Agama untuk Io


"Tau gak, si Io kan udah pindah agama. Dia pindah jadi Protesman."

Aku diam. Tak banyak berkomentar meski pun pertanyaan di otakku sudah menekan dua gigi seriku. Tapi daun bibirku masih cukup kencang untuk menahan dan mengingat bahwa aku tidak memiliki hak sedikit pun untuk menanyakan pada orang ketiga, eh tak tahulah dia orang ke berapa. Jadi aku putuskan untuk menyimpan semua pertanyaanku untuk Io sendiri nanti. Dan tulisan ini untuk menceritakan perdebatan dalam hatiku, bukan menceritakan Io yang pindah agama
Aku dan Io sudah berteman sejak awal aku masuk kelas 1 SMP. Kebetulan aku sekelas dengannya. Io adalah anak yang ceria, dia berjalan berkeliling untuk menjabat satu persatu teman barunya dan berkenalan dengannya. Sudah bisa dipastikan Io adalah calon "orang hebat" di masa yang akan datang dengan sikapnya yang baik hati dan menyenangkan itu.
Aku dulu adalah orang yang pemurung dan pendiam. Kadang sampai sekarang aku masih merasa seperti itu. Dan dulu, Io adalah orang yang paling sering mengajakku bicara. Dia tahan untuk berdiri di depan mejaku berlama-lama untuk mengobrol. Maklum PNS dulu sangat malas masuk ke kelas kalau muridnya tidak menjemput mereka ke ruangan mereka.
Aku adalah cinta monyetnya Io. Aku ikut ekskul PMR, karena dia berharap bisa pacaran denganku dan tahu aturan di organisasi bahwa tidak boleh pacaran sesama anggota, maka Io ikut ekskul lain, Paskibra. Setiap Jumat sore, kami selalu pulang bareng meski pun cuma sampai terminal angkot karena aku pulang dengan naik angkot sedangkan Io rumahnya dekat dengan sekolah.
Aku dan Io bertemu lagi di SMA dengan packaging Io yang lebih baik lagi. Dia sekarang adalah seorang ketua OSIS. Dia masih ramah seperti dulu. Sayangnya aku dan Io sama-sama kapok, dulu waktu SMP, kami habis-habisan diledek karena Io menyukaiku. Padahal mungkin jika kudeskripsikan, perasaan Io padaku dulu itu tidak lebih dari sekedar kagum atau senang berteman. Jadi meski pun kami masih suka saling menyapa, kami jarang bahkan tidak pernah terlihat bersama.
Aku dan Io sama-sama anggota OSIS. Meski pun aku berteman dekat dengan Io, aku bersaing dengannya untuk menjadi ketua OSIS (dulu). Tapi aku mengundurkan diri. Aku kontra untuk memilih Io menjadi ketua OSIS, mungkin Io berpikir aku membencinya. Padahal sebenarnya bukan masalah bagiku. Tapi aku tahu Io, dan teman-temannya memperjuangkan Io untuk menjadi ketua OSIS bukan karena Io mampu, tapi untuk menjadikan Io sebagai dagelan di sekolah. Sayangnya Io tidak pernah tahu. Mungkin sampai detik ini.
Di SMA, Io punya kebiasaan latah, sedikit bertingkah seperti perempuan dan tidak disiplin. Alasan latah dan bertingkah seperti perempuan itulah yang membuat teman-temannya suka mengganggu Io. Rasanya sedih melihat Io dikerjai saat SMA dulu. Tapi apa daya.
Di kuliahan, aku tidak lagi bersama Io. Aku hanya mengobrol dengannya lewat chatting di situs pertemanan atau dia menunggu dia mengirimiku pesan. Hari ini aku baru mencari akunnya di situs pertemanan, mungkin dia sudah menghapusnya atau mungkin dia sudah mengganti namanya karena masalah pindah agama itu.
Aku jadi memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja kurubah dulu untuk merubah keadaan yang sekarang. Tapi percuma, seperti apa pun fisik Io, seperti apa pun pemikiran Io sekarang, bahkan pindah agama atau tidak beragama sekali pun, tidak membuatku ingin membuang Io atau menjadikannya bahan perbincangan gosip ketika reuni. Aku hanya tinggal di Indonesia, aku bukan bagian kaum minoritas yang dengan tega men-cut rezeki Lady Gaga. Aku tidak sekeji itu. Aku hanya tinggal di Indonesia, aku masih punya pendirian.

