalanan, aku tiba-tiba teringat pada pria-pria yang kukenal. Ibuku melarangku pergi sendiri karena aku adalah seorang wanita. Aku berpikir, mungkin saja jika aku adalah laki-laki, maka aku akan diperbolehkan pergi kemanapun. Tapi... jika aku laki-laki, maka yang sedang bekerja untuk mencari modal masa depan adalah aku, bukan Aang.
Pria-pria yang kukenal itu seperti tak punya tujuan hidup selain berkongkow. Kalau aku jadi pria, tentu dari sejak SMA, aku sudah pergi jalan-jalan mengelilingi Indonesia. Sayangnya aku perempuan, jadi tempat yang paling sering kukunjungi adalah Jogja.

Aku hanya bisa berharap Aang segera pulang dan kembali bersamaku. Agar aku bisa pergi-pergi lagi seperti dulu. Meskipun aku kebelet untuk jalan-jalan, aku sebenarnya tak mau jalan-jalan tanpa Furkon. Jadi, agenda perjalanan yang ditawarkan kepadaku kutolak dengan sopan.

"Tau gak, yang bikin perjalanan ini indah apa?" Tanya Aang padaku.
"Apa?"
"Kamu. Kalo perginya sama kamu, semuanya jadi menyenangkan." Kata Aang padaku. Biasanya aku selalu ngomel jika dia mengucapkan kata-kata gombal. Tapi kali ini aku tidak merasa itu adalah sebuah gombalan. Rasanya nyata dan benar saja semuanya.

Ayo Aang cepet pulaaaaaaannnggg!! Aku tidak mau berganti jenis kelamin menjadi wani-laki-ta.

hari ini



                Hari ini, ada kejadian yang membahagiakan perasaanku. Rasanya aku kembali hidup dan bersemangat lagi untuk melakukan banyak hal yang kreatif. Kemarin-kemarin, aku sempat berpikir bahwa aku tak jauh beda dari mahasiswa Tarbiyah (baca: jurusan pendidikan di kampusku—red) pada umumnya. Tak pernah bolos kuliah, lulus cumlaude dan kemudian menjadi pengangguran sambil menunggu pendaftaran CPNS. Malam kemarin, aku meng-update status twitter-ku dengan bilang, “Tidak cocok berada di dekat manusia yang normal!”, padahal aku sendiri sedang memikirkan apa yang kumaksud dengan manusia normal.
                Nah, hari ini adalah hari yang membuatku menjadi hidup kembali, seolah membuang cangkang kenormalanku sebagai manusia. Bayangkan saja ini seperti salah satu iklan rokok di TV yang menyebutkan, “Orang lain sandiwara, gue apa adanya.”
                Sandiwara menjadi manusia normal perlahan menjadi gaya hidupku. Aku sadar aku berubah. aku sadar bahwa pemikiranku tidak se-radikal dulu. Aku tak lagi suka merajuk pada Tuhan dan memaki-Nya. Hehehe, meski sesekali kadang aku lupa dan masih melakukannya.
                Today, aku bertemu dengan teman backpacker-ku, Nabilla. Hari ini aku ikut menjadi relawan di Museum Konperensi Asia-Afrika. Tak sengaja, mataku menangkap sosok wanita dengan kerudung berwarna hijau tai kuda yang ke-autisan-nya saat sedang diam terdeteksi sebagai temanku. Aku mengiriminya pesan untuk memastikan bahwa dialah si Nabilla. Ternyata benar, dia adalah Nabilla.
                Nabilla kemudian mendekatiku sambil cipika-cipiki. Karena terbiasa menjadi manusia normal, aku pun langsung reflek membalasnya, padahal dalam keadaan biasa, aku paling jarang ber-cipika-cipiki dengan orang yang sangat kukenal dekat.
                Bebek, begitu aku memanggilnya, bertanya mengapa aku tak lagi suka berkongkow di kampus atau sekedar ninyuh kopi dan membicarakan cerpen basi yang banyak bualannya. Aku hanya tertawa sambil menjawab bahwa jika aku selesai mengerjakan BAB 3, maka aku akan kembali seperti dulu lagi. Bebek tertawa renyah dan bilang, “Ah, geuleuh pisan!”
                Bebek adalah perempuan yang aku anggap sebagai saudaraku. Entah mengapa aku selalu senang untuk bercerita panjang lebar padanya. Aku ingat dulu saat aku sedang backpacker dengannya, dia menyadarkanku saat aku sedang sangat jatuh cinta pada sosok Furkon. Dia menyadarkanku dengan kalimat-kalimat simpelnya yang bilang, “Aku gak nyangka da, Teh eL bisa kayak gitu.”
                Otakku berputar jika diberi stimulus perangsang agar aku introspeksi diri. Aku mengerti apa maksud Bebek, aku pun teringat kata-kata Furkon dulu, Furkon pernah bilang, “Kita punya tujuan hidup. Itu harus kita capai. Entah bersama atau masing-masing.”
                Tujuanku yang awalnya blur karena ketiban lope pada Furkon kemudian mengerucut dan jelas kembali. Aku kembali ingat segala hal yang ingin kugapai dalam hidup ini dan aku kembali ingat, mana tanah yang kupijak dan langit yang menaungiku. Dalam hati ini, Bebek bukan adik kelas yang hanya tahu caranya mendebat A Apuy, tapi bagiku, Bebek seperti partner.
                Bebek adalah satu dari sekian banyak orang yang kuanggap sebagai guru dalam hidupku. Ada pula Nezar, entah Nezar dan yang lain sadar atau tidak, ketika aku bertemu dengan mereka, aku selalu memanggil mereka dengan suara lantang dan tertawa. Ya, aku bersumpah di perut ini ada makhluk yang menggelepar bahagia dan perlahan keluar saat aku tertawa. Aku bahagia saat bertemu dengan mereka.
                Seperti Bebek, Nezar pun banyak mengajariku tentang segala hal. Aku tak tahu apakah Bebek atau pun Nezar merasakan hal yang sama denganku atau tidak, tapi aku merasa nyaman berada di dekat mereka.
                Pertemuanku dengan Bebek hari ini membuatku kembali teringat bahwa ada sensasi yang aku lupakan setelah lama berjauhan dari Furkon. “Bek, kata siapa aku tahan untuk tidak bertemu Furkon? Aku pun rasanya mau mati. Apalagi sekarang sudah empat bulan. Tapi... aku tahu, Furkon lebih tersiksa lagi jika aku memperlihatkan betapa merananya aku tanpanya.” Itulah kata-kata yang ingin kuucapkan pada Bebek pagi tadi, sayangnya di Museum tadi terlalu banyak orang dan aku tak mau dianggap wanita tukang gombal.
                Bebek mengingatkanku untuk menjadi berani. Jadi aku memilih acara Pagelaran Wayang dari jam 8 malam sampai jam 4 pagi. Bukan karena sok berani, aku sebenarnya suka teater, aku suka seni bermain peran, sayangnya ada satu dan lain hal yang membuatku justru bersandiwara menjadi manusia normal berdasi dan bersepatu pentopel.
                Di penghujung hari ini, tepat jam 11 malam, aku teringat banyak hal tentang teman-temanku, guru-guruku. Aku pun ingat mengapa aku mencantumkan Bebek, Nezar, Purwa dan yang lain sebagai saudaraku di Facebook. Sebenarnya aku ingin mencantumkan mereka di daftar orang yang menginspirasiku, sayangnya tidak bisa. Padahal mereka adalah orang-orang yang membuatku banyak terinspirasi.
                Aku merindukan obrolan canggungku dengan Nezar dan menikmati kegiatan Nezar merokok yang santai itu. Aku merindukan jalan jauh bersama Purwa sambil saling melempar puisi. Aku merindukan diberi pencerahan oleh Bebek di Jogja yang panas. Dan aku merindukan lebih banyak lagi di dunia ini.
                Aku memang lebih tua dari Bebek, tapi aku tak menganggapnya remeh. Dia, Nezar, Purwa, adalah guru yang baik. Menuntun muridnya yang  bodoh dan sering terjatuh dalam meniti jalan kehidupan ini dengan sabar. Hahahaha... begitulah aku mendeskripsikan diriku.
                Mungkin hanya aku yang merasakan bahwa aku senang berada di dekat mereka. Tapi tak apa-apa, kalau mereka tidak suka pun mereka bisa menjauh perlahan, lalu kurangkul lagi, begitu terus pun tetap tak apa.
                Aku dalam proses belajar bahwa jika aku terlalu banyak menulis, maka semua perasaanku takkan lebih sebagai bualan semata. Dan aku bukan seorang pembual yang sedang membual. Aku sedang menerjemahkan rasa bahagiaku.
                Rasa bahagia yang sama saat aku bertemu dengan Furkon dan dia menjemputku di kampus saat aku selesai kuliah, padahal dia baru saja mengantarkanku ke kampus. Rasa bahagia, jatuh cinta berulang-ulang.