Io, ayo semangat!

teman pertama

Waktu masuk SMA, saya marah pada Tuhan, pada Ibu dan pada semua orang di sekeliling saya. Soalnya saya berharap masuk SMA Negeri yang "top", ternyata malah masuk SMA swasta yang "kurang top". Sekolah saya itu punya kolam renang, lapangan bola yang super besar, lapangan basket, lapangan futsal, lapangan volly dan lapangan tenis, semuanya terpisah dan serba mewah sebenarnya. Tapi karena saya sedang marah, jadi saya menolak untuk memuji sekolah saya itu.
Hari pertama masuk sekolah itu pas masa MOS (Masa Orientasi Sekolah). Saya termasuk anak yang baik, gak pernah telat dateng, gak pernah lupa bawa barang-barang yang harus dibawa, bahkan saya pun kebilang yang gak pernah bikin masalah.
Di hari pertama itu, semua cewek udah punya temen. Sedangkan saya masih sendirian. Duduk di paling belakang dan cuma bisa diem ngeliatin orang-orang. Menunggu untuk disapa dan diajak kenalan. Itulah saya. Tanpa saya sadari, di sebelah saya itu adalah cowok yang cute banget. Namanya Gezza. Saat itu saya belum tau kalo namanya Gezza.
"Sshht!" Kata si Gezza memanggilku yang masih sibuk memperhatikan orang lain. Setelah beberapa kali memanggil, saya nengok dan Gezza tersenyum lebar. "Nama kamu siapa?"
"Lukita." Jawabku. Saat itu, saya memang tidak mengharapkan teman pertama saya adalah seorang cowok. Jadi saya gak nanya balik namanya siapa.
"Aku Gezza." Katanya memperkenalkan diri. Saat itu, dia mengulurkan tangannya dan saya menyambutnya. "Dari SMP mana?"
"Negeri. Kamu?"
"Sama, Negeri juga." Sahut Gezza. Kuperhatikan, Gezza pun bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan cowok lain. Terbukti dia masih sendirian saja di kelas tanpa ada satu orang pun yang mengajaknya bicara.

Malam itu, saya memikirkan nama cowok yang berkenalan dengan saya tadi siang. Rasanya lupa dan yang kuingat adalah nama Gaze.Esok paginya, Gezza pake baju yang ada papan namanya. Saya pun jadi inget lagi kalo namanya Gezza. Dengan mudah aku akhirnya jajan bareng dan sholat bareng.
Saya semakin gak punya temen. Baru saya tau kenapa alesan gak ada cewek yang mau saya deketin karena ternyata mereka itu udah ngeceng si Gezza, eh si Gezza malah ngajak kenalannya ke saya. Haha. Emang rejeki mah gak akan kemana. Hahaha. Tiba-tiba ada cewek namanya Irma ngajak kenalan juga. Saya ngenalin Gezza juga ke Irma dan akhirnya kita berteman bertiga.
Di akhir acara MOS, ada acara jalan-jalan naik bus gitu. Pagi itu saya datengnya telat. Saya ketemu Gezza di depan sekolah dan dia bilang, "kamu di bus 5. Aku di bus 7. Nanti di sana jalannya bareng yah!"
"Iya." Jawabku. Aku lalu mencari bus 5. Di bus 5 sudah ada Irma dan dia langsung mengajakku untuk sebangku. Irma kemudian menggodaku, Irma bilang saya menyukai Gezza. Padahal, terpikir pun tidak.
Di tempat wisata itu, Gezza membuntutiku. Saya lalu menyapa teman SMP-ku yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Kemudian saya kenalkan pada Gezza, dan akhirnya Gezza punya teman juga dan tidak lagi membuntutiku.
Setelah acara jalan-jalan itu berakhir. Waktunya mencari kelas. Lagi-lagi saya bertemu dengan Gezza dan dia bilang, "nama kamu gak ada di semua kelas, kamu udah bayar, kan?". Sebenarnya pertanyaan biasa, tapi karena saya masih dalam keadaan marah, jadi saya benci ketika Gezza bilang seperti itu. Gezza mau menolongku untuk mencari kelas ke bagian tata usaha, tapi saya menolak.
Ternyata saya dan Gezza kelasnya bersebelahan. Di kelas pun saya tidak punya banyak teman. Lalu di kelas sebelah (kelas Gezza), ternyata aku dimusuhi karena cewek-ceweknya ngeceng Gezza. Akhirnya, dari yang sangat dekat, aku mencoba menjauh dari Gezza. Tak lama kemudian, aku dan Gezza jadi jarang saling sapa.
Aku hanya bicara pada Gezza ketika pulang sekolah menunggu jemputan hingga jam 6 sore di halte sekolah. Gezza menunggu bus yang menuju rumahnya dan busnya baru akan muncul sekitar jam 6 sore. Gezza bercerita banyak hal. Meski pun di sekolah kami tidak pernah saling menyapa, tapi tanpa ada orang yang tahu, kami masih sering bicara hingga akhirnya adikku masuk SMA yang sama denganku dan aku pulang bareng dengannya setiap hari.
"Gaze, makasih yah!"

kebahagiaan Dina

Saya punya salah seorang temen, saya manggil dia Dina. Nah si Dina ini adalah orang yang paling bekoar tentang kesetiaan dan cinta abadi. Pokoknya, dia adalah ratu asmara. Dia yang paling "tau" seluk beluk pria dan segala sikapnya. Dia selalu bilang kalo pria-pria itu buaya darat. Nah, kalo temen saya bilang dia itu bayawak darat.
Saya kenal sama Dina hampir 4 tahun. Dia adalah gadis yang manis dan berwajah ayu. Pokoknya semua cowok yang ngeliat dia pasti langsung ngeceng dia dan membidik dia untuk jadi pacarnya. Dina sangat ramah dan baik hati, dia gak akan segan untuk ngebantu seseorang sepenuh hatinya. Bahkan sampe ngerjain tugas kuliah, ngepel, nyuci, bahkan dia pun rajin bikin kue buat dibagi-bagiin ke temen-temen kuliahnya, termasuk saya.
Sekilas, Dina adalah sosok yang menyenangkan. Seharusnya gadis seperti itu langsung ketemu sama si pria idamannya. Ya seharusnya seperti itu. Tapi, justru gadis berandalan seperti saya yang dapet cinta sejati duluan. Hahaha.
Selama saya kenal Dina, Dina udah gonta-ganti pacar sekitar 3 kali, itu pun yang saya tau. Pria ketiga itu adalah temen saya juga. Saya sebenernya sempet mikir bahwa pacar ketiganya itu adalah cowok yang terakhir buat Dina. Soalnya mereka memanggil satu sama lain itu Ummi dan Abi. Haha... So sweet.
Ternyata, hubungan mereka cuma tahan 2 bulan lebih beberapa hari. Akhirnya setelah makan-makan besar + traktir nonton, dia putus juga sama pacarnya. Udah jadi tradisi buat saya, Dina dan temen-temen untuk nraktir makan ketika ulang tahun atau pacaran dan minum-minum kalo putus. Dan Dina adalah yang paling sering makan-makan. Haha.
Sebagai teman, saya pengennya dia cepet nemuin cowok yang cocok buat dia, tapi sebagai yang suka ditraktir, saya pun engga nolak kalo selalu ditraktir sama dia. Haha. Nah, hubungan saya sama Dina itu agak renggang karena saya kesal juga sama sikap Dina yang di bibir dia bilang dia disakitin cowok, tapi nyatanya justru dia yang main api sama cowok lain. Tanpa setahu saya, ternyata sekarang Dina udah gonta-ganti pacar hampir 6 kali. Bahkan yang traktiran yang saya kira terakhir itu pun bukan yang terakhir. Jadi saya cuma bisa ber-haha-haha saja ngeliat ceramahnya kalo dia nanya tentang hubungan saya sama pacar saya. Dia bilang, "kamu sih enak dapet cowok yang sayang sama kamu, kalo aku? aku mah disakitin terus".
Aku jadi ingat sama salah satu filsuf yang bilang, seseorang yang tidak mengingat sejarahnya, harus mengulangi sejarahnya. Pantesan si Dina terus-terusan mengulangi kesalahannya, soalnya dia gak nyadar-nyadar sih kalo kesalahan itu ada dalam dirinya.
Ternyata, meski pun wajah saya gak se-ayu Dina, saya bisa dapet cowok yang cakep baik dan sayang sekali sama saya. Akhirnya, apa yang ngebedain nasib saya sama Dina? Sikap. Wajah cantik dan bodi yang seksi gak menjamin kebahagiaan. Biarlah pinggul saya gede, muka saya gak cantik dan saya gak jadi idaman cowok-cowok di kampus. Saya mah bercita-cita jadi idaman suami dan idola anak-anak saya saja. Amin. Hehe.
Din, semoga cepet menemukan kebahagiaanmu...


hati


Tuhan, hati itu terbuat dari apa sih?
Kenapa Furkon sabar dan tidak mau meninggalkanku meski pun aku sering mengomelinya?