8 April 2012.

terimakasih, kedua orang tuaku, adik-adikku, Furkon dan seluruh keluargaku dan keluarga Furkon yang mendoakanku...
tak ada yang lebih baik dari ini. Rasanya, aku komplit!

selamat ulang tahun, Reorio!

"Selamat Ulang Tahun, Reorio."
Lalu dia menjawab, "Makasih, Killua."
Aku pun bertanya, "Masih ingat ternyata dirimu padaku."
Dia hanya tertawa kecil.

Aku dan dia sama-sama memudar dalam diam. Dalam jarak satu sekat.
Aku menjalani hidupku. Menemukan belahan Joker-ku. Dan dia menemukan Marina Teguh-nya.
Lalu mengurai sajak-sajak yang takkan terbaca olehnya. Di hatinya, dia pun mengukir cinta yang nadanya sudah sumbang, terlalu lama disimpan.
Ah, memang hidup ini begini, Reorio. Itu namanya cinta monyet.

Terimakasih, cantik!

Kau benci jika aku memanggilmu cantik. Tapi bagiku, kau tak hanya sekedar cantik-nya wanita. Bukan yang berpoles bedak dan bergincu merah di bibir. Kau punya kecantikan yang entah bagaimana, kubilang inner beauty.
29 Februari jelas bukan ulang tahunku. Kau pun tahu itu. Karena kau selalu mengingat ulang tahunku, bahkan sejak awal kita baru berkenalan.
"Selamat 29 Februari, semoga Allah memudahkan kita dalam segala urusan dan mimpi-mimpi indah kita. Amin." Katamu. Tak ada lilin harapan yang bisa kutiup karena memang bukan ulang tahunku, meskipun aku ingin kau ada di sini, nyatanya aku tidak meminta kau untuk kembali.
Kemudian aku mendapati sebuah hadiah darimu. Aku mati-matian bilang bahwa kau tak perlu memberiku banyak barang, tapi semati-matian aku menolak, semati-matian juga kau terus memberi.

Mimpi-mimpi indah kita. Aku cukup mendengar rencanamu yang begitu spektakuler untukku. Tentang rumahnya, dindingnya, kacanya, ladangnya, anak-anak yang akan berlarian mengitari meja makan kita nanti, segalanya.
"Terimakasih, cantik!" Kataku.