Aku tidak tahu tentang hati.
Hanya saja, aku berharap aku bisa selalu bersamanya.

tiket Bandung Berisik #2


Nah ini adalah salah satu pesan dari pacar saya buat temen saya namanya A Rio. Jadi ceritanya, saya beli tiket Bandung Berisik itu lewat temennya A Rio. Tiket yang saya beli pun bukan on the spot, tapi pre-sale, it means, dua hari berturut-turut nonton itu acara sampe muntah metal. Haha.
Meskipun udah pesen tiket, tapi kepulangan pacar saya itu masih dalam wacana. It means, belom tau tepatnya kapan pacar saya ada di Bandung. Tapi, karena saya emang ngarepin pacar saya itu udah ada di sini sebelum tanggal 12 Mei, jadi saya pikir, "Sabodo! Yang penting  beli aja dulu."

Yah, semoga pacar saya memang pas udah di Bandung. Semoga dia bisa ikut nonton. Saya pribadi sih gak mau nonton acara kayak gitu kalo gak sama pacar saya. Hehe.

tentang sidang kompre

Apa sih susahnya sidang kompre? Toh cuma dites tentang mata kuliah yang pernah diajarin sama beberapa syarat dari bidang keislaman karena saya dari universitas InsyaAllah.
Apa sih susahnya lulus praktik tilawah? Toh cuma disuruh ngapalin surat-surat pendek yang dari SD udah diajarin sama guru-guru.
Apa sih susahnya?
SUSAH BANGET.

Setelah harus melewati praktik tilawah (cerita lengkapnya bisa dibaca disini) yang sampe hari ini pun saya belum lulus dan si dosen justru malah sibuk sendiri dengan urusannya, saya harus dihadapkan pada seorang dosen yang dengan sengaja menahan nilai saya dan teman-teman yang lain karena sebuah kasus yang complicated (cerita lengkapnya juga bisa dibaca disini).
Dari pagi ceritanya saya udah nongkrong di kampus sambil nahan kepala saya yang rasanya beraaaaattt banget. Maklum saya lagi sakit, flu biasa sih sebenernya, tapi saya kan gak pernah kena flu yang "biasa", selalu luar biasa. Mungkin tujuan Tuhan adalah biar saya istirahat, tapi sayangnya Tuhan nyuruh saya istirahat tanpa menghentikan perputaran waktu, jadi aja saya mesti terus ikut alur meski pun sakit.

Saya mau sidang kompre bulan ini. Itu tekad saya. Sayangnya sekarang, faktanya dan keliatannya, saya gak mungkin ikut sidang komprehensif bulan ini. Kenapa? Karena saya belum lulus praktik tilawah dan nilai dari 5 mata kuliah dari 1 dosen itu juga gak juga keluar.
Kenapa coba mesti ada masalah sama dosen yang satu itu? Heran. Bener juga sih kata dosen favorit saya yang sempet saya pukul 3 kali pake karton (maaf ya pak), "Kalau nilainya dia keluarkan dari dulu, masalah seperti ini tidak akan mungkin pernah ada!"
Tapi, nasi sudah jadi liwet. Mau apa lagi? Menyesal pun percuma. Saya sih malas untuk menyesal. Terlalu berharga hidup itu kalau untuk diisi sama penyesalan.

Sidang komprehensif, yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pendaftarannya dari tanggal 1 mei sampe 15 mei. Itu berarti selasa depan. Tapi nilai gak juga ada tanda-tanda bakal keluar. Nunggu nilai itu kayak nunggu hilal. Rasa sabar bener-bener diuji.
Dan kalo udah cek-cok nilai antara mahasiswa sama dosen, semua saling egois. Padahal, buat apa sih egois-egoisan? Toh mau gimana pun, nilai itu udah jadi haknya para mahasiswa. Kenapa harus dipersulit? Ngiri banget pas ngeliat fakultas lain (baca: bukan fakultas saya) yang bisa deket sama dosennya. Kalo di fakultas saya, dosen sama mahasiswa itu punya jarak yang nyata. Gak ada yang namanya heureuy antara mahasiswa sama dosen. Masing-masing pihak punya jokes-nya masing-masing dan kalo ketemu, langsung deh berasa bom atom ditebar di kampus.
Masuk kelas tepat waktu, ngumpulin tugas dan ngedengerin ceramah dosen juga adalah kewajiban mahasiswa kalo mau dapet nilai. Nah, kalo semua pihak udah ngelakuin kewajibannya masing-masing, kenapa masih ada masalah tahan menahan nilai?

Jujur saja, sikap tahan menahan nilai itu membuat saya sangat bersedih. Soalnya buat saya, kuliah itu membuang waktu dan membuat kecewa pada salah satu orang tua saya. Ibu saya mau saya sekolah tinggi, ayah saya mau saya ngebantu dia di pekerjaannya. Saya mau ngelakuin dua-duanya. Sayangnya tubuh saya ini cuma satu. Karena di al-qur'an nama Ibu duluan yang disebut, jadi saya mengabulkan keinginan ibu saya dulu. Jadi saya kuliah dulu. Tapi karena saya juga sangat menyayangi ayah saya, saya berharap untuk segera lulus dari kampus saya dan menemani ayah saya mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya.
Sayangnya dosen-dosen mungkin berpikir saya ini "sok dewasa". Tapi ini adalah kenyataan yang saya pikirkan. Saya kan dididik untuk berpikiran dewasa dan luas dari kecil, jadi mungkin berbeda dengan bapak atau ibu-ibu sekalian yang mungkin masih hidup dalam kesenangan dan guanya.

Pokoknya, saya mau sidang komprehensif bulan ini. Entah caranya mau gimana pun. Kalau harus berteriak memohon di depan fakultas, akan saya lakukan kalau perlu. Wew.
Nekat ceritanyah.

tentang Praktek Tilawah

Dari sebelum nulis tulisan ini, saya pribadi sudah sangat tahu bahwa ini semua kesalahan saya. Salah saya, kenapa masuk universitas berembel-embel huruf "I" yang katanya Islam padahal InsyaAllah. Tapi, yang akan saya kemukakan semuanya hanya sekedar cerita. Buat adik-adik yang mau masuk ke universitas yang ada "I"-nya, saya harap mikir dua kali, eh maksudnya persiapkan diri.

Jadi, sudah sekitar dua tahun ini saya menunggak menyetorkan hafalan dari juz amma ke dosen praktek tilawah saya. Selama setahun pertama, saya kira saya udah beres praktek tilawah, soalnya dulu sama dosen pembimbing akademik saya, saya udah abis-abisan ditanya tentang ini itu, dites surat ini itu dan tadjwid. Jadi tanpa ngerasa bersalah, saya gak mau dong ngulang dites kayak gitu. Jadi, meskipun ada nama saya tercantum di papan pengumuman, saya ogah banget nyamperin dosennya. Nah, kemurkaan terjadi. Dosen praktek tilawah saya kemudian marah-marahin saya dan temen-temen saya yang lain karena udah nunggak setahun dari jadwal. Saya udah nyetor sama dosen saya, tapi yang ada saya malah dimarah-marahin. Bukan karena gak bisa baca al-Qur'an, tapi karena si dosen bilang kalo cara baca saja jelek. Gak dilagu-laguin gitu. Saya jelasin sama si Ibu Dosen kalo saya gak pernah belajar kayak begituan. Paling banter belajar itu sampe baca sama tulis yang bener. Kalo masalah lagu-laguan gak bisa, lah nyanyi bahasa Sunda aja kagak bisa, apalagi bahasa Arab. Huh. Si Ibu Dosen malah ngambek dan nyeramahin panjang lebar.
Tanpa diduga, kertas bimbingan saya ilang. Saya sih sebenernya gak masalah ngulang dari awal, tapi males dimarahinnya itu. Jadi saya berniat nyari kertas itu dulu sampe ketemu, eh sampe setaun. Sekitar 3 mingguan lalu, kertasnya ketemu dan itu genap satu tahun. Haha.
Pas saya ketemu sama si Ibu Dosen, si Ibu Dosen langsung marah-marahin saya lagi. Saya cuma garuk-garuk kepala aja dimarahin sama dia. Sadis bener marahin saya di depan umum, seumur-umur, orangtua saya aja belom pernah marahin saya kayak gitu, apalagi di depan umum.
Saya kemudian nyari tau latar belakang dari si Ibu Dosen, ternyata dia itu pemenang baca qur'an alias qori' tingkat nasional, gak tau juara 3 atau juara 1-nyalah. Pantesan aja dia sadis banget sama mahasiswa-mahasiswinya. Tarafnya dia disamain sama tarafnya kita.
Ayah saya bilang gak perlu diterusin. Ngapain sih ngurusin amat tuh dosen sama kemampuan baca qur'an kamu? Lah kalo nanti dihisab juga namanya dia gak usah kamu sebut, gampang kan kalo dia gak mau disalahin. Gitu kata ayah saya. Tapi karena saya ini punya rasa bersalah dan menyesal udah nunda-nunda praktek tilawah saya, akhirnya tetep saya terusin dan hampir 3 minggu ini setiap senin sampe kamis saya kena dimarahin si Ibu dosen aja.
Salah panjangnya dikit dimarahin, gak didengungin dimarahin. Saya sih gak ngerasa sakit hati dimarahin kayak gitu, tapi kadang suka sedih aja. Mungkin kalo dulu ayah ibu saya itu lahir dari keluarga yang islam dari lahir, saya juga bisa jadi juara qori'. Sayangnya ibu ayah saya itu muallaf.

Malem ini ceritanya saya sakit, dari kemarin cuma bisa tidur-tiduran aja sambil ngapalin surat al-Baqoroh tentang berlomba-lomba dalam kebaikan, surat an-nissa tentang jual beli, dll. Tapi aneh, yang terngiang-ngiang itu bukan bacaan saya, tapi suara omelan si Ibu Dosen saya itu.
Bu, maafin saya yah. Saya juga pengennya bisa baca qur'an sambil nyanyi, jangankan nyanyi, sambil salto pun saya mau kalo bisa. Sayangnya saya itu gak bisa. Bukannya mau membela diri, tapi inilah kenyataannya. Semoga kebaikan ibu sama saya dibales sama Allah SWT. Saya yang dimarah-marahin tiap minggu ini semoga dihapus dosa-dosan khilafnya.
Sambil nulis ini, saya mikirin tentang temen-temen saya yang dari keluarga Sunda Islam, yang dipesantrenin dari kecil, yang diajarin keagamaan ketat, eh mereka justru malah males mempraktekin ilmu yang udah mereka dapet. Kalo saya sih kalo bisa mah pasti saya amalin.
Nah itu juga kayaknya alesan kenapa saya gak bisa. Karena kalo saya bisa, saya pasti ngamalin. Kalo saya banyak beramal, masa surga cuma ditinggalin sama saya doang?
Bener yah, Allah itu maha Adil.

Amiiiin. Semoga besok pagi engga dimarah-marahin lagi, meskipun mustahil.

HEY LUKITA OCTAVIA, hey kamu!

Hey Lukita Octavia. Aku memanggilmu dengan nama jelasmu karena aku ingin kau mendengarkanku dengan seksama. Aku sudah bosan merasakan perasaan merana di dada ini dan kau yang merasa tak bersalah seenaknya bisa melengang kangkung di atas bumi ini, tak peduli bagaimana hatiku meronta meminta belas kasihmu sebagai wanita.

Hey kamu! Berhenti memanggilku kau karena aku tidak pernah ingin membuat jarak di antara kita berdua. Sudah kujelaskan berkali-kali aku tidak bisa mencintaimu. Aku tidak bisa menerima cintamu. Aku tidak bisa hidup bersamamu.
Ketika kamu memanggilku dengan nama lengkapku, aku menghitung. Kamu sudah 4 kali melakukan kesalahan yang sama. Entah harus berapa kali lagi jika aku harus menghitungnya.

Pertama, kamu tiba-tiba saja memusuhiku hanya karena fotoku dengannya. Aku berusaha menyingkirkan pertanyaan paling mendasar, "Memangnya kamu siapa aku?". Aku tidak menyebutnya karena kupikir bahwa kita adalah teman. Aku ingin kita bisa terus naik gunung bersama, kamu bisa mengajari aku cara membuat film-film hebat dan aku bisa rafting sesuai perkataanmu dulu. Sekaligus ke Mahameru. Kamu yang mengungkapkan janji untuk mengajakku ke sana.

Kedua, kamu tiba-tiba saja menghapus pertemanan kita di situs facebook. Lalu kamu bilang bahwa itu adalah cara agar kamu bisa melupakanku. Kamu kemudian bilang pada temanku bahwa, "Aku harus pergi agar orang yang aku sukai tidak merasa terganggu dengan kehadiranku". Maka kupikir bahwa kamu memang mau pergi. Jadi, aku tidak menahanmu. Apakah aku salah?
Kamu kemudian mengajakku bicara panjang lebar dan akhirnya tetap saja kamu memusuhiku lagi. Kita ini kan cuma teman, kenapa kamu membuat pertemanan kita ini begitu sulit?

Ketiga, sebelum kita pergi ke Kerenceng. Kita bicara lagi. Aku masih menanggapi omonganmu karena kupikir bahwa mungkin itu adalah terakhir kalinya kita miss communication. Tapi aku salah. Sepanjang perjalanan ke sana, kamu seolah memusuhiku. Mengkotaki, jika aku boleh bilang, kamu bicara dengan semua orang kecuali aku. Lalu di akhir pertemuan itu, kamu memberiku sepucuk surat yang masih kusimpan sampai hari ini karena aku berpikir surat itu berarti untukmu. Sebagai teman yang baik, aku ingin menjaga hal-hal yang berarti bagimu.

Lalu keempat. September 2011. Kamu tiba-tiba ingin bertemu denganku. Aku tahu pembicaraan kita ini takkan menjadikan hubungan kita lebih  baik. Sudah berapa kali kamu terus mengajakku bicara dan kamu tetap terus berulah? Jujur saja, aku bosan. Entah mengapa aku seolah disalahkan oleh perasaanmu yang meluap-luap itu? Aku tidak melakukan apa pun. Aku tidak membiusmu. Tidak memantraimu. Bahkan aku tidak pernah membakar kemenyan untukmu.
September itu, aku bilang dengan jelas bahwa aku tidak mau bertemu denganmu. Aku bilang dengan jelas bahwa aku takkan pernah datang ke tempat kau menungguku. Aku kemudian pergi dengan pacarku dan kehilangan sinyal hingga jam 5 sore. Karena aku teringat padamu, aku mengirimimu pesan singkat. Jelas sekali siapa yang pacarku. Aku seharusnya lebih memilih pacarku dan mengabaikanmu. Tapi sekali lagi, karena aku menanggapmu sebagai teman dan aku ingin menjadi teman yang baik seperti teman-teman yang lain di komunitas, aku menyakiti hati pacarku untuk mengirimimu kabar tidak penting.
Aku kira kamu akan mengerti. Aku kira kamu akan paham bagaimana keadaannya sekarang. Ternyata kamu lebih kekanak-kanakan dalam hal perasaan dan toleransi. Kamu justru mengumbar sebuah catatan yang dibagikan pada semua temanku. Berbanggalah, iya, kamu berhasil membuatku malu.
Tidak pernahkah kamu berpikir mengapa aku bilang tidak bisa untuk berada bersamamu? Apakah kamu sudah membaca jelas tulisan-tulisanku dan semua kejadian yang terekam di dalam kata-kata ini?

Kamu bilang, aku berhak memilih. Kamu pun berhak memilih. Aku tidak mematikan hakmu untuk menyayangiku, kubiarkan, dalam tarafnya masing-masing. Meskipun aku begitu kesal padamu, aku masih terus membalas pesanmu dan mencoba selalu ramah dan menyapamu setiap kali bertemu. Lalu apa balasanmu untukku? Ketika kamu kesal, kamu tinggal me-remove pertemanan kita, mem-block akunku, mengumbar kata-kata pahit di akunmu lalu membawa masa untuk memusuhiku. Begitukah caranya?
Aku terus berharap kita bisa menjadi teman yang baik. Aku ingin kita bisa akur seperti terakhir kali aku dan kamu duduk bersama. Aku ingin kita bisa mengobrol seperti layaknya teman di pinggir kolam di Cipedes. Aku ingin kamu bisa mengajariku caranya membuat lighting yang baik dalam film terakhir yang kugarap. Aku ingin bisa naik-naik gunung lagi seperti dulu bersama teman-teman kita yang lain.
Usiamu terpaut lebih tua dariku. Tapi aku yakin, meskipun aku belum melihat kedewasaanmu dalam menghadapiku hingga saat ini, aku yakin suatu saat nanti, kita bisa seperti dulu. Kita bisa menjadi partner yang baik di gunung, laut, kota dan pedalaman.
Masih terlalu luas Bandung ini untuk kujelajahi sambil bermusuhan denganmu. Sudahlah, aku pun mengucap kutuk pada cinta yang tumbuh dalam hatimu. Matilah saja dia. Itu doaku.
Aku memang merasa bersalah, tapi aku tidak bisa lantas menghampirimu, mengasihanimu lalu memilih hidup bersamamu. Aku tidak memilihmu, aku memilih orang lain, aku memilih Furkon. Jika tidak Furkon, maka jawabannya adalah lebih baik tidak selamanya.
Mari kita pacantel, kita lupakan masa-masa sulit dan suram. Mahameru menunggu...

Tiket Bandung Berisik


Pacar saya bilang kalo konser yang satu ini adalah konser yang paling dia tunggu-tunggu. Entah menunggu Burgerkill manggung atau menunggu bisa mengajak saya. Dari jauh-jauh hari, saya cari tau tentang keberadaan dari konser Bandung Berisik ini. Dari November tahun 2011, saya sudah mewanti-wanti teman saya untuk memberi tahu jika loket tiketnya sudah dibuka.
Sabtu kemarin (5/04) saya mendatangi teman saya itu, namanya Rio. Rio sebenarnya teman pacar saya. Saya menitipkan sejumlah uang untuk dibelikan tiket Bandung Berisik. Saya ragu, pasalnya pacar saya sedang kerja di Sulawesi. Pulangnya pun belum ada kepastian kapan. Tapi untuk membahagiakan pacar saya, saya sengaja memesan 2 tiket untuk dua hari (presale), meskipun saya sendiri belum tahu apakah akan menyaksikan konser berisik itu atau tidak.
Ibu saya adalah tipe orang yang tidak suka keributan apalagi keramaian kecuali pasar. Kalau saya, semua jenis keramaian tidak suka. Maka saya sebenarnya tidak mau ikut kecuali dengan pacar saya. Jadi sudah pasti kalau pacar saya belum pulang saat konser itu dimulai, maka saya pun tidak akan datang ke acara tersebut.

Untuk lebih jelasnya tentang Bandung Berisik, bisa dilihat di situs ini. Kalo di headline link ini, saya sudah bisa membayangkan berapa ratus ribu orang yang akan berkumpul di sebuah lapangan. Bisa dipastikan saya paling cuma duduk-duduk di pinggir tanpa mau dekat ke kerumunan orang atau menyelinap pulang pas pacar saya sedang loncat-loncat kegirangan liat band favoritnya lagi manggung.

Pacar saya itu suka sama lagu-lagu metal. Saya sih biasa-biasa aja, bahkan cenderung gak suka. Soalnya pertama kali denger lagunya burgerkill yang judulnya atur aku, langsung saya heran. Kapan nyanyinya nih? Dan ternyata mereka itu lagi nyanyi. Suaranya mirip kayak orang lagi sikat gigi terus disuruh nyanyi. Ah tapi bagaimana pun, akhirnya didenger-denger, lagunya enak juga. Cuma tetep saya gak cocok sama vokalnya.

Demi pacar saya, demi pacar yang saya suka, yang bahagia kalo bisa perginya sama saya. Saya mau deh bela-belain beli tiket Bandung Berisik, ngumpul sama ratus ribuan orang yang nyentrik dan rela ngedengerin lagu yang gak jelas kapan reffrainnya. Huh deh.


Kaos Baru


Bulan ini, beli kaos lagi. Kaos ini saya beli dari kakak kelas saya di sebuah komunitas. Kebetulan dia itu ngejual berbagai macam kaos yang gambar atau kata-katanya diambil dari para filsuf atau para revolusionis. Kaos yang paling saya suka itu yang Nietzche. Karena? Karena saya mengagumi si Nietzche. Hehe. Itu aja sih. Suka sama pemikirannya dia yang revolusioner di jamannya. Dengan berani dia bilang, "Tuhan sudah mati". Lalu saya sekarang bilang, "Nietzche sudah mati".

Bernard Shaw. Saya sebenernya gak tau siapa itu si tuan Shaw. Kakak kelas saya cuma bilang, "kakek-kakek lagi ngetik". Terus bla bla bla dan akhirnya saya beli. Haha.

Dulu, kaos yang Nietzche itu sempet saya pake di rumah. Eh diprotes abis-abisan dong sama orangtua saya. Saya disangka jadi atheis, jadi labil dan dikhawatirkan tidak beragama. Tapi saya jelasin kenapa saya pake kaos itu. Akhirnya saya dapet kuliah filsafat ke-Tuhan-an gratis dari ayah saya yang notabene ngerti tentang filsafat juga.

Pencerahan
Setelah dapet pencerahan dari penjelasan ayah saya. Saya gak (terlalu) radikal menentang segala sesuatu. Anarkis sih iya. Haha. Tapi hanya dalam kata-kata.
Saya suka berteman sama orang-orang. Tapi kalo udah nyerempet-nyerempet tentang agama, kepercayaan, prinsip hidup, dan lain-lain, saya suka jadi illfeel. Langsunglah itu orang saya gabrug dari surga pemikirannya ke neraka. Haha.
Saya paling gak suka kalo ada orang yang ngehina agama lain. Biarin aja sih, ngurus amat sama agama orang lain. Kayak yang udah paling bener aja ibadahnya. *napsu

Tentang Tuan Shaw
Dari yang saya baca di link ini, Tuan Shaw itu adalah seorang novelis, kritikus, esaias, politikus dan orator di Irlandia. Saya gak begitu kenal sama Tuan Shaw, soalnya saya gak begitu suka sama politik. Saya sukanya sama para pemikir filsafat ke-Tuhan-an dan sains. Hehe. Untuk lebih lengkap tentang Tuan Shaw, bisa diliat di link ini. Lengkap tuh kalo di situ. Hehe.

Keluar dari segala hal tentang filsafat dan paradigma. Saya suka sama kaosnya aja. Hehe.